Bara Dendam Membara

Bara Dendam Membara

last updateLast Updated : 2026-01-05
By:  Lucky Star Updated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
5Chapters
9views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

⚠️Novel ini masuk dalam kategori 18+ atau mungkin 21+ (Bukan Esek-esek lumer di mulut).  Namun, Gore, Kekerasan, dan Adegan berdarah. (Adegan dewasa hanya pemanis untuk menceritakan perselingkuhan.)⚠️ Lima belas tahun lalu, keluarga Zhang Zhuo runtuh oleh dusta dan darah. Kini, setelah tumbuh di dalam bayang luka, ia kembali sebagai pria penuh dendam karena kehilangan. Setiap langkah terdengar seperti bisikan dendam. Setiap napas adalah ingatan akan pengkhianatan yang merenggut semua. Dan kini … Waktunya untuk membuka rahasia lama, dan bangkit dari kegelapan, Zhuo hanya punya satu tujuan—mengembalikan semua rasa sakit itu pada mereka yang pernah menghancurkan. Selamat membaca😘☺️

View More

Chapter 1

Bab 1 : Serigala bermata putih 

Langit Jiangchen sore itu menggantung rendah, diselimuti awan kelabu bergerak perlahan, seolah enggan melepaskan hujan. Di kawasan perumahan elit Yunhe, berdiri Bangunan dua lantai bergaya modern itu dikelilingi pagar besi hitam berornamen sederhana, tidak berlebihan, tetapi jelas mahal. Taman hijau terawat membentang di halaman depan, dengan jalur batu abu-abu selelu terlihat bersih. Setiap detail rumah itu berbicara tentang kestabilan dan kemapanan. Bagi orang luar, keluarga Zhang simbol kesempurnaan; kaya, terhormat, dan bahagia. Mungkin lebih tepat: keluarga ideal.

Dari balik jendela besar lantai dua, seorang anak laki-laki berdiri tanpa suara, ia menempelkan tangan mungil pada kaca jendela, sementara mata menatap halaman rumah yang luas dan tertata rapi, dia bernama Zhang Zhuo 10 tahun, raut wajah masih menyisakan kepolosan masa kanak-kanak, ada kehati-hatian terlalu dini, seolah ia terbiasa memperhatikan lebih banyak daripada yang sering dilakukan anak seusianya.

Anak itu tumbuh dengan keyakinan bahwa hidup memang harus seperti ini. Zhang Guang Pria berusia 36 tahun itu adalah Ayah yang selalu menjadi panutan, karena terlihat kuat di mata siapa pun. Meniliki Tubuh tegap sikap tenang, penuh wibawa. Dia membangun perusahaan distribusi logistik dan Technologi dari nol, melewati masa-masa sulit tanpa pernah menyerah hingga menjadi pengusaha ternama dan keluarga terkaya nomor satu di Jiangchen. Yang lebih hebat lagi, kesuksesan tersebut tidak membuat dingin atau jauh dari keluarga.

Setiap pagi, sebelum berangkat kerja, Guang selalu memastikan Zhuo sudah bersiap ke sekolah. Ia akan menepuk kepala anak itu dengan lembut, berpesan agar jangan sampai berkelahi dengan teman-teman.

“Belajar yang baik,” ucapan itu hampir setiap hari. Bagi Zhuo, ayah adalah: tempat bergantung, dunia paling kokoh, mustahil untuk runtuh.

Yue Xindy wanita berusia 35 tahun itu adalah Ibu sumber kehangatan. Wajah cantik dengan garis lembut, sikap lembut, senyum tenang, dan tutur kata selalu terjaga khas perempuan Jiangchen bukan yang suka pamer harta, meskipun hidup dalam kemewahan, ia sering terlihat di rumah karena mengurus semua dengan teliti, memastikan setiap sudut terasa hidup. Ibu rumah tangga itu mengenal kebiasaan kecil suami dan anak.

