Share

Bab 656

Author: Rexa Pariaman
"Pak Ewan, Pak Ewan ...." Mini terus memanggil berkali-kali, tetapi Ewan tidak memberi reaksi sama sekali.

Apa yang harus kulakukan? Mini benar-benar panik.

Saat ini, selain dirinya, semua orang yang bersama mereka masih dalam keadaan pingsan.

"Oh ya, Pak Ewan bilang aku harus menelepon rumah sakit di kota ...." Mini buru-buru mengeluarkan ponsel dan segera menekan nomor darurat.

Pada saat dia membalikkan badan, mata Ewan sempat terbuka sedikit, lalu kembali terpejam rapat.

'Kalau Mini memang be
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2923

    Bunga itu semakin lama semakin besar. Kelopak-kelopaknya terbuka selapis demi selapis. Kelopak yang berada paling luar melengkung kuat ke belakang, hingga membentuk sekuntum bunga putih besar berbentuk bulat.Kelopaknya sehalus giok, seputih kain sutra, dan seringan kain kasa.Dari kejauhan, bunga itu tampak seperti seorang dewi yang luar biasa cantik yang sedang menari dengan anggun."Bunga apa ini?" gumam Ewan pelan."Tulang Roh Merah." Suara Dewi Kembang terdengar lemah.Ewan menunduk dan berkata dengan gembira, "Kamu sudah sadar?""Ya." Dewi Kembang menggumam pelan. Bibirnya berwarna ungu kehitaman. Dia bertanya, "Di mana Midori dan Master Nazar?""Kita terpisah dari mereka. Tenang saja, mereka bakal baik-baik saja!" Sebenarnya Ewan sangat mengkhawatirkan keselamatan Nazar dan Midori. Dia juga tidak tahu apakah mereka berdua ikut jatuh ke dalam retakan. Dia mengatakan itu hanya karena tidak ingin Dewi Kembang khawatir.Kondisi Dewi Kembang sangat buruk. Jika dia tahu Midori berada

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2922

    Di dalam formasi besar, Ewan menunduk dan melihat Dewi Kembang yang masih pingsan dalam pelukannya, lalu berkata, "Tua bangka, di mana harapan yang kamu sebut itu?""Bocah, kamu bodoh ya? Kenapa menanyakan pertanyaan sebodoh itu?"Nazar berkata, "Kamu nggak dengar ucapan mereka? Tempat ini adalah makam seorang mahasuci. Sudah pasti harapan itu ada di dalam makam."Midori juga berkata, "Ada Dewa Pedang Mabuk dari Sekte Pedang Cakrawala, Tetua Keenam dari Aliran Hitam Putih, Dewi Santika dari Tanah Suci Kekacauan, serta para ahli tingkat semi mahasuci dari berbagai tanah suci lainnya.""Biasanya, satu saja dari mereka sangat sulit ditemui, tapi sekarang semuanya berkumpul di sini. Ini menunjukkan kalau Makam Mahasuci ini benar-benar luar biasa.""Dari ucapan mereka tadi, di dalam Makam Mahasuci ada warisan mahasuci. Mungkin ucapan Master Nazar benar. Harapan itu memang ada di dalam makam."Nazar kemudian berkata, "Dewa Pedang Mabuk tadi sudah bilang, tiga hari lagi, Formasi Mahasuci akan

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2921

    Suasana semakin tegang, seolah pertarungan akan segera pecah hanya karena salah bicara sedikit.Dari Aliran Penguasa Langit seorang lelaki tua berjalan ke depan. Lelaki tua itu berkata, "Kalau kalian berdua memang punya dendam pribadi, bagaimana kalau menunggu sampai Makam Mahasuci dibuka sebelum bertarung?""Betul. Kita datang ke dataran es kali ini demi warisan mahasuci. Untuk apa kalian malah saling menantang sekarang?" kata seorang lelaki tua dari Tanah Suci Arkais.Tak lama kemudian, seorang wanita cantik paruh baya dari Tanah Suci Kekacauan maju ke depan. Dari penampilannya, dia terlihat baru berusia 30-40 tahun.Tubuhnya ramping dan pesonanya masih terpancar. Namun, aura yang terpancar dari sosoknya menunjukkan bahwa wanita ini bukan hanya sudah berusia cukup lanjut, tetapi kultivasinya juga sangat tinggi.Wanita cantik paruh baya itu berkata, "Dewa Pedang Mabuk, Tetua Keenam, kalian berdua juga sudah hidup selama 1.000 tahun lebih. Kenapa kalian masih mudah terbawa emosi? Hanya

