Share

Bab 843

Author: Rexa Pariaman
Ewan menancapkan beberapa jarum pada tubuh Donny untuk menghentikan pendarahan dan meredakan rasa sakit, lalu mulai mengeluarkan peluru.

Saat itu, suara sang Jenderal yang marah terdengar lewat speaker markas. "Ewan, kalau memang berani, keluar sekarang juga! Jangan jadi pengecut! Lawan aku!"

Ewan sedang sibuk merawat Donny, tak sempat menanggapi pria botak itu.

Suara Jenderal kembali terdengar. "Ewan, kamu kira setelah menyelamatkan satu tentara terluka, kalian bisa keluar hidup-hidup dari sini
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2715

    Saat itu, Nazar dan Sunnata sudah kembali ke depan tangga.Wajah Nazar terlihat sangat masam. Dia bertanya, "Bocah, kenapa kamu bisa naik tanpa masalah, sementara kami justru terpental?"Ewan menjawab, "Aku nggak tahu.""Kamu nggak tahu? Hmph, siapa yang percaya?" Nazar sama sekali tidak percaya.Dia menunjuk Ewan dengan marah dan berkata, "Jangan kira aku nggak tahu. Pasti kamu diam-diam menggunakan cara tertentu. Kalau nggak, kenapa cuma kamu yang bisa naik tangga?""Jangan-jangan tangga ini bisa mengenali orang?""Tujuanmu melakukan semua ini adalah mencegah kami naik gunung, supaya kamu bisa mendapat sepuluh nadi naga sendirian, 'kan?"Enak saja!Ewan malas meladeni Nazar. Dia bertanya, "Master Sunnata, coba ceritakan kepadaku, apa yang kamu rasakan saat terpental tadi?"Wajah Sunnata menjadi serius. Dia berkata, "Saat telapak kaki kiriku benar-benar menapak tadi, tiba-tiba aku merasakan suatu kekuatan muncul dari telapak kakiku, lalu aku langsung terpental.""Kekuatan itu memang s

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2714

    Tiba-tiba, dari puncak gunung salju muncul cahaya keemasan yang sangat menyilaukan. Kemudian, cahaya keemasan itu menjalar dari puncak hingga ke kaki gunung dengan cepat. Semuanya terlihat jelas dengan mata telanjang.Saat itu, semua orang bisa melihatnya dengan jelas. Ternyata cahaya keemasan itu adalah deretan tangga yang terbuat dari emas. Tangga itu membentang dari puncak hingga ke kaki gunung, menyerupai pedang raksasa berwarna emas.Cahayanya begitu menyilaukan."Maju!" Ewan segera maju dan tiba di kaki gunung salju. Dia berdiri di depan tangga emas itu.Setiap anak tangga emas panjangnya sekitar tiga meter dan lebarnya sekitar satu meter. Tangga itu tampak sangat megah, seolah merupakan jalan menuju kahyangan."Minggir, minggir. Biar aku lihat." Nazar maju, lalu mengamati tangga itu dengan saksama. Tiba-tiba, dia berbaring di tanah. Tindakannya membuat semua orang kebingungan."Tua bangka, apa yang kamu lakukan?" tanya Sunnata."Ssst, jangan berisik." Setelah berkata demikian, N

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2713

    Dewi Kembang memperhatikan dengan saksama, lalu berkata, "Nggak ada niat membunuh di mata nadi naga."Midori berkata, "Kenapa aku merasa mereka sedang melihat Tuan Ewan?"Hati Ewan menegang. Dia juga merasakan hal yang sama, tetapi wajahnya tetap tenang.Nazar bertanya sambil tersenyum, "Nona Midori, kenapa kamu merasa nadi naga itu melihat Ewan, bukan aku?"Midori menjawab tanpa basa-basi, "Kamu sudah tua dan jelek. Aku saja nggak sudi melihatmu, mana mungkin nadi naga mau?"Nazar seketika merasa seperti terkena pukulan telak.Midori diam-diam melirik Ewan dan bergumam pelan, "Tuan Ewan begitu tampan, aku suka lihatnya. Jadi, nadi naga pasti juga suka."Suaranya memang lirih, tetapi semua orang yang hadir adalah ahli, jadi semuanya bisa mendengarnya.Dewi Kembang melirik Midori, lalu menghela napas dalam hati. 'Gadis ini benar-benar sudah nggak bisa diselamatkan lagi.'"Ewan, jangan buang waktu. Menurutku, sebaiknya kita tangkap nadi naga terlebih dahulu," saran Sunnata.Ewan mengangg

