LOGINBelum selesai? Benson langsung panik dan bertanya, "Kak, apa maksudmu?"Ewan berkata, "Ayahmu benar, kamu harus membayar harga atas perbuatanmu. Walaupun aku memutuskan untuk melepaskanmu, hukuman tetap harus ada."Benson tahu dirinya tidak akan mati, jadi tidak terlalu khawatir lagi. Dia lalu bertanya, "Kak, kamu mau aku melakukan apa? Tenang saja. Apa pun hukumanmu, aku akan terima. Aku janji nggak akan mengeluh."Ewan tersenyum, mengeluarkan ponselnya, lalu menelepon seseorang.Beberapa saat kemudian, telepon tersambung."Ewan, ada apa?" Suara Tandi terdengar dari seberang."Tandi, aku ingin merekomendasikan seseorang masuk ke Kamp Pelatihan Iblis untuk belajar," kata Ewan.Di Aula Raja Maut, ada Kamp Pelatihan Iblis yang khusus didirikan untuk para pendatang baru, hanya merekrut orang-orang berbakat. Begitu masuk, mereka harus menjalani tiga tahun pelatihan seperti di neraka.Tandi tertawa. "Orang yang kamu rekomendasikan pasti seorang genius. Katakan, siapa genius itu?"Ewan menja
Tidak berlebihan jika dikatakan ini adalah percakapan tingkat buku pelajaran.Yang paling penting, sebagai seorang ayah, Widopo dari awal sampai akhir tidak memohon ampun untuk Benson. Karena pada saat seperti ini, jika memohon ampun, justru akan berakibat sebaliknya."Tenang, aku dan Kak Lisa baik-baik saja." kata Ewan, lalu melanjutkan, "Benson ada di tanganku, menurutmu gimana aku harus menanganinya?"Di seberang telepon hening sejenak. Sepuluh detik kemudian, Widopo berkata, "Ewan, tolong kasih ponselmu ke Benson."Ewan menyalakan pengeras suara dan memberi isyarat kepada Benson.Benson mengerti, lalu memanggil dengan gemetar, "Ayah ....""Dasar anak durhaka, jangan panggil aku ayah, aku nggak punya anak sepertimu." Suara marah Widopo terdengar dari ujung telepon. "Dalam aturan keluarga kita, ada satu aturan, yaitu antar saudara nggak boleh saling membunuh.""Kamu ini keterlaluan, malah pergi ke Papandaya untuk membunuh Ewan. Kamu tahu siapa Ewan? Dia itu sepupumu!""Kamu bahkan in
Benson ketakutan setengah mati oleh tatapan Ewan, hingga tanpa sadar berlutut di hadapannya.Plop! Benson memohon, "Ewan ... eh, Kak Ewan ... tolong ampuni aku! Aku nggak akan berani lagi. Aku mohon padamu."'Dasar pengecut!' Wajah Ewan penuh hinaan. Dia bahkan belum melakukan apa-apa, tetapi si bodoh ini sudah berlutut duluan.Dia pun merasa heran, Keluarga Aditya penuh dengan orang-orang hebat, bagaimana generasi ketiga bisa muncul sampah seperti ini?"Kalau aku nggak mengampunimu, kamu bakal gimana?" tanya Ewan dengan dingin.Wajah Benson pucat saat berkata, "Kak Ewan, bagaimanapun juga kita satu keluarga, ditambah lagi generasi ketiga Keluarga Aditya hanya kita berdua. Tolong ampuni aku.""Aku janji nggak akan melawanmu lagi. Aku akan menuruti semua perkataanmu. Kamu suruh aku apa saja, aku akan lakukan ...."Ewan berkata, "Gonggong seperti anjing."Tanpa ragu sedikit pun, Benson langsung menggonggong, "Guk, guk, guk ...."Bum! Wajah Ewan sampai murung karena marah. Dia menendang B
Benson memanggil dengan nada penuh keluhan, "Kak ...."Plak! Ewan kembali memukul kepala Benson, lalu memaki, "Aku nggak punya adik sebodoh kamu."Benson semakin merasa tertekan."Cari orang itu, hubungi dia lewat video," perintah Ewan.Benson segera membuka ponsel Fizar, menemukan kontak orang itu, lalu melakukan panggilan video.Tak lama kemudian, panggilan tersambung. Seorang pria bertopeng hitam pekat muncul di layar.Saat melihat Ewan, pupil mata pria bertopeng itu sedikit menyempit."Sepertinya kamu nggak asing denganku ya?" tanya Ewan sambil tersenyum."Ewan, kamu memang beruntung. Sampai sekarang masih belum mati." Suara pria bertopeng itu serak, jelas sudah diubah.Ewan tersenyum. "Keberuntunganku memang besar, belum waktunya mati. Sayangnya, prajurit super milikmu sudah banyak yang kuhancurkan.""Markas di barat laut juga punyamu, 'kan? Kamu pasti menghabiskan banyak usaha membangun markas itu, tapi sekarang hancur begitu saja. Sayang sekali."Mata pria bertopeng dipenuhi ama
