LOGINMobil baru saja berhenti, Ewan langsung membuka mata.Zayn berkata, "Bos, kenapa kamu cepat sekali bangun? Aku tadi bahkan nggak mau membangunkanmu, biar kamu istirahat lebih lama.""Aku nggak ngantuk." Ewan menoleh dan melihat ke luar jendela. Seketika, dia melihat sebuah toko bunga di pinggir jalan yang ramai, bernama Toko Bunga Harmonis.Di depan toko, tersusun beberapa deret bunga anyelir yang segar dan berwarna cerah. Tampak tertata dengan sangat hangat."Bos, itu toko bunga kakakku," kata Zayn sambil menunjuk papan nama Toko Bunga Harmonis, lalu membuka pintu mobil.Ewan ikut turun. Namun, begitu mereka berdua masuk ke dalam toko, senyum di wajah mereka langsung menghilang.Saat ini, di dalam toko bunga. Seorang pemuda berusia sekitar 20 tahunan yang mengenakan jas dan berkacamata, sedang melecehkan Ivana."Cantik, aku sudah pernah lihat banyak wanita, tapi jarang ada yang secantik kamu. Kamu ini kayak bunga yang lagi mekar.""Kurasa toko bunga ini juga nggak menghasilkan banyak
Tandi mengatur orang untuk mengantar Nazar pergi, lalu berkata pelan kepada Ewan, "Masalah di makam leluhur Keluarga Sinaga sudah diketahui oleh Dewa Perang.""Dewa Perang bilang, pihak Kota Terlarang akan dia awasi. Kalau ada pergerakan sedikit saja, dia akan segera kasih tahu kamu. Ewan, sekarang kamu mau kembali ke Papandaya, atau ...?"Ewan menjawab, "Aku kembali ke Papandaya.""Kalau begitu aku atur orang untuk mengantarmu pulang." Setelah berkata demikian, Tandi langsung menyiapkan sebuah helikopter.Tiga jam kemudian. Helikopter mendarat di landasan helipad wilayah militer Papandaya. Ewan membawa penjaga gunung keluar dari kabin dan langsung melihat Zayn.Zayn sudah menunggu cukup lama. Setelah naik ke mobil, Zayn bertanya, "Bos, mau ke mana?""Cari tempat dulu, kita turunkan Paman Penjaga Gunung." Ewan lalu bertanya kepada penjaga gunung, "Oh iya, aku lupa tanya, siapa nama aslimu?"Penjaga gunung menjawab, "Erawan.""Erawan?"Ewan menoleh dan melirik penjaga gunung itu, lalu b
"Saking cepatnya sampai aku sendiri nggak bisa melihat gerakan pedangnya."Nazar berkata, "Setelah mengayunkan satu pedang, Ardan langsung pergi begitu saja.""Setelah itu, aku diam-diam menyelidikinya, barulah aku tahu namanya Ardan. Aku sangat penasaran, dari mana pemuda itu mempelajari jurus pedang setinggi itu? Karena itu, aku terus menyelidiki. Lima tahun kemudian, akhirnya aku menemukan informasi tentang asal perguruannya."Ewan menyadari sesuatu, lalu bertanya, "Jangan-jangan Ardan berasal dari Kota Terlarang?"Nazar mengangguk, "Ardan adalah murid langsung dari Manggala di Kota Terlarang."Ewan kembali terkejut.Nazar melanjutkan, "Ardan itu gila pedang. Demi mengumpulkan semua teknik pedang dari berbagai aliran, dia menantang lebih dari sepuluh sekte.""Dengan satu pedang, dia membuat belasan sekte tunduk dan menyerahkan teknik pedang mereka sendirian. Walaupun usianya masih muda, dia sangat kejam. Dalam proses mengumpulkan teknik pedang itu, dia bahkan membunuh banyak senior
"Berkaitan dengan Kota Terlarang?"Hati Ewan sedikit bergetar, lalu dia bertanya, "Rahasia apa?"Nazar malah balik bertanya, "Bocah sialan, kamu tahu Paviliun Pedang?""Paviliun Pedang?"Ewan terlihat bingung, "Apa itu?"Tandi yang berdiri di samping menjelaskan, "Paviliun Pedang di wilayah Shuza adalah sebuah pihak yang berkuasa. Lebih dari 20 tahun lalu, paviliun itu dimusnahkan oleh ayahmu, Ega.""Aku melihatnya di dokumen rahasia Aula Raja Maut."Ewan menoleh ke Nazar dan bertanya, "Kenapa kamu bahas tempat yang sudah dimusnahkan itu?"Nazar berkata, "Memang benar Paviliun Pedang sudah dimusnahkan, tapi masih ada yang lolos.""Dan itu bukan orang biasa.""Dulu waktu ayahmu memusnahkan Paviliun Pedang, pemimpin mereka, Ardan, berhasil melarikan diri."Mata Ewan memicing. Lebih dari 20 tahun lalu, Ega diakui sebagai ahli nomor satu di dunia. Fakta bahwa Ardan bisa lolos dari tangannya menunjukkan orang ini jelas tidak sederhana.Nazar melanjutkan, "Kamu pasti tahu, kekacauan besar di
