Share

Bab 4

"Nona Freya anggita, bisa anda jelaskan apa motivasi anda untuk bisa diterima bekerja di perusahaan ini?" Vano pun memulai interview kerjanya.

"Uang," jawab Freya dengan yakin dan singkat.

"Maksut anda, nona Freya?" Vano terlihat bingung dengan jawaban singkat Freya itu.

"Motivasi terbesar saya untuk bekerja di perusahaan anda adalah demi uang, dari sekian banyak lowongan kerja di perusahaan yang saya lihat, perusahaan anda adalah satu-satunya perusahaan yang berani membayar gaji yang besar untuk posisi ini. Maaf kalau saya terlalu jujur, tapi memang itulah motivasi saya," jelas Freya dengan tenang dan jujurnya.

"Jadi anda memilih melamar ke perusahaan ini karena uang?" Vano mencoba meyakinkan sekali lagi.

"Yup, bukankah para karyawan bekerja memang untuk menghasilkan uang?" balas Freya.

"Baiklah nona Freya, kau di terima. Aku melihat CV mu dan itu sesuai standar yang kami butuhkan, dan kau juga adalah orang yang jujur," ucap Vano yang sebenarnya memang mau menerima Freya bekerja di perusahaan itu, bagaimanapun hasil interviewnya.

"Anda serius pak?" Tanya Freya yang kaget dengan ucapan Vano itu, dia sampai menutup mulutnya dengan telapak tangan saking tidak percayanya.

"Jadi, kau datang melamar pekerjaan hanya karena uang? Apa pelangganmu sedang sepi akhir-akhir ini nona?" tanya Kenzi yang sedari tadi sudah berdiri di ambang pintu, dan mengamati jalanya proses interview itu.

"Tunggu! Suara ini?!" Freya merasa nafasnya tercekat, dan saliva pun tak kuasa untuk di telanya saat mendengar suara yang tak lagi asing di telinganya itu, dia pun segera menoleh ke arah datangnya suara.

"Kau?! Kenapa kau ada disini?!" Freya pun spontan berdiri karena terkejut.

"Kau bertanya padaku?" tanya Kenzi dengan arrogantnya.

"Ya, tentu saja aku bertanya padamu,"

"Kau bertanya, kenapa aku ada di perusahaanku sendiri?" tanya Kenzi yang auto membuat Freya gelagapan tidak karuan, dan salah tingkah.

"Perusahaanmu? Kau bercanda kan?" Freya pun tergagap dan tidak percaya dengan apa yang di dengarnya barusan.

"Dia memang pemilik perusahaan ini nona, dan karena kau lulus interview ini nona Freya, maka kau akan menjadi sekretarisnya," sahut Vano menjawab pertanyaan Freya.

Freya yang tadinya sempat berdiri karena kaget pun, kembali terduduk di kursinya dan masih dengan wajah kaget, tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.

"Kenapa nona? Apa kau terkejut, orang yang tadi kau katai si mulut bau adalah calon atasanmu?!" Kenzi menyeringai dengan liciknya.

"Glek!" Freya pun kesulitan menelan salivanya, tenggorokanya seolah tercekik dengan pertanyaan Kenzi barusan.

"Bos, kau membuatnya takut. Apa maskutmu mengatakan hal seperti itu padanya?" tanya Vano pada Kenzi dengan heran.

"Aku tidak akan menerimanya sebagai sekretarisku! Suruh dia pergi, Vano!" seru Kenzi dengan nada marahnya.

"Bos, kau ini apa-apaan?" tanya Vano yang tidak habis fikir dengan sikap bosnya itu.

"Aku tidak mau, ada seorang penjaja tubuh di perusahaanku!!" Kenzi menatap sinis pada Freya.

"Apa maksudmu dengan penjaja tubuh tuan?!" Freya pun memberanikan diri untuk angkat bicara, rasa sakit hatinya saat mendengar label yang di sematkan oleh Kenzi pada dirinya itu, akhirnya sanggup mengalahkan rasa takutnya untuk melawan seorang CEO.

"Apa kau tuli hah?!" sarkas Kenzi.

"Aku hanya bertanya, apa maksudmu tuan?! Kenapa anda menolak untuk menerimaku, dan kenapa anda mengatakan bahwa aku adalah seorang wanita semacam itu?" Freya bertanya dengan penekanan di setiap ucapanya.

