Mag-log inDi antara beberapa wanita yang dekat dengan Ewan, orang yang paling suka dia temani adalah Lisa.Di depan Ewan, Lisa tidak pernah bersikap manja berlebihan atau marah-marah. Dia selalu menuruti hampir semua keinginan Ewan, juga sering memberinya kejutan. Kadang hanya dengan satu tatapan atau beberapa kalimat saja sudah membuat darah Ewan bergejolak.Bersama Lisa, Ewan merasa rileks sekaligus bahagia.Mendengar kata-kata Lisa, Ewan tentu tidak bisa menahan diri lagi. Dia segera menundukkan kepala, bersiap mencium Lisa.Lisa menutup matanya, sudah siap menerima.Suasana sangat indah.Tok, tok! Tiba-tiba, suara ketukan dari luar pintu memutus momen mereka."Siapa?" teriak Lisa."Bu Lisa, ini aku." Suara Dinda terdengar dari luar."Ada apa?" tanya Lisa.Dinda berkata, "Aku meninggalkan catatan rapat di ruang rapat."Lisa mendongak melihat ke meja rapat. Benar saja, ada sebuah laptop di atas meja. "Tunggu sebentar."Lisa keluar dari pelukan Ewan, lalu berkata, "Masuk saja dan ambil sendiri.
"Bu Lisa, meskipun pasar estetika medis sedang berkembang pesat, persaingannya juga sangat besar. Kita belum pernah melakukannya sebelumnya. Kalau terburu-buru masuk ke pasar estetika medis, risikonya sangat besar.""Benar. Kita sama sekali nggak punya pengalaman di pasar estetika medis. Masalah ini harus dipertimbangkan dengan hati-hati.""Bu Lisa, menurutku bisa dipertimbangkan lagi."Para petinggi perusahaan pada dasarnya semuanya menentang."Dinda, gimana dengan pendapatmu?" tanya Lisa kepada Dinda.Dinda berkata, "Seiring perkembangan masyarakat, standar hidup orang semakin tinggi. Baik wanita maupun pria semakin memperhatikan penampilan. Nggak diragukan lagi, industri estetika medis punya masa depan yang cerah.""Bu Lisa ingin terjun ke estetika medis, aku mendukungnya. Tapi kita harus memiliki sebuah produk yang diakui pasar.""Perusahaan mana pun yang ingin menghasilkan uang nggak bisa lepas dari produk.""Produk yang kita kembangkan bukan hanya harus memiliki efek yang bagus,
Tangan Ewan bergetar. Ponselnya hampir saja jatuh ke lantai. Di benaknya langsung muncul sosok Lisa yang cantik dan memikat. Hatinya pun sedikit berdebar.Ting! Ponselnya menerima pesan lagi.[ Suamiku, cepat datang ke sini. Aku sangat kesepian, sangat kosong, sangat membutuhkanmu .... ]Ewan sudah tak bisa menahan diri lagi. Dia segera mengetuk pintu dengan cepat. Sambil mengetuk, dia bahkan bernyanyi, "Kelinci kecil yang baik, bukalah pintunya, cepat buka, aku mau masuk ...."Plak! Pintu kantor terbuka sedikit. Yang dilihat Ewan bukanlah Lisa, melainkan Dinda.Dinda berdiri di balik celah pintu dengan wajah dingin, lalu memarahi Ewan, "Berisik sekali! Nggak tahu kalau di sini dilarang membuat keributan? Kalau kamu terus seperti ini, aku akan menyuruh resepsionis melarangmu masuk.""Kenapa emosimu besar sekali?" Ewan menatap wajah Dinda yang sedingin es, lalu bertanya sambil tersenyum, "Kamu habis putus cinta ya?""Sepertinya bukan. Biasanya pria lebih suka kucing yang jinak, bukan ha
"Bu Lisa ada?" tanya pria paruh baya itu."Pak, boleh saya tahu ada keperluan apa Anda mencari Bu Lisa?" Resepsionis sebenarnya sudah tahu maksud pria itu ketika melihat bunga mawar di tangannya, tetapi tetap bertanya sebagai bentuk sopan santun.Pria paruh baya itu berkata, "Aku ingin bicara sedikit sama Bu Lisa.""Pak, apakah Anda sudah membuat janji dengan Bu Lisa?" tanya resepsionis lagi.Pria itu tersenyum. "Aku dan Bu Lisa saling kenal. Nggak perlu janji."Resepsionis berkata dengan sopan, "Maaf, Pak. Perusahaan memiliki peraturan. Kalau tidak ada janji, saya tidak bisa mengizinkan Anda masuk."Wajah pria paruh baya itu sedikit kaku, lalu berkata lagi, "Aku adalah rekan bisnis Bu Lisa. Serius, nggak perlu janji, kok."Resepsionis tersenyum. "Kalau Anda memang sangat akrab dengan Bu Lisa, silakan telepon beliau dan minta beliau turun menjemput Anda."Pria paruh baya itu terdiam.Pada saat itu, sebuah suara yang dalam dan penuh karisma tiba-tiba terdengar, "Bu Lisa ada di mana?"Re
