Home / Pendekar / 4 PUSAKA PENAKLUK JAGAT / Bab 126 : Bukan Lagi Disebut Manusia

Share

Bab 126 : Bukan Lagi Disebut Manusia

Author: Adil Perwira
last update Last Updated: 2025-05-16 15:31:38

Kecamuk perang masih berlanjut hingga matahari lenyap di kaki cakrawala. Walaupun Panglima Sanca selaku pimpinan Nogo Ireng telah tewas, tapi musuh berikutnya yang sekarang lebih sulit dihadapi adalah Nyai Jamanika. Nenek Peot ini begitu tangguh dan tidak bisa dipojokkan.

Senopati Wibisana bersama dengan Alindra dan Patrioda mengeroyok perempuan tua ini. Walau digempur dari berbagai arah, dia tetap bisa mengatasi setiap serangan. Malah Senopati Wibisana dan para pendekar yang kemudian beberapa kali terpental akibat pukulan tongkat darinya.

‘Heh, jadi cuma segitu kemampuan kalian? Ternyata para pejuang kerajaan hanyalah kesatria-kesatria bau kencur!”

Kekuatan mereka bertiga tampaknya tak sebanding untuk melawan Nyai Jamanika. Bagaimana bisa, dia adalah pendekar sepuh yang sudah sangat senior dalam bertarung dan penguasaan ilmu kanuragan.

Melihat anggotanya yang mulai kewalahan menghadapi si nenek peot, Damayanti yang sudah berhasil membunuh Panglima Sanca pun ikut bergabung untuk memba
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • 4 PUSAKA PENAKLUK JAGAT   Bab 151 : Jurus Sayap Elang Menggulung Matahari

    Setelah kematian Mpu Seta, tak ada lagi satu pun manusia yang pernah mempelajari ilmu Tatapan Rajawali Menembus Awan selain Argani. Saking berbahayanya ajian itu, sampai-sampai para tetua dunia persilatan menamainya ajian terlarang.Namun hari ini, Keangkuhan si pemimpin Persaudaraan Iblis akhirnya dipatahkan. Ada seorang pemuda yang menurutnya masih anak kemarin sore, tapi rupanya mampu menguasai ilmu itu melebihi dirinya.Beberapa saat, banjir cahaya terang menelan seluruh langit, meluas hingga ke punjuru Timur dan Barat. Lalu setelah fenomena itu berakhir, tak ada lagi tampak kilat-kilat yang berpendar, tak ada pula lagi gemuruh petir yang memekik bagaikan laungan naga. Langit kembali tenang dengan warna muram pagi yang perlahan semakin jelas.Hujan halilintar tidak jadi melanda halaman istana. Kesaktian yang Argani banggakan berhasil dibuat redup oleh Giandra. Tak ada yang mampu menandingi Ajian Tatapan Rajawali Menembus Awan kecuali kesaktian yang lebih tinggi.Si ketua Persaudar

  • 4 PUSAKA PENAKLUK JAGAT   Bab 150 : Ilmu Yang Sama

    Dengan menumpukan tangan di lantai teras yang terbuat dari batu, Prabu Surya Buana berjuang untuk bangkit. Argani pun lantas mendekatinya. Ketua Persaudaraan Iblis itu tentu tidak akan membiarkan lawannya yang hendak kembali berdiri. Baru beberapa langkah saja Argani berjalan, saat kaki kirinya mulai menginjak di atas lantai teras yang terbuat dari susunan batu, alih-alih terdengar ada suara yang berseru lantang sekali. “Akulah lawanmu, hai Bajingan!”Mendengar dirinya dipanggil dengan sebutan yang amat tak enak didengar oleh kuping, maka Argani pun memutar pandangannya ke belakang. Seorang pemuda rupanya telah berdiri tegak dengan dada busung dan sinar mata yang tegas. Orang itu tidak lain adalah Giandra.Argani pun membalikkan tubuhnya. Dia tak jadi mendekati Prabu Surya Buana. Kemunculan Giandra membuat Argani sangat jengkel. Seharusnya menurut Argani para pejuang kerajaan saat ini masih berada di Gunung Ratri, namun ternyata, ada satu orang yang sekarang sudah kembali, ini tentu

