LOGINEwan membelalakkan mata, berusaha melihat jelas benda apa sebenarnya cahaya putih itu, tetapi cahayanya terlalu menyilaukan hingga mustahil untuk dilihat dengan jelas.Terlihat cahaya putih itu perlahan melayang keluar dari permukaan air, lalu terangkat ke udara. Dua naga air raksasa itu seketika memelesat ke langit, terbang menuju cahaya putih tersebut."Enyahlah! Harta itu milikku, jangan rebutan denganku!" Nazar berteriak keras sambil memelesat keluar.Kecepatannya sangat tinggi. Dalam beberapa lompatan saja, dia sudah tiba di atas Jembatan Draken, lalu tubuhnya melompat tinggi dan tangan kanannya meraih ke arah cahaya putih itu.Dua naga air itu seolah-olah menyadari ada yang ingin merebut harta mereka. Mulut mereka langsung mengeluarkan raungan naga yang mengguncang, "Graaah!"Raungan naga yang menggelegar itu nyaris memecahkan gendang telinga Nazar, tetapi dia tidak memedulikannya dan tetap meraih ke arah cahaya putih.Wuss! Salah satu naga air tiba-tiba memutar tubuhnya dengan c
Ikan-ikan mas itu panjangnya hanya sekitar 30 sentimeter lebih sedikit, jumlahnya sangat banyak. Mereka berenang melawan arus ke hulu, menciptakan pemandangan yang luar biasa megah.Di atas Sungai Irida terdapat sebuah jembatan bernama Jembatan Draken yang menghubungkan Gunung Timur dan Gunung Barat.Saat ribuan ikan mas itu berenang melawan arus hingga tiba di Jembatan Draken, tiba-tiba ombak besar bergulung ke langit. Puluhan ribu ikan mas mendadak melompat keluar dari permukaan air, satu demi satu meloncat melewati Jembatan Draken."Ini ... ikan melompati jembatan!" Nazar berdiri dengan wajah penuh kegembiraan, lalu berkata, "Penyair terkenal pernah menulis begini dalam puisinya, 'Seekor ikan menentang derasnya arus,mendamba satu lompatan yang mengubah takdir. Melewati Gerbang Naga akan menjadi naga, gagal hanya kembali sebagai ikan biasa'.""Konon setelah banjir reda, ikan-ikan mas berenang melawan arus melalui sungai. Ketika mencapai tempat ini, badai dan ombak besar muncul. Ikan
Pukul 7 malam, di tepi Sungai Irida, bulan bersinar terang, sementara bintang-bintang tampak jarang.Ewan dan Nazar duduk di atas rerumputan, diam-diam menunggu datangnya tengah malam.Waktu berlalu, detik demi detik. Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam."Tua bangka, di mana harta karunnya?" tanya Ewan."Jangan terburu-buru. Saat tengah malam tiba dan fenomena lima bintang sejajar muncul, harta itu akan muncul sendiri." Nazar tiba-tiba teringat sesuatu, lalu berkata, "Harta ini sudah dicari Akademi Nagendra selama bertahun-tahun. Bocah sialan, aku peringatkan kamu, jangan rebutan denganku.""Tenang saja, aku nggak terlalu tertarik pada harta karun. Sekarang aku cuma ingin cepat-cepat memulihkan kultivasiku." Ewan melanjutkan, "Tapi kamu bisa mendapatkan harta itu atau nggak, tetap tergantung pada takdir."Nazar berkata dengan penuh percaya diri, "Kali ini, aku sudah melakukan persiapan matang. Harta itu pasti jadi milikku.""Semoga beruntung." Setelah mengatakan itu, Ewan
Nazar semakin bingung. Dia berpikir, 'Sebenarnya siapa mereka sampai sehebat itu?'"Tua bangka, kamu menjilatku begini, jangan-jangan ada sesuatu yang ingin kamu minta?" tanya Ewan."Benar saja, memang nggak ada yang bisa lolos dari pengamatanmu." Nazar terkekeh-kekeh, lalu berkata, "Perjalanan menuju Draken masih cukup jauh. Tolong panggilkan mobil dong!"Ewan berkata, "Memangnya kamu sendiri nggak bisa pesan?"Nazar tersenyum. "Aku terlalu fokus pada cara membantumu menemukan nadi naga, jadi saat turun gunung tadi aku terlalu terburu-buru dan nggak bawa uang."'Siapa pula yang percaya?!' Ewan tidak banyak bicara lagi. Dia mengirim sebuah pesan singkat. Saat dia dan Nazar tiba di area parkir, sebuah mobil Mercedes mewah sudah menunggu cukup lama."Bocah, ternyata kamu pesan mobil mewah." Nazar bertanya pelan, "Biaya sewanya mahal ya?"Ewan menyahut, "Ini sudah diatur oleh Zayn, gratis."Sekarang Organisasi Draken sudah menguasai seluruh wilayah. Di Kota Lokara pun ada murid Organisasi
Ewan melongo. Hari ini sebenarnya hari apa? Kenapa kesialan datang berturut-turut tanpa henti?Perlu diketahui, Nazar adalah seorang kultivator abadi. Biasanya bahkan pedang dan peluru pun tidak bisa melukainya, tetapi tak disangka hanya karena jatuh ringan, tulangnya malah patah. Benar-benar sulit dipercaya.Ewan tidak bisa menahan diri untuk bertanya, "Tua bangka, bagaimanapun juga kamu ini pemimpin sebuah sekte. Kenapa tulangmu rapuh sekali?"Nazar melotot ke arah Ewan. "Aku patah tulang, bukannya menghibur malah ngomong seenaknya. Kamu masih manusia bukan sih?"Ewan tersenyum. "Tentu saja aku manusia, bahkan pria sejati."Nazar berkata dengan tidak sabar, "Sudahlah, jangan bercanda terus. Cepat bantu aku berdiri."Siapa sangka, Ewan tetap berdiri di tempat tanpa bergerak. "Kamu ini kultivator abadi tingkat fondasi. Masa cuma jatuh sedikit saja sudah nggak bisa bangun?"'Sialan kamu!' Nazar benar-benar kesal dibuat Ewan. Dia lalu mendengus dingin. "Kamu nggak mau bantu ya? Hmph, aku
Ewan merasa agak penasaran, sebenarnya harta mengejutkan apa yang dicari oleh para kepala sekte Akademi Nagendra itu?"Aku bisa temani kamu ke Draken, tapi kita harus sepakat dulu. Nggak peduli kamu bisa mendapatkan harta itu atau nggak, besok kita wajib pergi ke Gunung Angkara," kata Ewan.Nazar langsung tersenyum lebar. "Aku tahu kamu nggak akan meninggalkanku sendirian. Tenang saja, aku sudah meramal perjalanan ini sebagai pertanda keberuntungan besar. Harta itu pasti akan kudapatkan."Ewan segera memerintahkan Zayn, "Cepat pesan tiket pesawat ke Kota Lokara untuk kami.""Baik." Zayn menjawab, lalu mengeluarkan ponselnya. Beberapa saat kemudian, dia berkata, "Bos, tiket pesawat dari Papandaya ke Kota Lokara sudah habis."Ewan berkata lagi, "Kalau begitu, cari penerbangan ke bandara terdekat dari Kota Lokara.""Baik." Zayn memeriksa ponselnya, lalu berkata, "Bos, aku baru cek. Beberapa bandara terdekat dari Kota Lokara juga sudah kehabisan tiket."Ewan berkata dengan kesal, "Bahkan t







