Chapter: Bab 172 Kabar Bahagia Untuk RisaReyhan menghela napas panjang, lalu duduk di kursi plastik sebelah Alya. Map cokelat itu masih ia genggam erat, seolah belum siap melepaskannya begitu saja."Ly, sebelum gue mulai," katanya pelan, "gue mau kamu tarik napas dulu. Ini bukan berita buruk."Alya menatapnya lekat. "Tapi tanganmu gemetar.""Karena ini penting banget, bukan karena ini buruk." Reyhan mencoba tersenyum, meski senyum itu terlihat kaku di wajahnya yang masih lelah. "Selama gue di Kyoto, gue nggak cuma nemenin kamu sama Arka. Tiap malam, sela-sela waktu kosong, gue selalu telepon Dr. Hiroshi. Nanyain perkembangan program bantuan pengobatan buat Risa."Jantung Alya berdebar lebih cepat. "Program yang katanya kuotanya udah ketat itu?""Iya. Yang itu." Reyhan akhirnya membuka map di pangkuannya, mengeluarkan beberapa lembar dokumen berlogo yayasan yang tak asing bagi Alya, karena logo itu pernah muncul di salah satu email penolakan yang membuatnya menangis semalaman tiga bulan lalu."Ly," Reyhan menyodorkan lembar p
Last Updated: 2026-09-09
Chapter: Kabar dari ReyhanRuang tunggu rumah sakit terasa lebih sepi malam itu. Alya duduk di kursi plastik dekat jendela, memandangi lampu kota yang berkelap-kelip di kejauhan. Tubuhnya masih menyimpan lelah dari perjalanan panjang Kyoto, ditambah beban baru yang belum sempat ia cerna sepenuhnya sejak pertemuan dengan Pak Tama kemarin.Ia melirik jam di ponselnya. Sebentar lagi jadwal minum obat Risa. Sebentar lagi juga sidang minggu depan akan tiba, membawa nama Raka dan segala kebusukan yang selama ini tersembunyi di baliknya.Pikirannya berputar tanpa henti. Antara kekhawatiran soal kesehatan adiknya dan ketakutan menghadapi persidangan, entah mana yang lebih berat untuk dipikul sendirian.Koridor rumah sakit dingin seperti biasa, dengan aroma antiseptik yang sudah begitu akrab di indra penciumannya. Sudah berbulan-bulan ia menghabiskan malam di tempat ini, cukup lama sampai ia hafal bunyi decit roda troli obat yang lewat setiap pukul sepuluh malam, hafal wajah petugas kebersihan yang selalu tersenyum keci
Last Updated: 2026-09-08
Chapter: Bab 170 Siasat Si PengacaraLift membawa mereka ke lantai sepuluh, berhenti dengan bunyi pelan sebelum pintunya terbuka. Seorang resepsionis muda sudah menunggu, langsung mengarahkan keduanya ke sebuah ruangan di ujung koridor tanpa banyak basa-basi. Ruangan itu dingin, jauh lebih dingin dari yang Alya bayangkan. Dinding putihnya polos tanpa hiasan, hanya menyisakan meja panjang di tengah, beberapa kursi berjajar rapi, dan sebuah layar besar yang tergantung di dinding depan. Bau kertas baru dan kopi yang sudah setengah dingin bercampur di udara, menciptakan atmosfer yang kaku. Alya duduk di sebelah Arka, jemarinya saling bertaut erat di atas pangkuan. Sepanjang perjalanan tadi, kepalanya masih penuh dengan gema kata-kata Kevin di dalam mobil: Raka menemui Rio dua kali. Sekali beberapa bulan sebelum keberangkatan ke Kyoto, dan sekali lagi sehari sebelum penculikan itu terjadi. Ia sudah mendengar ringkasannya. Tapi mendengar cerita dan benar-benar melihat buktinya adalah dua hal yang jauh berbeda. Pintu terbuk
Last Updated: 2026-09-07