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2712

    Raungan naga menggema hingga ke seluruh penjuru langit. Detik berikutnya, terdengar suara retakan terdengar, disusul tanah yang bergetar hebat.Dua puluh delapan pilar tembaga itu seolah menerima kejutan besar. Dalam sekejap, semuanya kembali masuk ke tanah, seakan tidak pernah muncul sebelumnya.Suasana kembali tenang."Hm?" Alis Ewan terangkat. Kenapa formasi maut itu tiba-tiba menghilang? Sebenarnya apa yang terjadi?Jangan-jangan ....Ewan mendongak dan menatap sepuluh nadi naga di puncak gunung salju. Saat ini, kesepuluh nadi naga itu juga sedang menatapnya.'Kenapa aku merasa tatapan mereka kepadaku sepertinya penuh kegembiraan, sangat bersemangat, dan bahkan ada sedikit ... rasa takut? Jangan-jangan, nadi-nadi naga ini takut kepadaku?'Memikirkan hal itu, Ewan tersenyum mencela diri sendiri. 'Aku hanya manusia biasa dari dunia fana. Mana mungkin nadi naga takut kepadaku?'Saat itu, Nazar berjalan ke hadapan Ewan sambil tertawa lebar. "Bocah, sudah kuduga kamu nggak akan tinggal

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2711

    "Tua bangka, kamu juga menguasai ilmu formasi. Ayo kita pelajari lagi bersama.""Bagaimana pun caranya, kita harus menghancurkan formasi ini. Kalau nggak, kita bertiga akan terjebak dan mati di sini."Dewi Kembang sangat menyesal. Sebelumnya Ewan sudah membujuknya dengan baik, sayangnya dia tidak mendengarkannya. 'Seandainya tahu akan begini, seharusnya aku mendengarkannya.'Dewi Kembang menoleh ke luar formasi dan mendapati Ewan juga sedang menatapnya dengan kedua alis berkerut. 'Apa dia sedang menyalahkanku?'Untuk sesaat, Dewi Kembang terlihat seperti anak yang telah melakukan kesalahan. Dia merasa sangat gelisah.Namun, sebenarnya Ewan sama sekali tidak sedang menyalahkan Dewi Kembang. Kemunculan 28 pilar tembaga secara tiba-tiba justru membuatnya sadar bahwa Nazar dan yang lainnya telah terjebak dalam sebuah formasi."Sudah kuduga, mendapatkan nadi naga memang nggak akan semudah itu."Orang-orang lainnya juga menyadari bahwa Dewi Kembang dan yang lainnya sedang dalam bahaya."Tuan

  • Dokter Sakti Penguasa Dunia   Bab 2710

    "Jangan-jangan di bawah tanah ini tersembunyi makhluk buas yang mengerikan?"Hati Nazar langsung bergetar. Dia buru-buru berkata, "Hidung Sapi, Dewi Kembang, kalian tetap di tempat, jangan bergerak. Biar aku yang pergi melihat apa yang sebenarnya terjadi."Saat mengucapkan kata-kata itu, tubuh Nazar sudah lebih dulu berlari kencang. Mana mungkin dia benar-benar ingin menyelidiki keadaan. Dia jelas-jelas ingin melarikan diri.Dewi Kembang langsung menyadari niat Nazar dan memakinya dengan marah, "Bajingan!""Benar-benar nggak tahu malu!" Wajah Sunnata juga berubah menjadi merah karena marah.Namun, Nazar baru saja berlari kurang dari sepuluh meter, tiba-tiba sebuah pilar perunggu muncul dari bawah tanah. Karena sama sekali tidak menduganya, kepala Nazar menghantam pilar itu dengan keras.Buk!Kepalanya langsung pecah hingga darah mengucur."Aduh! Sakit sekali!"Nazar menjerit kesakitan sambil buru-buru mundur. Pada saat yang sama, tanah di bawah kaki mereka terus bergetar hebat. Dalam s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status