แชร์

Kepala Dingin, Hati terbakar

ผู้เขียน: lovelypurple
last update วันที่เผยแพร่: 2025-10-17 11:33:21

Udara di ruangan itu terasa padat, sarat akan penantian yang menyiksa. Setiap tik-tok jarum jam di dinding terdengar seperti ledakan kecil di tengah keheningan yang mencekam, mengukur detik demi detik ketidakberdayaan mereka. Arka tidak lagi duduk. Ia mondar-mandir di depan jendela, siluet tubuhnya yang tegang terpantul di kaca yang menampilkan gemerlap Kyoto, sebuah keindahan yang kini terasa seperti ejekan.

“Udah berapa lama?” desis Arka, suaranya serak. Ia tidak menoleh pada siapa pun, perta
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • 365 Hari Jadi Istrimu   Bab 170 Siasat Si Pengacara

    Lift membawa mereka ke lantai sepuluh, berhenti dengan bunyi pelan sebelum pintunya terbuka. Seorang resepsionis muda sudah menunggu, langsung mengarahkan keduanya ke sebuah ruangan di ujung koridor tanpa banyak basa-basi. Ruangan itu dingin, jauh lebih dingin dari yang Alya bayangkan. Dinding putihnya polos tanpa hiasan, hanya menyisakan meja panjang di tengah, beberapa kursi berjajar rapi, dan sebuah layar besar yang tergantung di dinding depan. Bau kertas baru dan kopi yang sudah setengah dingin bercampur di udara, menciptakan atmosfer yang kaku. Alya duduk di sebelah Arka, jemarinya saling bertaut erat di atas pangkuan. Sepanjang perjalanan tadi, kepalanya masih penuh dengan gema kata-kata Kevin di dalam mobil: Raka menemui Rio dua kali. Sekali beberapa bulan sebelum keberangkatan ke Kyoto, dan sekali lagi sehari sebelum penculikan itu terjadi. Ia sudah mendengar ringkasannya. Tapi mendengar cerita dan benar-benar melihat buktinya adalah dua hal yang jauh berbeda. Pintu terbuk

  • 365 Hari Jadi Istrimu   Bab 169 Jaring Laba-laba Raka

    Raungan klakson mobil dan deru mesin di luar jendela terasa seperti melodi kacau yang mengiringi setiap detak jantung Alya. Ia bersandar di jok mobil, mencoba menstabilkan napasnya yang tercekat. Flash kamera yang masih terbayang di kelopak matanya terasa seperti luka bakar di retinanya, dan bisikan tajam wartawan seolah masih bergaung di telinganya. Jakarta memang berbeda. Jauh lebih brutal.Arka meremas tangannya erat, menarik perhatian Alya. "Kamu nggak apa-apa?" Suara Arka lebih lembut dari yang Alya kira, penuh kekhawatiran yang tulus.Alya menggeleng pelan. "Aku... aku nggak siap, Ka." Matanya menatap Arka, mencari kekuatan. "Maksudku, aku tahu kita akan menghadapi masalah di sini. Tapi ini... ini terlalu cepat."Kevin yang duduk di kursi depan, memutar tubuhnya sedikit ke belakang. Ekspresinya serius, sorot matanya tajam. "Maaf, Al. Gue tahu ini berat. Tapi kita nggak punya banyak waktu. Pak Tama itu pengacara hebat. Dia bilang kesaksian lo bisa jadi penentu banget buat kasus Ri

  • 365 Hari Jadi Istrimu   Bab 168

    Alya menghela napas lega, bersandar di jok mobil, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih kencang. Ia menatap Arka yang juga terlihat tegang, rahangnya mengeras. Kevin, yang duduk di kursi penumpang depan, menoleh ke belakang, ekspresinya berubah khawatir."Lo berdua nggak apa-apa kan?" tanya Kevin, suaranya berat.Arka mengangguk. "Aman kok, Vin. Kaget dikit doang gue. Itu orang-orang kayak nggak ada habisnya, sumpah.”"Maaf, Ka. Gue nggak nyangka bakal seramai itu," Kevin meminta maaf, menggaruk tengkuknya. "Berita kalian balik dari Kyoto itu nyebar cepat banget. Apalagi gosip soal Raka sama Sasha di sana juga ikut nyebar. Jadi ya, jackpot buat wartawan."Alya menatap Arka. Jadi kabar kita sudah sampai ke Jakarta?Kevin menatap Arka, lalu beralih ke Alya. Ekspresinya mendadak berubah serius. "Tapi ada yang lebih penting dari ini, Ka. Ini soal Rio Aditya."Suasana di dalam mobil tiba-tiba terasa dingin. Alya merasakan perutnya melilit. Arka menatap Kevin lurus, ekspresinya te

