Share

Bab 1596

Auteur: Rexa Pariaman
Swoosh! Energi pedang yang tajam melesat lurus menuju kening Shouichi.

Shouichi tidak berani menerimanya secara frontal. Ujung kakinya menjejak tanah, tubuhnya mundur sepuluh meter dengan cepat. Sambil memerintahkan para ninja di bawahnya, dia berseru, "Maju! Bunuh dia!"

Begitu perintah kepala keluarga terdengar, puluhan ninja seketika mengepung Ewan.

Kemampuan para ninja ini tidak lemah. Di antaranya ada belasan tokubetsu-nin tingkat tinggi. Mereka bukan hanya bekerja sama dengan sangat rapi, t
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Latest chapter

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1800

    Semalam berlalu.Keesokan harinya, langit tampak mendung.Sesuai waktu yang dipilih Nazar, pukul 3 sore tepat diadakan upacara perpisahan untuk Satria.Pukul 2.30 sore, lebih dari 40 ribu murid Organisasi Draken serta lebih dari 300 tamu telah berkumpul di alun-alun.Saat Ewan bertarung melawan Dewa Hyang hari itu, alun-alun hancur parah. Kirin memimpin orang-orang untuk membangunnya kembali.Di bawah tebing, didirikan sebuah aula duka. Di tengah aula duka, terletak sebuah peti mati kayu paulownia berwarna hitam pekat. Satria mengenakan pakaian hijau, wajahnya tenang, berbaring di dalam peti mati, dikelilingi bunga-bunga dan cemara hijau.Mini dan Cantika mengenakan pakaian berkabung berwarna polos, dengan ikat kepala duka, berlutut di depan peti mati sambil membakar uang kertas persembahan.Ewan, Naga Hijau, Kirin, Abyaz, Ricky, serta para pemimpin Organisasi Draken dari berbagai daerah, semuanya mengenakan pakaian putih dan berdiri di kedua sisi peti mati.Pukul 2.40 sore."Amitabha!

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1799

    Nazar melirik Ewan dan berkata, "Nggak banyak lagi, cuma belasan lembar."'Sial, masih sebanyak itu?' Ewan langsung berkata, "Begini saja, satu Jimat Pedang 400 miliar. Kamu jual semuanya kepadaku."Nazar tidak puas. "Bocah, tadi kau bilang satu triliun."Ewan berkata, "Lagi pula, Jimat Pedang sebanyak itu kamu pegang juga nggak ada gunanya. Lebih baik kamu jual padaku. Coba pikir, sepuluh Jimat Pedang kamu bisa dapat 4 triliun. Dengan uang sebanyak itu, kamu bisa makan enak, minum enak, bahkan menggoda bule."Bule? Mata Nazar langsung berbinar.Ewan melanjutkan, "Bayangkan saja, kamu berbaring di atas kapal pesiar sambil berjemur, di sekelilingmu ada sekelompok bule melayanimu.""Mereka semua berkulit putih dan cantik, bertubuh indah, mengenakan bikini dan bersandar di sisimu. Ada yang menyuapimu buah, ada yang menyuguhkan minuman, ada yang memijatmu, bahkan ada yang melemparkan tatapan manja kepadamu ...."Nazar menutup mata. Dalam benaknya sudah terbayang adegan itu. Air liurnya ham

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1798

    Nazar berhenti melangkah. Setelah semua orang pergi, barulah dia bertanya kepada Ewan, "Ada urusan apa, Bocah?"Ewan bertanya, "Kenapa kali ini cuma kamu yang datang? Di mana Samudra?""Samudra lagi berkultivasi, mengasingkan diri." Nazar terkekeh, lalu berkata, "Samudra memang pantas disebut orang suci sejak lahir. Kemajuannya sangat besar. Saat bertemu lagi nanti, dia pasti akan membuatmu terkejut.""Benarkah?" Ewan agak tidak percaya.Nazar mendengus. "Jangan nggak percaya. Setelah Samudra keluar dari pengasingan, aku bakal suruh dia memukulmu.""Asal dia bisa mengalahkanku, kapan saja aku siap," kata Ewan. Setelah itu, dia mengeluarkan sebuah kartu bank dari sakunya dan menyerahkannya kepada Nazar.Hati Nazar langsung waspada. Dia bertanya, "Tanpa alasan memberi perhatian, pasti ada maksud tersembunyi. Apa yang ingin kamu dapatkan dariku?"Ewan berkata, "Terima kasih karena beberapa hari ini kamu membantu menata aula duka untuk Sida. Uang ini adalah upah atas kerja kerasmu."Barula