"Baik." Meski Ewan menjawab demikian, dalam hatinya berpikir, 'Kalaupun nggak kurebut dari kamu, kamu juga nggak akan punya kesempatan mendapatkannya.'Sebelum masuk lebih dalam ke zona terlarang bersama Nazar, dia diam-diam sudah memberi instruksi kepada Tandi, meminta Tandi untuk mengangkut peti mati giok putih terbaik itu. Saat ini, kemungkinan besar Tandi sudah membawanya pergi."Ayo pergi!" kata Nazar.Ewan bertanya, "Kamu masih mau Kota Emas ini?""Nggak perlu lagi," jawab Nazar, "Aku sudah nggak punya kemampuan untuk membangun kembali Akademi Nagendra. Tanggung jawab ini, biar dikasih ke Samudra saja.""Bocah sialan, bantu aku jalan!"Ewan menopang Nazar, lalu mereka berdua kembali melalui jalan semula.Saat fajar menyingsing, Ewan dan Nazar keluar dari zona terlarang Gunung Chabari. Tanpa diduga, Tandi dan penjaga gunung sedang menunggu mereka."Kenapa kamu belum kembali?" tanya Ewan kepada Tandi.Tandi berkata, "Dewa Perang mendengar kamu masuk ke zona terlarang Gunung Chabari
"Aung ...."Segel giok pewaris negara tiba-tiba mengeluarkan raungan naga yang mengguncang langit.Sesaat kemudian, bayangan naga emas melesat keluar dari dalam segel giok pewaris negara dan muncul di depan Ewan.Bayangan naga itu panjangnya sekitar tiga meter. Kepala naga, mata naga, taring naga, kumis naga, sisik naga, ekor naga .... Semuanya lengkap, tampak seolah-olah nyata.Selain itu, seluruh tubuh naga itu memancarkan cahaya emas yang sangat menyilaukan, seolah-olah terbuat dari emas murni, sampai membuat orang sulit membuka mata.Tiga aliran energi murni alami berhadapan dengan bayangan naga itu dari kejauhan. Jika dibandingkan, cahaya emas yang dipancarkan tiga aliran energi murni alami tampak jauh lebih redup.Perubahan mendadak ini membuat Ewan tercengang."Tua bangka, apa yang terjadi?" tanya Ewan.Walaupun Nazar tidak bisa melihat, dia mendengar raungan naga yang mengguncang langit dan bertanya, "Apa segel giok pewaris negara mengalami perubahan?""Sebuah bayangan naga ema
Nazar tidak benar-benar pergi ke rumah bordil, melainkan pergi ke rumah Keluarga Aditya, di mana dia disambut dengan ramah oleh Latif.Di ruang tamu, Nazar duduk dengan satu kaki bertumpu di kursi. Dia makan sambil minum arak, benar-benar tidak menempatkan dirinya sebagai tamu. Tak lama kemudian, sa
"Teknik pisaunya sangat hebat. Karena itu, orang-orang di dunia persilatan memberinya julukan Pisau Penakluk. Aku hanya nggak tahu, apakah Willy yang mengundangnya atau Keluarga Wibowo?"Ewan berkata, "Dia datang untuk membunuhku. Siapa yang menyewanya sudah nggak penting lagi.""Benar juga," gumam
Ewan terkejut. Baru saat itu dia menyadari bahwa ternyata ada seseorang lain yang bersembunyi di kegelapan.Selain itu, orang itu bukan hanya ahli, tetapi juga sangat terlatih dalam seni membunuh. Penguasaan waktunya nyaris sempurna. Kedua tangan Ewan sedang digunakan, sehingga dia tidak bisa menaha
Pukul 3 dini hari, di ibu kota, di rumah Keluarga Polin.Willy sedang berada di ruang baca. Meskipun jarang merokok, malam ini dia justru menyalakan sebatang rokok dan mulai mengisapnya perlahan. Dia sedang menunggu kabar tentang kematian Ewan.Tok, tok! Suara ketukan terdengar dari luar pintu, disu