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2920

    Pedang tujuh warna menjulang tinggi ke cakrawala.Seketika, aura pedang yang sangat dahsyat menyelimuti langit dan bumi. Ekspresi semua orang yang hadir langsung berubah.Meskipun Ewan dan yang lainnya berada di dalam Formasi Mahasuci, saat ini mereka juga merasakan tekanan yang membuat mereka hampir tidak bisa bernapas."Pedang Surya Tujuh Warna!"Terdengar seruan kaget dari kehampaan.Ewan menatap pedang ilahi berwarna-warni itu dan berseru kagum, "Pedang ini benar-benar luar biasa."Midori berkata, "Konon, pendiri Sekte Pedang Cakrawala pernah menangkap seekor foniks, lalu menggunakan bulu foniks untuk menempa sebuah Pedang Mahasuci bernama Pedang Surya Tujuh Warna.""Sejak saat itu, Pedang Surya Tujuh Warna menjadi pedang pribadi yang diwariskan kepada setiap Ketua Sekte Pedang Cakrawala.""Tak kusangka Dewa Pedang Mabuk membawa pedang ini kemari."Ewan bertanya, "Apa tingkat kultivasi Dewa Pedang Mabuk?"Midori menjawab, "Kabarnya, bertahun-tahun lalu Dewa Pedang Mabuk sudah menca

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2919

    Nazar berkata, "Aku tentu nggak mau mati. Aku masih harus menikahi 360 selir."Ewan kemudian bertanya kepada Midori, "Kamu masih bisa bertahan?"Midori menggertakkan gigi dan menjawab, "Bisa."Mereka bertiga bertahan mati-matian dan terus berjalan. Empat jam kemudian, tiba-tiba sebuah ngarai muncul di depan mereka."Bocah tengik, ada ngarai di depan!" seru Nazar dengan gembira."Aku melihatnya."Ewan berjalan menuju ngarai. Setelah memasuki ngarai, hawa dingin akhirnya sedikit berkurang.Di kedua sisi ngarai terdapat gletser. Mereka tetap tidak berhenti dan terus menyusuri ngarai. Setelah berjalan selama satu jam, mereka akhirnya tiba di ujung ngarai."Bocah tengik, cepat lihat!"Nazar tiba-tiba menunjuk ke langit.Ewan mendongak dan langsung melihat belasan artefak terbang yang menyerupai Perahu Angin sedang berhenti di kehampaan di luar penghalang cahaya putih.Di antaranya terdapat sebuah Perahu Angin yang terbuat dari perunggu. Di atasnya berdiri seorang pria tua dan seorang pemuda

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2918

    Ewan dan rombongannya terus berlari secepat mungkin. Entah sudah berapa lama mereka berjalan, sejauh mata memandang, di depan mereka masih terbentang hamparan es dan salju tanpa ujung."Seharusnya aku nggak mendengarkanmu, dasar pembawa sial." Ewan menoleh dan memelototi Nazar sambil mengumpat kesal.Sambil terus berlari, dia juga menyalurkan energi sejati kepada Dewi Kembang untuk melawan hawa dingin. Akibatnya, stamina Ewan terkuras jauh lebih cepat."Bocah tengik, istirahatlah sebentar. Biar aku meramal dulu sebelum kita melanjutkan perjalanan."Setelah berkata demikian, Nazar mengeluarkan sekeping uang tembaga. Dia menggenggamnya dengan kedua tangan sambil mengguncang-guncangkannya dan merapalkan mantra.Beberapa saat kemudian, Nazar membuka telapak tangannya. Keping uang tembaga itu memelesat ke langit, lalu terbang ke arah depan."Teruslah maju. Di depan pasti ada harapan hidup.""Ayo!"Mereka kembali melanjutkan perjalanan.Setelah berlari selama beberapa jam, Ewan kelelahan hin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status