Saat hari libur, Zhuolong sedang duduk bersila di karpet ruang keluarga sambil merakit model pesawat tempur. Alis berkerut tipis dan napas tertahan sesaat, tanda dalam konsentrasi penuh. Jari mungil itu bergerak terampil dan cekatan, seolah setiap potongan plastik memiliki tempat sendiri.

“Pelan-pelan, Zhuo. Jangan dipaksa,” ujar Zhang Guang dengan nada rendah dan tenang, lalu menurunkan koran bisnis yang dibaca sedari tadi. Terlihat dia mengenakan kemeja rumah berwarna abu-abu bagian lengan digulung rapi. “Dulu waktu kecil papa, suka merakit juga?” ucap si bocah setelah mendongak.

“Papa tak sepintar kamu, dulu lebih sering membantu kakekmu di toko.” jawab Zhang Guang.

“Tapi Papa, sekarang kau hebat,” sahut Zhuo merasa bangga. “Semua orang berkata kalau Papa orang baik.”

Zhang Guang hanya menanggapi senyuman, sementara di dapur, Yue Xindy, sedang menyiapkan makan, tak lupa selalu mengenakan celemek putih meskipun hanya sekedar membantu para pelayan,

“Zhuo! cuci tangan dulu. Sebentar lagi makan,” seru Yue Xindy.

“Baik, Mama!” jawab sang Anak kemudian berdiri dan berlari kecil menuju kamar mandi. Dari balik pintu, suara air mengalir berpadu dengan hujan di luar, menciptakan irama menenangkan.

Di meja makan, keluarga tersebut selalu berkumpul setiap malam. “Bagaimana sekolah hari ini?” tanya Zhang Guang sambil mengambil sumpit.

Zhuo mengangkat kepala, menjawab dengan singkat tetapi sopan. “Menyenangkan,” dan Xindy akan menambahkan sayur ke piring mereka berdua, memastikan agar suami dan anak makan dengan benar.

Inilah gambaran kediaman Zhang, tenang, tertata, nyaris tanpa cela, cukup untuk menampung mimpi kecil sebuah keluarga yang dibangun dengan kerja keras dan kejujuran. Paling tidak, itulah keyakinan Zhuo.

Akan tetapi, Zhuo sering merasa ada sesuatu, tetapi sulit di jelaskan dengan kata-kata. Bukan ketakutan dan kegelisahan. Hanya perasaan samar, seperti suara lirih datang dan pergi, nyaris tak terdengar. Dia belum tahu bahwa perasaan tersebut adalah naluri, semua firasat tersebut mulai terbangun tepat ketika pintu utama rumah mereka terbuka untuk orang ketiga

Suatu hari ketika sore matahari hampir tenggelam, suasana Kediaman Zhang terasa berbeda. Zhuo sedang duduk di ruang belajar, menekuni buku matematika di dalam angka-angka tersusun rapi, tetapi pandangan mata sesekali beralih ke arah pintu setengah terbuka, disaat terdengar suara langkah kaki lebih berat dan lambat, seolah enggan dikenali siapapun.

“Zhuo.” panggil Zhang Guang, terdengar hangat tetapi berbeda ketika membicarakan bisnis. Anak itu menoleh dan segera menutup buku. “Papa.” sang Ayah tersenyum lalu melangkah masuk. Jas kerja pun masih melekat pada tubuh, rambut masih terlihat rapi, tetapi, sorot mata terlihat berbeda, seperti menyimpan kejutan besar. Ia menepuk kepala si anak dengan lembut.

“Tebak, yang pulang bersama Papa, hari ini?” Anak itu mengerutkan kening berpikir sejenak. “Rekan bisnis Papa?” tebak Zhuo dengan suara khas anak kecil.

Pria itu terkekeh pelan. “Bukan.” lalu menoleh ke arah luar pintu, seolah memberi isyarat, tak lama kemudian, seorang pria tinggi sedikit membungkuk, bermata sipit, garis rahang tegas sehingga wajah tampak keras, melangkah masuk diikuti seorang gadis kecil bersembunyi di balik kaki lelaki tersebut.