Benson sangat ingin menampar dirinya sendiri. 'Ewan sudah sekaya itu, mana mungkin dia mau merebut harta keluargaku?'Namun sekejap kemudian, Benson berubah pikiran lagi. 'Ewan pasti sedang menipuku. Di dunia ini mana ada orang yang merasa uangnya sudah cukup?''Seperti ayahku, sudah jadi orang terkaya, punya aset ratusan triliun, tetap saja mati-matian cari uang.''Keserakahan manusia nggak ada batasnya. Ewan juga bukan orang suci, mana mungkin dia nggak punya keinginan?"Ewan tidak tahu bahwa Benson sedang memikirkan hal-hal itu, lalu melanjutkan bertanya, "Kenapa bisa muncul prajurit super?""Prajurit super apanya?" tanya Benson dengan wajah bingung."Situasi sudah begini masih nggak jujur. Kamu mau mati?" Aura membunuh yang dingin terpancar dari tubuh Ewan.Benson kaget dan buru-buru menyahut, "Aku benar-benar nggak tahu apa itu prajurit super. Ewan, kamu harus percaya padaku. Aku nggak bohong."Ewan terus mengamati ekspresi Benson dan menyadari bahwa orang ini memang tidak tampak
"Ewan, aku peringatkan kamu, jangan macam-macam. Kalau kamu berani menyentuhku sedikit saja, kakek dan ayahku nggak akan melepaskanmu ...."Plak! Ewan menampar wajah Benson, lalu berkata dengan dingin, "Belum tentu Kakek akan menyelamatkanmu. Bahkan kalaupun Kakek mau, sudah terlambat.""Mereka jauh di ibu kota. Saat mereka sampai di Papandaya, kamu sudah jadi mayat. Lagi pula, aku bisa membuatmu benar-benar hilang dari dunia ini. Sekalipun mereka mencurigaiku, mereka nggak akan menemukan bukti apa pun.""Sama seperti Fizar."Setelah berkata demikian, Ewan mengeluarkan sebuah botol porselen kecil dari sakunya, membuka tutupnya, lalu menaburkan sedikit bubuk ke tubuh Fizar.Tak lama kemudian, terdengar suara desisan. Tubuh Fizar mengeluarkan asap putih tipis, disertai bau menyengat.Kurang dari lima menit, tubuh Fizar berubah menjadi genangan cairan kental, tanpa sisa tulang, bahkan sehelai rambut pun tak tertinggal. Benar-benar menghilangkan jejak!Tubuh Benson gemetar hebat. Dia sanga
Waktu berlalu tanpa terasa. Satu menit, dua menit, tiga menit .... Dalam sekejap, setengah jam telah berlalu.Darah murid Sekte Hyang itu terus mengalir melalui selang infus, tanpa henti masuk ke tubuh Naga Hijau.Rona wajah Naga Hijau perlahan membaik. Saat menerima darah dari murid Sekte Hyang itu
"Lagi pula, anak di luar nikahnya masih ada di tangan kita."Setelah berkata demikian, Safwan bertanya pada si botak, "Kalian nggak menyulitkan Cavill, 'kan?"Seketika, ketiga pria itu saling memalingkan wajah. Ekspresi Safwan langsung menjadi dingin. "Kalian menyentuh Cavill?"Ketiganya tetap diam.
"Aku dan Kirin melihat nggak bisa menghentikan Sida, jadi kami berkata akan mengawal Sida ke markas besar Sekte Hyang. Sida nggak mengizinkan, bahkan berkata kalau dia menghadapi bahaya, aku dan Kirin bukan saja nggak bisa membantunya, malah akan menjadi bebannya.""Aku dan Kirin nggak mengerti apa
Plak!Dewa Hyang menampar wajah Tiara dan memaki, "Pengkhianat! Berani-beraninya kamu memperingatkan orang luar? Apa kamu jatuh hati padanya? Sialan, setelah aku membereskan dia, aku akan membunuhmu."Ewan merasa heran.'Raksasa? Apa maksudnya?'Tiba-tiba, dari dalam gua terdengar auman keras, seola