"Maksudku adalah, kau seorang wanita jal*ng! Dan aku tidak sudi menerimamu sebagai sekretarisku! Aku tidak mau perusahaanku ini di kotori oleh wanita murahan sepertimu!!" ucap Ken dengan kejamnya.

"Cukup Kenzi! Kau sudah keterlaluan!" seru Vano yang ikutan geram dengan sikap Kenzi itu.

"Apa kau masih mau membelanya, Vano?! Bahkan kau berani berbicara denganku seperti itu!?" Kenzi pun bertanya dengan penuh amarah pada Vano

"Cukup!! Hentikan semua ini!! Jika kau mengataiku seperti itu karena pakaian yang aku pakai hari ini, maka itu salahku tuan. Ini semua terjadi di luar perkiraan, aku terpaksa berlari ke perusahaan karena jalanan macet, jadi aku juga tidak bisa memakai kemejaku untuk berlari, dan terpaksa melepas kaos dalamanku yang sudah basah oleh keringat. Dan aku akui, itu semua memang karena keteledoranku, tapi tolong anda ingat tuan! jangan seenaknya menyematkan perdikat wanita jal*ng padaku, itu sangat tidak adil! Aku bukan wanita jal*ng! Aku bukan wanita panggilan! Aku, bukan wanita penjaja tubuh! Camkan itu!" Seru Freya panjang kali lebar kali tinggi bagi dua, karena saking sesaknya rasa di dadanya mendengar Kenzi yang terus memakinya dengan sebutan semacam itu.

"Cih!! Akting yang bagus, ku akui kau layak mendapat penghargaan sebagai aktris. Tapi aktingmu itu, tidak akan bisa menipuku! Aku sudah sangat hafal dengan wanita-wanita semacam kalian yang datang ke perusahaanku, hanya untuk menggodaku!" Kenzi menyeringai jahat pada Freya.

"Maaf, tuan CEO yang terhormat! Pernahkah anda mendengar pepatah mengatakan, jangan menilai buku hanya dari sampulnya? Hanya karena pakaianku yang seperti ini, dan itupun tanpa di sengaja! Anda menuduhku seperti ini?!" Freya pun membantah ucapan Kenzi dengan tegas.

"Untuk apa seorang penulis membuat Cover jika bukan untuk dilihat!? Vano, pilih kandidat lain! Terserah yang mana saja tapi untuk wanita ini, Big No!!" Kenzi melenggang pergi dari ruangan itu.

"Nona Freya, maaf atas semua kejadian tidak mengenakkan ini. Tapi tolong jangan pergi dulu, tetaplah disini dan aku akan membujuknya untuk menerimamu." Vano pun segera menyusul langkah Kenzi yang pergi dengan marah.

Sesaat setelah Vano ikut keluar dari ruangan itu, dan hanya tersisa Freya sendiri di sana. Lutut Freya pun lemas dan serasa baru di presto, tulang-tulangnya terasa empuk tidak bertenaga, membuatnya merosot dan terduduk lemah di lantai.

"Apa aku harus sesial ini? Aku tidak mendapatkan pekerjaan ini, setelah semua usaha keras yang kulakukan. Dan itu artinya, aku tidak bisa membantu orang tuaku meringankan beban mereka. Dan apa yang orang itu katakan tadi sangat menyakitkan," gumam Freya yang tidak terasa sudah menitikkan air mata yang membasahi pipinya.

"Bos! Apa kau sudah gila!" Vano melemparkan CV milik Freya ke atas meja Kenzi dengan kasar.

"Aku? Gila? Tidak! Kau yang gila, Vano! Bisa-bisanya kau mau menerima wanita jal*ng itu?" balas Kenzi tidak kalah kesalnya.

"Alasanmu mengatainya begitu, sungguh tidak masuk akal, bos! Itu semua tidak di rencanakan, itu karena sebuah insiden yang membuatnya berpakaian seperti itu. Aku tanya padamu, apa kau melihatnya tela*jang dan menawarkan tubuhnya untukmu!!? Apa dia membuka kakinya lebar-lebar di hadapanmu!? Ayolah bos, berfikir positif, ok? Lihat CVnya, dia sangat sesuai dengan kriteria gila yang kau inginkan!" Vano pun mendudukkan dirinya di sofa, mengendurkan dasinya yang terasa mencekik lehernya.

Jika bukan karena mereka sudah bersama sedari kecil dan sudah seperti saudara, Vano pastinya tidak akan berani berkata dan bersikap seperti itu pada Kenzi.

Brak!!

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status