Terlihat terlihat sedikit lebih muda dari Guang, pakaian yang dia kenakan terlihat sangat sederhana, jauh berbeda dari sang ayah. Gadis kecil di samping memegang erat ujung mantel si pria sambil menatap sekeliling rumah dengan mata penuh kewaspadaan.

“Ini adik Papa,” ujar Zhang Guang dengan bangga. “Gu Qiang, dan gadis kecil ini, Gu Xiuqin.”

Zhang Zhuo berdiri dari kursi kemudian merapatkan jari-jari, kepala menunduk sedikit, seperti yang diajarkan ibu, sesekali memperhatikan pria itu dengan saksama. Ada sesuatu yang mengganjal di hati, perasaan asing sulit di jelaskan secara terbuka. Bukan takut, melainkan insting.

“Halo Paman.”

Gu Qiang berjongkok, “Kamu Zhang Zhuo, ya? Ayahmu sering menceritakanmu.”

Zhuo hanya menganggukan kecil, kemudian sang paman mengulurkan tangan menepuk pundak mungil miliknya dengan lembut, bukan rasa nyaman, yang ada hanya hawa dingin menjalar ke seluruh tubuh, tanpa sadar si bocah mengambil langkah mundur.

“Mulai sekarang, Paman Gu akan tinggal bersama kita,” ujar Zhang Guang membuat Zhuo mengangkat kepala dengan cepat. “Tinggal bersama?” lalu menepuk bahu si anak pelan. “Iya. Paman Gu sudah mengalami banyak kesulitan. Papa tak tega membiarkan dia sendirian, apa lagi dia mengurus anak kecil.”

“Papa,” panggil Zhuo pelan, seolah enggan terdengar orang lain. “Papa baru bertemu Paman ini kan?” Zhang Guang mengangguk. “Mengapa Papa langsung percaya?” Pertanyaan tersebut keluar begitu polos, tanpa niat buruk. Namun, berhasil membuat Gu Qiang terkejut, senyuman tipis di bibir sempat mengeras dan kembali terbentuk.

Zhang Guang tertawa ringan dengan kekhawatiran anak kecil. “Zhuo, jangan berpikir macam-macam, dia adik Papa.” bukan puas, karena semakin banyak tanda tanya dalam hati. Sehingga dia memberanikan diri untuk mengintrogasi lebih dalam, “Paman, kenapa marga Paman Gu, sementara Papa bermarga Zhang?” Pertanyaan tersebut membuat udara di ruangan seolah membeku sesaat. Gu Qiang tampak kelabakan. Bibir sempat terbuka untuk menjawab, lalu tertutup lagi.

Sang Ayah bergegas menepuk bahu si putra. “Pamanmu ikut marga ibu, Nenekmu. Sudah, jangan banyak bertanya.” Zhuo hanya mengangguk patuh.

Sejak hari kedatangan Gu Qiang, rumah keluarga Zhang terasa berbeda bagi Zhuo kecil. Bukan karena perubahan besar tampak di permukaan, melainkan karena suasana perlahan bergeser, seperti dinding kokoh mulai retak halus, hampir tak terdengar dan terus melebar.

Gu Qiang dan si anak menetap di rumah itu dengan alasan “Sementara.” kata itu diucapkan dengan nada rendah hati, tetapi Zhuo merasakan ada sesuatu yang ganjil dalam cara pria itu menatap setiap sudut rumah, seolah sedang menilai sesuatu yang kelak akan dia miliki.

Di meja makan, Gu Qiang selalu duduk sedikit lebih condong ke depan, memperhatikan Zhang Guang dengan sorot mata penuh kekaguman palsu. Setiap pujian keluar tepat sasaran, setiap kata terasa manis, terlalu manis untuk tulus.

“Kakak benar-benar hebat,” ujar Gu Qiang suatu malam sambil mengangkat cangkir teh. “Bisnis bisa sebesar ini di usia sekarang, aku sungguh kagum.” Zhang Guang tersenyum puas. “Itu hasil kerja keras bertahun-tahun.”