Chapter: Bab 169 Jaring Laba-laba RakaRaungan klakson mobil dan deru mesin di luar jendela terasa seperti melodi kacau yang mengiringi setiap detak jantung Alya. Ia bersandar di jok mobil, mencoba menstabilkan napasnya yang tercekat. Flash kamera yang masih terbayang di kelopak matanya terasa seperti luka bakar di retinanya, dan bisikan tajam wartawan seolah masih bergaung di telinganya. Jakarta memang berbeda. Jauh lebih brutal.Arka meremas tangannya erat, menarik perhatian Alya. "Kamu nggak apa-apa?" Suara Arka lebih lembut dari yang Alya kira, penuh kekhawatiran yang tulus.Alya menggeleng pelan. "Aku... aku nggak siap, Ka." Matanya menatap Arka, mencari kekuatan. "Maksudku, aku tahu kita akan menghadapi masalah di sini. Tapi ini... ini terlalu cepat."Kevin yang duduk di kursi depan, memutar tubuhnya sedikit ke belakang. Ekspresinya serius, sorot matanya tajam. "Maaf, Al. Gue tahu ini berat. Tapi kita nggak punya banyak waktu. Pak Tama itu pengacara hebat. Dia bilang kesaksian lo bisa jadi penentu banget buat kasus Ri
Last Updated: 2026-05-04
Chapter: Bab 168Alya menghela napas lega, bersandar di jok mobil, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih kencang. Ia menatap Arka yang juga terlihat tegang, rahangnya mengeras. Kevin, yang duduk di kursi penumpang depan, menoleh ke belakang, ekspresinya berubah khawatir."Lo berdua nggak apa-apa kan?" tanya Kevin, suaranya berat.Arka mengangguk. "Aman kok, Vin. Kaget dikit doang gue. Itu orang-orang kayak nggak ada habisnya, sumpah.”"Maaf, Ka. Gue nggak nyangka bakal seramai itu," Kevin meminta maaf, menggaruk tengkuknya. "Berita kalian balik dari Kyoto itu nyebar cepat banget. Apalagi gosip soal Raka sama Sasha di sana juga ikut nyebar. Jadi ya, jackpot buat wartawan."Alya menatap Arka. Jadi kabar kita sudah sampai ke Jakarta?Kevin menatap Arka, lalu beralih ke Alya. Ekspresinya mendadak berubah serius. "Tapi ada yang lebih penting dari ini, Ka. Ini soal Rio Aditya."Suasana di dalam mobil tiba-tiba terasa dingin. Alya merasakan perutnya melilit. Arka menatap Kevin lurus, ekspresinya te
Last Updated: 2026-05-02
Chapter: Bab 167Alya memeluk leher Arka erat, hatinya penuh dengan cinta dan harapan, saat suaminya menggendongnya keluar dari lift. Tawa mereka memenuhi koridor hotel yang sepi, seolah mengusir segala kecemasan yang sempat hinggap di hati mereka. Arka menurunkan Alya perlahan di depan pintu kamar. Ia menatap Alya dengan senyum yang hanya bisa Alya mengerti."Malam ini cuma milik kita," bisik Arka, sebelum membuka pintu dan menarik Alya masuk ke dalam, menjauh dari dunia luar yang menunggu.*Pagi terakhir mereka di Kyoto tiba, membawa serta nuansa perpisahan yang manis pahit. Cahaya matahari pagi menembus celah gorden, membasuh kamar hotel dengan kehangatan lembut. Arka dan Alya bangun lebih awal dari biasanya, tidak ada pesan misterius atau panggilan telepon yang mengganggu ketenangan mereka. Hanya keheningan yang nyaman, diisi dengan sentuhan ringan dan tatapan penuh arti.Mereka mulai mengemas barang-barang. Gerakan mereka sinkron, terbiasa dengan ritme satu sama lain. Arka melipat pakaian dengan
Last Updated: 2026-05-02
Bara Dendam Sagara
Di puncak kejayaannya, Sagara Wicaksana adalah mutiara Perguruan Banyu Langit, pewaris takhta yang tak tertandingi. Namun, dalam sekejap, surga itu runtuh. Ia dituduh membunuh gurunya sendiri dan dikhianati oleh sahabat yang paling ia percaya, Rangga Pradipta.
