LOGINEwan berkata, "Lebih baik kita sepakati sekarang saja, supaya nanti kamu nggak menyesal.""Apakah di antara manusia sudah nggak ada lagi kepercayaan sedikit pun?" kata Nazar dengan kesal. "Apakah di matamu aku ini orang licik yang nggak menepati janji?"Ewan mengangguk. "Ya!"Dasar kamu!Nazar berkata, "Jangan banyak omong. Cepat datang dan bawa aku keluar. Jimat pedang satu lembar 200 miliar. Aku bawa 10 lembar."Ewan berkata, "Belakangan ini aku sedang kekurangan uang. Aku takut nggak bisa mengeluarkan sebanyak itu."Nazar berkata, "Kamu ini ketua Organisasi Draken, bisa menggerakkan dana ratusan triliun. Masa nggak punya satu triliun? Ditambah lagi Lisa adalah presdir grup. Masa nggak punya uang segitu?"Ewan berkata dengan tenang, "Nggak bisa.""Menurutku, kamu jelas-jelas ingin memanfaatkan situasi!" kata Nazar dengan marah."Kenapa kamu memandangku seperti itu? Aku bukan orang seperti itu. Hanya saja akhir-akhir ini aku memang kekurangan uang," kata Ewan tanpa rasa malu.Nazar be
'Terjadi masalah sama temanku?'Hati Ewan langsung terkejut. Dia segera bertanya, "Boleh saya tahu teman saya yang mana yang mengalami masalah?"Polisi itu menjawab, "Saya tidak tahu namanya. Bagaimana pun kami bertanya, dia tidak mau bicara.""Hm?" Ewan semakin bingung lalu bertanya lagi, "Seperti apa penampilannya?"Polisi menjawab, "Seorang pendeta tua."Si tua bangka itu? Sudah sampai Papandaya secepat ini?Wajah Ewan langsung tampak canggung. Dia berkata, "Maaf, saya nggak kenal pendeta apa pun dan juga tidak punya teman pendeta. Anda pasti salah sambung."Setelah berkata demikian, Ewan langsung menutup telepon. Dia menebak bahwa si tua bangka itu pasti lagi-lagi tertangkap di tempat hiburan malam. Sial sekali!Ewan keluar dari kamar. Neva sudah mengajak Mini dan Tiara duduk di ruang tamu, tepat di meja makan. Aruna keluar dari dapur sambil membawa hidangan dan berkata dengan senyum, "Ewan, cepat duduk, ayo makan."Ewan memang sudah lapar. Dia duduk, lalu mereka semua mulai makan
"Sida sudah meninggal," kata Ewan sambil meletakkan Pedang Cahaya Senja. "Aku baru kembali dari Wilayah Miro hari ini.""Organisasi Draken menyerang Sekte Hyang, dan Sida gugur dalam pertempuran. Mariadi, Magana, dan Maprana dari Kota Terlarang juga kubunuh di Wilayah Miro." Wajah Neva penuh keterkejutan. Dia terdiam sejenak, lalu mendekati Ewan dan meraba tubuhnya dari atas sampai bawah."Kak Neva, kamu sedang apa?" tanya Ewan dengan bingung."Aku ingin melihat apakah kamu terluka," kata Neva dengan wajah penuh perhatian."Tenang saja, aku nggak terluka," kata Ewan. "Aku juga ingin memberitahumu satu hal lagi, tapi kamu harus merahasiakannya.""Mini adalah putri kandung Sida.""Apa?"Neva tercengang.Ewan berkata, "Dulu Sida jatuh cinta dengan sang Santa dari Sekte Hyang, Ranti. Mereka kemudian memiliki seorang anak, yaitu Mini. Sebelum meninggal, Sida memintaku untuk menjaga Mini. Karena itu aku membawanya kembali ke sini.""Sedangkan Tiara adalah tabib nomor satu di Wilayah Miro. Ke
Pukul satu siang. Pesawat mendarat di Papandaya."Mini, sekarang kamu tinggal di mana?" tanya Ewan. Dia berencana menempatkan Tiara tinggal bersama Mini."Aku tinggal di asrama staf rumah sakit," jawab Mini."Apakah masih ada kamar kosong di asrama?" tanya Ewan lagi.Mini menggeleng. "Sudah nggak ada." Sepertinya dia harus mencarikan tempat tinggal lain untuk Tiara.Pada saat itu, ponsel Ewan tiba-tiba berdering. Yang menelepon adalah Aruna. Ewan segera mengangkatnya dan berkata, "Bu!""Ewan, kamu di mana?" tanya Aruna."Aku baru turun dari pesawat, sedang dalam perjalanan pulang," jawab Ewan."Kalau begitu cepat pulang untuk makan," kata Aruna.Ewan bertanya, "Bu, kapan Ibu kembali dari Soharia?"Aruna berkata, "Aku kembali pagi-pagi tadi. Kamu cepat pulang, aku menunggumu makan di rumah."Ewan melirik Mini dan Tiara, lalu berkata, "Bu, aku bawa dua teman pulang untuk makan. Nggak masalah, 'kan?""Nggak masalah, nggak masalah. Cepat pulang!"Setelah berkata demikian, Aruna langsung me