Zhang Zhuo memperhatikan dari ujung meja, sumpit di tangan seolah berhenti bergerak ketika menatap Gu Qiang, lama-lama melihat sesuatu, kilatan mata singkat muncul setiap kali sang ayah menunduk atau lengah.

Makan malam berlangsung hangat, hidangan sederhana pun tersaji, sup kaki babi, berapa tumisan sayur, daging babi kecap. Gu Qiang memuji masakan Yue Xindy berkali-kali dengan nada rendah dan halus, penuh penghargaan.

“Kak, aku seperti makan masakan ibu, rasa ini tidak berubah,” ucap sang adik ketika mencicipi tumisan sayur. “Kau berlebihan,aku hanya membantu para pelayan, di dapur, ” jawab Yue Xindy kembali hening.

“Kak Ipar,” panggil Gu Qiang memecah keheningan. “Rumah ini benar-benar nyaman, pantas saja Kakak ku betah.” ucapan tersebut terdengar santai, tetapi, terdengar sangat aneh seperti sedang menggoda, hal itu membuat jari wanita itu menggenggam serbet kuat-kuat karena tegang, bahkan Yue Xindy tersenyum sangat-sangat kaku.

Si putra menangkap perubahan tersebut , kemudian melihat ibu menunduk sedikit lebih lama, menghindari tatapan sang paman, pada saat itulah Gu Qiang tersenyum membuat bulu kuduk berdiri, senyum itu bukan senyuman ramah melainkan senyum orang yang sedang menghitung.

Malam semakin larut di Jiangchen, hujan sudah mereda meninggalkan suara hewan, merayap masuk melalui celah jendela. Di lantai dua, Zhang Zhuo berbaring miring di atas ranjang kecil. Lampu tidur menyala redup, dia belum mengantuk, karena pikiran terus memutar kembali kejadian makan malam, cara paman Gu Qiang tersenyum, sang Ayah tertawa kecil, dan ibu lebih banyak diam. Semua terlihat biasa, tetapi itulah yang membuat hati tak nyaman, sambil memeluk bantal dan menatap langit-langit kamar, suasana tengah malam itu sangat sunyi, tiba-tiba pintu kamar berderit pelan.

“Zhuo,” panggil Yue Xindy lembut.

Anak itu segera bangkit setengah duduk. “Mama?” ketika melihat sang ibu melangkah masuk, mengenakan piyama sederhana dengan rambut terurai, raut wajah terlihat lelah, tetapi dia tetap tersenyum ketika duduk di tepi ranjang. “Belum tidur?”

“Mama. Apakah paman Gu menetap di rumah kita?”. tanpa sadar pertanyaan itu keluar dengan sangat polos ketika Yue Xindy hendak merapikan selimut sang putra, membuat ia terdiam sesaat. tangan pun berhenti di udara, kemudian melanjutkan gerakan dengan lebih pelan.

“Entah,” Yue Xindy sangat bingung menjawab pertanyaan si anak. “Dia kan Adik Ayahmu.”

“Tapi,” ucapan menggantung di udara ketika menunduk.

“Aku kurang suka dengan kehadiran Paman Gu.” imbuhan tersebut hanya mampu diungkapkan dalam hati.

“Sudahlah jangan pikir macam-macam,” ucap Yue Xindy membuat Zhuo mengangguk. “Tidurlah. Besok kamu sekolah.” Lampu dimatikan dan pintu ditutup perlahan, kemudian berjalan ke tempat suami berada, yaitu: ruang kerja.

Terlihat sang Suami sedang menatap layar laptop yang masih menyala. Angka-angka laporan keuangan berbaris rapi sehingga dia sangat-sangat fokus, sampai tidak menyadari kehadiran Yue Xindy.

“Kau belum tidur?” tanya sang istri.

Zhang Guang menggeleng. “Aku hanya ingin memastikan beberapa hal.” kemudian menutup laptop, berbalik menghadap sang istri dengan senyuman hangat.“Apa ada sesuatu untuk dibicarakan?”