Dibuang ke laut untuk mati, takdir justru menuntunnya pada Ki Jatmika—pendekar sakti yang telah lama menghilang dari dunia persilatan. Di bawah bimbingannya, Sagara mengasah diri, menelan pahitnya kesunyian, dan memupuk api dendam selama tujuh tahun.
Kini, ia kembali dengan wajah baru. Satu per satu, mereka yang merenggut kehormatannya akan diburu tanpa ampun. Tujuh tahun lamanya kebencian membakar nadinya, dan kini saatnya dunia persilatan mengenal siapa dirinya yang sebenarnya.
"Aku bukan Sagara yang dulu. Aku malapetaka, yang takkan berhenti sampai kalian binasa!"
Read
Chapter: Bab 48Jari-jari Sekar yang terbiasa memegang belati kini bergerak dengan kelembutan yang mengejutkan. Ia mengambil sehelai kain bersih, menuangkan cairan bening dari salah satu botol. Cairan itu dingin, berbau sedikit mint. Ia perlahan mengusapkannya ke sekeliling luka.Rasa perih menyengat. Sagara mengatupkan rahang, mencoba menahan napas. Rasanya seperti api yang membakar. Tapi tidak boleh goyah.Suasana gua menjadi sangat sunyi. Hanya suara gemericik air terjun dari luar yang menjadi latar, dan napas mereka berdua. Cahaya obor melingkari mereka, menciptakan sebuah dunia kecil yang terpisah dari yang lain. Aroma ramuan herbal yang dioleskan Sekar kini memenuhi udara, menenangkan. Aroma ini… mengingatkan.Jari-jari Sekar yang dingin menyentuh kulit lengannya, begitu lembut. Begitu mirip. Kilasan memori muncul. Larisa.Ia melihat dirinya terbaring di ranjang kayu sederhana di kamar Larisa. Punggungnya memar, luka goresan akibat jatuh dari tebing saat latihan. Larisa duduk di sisinya, wajahn
Last Updated: 2026-06-16
Chapter: Bab 47Perjalanan pulang menuju markas Naga Merah terasa jauh lebih panjang dari jarak yang sesungguhnya. Senja merayap lambat, seolah enggan melepaskan cahayanya, dan bersamaan dengan meredupnya langit, kabut mulai naik dari lembah di bawah sana, merayap pelan di antara batang-batang pohon hingga membentuk tabir putih yang dingin dan tebal.Suara langkah kaki rombongan kecil itu menjadi satu-satunya bunyi yang membelah kesunyian hutan. Mereka bergerak cepat, teratur, punggung mereka menanggung peti-peti perbekalan yang kini terasa lebih berharga dari logam mulia mana pun.Sagara melangkah di tengah barisan, kedua bahunya menanggung dua peti kayu berukuran sedang. Dalam diam, ia sudah mengenali rapuhnya benda-benda itu jauh sebelum jemarinya menyentuhnya. Papan-papannya tipis, ikatannya usang, kayunya mengandung kelembapan yang terlalu lama tersimpan. Bahan seperti ini seharusnya sudah diganti berbulan-bulan lalu, namun Naga Merah tidak kenal kemewahan itu. Mereka memakai apa yang ada.Bunyi
Last Updated: 2026-06-05
Chapter: Bab 46Jalur sempit yang tadi mereka lewati kini terasa sedikit lebih lapang dalam perjalanan pulang. Beban perbekalan yang kini menempel di punggung para pejuang terasa lebih ringan, bukan karena kuantitasnya berkurang, melainkan karena beban kekhawatiran yang telah terangkat. Sinar matahari sore mulai menyusup di antara dedaunan, menciptakan mozaik cahaya keemasan yang menari di tanah lembap. Udara masih membawa aroma pinus yang tajam, bercampur dengan bau tanah basah dan sejuknya embusan angin laut yang tak pernah berhenti. Jauh di kejauhan, samar-samar terdengar suara burung hantu yang mulai menyapa senja.Sekar Arum berjalan di depan, langkahnya masih tegap namun sedikit melambat. Di sisinya, Sagara melangkah tanpa suara, bayangannya seolah menyatu dengan bayangan pepohonan. Aroma laut yang khas masih tercium tipis dari jubahnya, seolah ia adalah bagian tak terpisahkan dari elemen itu sendiri. Sekar menyadarinya lagi, aroma itu… selalu ada pada dirinya.“Pengamanan perbekalan kali ini b