Menghadapi pertanyaan Ewan, Nazar terkekeh dua kali dan tidak menjawab. Ewan langsung kesal dalam hati. Dia tahu, tua bangka ini pasti ingin mengambil keuntungan dari situasi."Sebutkan saja harganya," kata Ewan.Nazar berkata, "Aku sudah jual 10 jimat pedang ke kamu. Sekarang aku sudah punya 600 miliar, nggak kekurangan uang.""Lalu apa yang kamu inginkan?" tanya Ewan.Nazar tersenyum. "Aku nggak ingin apa-apa."Dasar sialan.Ewan sampai ingin menampar kakek tua ini.Nazar kemudian berkata, "Aku punya satu syarat. Dalam perjalanan ke timur laut kali ini, kamu harus mendengarkan semua perintahku. Kalau nggak, jangan harap aku kasih tahu kamu cara menyembuhkan Tiara."Ewan menatap Nazar. Dia melihat mata kakek tua itu dipenuhi kelicikan. Ewan tiba-tiba menyadari bahwa tujuan Nazar pergi ke Gunung Chabari bukan semata-mata untuk membantu mencari obat spiritual seribu tahun.Dia pasti punya tujuan lain.Apa sebenarnya tujuan itu?Ewan langsung mengungkapkan kecurigaannya, "Apa sebenarnya
Melihat Ewan terdiam sambil berpikir, Nazar berkata dengan tidak sabar, "Aku sudah bicara sampai sejauh ini. Mau dengar atau nggak, terserah kamu. Sekarang nyetir!"Ewan menyalakan mobil dan melaju menuju pusat kota.Beberapa saat kemudian, Nazar tiba-tiba bertanya, "Bocah, kamu cari obat spiritual seribu tahun itu untuk pemimpin wanita dari Sekte Hyang itu, 'kan?"Ewan tidak menanggapi. Nazar melanjutkan, "Menyembuhkan Sembilan Nadi Terlarang nggak semudah itu."Ciiit!Ewan tiba-tiba menginjak rem keras, lalu menoleh dengan wajah terkejut ke arah Nazar. "Dari mana kamu tahu Tiara punya Sembilan Nadi Terlarang?"Nazar terkekeh. "Kamu lupa siapa aku? Aku ini pemimpin Akademi Nagendra. Kalau aku bahkan nggak bisa melihat Sembilan Nadi Terlarang, lalu untuk apa aku jadi pemimpin sekte?"'Sial, tanpa sengaja orang tua ini berhasil pamer.'Ewan menatap Nazar dengan kesal. "Bicara yang serius."Nazar berkata, "Waktu pertama kali aku melihat Tiara di Wilayah Miro, aku sudah tahu ada yang ngga
Jari telunjuk dan jari tengah tangan kanan Ewan disatukan membentuk seperti pedang, siap untuk menggambar jimat kapan saja demi menghentikan pendarahan.Neva, Jessie, dan dokter gawat darurat semuanya menatap ke arah tangan Ewan tanpa berkedip. Semua orang sadar, ini adalah saat yang paling krusial.
'Apa-apaan ini? Kamu yang pesan, aku yang bayar, kamu pikir aku ini orang bodoh?'"Teman-teman, kaviar itu bukan makanan yang bisa dimakan di sembarang tempat. Ayo dong, semua ucapkan terima kasih pada Ketua Kelas."Begitu ucapannya selesai, semua orang di ruangan itu serempak berkata, "Terima kasih
"Ini jelas bohong!"Namun, Ewan hanya berkata ringan, "Aku ini cuma perawat kecil, mana berani minum-minum dengan Pak Laksh. Siapa tahu kamu menaruh racun di dalamnya?"Laksh tertawa, "Kamu ini bisa saja. Aku ini warga negara yang taat hukum, tahu?""Taat hukum?" Ewan menyeringai, menunjuk ke arah H
Semua orang hampir serempak menoleh, pandangan mereka langsung tertuju pada Ewan.Sabian mengira dirinya salah dengar, jadi bertanya, "Apa yang kamu bilang tadi? Ulangi.""Aku bilang, sebenarnya aku juga bisa menyembuhkan Pak Guntur," ujar Ewan sambil tersenyum tenang."Kamu juga bisa menyembuhkan k