  • 365 Hari Jadi Istrimu   Bab 167

    Alya memeluk leher Arka erat, hatinya penuh dengan cinta dan harapan, saat suaminya menggendongnya keluar dari lift. Tawa mereka memenuhi koridor hotel yang sepi, seolah mengusir segala kecemasan yang sempat hinggap di hati mereka. Arka menurunkan Alya perlahan di depan pintu kamar. Ia menatap Alya dengan senyum yang hanya bisa Alya mengerti."Malam ini cuma milik kita," bisik Arka, sebelum membuka pintu dan menarik Alya masuk ke dalam, menjauh dari dunia luar yang menunggu.*Pagi terakhir mereka di Kyoto tiba, membawa serta nuansa perpisahan yang manis pahit. Cahaya matahari pagi menembus celah gorden, membasuh kamar hotel dengan kehangatan lembut. Arka dan Alya bangun lebih awal dari biasanya, tidak ada pesan misterius atau panggilan telepon yang mengganggu ketenangan mereka. Hanya keheningan yang nyaman, diisi dengan sentuhan ringan dan tatapan penuh arti.Mereka mulai mengemas barang-barang. Gerakan mereka sinkron, terbiasa dengan ritme satu sama lain. Arka melipat pakaian dengan

  • 365 Hari Jadi Istrimu   Bab 166

    Mas Budi, kameraman berambut ikal sebahu, kacamatanya bertengger di hidung. Ia melirik Arka. "Arka, jujur ya... adegan romantis sama Keyla kok kayaknya makin natural gitu? Apa karena kamu lagi jatuh cinta beneran sama istri sendiri jadinya tahu gimana ekspresi orang jatuh cinta?"Arka mengangguk tanpa ragu. Tangannya melingkari bahu Alya. " Exactly. Sekarang aku nggak perlu akting lagi buat adegan cinta. Tinggal inget perasaan aku ke Alya, terus tumpahin ke karakter. Simpel."Keyla tertawa. Tangannya memukul pelan bahu Arka. "Pantesan! Makanya aku jadi gampang ikutan larut pas adegan sama kamu!"Semua mata tertuju pada Alya, menanti reaksi. Alya tersenyum malu, pipinya kembali bersemu."Alya, honestly, jatuh cinta sama Arka tuh kapan sih?" Keyla bertanya, wajahnya polos namun matanya nakal. "Maksudku, kalian kan udah nikah dulu baru jatuh cinta ya? Pasti perjalanannya seru banget?"Alya menatap Keyla. Pandangannya beralih pada Arka. Ia merasakan kehangatan di genggaman tangan Arka. Me

  • 365 Hari Jadi Istrimu   Bab 165

    Keheningan yang memekakkan menggantung di udara, lebih berat daripada riuhnya obrolan di sekeliling mereka. Aroma masakan Jepang yang tadinya menggiurkan kini terasa hambar di indra Alya. Ia masih bisa merasakan dinginnya sentuhan tangan Raka, dan bisikan ancamannya seolah bergaung di telinganya.Arka menarik Alya lebih dekat lagi, lengan kokohnya melingkari pinggang Alya seolah ingin melindungi. Tatapannya pada Raka sangat tajam, sebuah peringatan tanpa kata. Namun Raka hanya tersenyum tipis, senyum yang tidak mencapai matanya, lalu berbalik dan berjalan menuju meja lain di ujung ruangan, di mana beberapa produser lokal dan investor sudah berkumpul. Sosok Sasha terlihat duduk di meja itu, menatap mereka dengan tatapan datar yang tidak terbaca."Sudah, Sayang," bisik Arka, suaranya pelan dan menenangkan, meskipun Alya bisa merasakan ketegangan di rahangnya. "Jangan dengarkan dia. Dia cuma mau memprovokasi."Alya menatap Arka, mencari kepastian. Ia melihat bayangan ketakutan di mata su

  • 365 Hari Jadi Istrimu   Kamu Masih Milikku

    Rio melangkahkan kakinya perlahan mendekari Alya. Akan tetapi perempuan itu mundur satu langkah. Nafasnya tertahan. Jantungnya berdegup tak karuan. Tatapannya tak bisa lepas dari Rio, sosok pria yang berdiri di bawah remang cahaya taman itu. Pria yang dulu pernah mengisi hatinya, namun kini hanya

  • 365 Hari Jadi Istrimu   Kamu di Ceritaku

    Sore itu, di taman depan rumah keluarga Mahendra, Arka duduk sendirian di bangku kayu. Tatapannya kosong menembus deretan bunga yang tumbuh rapi di sisi kiri taman. Sejak berita tentang dirinya dan Sasha beredar, ia tak banyak bicara. Wajahnya tampak letih, seperti menyimpan beban yang tak kunjung r

  • 365 Hari Jadi Istrimu   Bab 87 Sayonara Jakarta

    “Halo, Alya? Sayang, kamu baik-baik aja?” suara lembut Mama Indira langsung terdengar.“Aku baik, Ma,” jawab Alya pelan. “Ada yang mau aku bicarakan…” “Ya? Ada apa?” Alya menarik napas dalam. “Hari ini temanku, Lina, datang ke vila. Dia bawa info soal program residensi menulis. Tiga bulan, Ma. D

  • 365 Hari Jadi Istrimu   Bab 86 Retak

    “Sial. Barusan seseorang memotret!” Arka langsung berlari ke arah lorong, tapi yang tertinggal hanya bayangan langkah tergesa menjauh dan suara pintu darurat yang menutup pelan. Sasha berdiri membeku. Wajahnya masih memerah. "Tadi… itu—" "Tutup mulutmu," desis Arka, matanya tajam, panik. "Kalau f

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status