“Kau tiba-tiba membawa Gu Qiang,” balas Yue Xindy sambil memalingkan wajah. “Aku sedikit kurang nyaman.”

“Maaf sayang, tapi dia satu-satunya keluarga yang tersisa.” jawab Zhang Guang. “Tak mungkin aku biarkan dia hidup menderita.”

Hening menggantung di antara mereka. Yue Xindy masih mengalihkan pandangan, sambil menautkan jari-jemari sangat erat, lalu si suami berinisiatif memberikan pelukan hangat untuk memberikan kenyamanan pada sang istri. “Mungkin aku terlalu banyak berpikir.”ucapan tersebut bukan biasa dia katakan.

Zhang Guang menatap wajah istri, lama. “Sayang, aku tahu apa maksudmu, tetapi untuk saat ini, mana mungkin mengusir dia.”

Tatapan mata mereka bertemu. Namun, dibalik mata sang istri sulit di baca oleh Guang.

“Aku lelah,” ucap Yue Xindy. “Aku ingin tidur.” kemudian melepaskan pelukan suami, lalu berbalik pergi meninggalkan suami di ruang kerja. Guang menghela napas bingung.

Hari-hari berlalu dengan cepat, Gu Qiang semakin sering berada di ruang kerja sang ayah. Dokumen bisnis berserakan di meja. Telepon ayah sering berdering hingga larut malam. Wajah Zhang Guang terlihat lebih lelah, tetapi, otak dan pikiran menolak untuk mengakui.

Sementara itu, Yue Xindy semakin merasa sendiri, hingga suatu ketika tengah malam, Zhang Zhuo terbangun dari tidur, karena mendengar sesuatu, tidak keras, tak sampai membangunkan seluruh rumah dan kebetulan hujan turun tipis, dia membuka pintu kamar, perlahan melangkah keluar dengan kaki telanjang, dari pagar balkon dalam tatapan mata meyapu seluruh ruang tamu, dia melihat sang ibu sedang duduk sendirian di sofa di temani lampu di atas meja memantulkan cahaya hangat. seperti sedang menunggu kedatangan sang ayah.

Zhou melihat Gu Qiang melangkah mendekat, membawa dua cangkir teh hangat. “Masih belum tidur?” pertanyaan itu sangat lembut seperti tak ingin mengusik ketenangan orang lain.

“Aku menunggu Zhang Guang.”

Gu Qiang tersenyum tipis tapi terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja dibawa pulang, lalu meletakkan satu cangkir di depan kakak ipar, jarak duduk mereka duduk masih terlihat sopan, cukup jauh tetapi aman. Dekat. Namun, terasa hadir.

“Kakak, Minum teh dulu mumpung masih hangat,” ucapan itu lembut, tapi cukup jelas di telinga Zhuo.

Kata (kakak) keluar sedikit mengundang emosional

Dari atas detak jantung Zhuo berdegup kencang, tapi, dia belum paham apa maksud dan tujuan sang paman.

Wanita itu menggenggam cangkir, kehangatan merambat ke telapak tangan kemudian perlahan menenangkan dada. “Terima kasih,”

Gu Qiang menatap lebih lama, mengamati garis halus di wajah cantik itu, mata sipit Yue Xindy menyimpan banyak kata, Zhang Guang kini lebih sibuk dengan urusan Perusahaan, bahkan untuk sekedar berbincang berbagi beban pun seakan tak ada waktu.

“Kakakku terlalu sibuk pada pekerjaan,” ujar Gu Qiang tiba-tiba. “Tapi, itu semua demi kebaikan keluarga.”

Wanita itu terdiam, karena kata tersebut tak ada tuduhan tiada paksaan, hanya sebuah pengakuan tepat sasaran.

“Aku tumbuh jauh dari keluarga ini, tetapi, baru beberapa minggu saja, aku sudah bisa merasakan kalau kakak ipar sering sendirian.” Gu Qiang melanjutkan dengan nada rendah, hampir seperti bisikan, seolah menampar Yue Xindy hingga merasa semua ucapan adik ipar tersebut benar, sehingga bingung dengan apa yang dirasa saat ini.

