LOGIN"Karena harus mencari ayahku, aku nggak bisa bergabung dengan Sekte Pedang Cakrawala."Rupanya begitu."Manusia memang harus mengutamakan bakti pada orang tua. Abadi, kamu benar-benar anak yang baik." Dewa Pedang Mabuk terkekeh dan bertanya, "Jujurlah, apa hubunganmu dengan Dewi Kembang?"Ewan tidak menyembunyikannya. "Dia adalah orang yang kucintai."Dewa Pedang Mabuk tersenyum. "Aku sudah menduganya. Hubungan kalian berdua memang nggak sesederhana itu."Ewan berkata, "Istana Kembang dimusnahkan dalam semalam. Guru Dewi Kembang serta saudari seperguruannya semuanya dibunuh dengan kejam. Dia juga orang yang bernasib malang.""Aku harus pergi mencari ayahku. Aku nggak tahu bahaya apa yang akan kuhadapi. Selain itu, kali ini aku sudah membunuh murid-murid dari lima sekte besar. Setelah mereka mengetahui hal ini, mereka pasti nggak akan melepaskanku.""Senior, tolong jaga Dewi Kembang dengan baik."Dewa Pedang Mabuk menjawab, "Tenang saja. Dia akan aman di Sekte Pedang Cakrawala.""Terima
Ewan dan Dewa Pedang Mabuk berjalan ke samping."Apa yang ingin kamu bicarakan?" tanya Dewa Pedang Mabuk."Apa Senior pernah mendengar tentang Istana Kembang?" tanya Ewan.Dewa Pedang Mabuk menggelengkan kepala.Ewan merasa sedikit kesal. Sepertinya, keberadaan Istana Kembang jauh lebih tidak dikenal daripada yang dia bayangkan."Ehem ...." Ewan berdeham untuk menutupi kecanggungannya, lalu meneruskan, "Sejujurnya, Dewi Kembang adalah pemimpin Istana Kembang."Dewa Pedang Mabuk melirik Dewi Kembang, lalu bertanya, "Maksudmu, dia?""Ya," jawab Ewan. "Menurutku, perkataan Senior tadi ada benarnya. Aku nggak bisa membiarkan teman-temanku menjalani hidup dengan terus bersembunyi hanya karena mereka mengikutiku."Wajah Dewa Pedang Mabuk langsung berseri-seri. Dia bertanya, "Jadi, kamu bersedia ikut denganku ke Sekte Pedang Cakrawala?""Bukan begitu," jawab Ewan. "Aku ingin meminta bantuan Senior untuk membawa Dewi Kembang ke Sekte Pedang Cakrawala.""Oh, itu perkara mudah. Nggak masalah." D
Dewa Pedang Mabuk ikut berkata, "Dewa Pedang Kecapi adalah adik seperguruanku. Sampai sekarang, dia belum memiliki murid. Kalau kamu bersedia menjadi muridnya, dia pasti akan mengajarkan semua ilmunya padamu."Dewa Pedang Kecapi menatap Ewan sambil tersenyum lebar. Menurutnya, Ewan tidak punya alasan untuk menolak tawarannya.Namun, di luar dugaan, Ewan justru berkata, "Terima kasih atas kebaikan hati Senior. Tapi aku harus menolak tawaran ini."Senyum di wajah Dewa Pedang Kecapi langsung membeku. "Abadi, kenapa begitu?"Dia tidak habis pikir mengapa Ewan menolak kesempatan yang diimpikan banyak orang ini.Harus diketahui, tak terhitung banyaknya kultivator di dunia ini bermimpi bisa menjadi murid Sekte Pedang Cakrawala. Apalagi jika mereka bisa diterima langsung sebagai murid Dewa Pedang Kecapi, itu sama saja dengan mendapat keberuntungan besar yang sulit dipercaya. Lantas, mengapa Ewan menolak?Ewan menjawab, "Aku hanyalah seorang kultivator pengembara. Untuk saat ini, aku belum bere