"Kalau kamu berhasil memusnahkan Kota Terlarang, semua krisis akan terselesaikan. Kalau kamu nggak bisa memusnahkannya, kamu yang akan mati.""Setelah kamu mati, aku akan menggunakan identitasku sebagai istri ketua untuk diam-diam menarik satu pasukan elite Organisasi Draken dan bersembunyi. Kami akan menahan diri, memperkuat kekuatan, lalu menunggu kesempatan untuk bangkit kembali."Ewan sedikit kesal. "Kamu benar-benar berharap aku mati?""Hehehe ...." Cantika tertawa manja lalu berkata, "Tentu saja aku nggak ingin kamu mati. Bagaimanapun juga, aku masih belum cukup menikmati dirimu.""Kalau kamu suka, coba saja lagi."Efek racun sudah hilang dan kekuatan Ewan kembali pulih. Kali ini dia ingin menebus rasa malu sebelumnya. Dia langsung mengambil inisiatif.Beberapa saat kemudian, Cantika mulai memohon, "Ewan, tolong lepaskan aku ... sakit ...."....Keesokan harinya.Para petinggi Organisasi Draken berkumpul di depan patung perunggu Sida.Pandangan Ewan menyapu wajah semua orang satu
Ewan langsung membelalakkan matanya dan menatap Cantika, lalu menelan ludah.Tubuh seperti apa ini? Kulitnya putih mulus, pesonanya memikat. Benar-benar wanita yang dilahirkan dengan kecantikan luar biasa!"Kalau aku nggak bisa jadi ketua, jadi istri ketua juga nggak buruk." Cantika tersenyum nakal, lalu langsung menerjang ke arah Ewan."Cantika, apa yang kamu lakukan?" bentak Ewan. "Jangan sembarangan."Namun, Cantika sama sekali tidak mendengarkan kata-kata Ewan. Dalam beberapa gerakan saja dia sudah menanggalkan pakaian Ewan."Tak kusangka, kamu kelihatan cukup kurus waktu berpakaian, tapi setelah dilepas ototmu ternyata kekar juga. Aku suka." Cantika menjilat sudut bibirnya, matanya dipenuhi senyum menggoda."Cantika, jangan sembarangan." Ewan buru-buru berkata, "Kamu ini adik Sida. Sida adalah senior bagiku, kamu nggak boleh melakukan hal seperti ini.""Aku bukan adik kandung Sida, jadi apa yang perlu ditakutkan?" kata Cantika, lalu langsung mencium Ewan."Pergi!"Ewan ingin mendo
Srett ....Jarum emas itu menusuk langsung ke tenggorokan Guntur. Setelah itu, Ewan menjentikkan jarinya ke ujung jarum dengan lembut.Buzz! Jarum emas itu bergetar hebat, mengeluarkan suara dengungan yang tajam."Transmigrasi Jarum Emas?" Atta sedikit terkejut, akhirnya paham kenapa Ewan berani men
"Ya sudah kalau Ibu nggak kenal, aku jadi tenang," kata Ewan. "Soalnya dia sudah meninggal."Plak! Sendok di tangan Aruna tiba-tiba jatuh ke atas meja. Dia memandang Ewan dengan ekspresi terkejut, lalu bertanya, "Tadi kamu bilang apa?""Aku bilang, Abdi Hantu sudah meninggal."Begitu Ewan selesai be
"Ewan, ikut aku ke dalam," kata Ammar sambil melangkah terlebih dahulu masuk ke ruang pendingin.Ewan dan Jessie segera menyusul di belakangnya.Begitu memasuki ruang pendingin, Ewan langsung melihat 12 jenazah berbaring rapi di lantai. Ada yang tua, ada juga yang masih muda. Semua jenazah dalam kea
Mona tidak sempat menghindar. Dia ditampar hingga mundur tiga atau empat langkah, lalu jatuh terduduk di lantai. Dia menatap perawat kecil yang menamparnya itu dengan marah, lalu bertanya, "Apa maksudmu?""Kamu masih bisa tanya apa maksudku? Waktu Dylan yang tolol itu belum mati, kamu 'kan sering me







