LOGINPemandangan ini benar-benar terlalu mengejutkan. Tak seorang pun menyangka, Ardan akan secepat itu dihancurkan oleh Dewa Perang.Namun bagaimanapun, Ardan adalah ahli tingkat puncak. Setelah kehilangan lengan kanan, dia segera bereaksi. Jari telunjuk tangan kirinya mengarah ke bahu. Dia ingin menutup titik akupunktur untuk menghentikan pendarahan.Namun sebelum jarinya sempat menyentuh, Dewa Perang sudah bergerak secepat kilat, menggenggam jarinya dan meremasnya.Krek!Tulang jarinya hancur.Plak!Dewa Perang menampar Ardan hingga terjatuh, lalu langsung menginjak wajahnya."Aaa ...."Ardan meraung marah. Dia adalah genius bela diri yang jarang bertemu dengan lawan sepadan sejak muda. Namun, kini dia malah diinjak di tanah oleh Dewa Perang. Ini benar-benar sebuah penghinaan yang tak tertahankan.Ardan hampir saja kehilangan kendali."Aaa ...," teriak Ardan terus-menerus dengan amarah.Dewa Perang berkata dengan datar, "Kamu teriak apaan? Dua puluh tahun lalu, kamu seharusnya sudah mati
Melihat Ardan hampir membunuh Dika dan Putri Naga, tiba-tiba sebuah sosok berdiri di depan Dika dan menahan ujung pedang dengan tangan kosong.Orang itu adalah Dewa Perang!Semua orang tercengang.Selama puluhan tahun, Dewa Perang selalu duduk di kursi roda. Di mata dunia, dia adalah seorang cacat. Lalu, bagaimana sekarang dia bisa berdiri?Bukan hanya itu, tubuhnya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda tua. Kini malah seperti naga yang lama bersembunyi dan kini bangkit, aura kekuatannya menjulang ke langit. Di benak semua orang, muncul kata yang sama.Kamuflase!Mereka tidak salah.Dewa Perang memang selama ini berpura-pura.Bayangkan saja, kalau dia benar-benar lumpuh, mana mungkin dia bisa memimpin Aula Raja Maut selama bertahun-tahun?Ewan yang terkejut, melirik Latif dan Travis sekilas. Kemudian, dia melihat bahwa wajah mereka tetap tenang, tanpa rasa terkejut sedikit pun. Artinya, mereka sudah tahu sejak lama bahwa Dewa Perang hanya berpura-pura.'Pintar sekali kamu berpura-p
Ardan menatap Putri Naga sejenak."Kamu pemimpin Sekte Brahmin, Putri Naga?" tanyanya, lalu menambahkan, "Lumayan cantik."Di hadapan semua orang, ucapan itu jelas merupakan bentuk godaan."Cari mati!" Putri Naga murka dan langsung menyerang Ardan."Wah, galak juga. Kebetulan aku suka yang seperti ini," kata Ardan sambil menusukkan pedangnya.Keduanya langsung bertarung dengan cepat.Putri Naga mengenakan sarung tangan sutra ulat langit, pertahanannya sungguh luar biasa. Tangannya beradu langsung dengan pedang Ardan dan memercikkan api. Serangan demi serangan dilancarkan, berbagai jurus membuat mata penonton sulit mengikuti.Dalam sekejap, keduanya sudah bertarung lebih dari seratus jurus. Namun, malah belum bisa mengalahkan satu sama lain. Kekuatan mereka seimbang!Beberapa saat kemudian.Hum!Aura yang mengerikan meledak dari tubuh Putri Naga, dia benar-benar mengeluarkan seluruh kekuatannya. Serangannya menjadi jauh lebih tajam, pedang Ardan berkali-kali dipukul mundur oleh telapak
Ardan bergerak terlalu cepat. Sebelum Ewan sempat bereaksi, ujung pedang sudah menempel di tenggorokannya. Dalam sekejap, punggung Ewan basah oleh keringat.Kekuatan Ardan mungkin tidak setara dengan Musashi atau Dewa Hyang, tetapi kecepatannya jauh melampaui mereka. Untungnya, tidak ada sedikit pun energi murni pada ujung pedangnya. Kalau tidak, serangan tadi kemungkinan besar sudah menembus tenggorokan Ewan.Melihat adegan itu, semua orang terkejut.Terutama Latif dan Dewa Perang, mereka sampai merasa tenggorokan kering karena tegang."Sekarang kamu percaya, aku punya kemampuan membunuhmu dengan satu tebasan?" Ardan tersenyum. "Kalau bukan karena perintah Paman Mahendra agar kamu nggak mati terlalu cepat, tadi aku sudah membunuhmu."Ewan menenangkan diri, lalu berkata, "Memang pantas jadi Ketua Paviliun Pedang, benar-benar hebat. Kamu memang punya kemampuan membunuhku dengan satu tebasan. Sayangnya, kamu melewatkannya."Tatapan Ardan menjadi sedikit gelap, "Apa maksudmu?"Ewan berkat
Setelah menenangkan diri, Ewan berbalik. Tatapannya tertuju pada wajah Manggala, lalu berkata dengan nada menantang, "Tua bangka, maju dan terimalah kematianmu!"Seluruh tempat langsung gempar. Tidak ada yang menyangka, Ewan berani menantang Manggala secara langsung."Bocah ini benar-benar nggak takut mati. Kurasa dia sudah tahu akan mati malam ini, jadi sekalian saja nekat. Lihat saja, sebentar lagi dia akan dicincang."Mahendra membentak, "Ewan, siapa kamu ini sampai berani berteriak sama kakakku? Waktu di Papandaya dulu, aku sudah bilang, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri."Mahendra lalu berkata pada Manggala, "Kakak, kamu istirahat saja dulu. Aku yang akan bunuh bocah itu dan membalas dendam untuk adik-adik kita.""Ya," jawab Manggala dengan santai.Mahendra melangkah maju dan hendak bergerak. Tiba-tiba, terdengar suara lantang, "Paman, nggak usah sampai Paman yang turun tangan. Serahkan orang ini padaku. Berani sekali dia nggak menghormati Guru, aku pasti akan membuatnya
Barry kembali menyerang Ewan. Ini adalah serangan terakhir. Gerakannya sangat lambat. Bahkan tubuhnya sudah tidak bisa berdiri tegak. Langkahnya goyah, seolah-olah bisa jatuh kapan saja. Tinju yang dilayangkannya juga sangat lemah, bahkan tidak ada kekuatan sama sekali.Namun, di matanya terpancar tekad untuk terus maju, seakan mengatakan bahwa dia tidak akan mundur meskipun di depan adalah lautan api dan gunung pisau.Tidak akan menyerah!Hati Ewan terasa berat.Sebenarnya, Barry tidak harus mati. Namun, demi membuktikan kesetiaan dan baktinya, dia memilih jalan kematian.Mungkin di mata orang-orang licik, tindakan Barry sangat bodoh dan hanya orang dungu yang akan melakukannya. Namun di mata orang yang luhur, ini adalah tindakan seorang pahlawan. Meskipun tragis, tetapi patut dihormati.Sebagai panglima wilayah utara, dia tidak mengkhianati negara.Sebagai penerus Kota Terlarang, dia tidak mengkhianati gurunya.Sebagai seorang prajurit, dia mengorbankan diri untuk negeri.Sebagai seo