Para ahli dari tiga tanah suci tewas satu demi satu di tangan Dewa Pedang Kecapi. Hujan darah berhamburan di udara. Pertarungan itu berlangsung sangat mengerikan.Dewa Pedang Kecapi mengulurkan tangan kanannya. Jarum Pemusnah Dewa pun jatuh ke telapak tangannya, lalu dia menyimpannya ke dalam Cincin Ruang."Dik, kamu memang hebat!" kata Dewa Pedang Mabuk dengan penuh kekaguman."Bukan aku yang hebat, tapi senjata ini." Dewa Pedang Kecapi mengangkat Cambuk Pemukul Dewa di tangannya.Dewa Pedang Mabuk tampak bingung. "Cambuk ini ....""Bocah itu meminjamkannya padaku." Dewa Pedang Kecapi menunjuk Ewan, lalu mengamati Cambuk Pemukul Dewa berulang kali sambil berkata, "Aneh sekali. Cambuk kayu ini terlihat biasa saja, tapi kekuatannya sungguh luar biasa.""Jangan-jangan ini artefak suci?" tanya Dewa Pedang Mabuk."Sepertinya bukan," jawab Dewa Pedang Kecapi. "Sebelumnya, bocah itu memberitahuku bahwa cambuk ini bisa mencambuk ahli yang tingkat kultivasinya satu tingkat lebih tinggi. Awalny
Hampir pada saat yang sama, Donar berubah menjadi bayangan samar dan mengejar Dewa Pedang Mabuk seolah sedang berteleportasi.Dia ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk membunuh Dewa Pedang Mabuk.Dewa Pedang Mabuk jelas menyadari niat Donar. Dalam keadaan terdesak, dia memutar tubuhnya dengan cepat di udara, lalu mundur menjauh.Namun, Donar terus mengejarnya. Tinju emasnya menerobos segala rintangan dan menghantam lengan kiri Dewa Pedang Mabuk.Puh! Lengan kiri Dewa Pedang Mabuk hancur berkeping-keping. Darah memercik hingga setinggi beberapa meter, menciptakan pemandangan yang mengerikan.Melihat kejadian itu, hati Ewan dan yang lainnya langsung menegang.Kekuatan tempur Donar sungguh mengerikan. Tinju orang itu seolah mampu membuat seluruh penjuru langit dan bumi tunduk kepadanya.Argh! Dewa Pedang Mabuk meraung keras. Tanpa memedulikan luka-lukanya, dia menyatukan jari telunjuk dan jari tengahnya, lalu mengayunkannya ke udara dari kejauhan.Trang! Cahaya pedang berbentuk naga pan
Niat bertarung Dewa Pedang Mabuk semakin membara. Sambil menggenggam Pedang Surya Tujuh Warna, dia bersiap menebas Santika.Tiba-tiba, seberkas cahaya keemasan membelah angkasa dan muncul di belakang Dewa Pedang Mabuk dengan kecepatan yang luar biasa."Awas!" teriak Ewan dengan keras.Dewa Pedang Mabuk sudah menyadari kedatangan lawan. Dia langsung mengayunkan pedangnya ke belakang.Trang! Benturan dahsyat mengguncang langit dan bumi, menggelegar seperti sambaran petir.Dewa Pedang Mabuk berbalik dan mendapati bahwa orang yang menyerangnya adalah tetua dari Tanah Suci Arkais.Tetua itu beradu langsung dengan Pedang Surya Tujuh Warna menggunakan tinjunya. Namun, tubuhnya sama sekali tidak terluka. Hal ini menunjukkan betapa luar biasa kekuatan fisiknya."Donar, sepertinya Tanah Suci Arkais juga ingin bermusuhan sampai salah satu dari kita mati, benar begitu?" ujar Dewa Pedang Mabuk. Tatapannya berubah serius.Donar adalah tetua dari Tanah Suci Arkais. Dia sudah terkenal sejak lama, bahk