Gu Qiang telah menyentuh kesunyian yang disembunyikan sangat rapi.

“Bukan bermaksud lancang,” dia berucap cepat seolah menyesal. “Hanya saja. Kakak ipar pantas di dengar, setiap orang beda-beda, jarang ada yang berani berkata jujur tentang perasaan.” lalu berdiri berniat pergi, tetapi sebelum melangkah, dia menambahkan suatu kalimat. “Kalau suatu hari Kakak Ipar ingin bicara, tanpa harus menjadi istri Zhang Guang, tanpa harus kuat, aku bersedia mendengarkan.” kata-kata tersebut menggantung di udara, bukan sebagai rayuan terang-terangan, melainkan sebagai pintu kecil yang sengaja dibiarkan terbuka.

Gu Qiang pergi dengan langkah tenang, meninggalkan Yue Xindy dalam keheningan, bukan lagi sunyi karena menunggu, melainkan kesepian berakhir dengan perasaan bersalah sebab sesuatu yang tidak boleh tumbuh.

Zhuo menelan ludah lalu melangkah perlahan masuk ke dalam kamar, dia hanya berdiri diam dibalik pintu berusaha mencerna kata-kata yang baru saja dia dengar, di ruang tamu, meskipun dia belum paham betul urusan orang dewasa.

Beberapa hari berlalu sejak malam hujan itu, tiada yang berubah. Akan tetapi, arus tak kasatmata bergerak semakin luas.

Gu Qiang semakin sering berada di rumah, dengan dalih membantu urusan perusahaan setiap hari dia pulang lebih awal, duduk di ruang kerja, atau sekadar membaca laporan di ruang keluarga, tidak terlihat berlebihan. Justru itulah yang membuat dia sulit diabaikan.

Yue Xindy menyadari satu hal perlahan mengganggu pikiran: Setiap kali ada Gu Qiang, suasana rumah terasa lebih hidup.

Sore itu, Zhang Guang kembali terjebak rapat. Sebuah pesan singkat dikirim, [aku pulang larut,] Sang istri meletakkan ponsel di meja dapur menghela napas panjang. Kesunyian semakin menyelimuti hati.

Gu Qiang berdiri tak jauh dari sana, menggulung lengan kemeja setelah membantu sekertaris membereskan dokumen, dia menangkap perubahan ekspresi tanpa bertanya. “Masih belum makan?”

“Aku tidak lapar,” jawab Yue Xindy cepat.

Gu Qiang tersenyum tipis seolah tahu kebohongan ringan, tanpa berkata apa-apa lagi dia berinisiatif menuangkan segelas air hangat lalu menyerahkan pada kakak ipar.

“Kakak ipar sering lupa menjaga diri sendiri.”

Kali ini, wanita itu hanya diam, mereka duduk berhadapan hanya dipisahkan meja makan, lampu putih menciptakan bayangan lembut di wajah mereka. Cukup dekat untuk saling melihat, cukup jauh untuk berpura-pura aman.

Gu Qiang menatap lebih lama dengan tatapan lembut, bukan mengintimidasi. Justru terlihat tenang, seperti berkata ‘aku melihatmu,’ bukan ‘aku menginginkanmu.’ Dan itu jauh lebih berbahaya.

“Kakak tahu,” dia berucap pelah, “tak masalah jika sesekali merasa lelah.” ucapan tersebut membuat Fang Wei-wei mengangkat wajah, untuk sesaat mata mereka bertemu. Tiada kata dan tak ada gerakan. Namun, di antara tatapan itu, batas pertama mulai retak.

Ketika wanita itu hendak mengambil gelas, tanpa sengaja menyentuh punggung tangan Gu Qiang, sentuhan singkat. Namun cukup untuk membuat mereka terdiam. Tangan Gu Qiang sengaja dibiarkan, tetapi bukan juga menggenggam.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
5 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status