  • 4 PUSAKA PENAKLUK JAGAT   Bab 149 : Perisai Emas

    Baru sesaat Prabu Surya Buana tiba di halaman istana, dia lanngsung disambut dengan pemandangan yang benar-benar tidak menyenangkan. Di depan matanya sendiri, sang prabu menyaksikan mayat para pengawal yang bergeletakan di tanah. Tak ada satupun dari mereka yang masih hidup.Semua tubuh yang terkapar itu mati dalam keadaan hangus. Kulit mereka hitam legam bagaikan layaknya arang. Argani Bhadrika memang sangat kejam sekali.Melihat ada sosok yang berpakaian agung baru keluar dari dalam istana, Argani pun tak mau bertele-tele lagi, dia tahu kalau ini adalah Prabu Surya Buana, maka dia pun ingin langsung menantangnya saja sekarang.Pertemuan dengan sang raja ini sudah begitu lama direncanakan oleh Argani. Bila di akhir malam ini dia berhasil membunuh raja tersebut, niscaya tujuannya untuk mendapatkan takhta akan segera menjadi kenyataan.Prabu Surya Buana pun mengamati Argani yang mulai mendekat. Batinnya lantas bertanya-tanya siapakah orang ini. Sebelumnya sang prabu memang tak pernah b

  • 4 PUSAKA PENAKLUK JAGAT   Bab 148 : Keonaran di Halaman Istana

    Di akhir malam yang hampir mendekati waktu subuh, para pengawal semuanya berkumpul di halaman istana, mereka digemparkan dengan sebuah keributan, empat orang dari mereka yang menjaga pintu gerbang telah tewas tergeletak dengan mulut bersimbah darah.Saat itu hanya tinggal dua belas orang pengawal yang masih melindungi istana, sedangkan sisanya yang lain telah ikut pergi ke medan perang menjadi prajurit. Dengan jumlah yang amat sedikit ini, kekuatan mereka tak akan sepadan untuk menghadapi Argani Bhadrika.Kehadiran Argani yang muncul secara tiba-tiba bagaikan hantu di penghujung malam tentu membuat mereka jadi terheran-heran. Bagaimana bisa orang tak dikenal ini datang ke istana dan langsung melakukan porakporanda.Si peneror ini sudah membunuh empat penjaga yang berdiri di depan gerbang. Tak ada satu pun dari pengawal kerajaan yang mengenali Siapakah lelaki ini. Percakapan singkat pun lalu terjadi di antara para pengawal itu.“Sia

  • 4 PUSAKA PENAKLUK JAGAT   Bab 147 : Moksa

    Siluman Kera Putih dan Prabaswara saling bergerak dari arah berlawanan. Yang satu kelihatan ingin melimbai gada dan yang satu lagi hendak membabatkan golok. Langkah keduanya bagaikan arus sungai yang deras. Tak lagi mengenal kata surut apalagi tertahan.Saat golok Prabaswara akan mulai menyabet ke leher, tangan kirinya yang kosong menempel di dada, bersiap menepis bila Siluman Kera Putih juga akan memukul.Ternyata hal yang terjadi malah diluar perhitungan Prabaswara. Sabda Alam yang menyongsong dari arah berlawanan melentikkan tubuhnya ke belakang. Mata golok yang tajam itu gagal menyentuh dirinya. Tiba-tiba lalu dari bawah, ayunan gada yang berduri menghantam ke selengkangan Prabaswara!Pukulan dahsyat itu sampai sampai membuatnya terlonjak, bola matanya terbalalak menatap ke langit, dan saking menahan sakit yang tak dapat dibahasakan, mulut Prabaswara pun tak bisa lagi bersuara.Dengan kaki yang gemetar Prabaswara berjalan mundur. Bak pohon limbung didera tiupan angin, langkahnya t

  • 4 PUSAKA PENAKLUK JAGAT   Bab 146 : Melepas Masa Lalu

    Bayu Halimun terus mengejar orang yang dahulu pernah menjadi sahabat dekatnya itu. Dia tak tahu kemanakah Pangeran Kelelawar ingin membawanya. Mereka terbang melewati pohon-pohon besar di tengah kegelapan hutan yang sunyi.Walau mata Pangeran Kelelawar tak menoleh ke belakang, namun kehadiran Bayu Halimun yang dari tadi mengikuti dapat dirasakan olehnya. Aura kegelapan milik siluman burung hantu itu memang tak pernah berubah. Energinya sangat negatif. Itu disebabkan karena dia telah lama bergabung dalam persaudaraan Iblis, berkumpul dengan orang-orang jahat yang membuat jiwanya jadi tambah gelap.Setelah cukup jauh melayang di bawah binar purnama yang muram, akhirnya Pangeran Kelelawar menemukan juga lokasi yang cocok untuk meladeni Bayu Halimun. Yaitu hamparan rumput luas yang lumayan lengang dari pepohonan. Dalam pertarungan ini, Mahesa Bhamantara bertekad akan mengerahkan seluruh kemampuan kanuragan yang dia miliki. Bila dirinya berhasil mengalahkan Bayu Halimun, dia berharap deng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status