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1797

    Mariadi berkata dengan nada hati-hati, "Kak, saudara-saudara lain mengalami sedikit masalah ....""Biar aku saja yang mengatakan," ujar Magana. "Kak, Makuta, Marwanto, dan Marsudi sudah mati.""Apa yang kamu katakan? Ulangi sekali lagi!" Mata Maprana membelalak. Dari tubuhnya memancar tekanan aura yang besar.Magana ketakutan hingga tak berani mengangkat kepala, tetapi dia tetap memaksakan diri berkata, "Mereka semua sudah mati.""Bajingan!" Maprana mengentakkan kaki kanannya.Bam! Lantai langsung retak.Maprana murka. "Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa yang membunuh Makuta dan yang lainnya? Apa mungkin Ega?"Mariadi segera berkata, "Bukan Ega, tapi Ewan."Ewan? Maprana memikirkannya sejenak dan memastikan bahwa dia tidak mengenal nama itu. Dia bertanya, "Siapa dia?"Mariadi lalu menjelaskan secara singkat asal-usul serta perbuatan Ewan. Setelah mendengarnya, Maprana menjadi sangat marah."Tak kusangka, setelah bertahun-tahun aku mengasingkan diri untuk berkultivasi, begitu keluar, be

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1796

    Ratusan kilometer jauhnya, di ibu kota.Setelah diguyur hujan musim gugur, langit tampak biru jernih, membuat hati terasa lapang.Di Kota Terlarang, di depan gerbang sebuah aula besar.Mariadi dan Magana tampak cemas. Mereka berjalan mondar-mandir, sesekali melirik ke arah pintu aula yang tertutup rapat."Kak, kita sudah di sini tiga hari. Kenapa Kak Maprana belum keluar juga?" tanya Magana pelan. "Jangan-jangan latihannya bermasalah, jadi ...."Kalimat selanjutnya tidak dia teruskan, tetapi dia yakin Mariadi mengerti maksudnya.Mariadi melotot pada Magana dan membentak, "Nggak bisa kamu bicara yang baik-baik? Sekarang ini masa penuh gejolak. Kota Terlarang nggak boleh mengalami kecelakaan apa pun lagi. Kalau aku dengar kamu bicara seperti itu lagi, nanti kupukul kamu."Magana bergumam, "Kalau semuanya lancar, kenapa Kak Maprana belum juga keluar dari pengasingan?"Mariadi menatap Magana tajam, ingin membantah, tetapi tidak tahu harus berkata apa. Mereka sudah menunggu tiga hari, tetap

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 1795

    "Ada pepatah lama bilang, kesempatan nggak datang dua kali. Aku sarankan kamu manfaatkan kesempatan ini. Ayo, cepat pukul aku!" Setelah berkata demikian, Ewan menggerakkan jarinya ke arah Nazar, penuh provokasi."Kamu ini benar-benar keras kepala ya. Sudah tahu bukan lawanku, masih juga minta dipukul. Sebenarnya kamu mau apa?"Nazar memasang ekspresi tak berdaya, lalu meneruskan, "Karena kamu sudah bicara sampai sejauh ini, kalau aku nggak memukulmu, bukankah itu namanya nggak menghargaimu?""Baiklah, akan kupukul kamu. Tapi kuberi tahu dulu, nanti saat aku memukulmu, kamu boleh melawan kok.""Walaupun kamu melawan juga nggak ada gunanya, setidaknya kamu bisa merasakan betapa hebatnya aku. Bagaimanapun, aku adalah orang yang telah melatih dua aliran energi murni."Setelah berkata demikian, Nazar langsung menyerbu ke arah Ewan. Ewan berdiri di tempat, tersenyum menyaksikan Nazar mendekat.Begitu Nazar tiba di depan Ewan dan hendak menyerang, tiba-tiba dia melihat senyuman Ewan yang begi

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 85

    Neva merasa sangat menyesal. Seandainya tahu akan seperti ini, dia tidak akan setuju untuk datang ke acara malam ini, apalagi mengajak Ewan.Dia membawa Ewan, bahkan memintanya berpura-pura menjadi pacarnya, hanya agar Dullah tidak lagi mengganggunya.Tak disangka, belum juga bertemu Dullah, Neva su

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 101

    "Kamu lagi?! Dasar bajingan, lepaskan aku!" Teriakan marah itu keluar dari mulut Thalia saat dia berusaha menendang dan memukul Ewan.Plak! Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Thalia.Ewan menatapnya dingin. "Sepertinya pelajaran sebelumnya itu belum cukup. Kalau begitu, hari ini aku akan buat k

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 62

    "Sindrom kehilangan jiwa? Penyakit apa itu?" Neva tampak terkejut. Ini pertama kalinya dia mendengar istilah tersebut.Ewan mulai menjelaskan, "Seperti namanya, itu adalah kondisi di mana seseorang kehilangan jiwa atau rohnya."Jiwa?Kalau bukan Ewan yang mengucapkan itu, Neva pasti sudah menganggap

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 36

    Kedatangan Ewan terlalu terburu-buru, dia masih mengenakan seragam perawat. Wajahnya yang tampan dan lembut membuatnya tampak seperti seorang mahasiswa. Namun saat ini, raut wajahnya penuh amarah dan sorot matanya memancarkan kilatan dingin."Kak Tigor, dia datang," ucap Dylan sambil tersenyum.Tigo

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status