Last Updated: 2026-06-03
Chapter: Bab 45Perjalanan melalui celah sempit itu memakan waktu lebih dari tiga jam. Matahari mulai naik tinggi di langit, sinarnya menembus celah-celah bebatuan, menciptakan pola cahaya dan bayangan di tanah yang lembap. Aroma tanah basah bercampur wangi pinus yang tajam menusuk hidung. Udara laut masih terasa, membawa sedikit rasa dingin yang kontras dengan kehangatan matahari yang mulai menyengat.Sekar Arum menarik napas dalam-dalam. Ia merasakan lengketnya keringat di punggungnya yang dibalut kain kasar. Setiap langkahnya terukur, dipandu oleh insting seorang pemimpin yang terbiasa menghadapi situasi genting. Di sampingnya, Sagara melangkah dengan ritme yang sama, nyaris tanpa suara. Gerakannya tetap mengalir, seperti air yang menghindari batu.Mereka tiba di sebuah ceruk alami, sedikit lebih lebar dari jalur sebelumnya. Di depan mereka, terhampar sedikit tanah lapang yang diapit oleh dua bukit. Di sana, tersembunyi di balik semak belukar yang rimbun, tempat itu dijadikan lokasi penyimpanan pe
Last Updated: 2026-06-03
Chapter: Bab 44Setengah jam kemudian, Sekar Arum memimpin tim kecilnya. Enam orang. Wira di sampingnya sebagai tangan kanan, ditambah beberapa anggota yang paling bisa diandalkan. Mereka tidak melewati jalur utama, tentu saja. Garuda Hitam pasti sudah berjaga di sana. Sebagai gantinya, mereka menyusuri celah sempit di antara dua bukit yang Sagara sebutkan tadi.Jalurnya tidak enak dilalui. Sempit, tidak rata, dan beberapa kali Sekar hampir tersandung akar yang menyembul dari tanah. Tapi Sagara benar soal angin. Arus dari laut bertiup konstan di sepanjang celah itu, menyapu bersih apapun yang mereka tinggalkan. Jejak kaki, aroma tubuh, semuanya. Mereka juga memecah muatan peti logistik, dibagi rata di punggung masing-masing. Lebih berat, tapi lebih aman. Udara di sana dingin dan berbau tanah basah, ada sedikit asin dari laut yang terbawa angin. Sekar menarik napas pelan. Segar, tapi bikin waspada.Ia sengaja berjalan di sebelah Sagara. Padahal pria itu bukan bagian dari misi ini. Tapi Sekar punya ala
Last Updated: 2026-06-02
Chapter: Bab 43Sagara, atau Ranu, akhirnya menoleh, menatap Sekar lekat. "Garuda Hitam menggunakan anjing pelacak di malam hari. Tanpa bau, tidak ada jejak yang bisa diikuti."Ruangan hening sesaat.Sekar tidak langsung balas bicara. Ia kembali menatap peta di hadapannya, tapi kali ini pandangannya berbeda. Bukan lagi mencari jalan teraman, tapi membayangkan bagaimana angin bergerak. Membayangkan udara laut yang terus menerus berembus lewat celah sempit itu, menyapu bersih semua jejak yang mungkin tertinggal.Baru saja ia hendak membuka mulut, Sekar sadar sesuatu yang tak ia rencanakan: jarak di antara mereka. Sagara berdiri begitu dekat. Bahu mereka nyaris bersentuhan di atas meja yang tak terlalu lebar itu. Dari jarak sedekat ini, jarak yang tak memberi ruang untuk berpura-pura tak sadar, Sekar mencium sesuatu yang asing di tengah aroma tanah basah dan karat logam yang memenuhi gua.Aroma laut. Tipis, tapi jelas. Seperti embusan angin dari sela karang, dingin dan sedikit asin, menempel di jubah Sa
Last Updated: 2026-06-02