LOGINAkhirnya, "badai" di rumah keluarga Radiga benar-benar berlalu. Setelah fase air mata untuk pohon dan fase ngidam bakso 3.5cm dan kuah sebening kristal, Anita kembali ke mode aslinya. Pagi ini, meja makan tidak lagi dipenuhi jangka sorong atau batu gunung api. Anita duduk dengan tenang, menyesap teh hangat sambil mencoret-coret sketsa di tabletnya.Tidak ada lagi permintaan aneh, dia hanya meminta sarapan nasi goreng buatan Talita yang standar, tanpa menuntut nasi gorengnya harus disusun membentuk piramida. Begitu masuk kantor, aura Anita benar-benar berbeda. Ia berjalan menuju ruang rapat dengan langkah mantap. Timnya—Hega, Rifa, Raja, dan Miko—awalnya sempat ragu, bahkan Raja sempat menyembunyikan kotak bekalnya karena takut diprotes sudut potongannya.Namun, Anita membuka rapat dengan sangat profesional."Semuanya, lupakan keributan kemarin. Fokus ke
Pagi itu, suasana di rumah keluarga Radiga terasa sangat aneh karena... sunyi. Tidak ada suara tangisan meratapi nasib bantal, tidak ada drama simpati pada semut, dan tidak ada omelan soal bau ketiak yang mirip toko bangunan.Anita turun dari tangga dengan mengenakan setelan kerja blazer berwarna nude yang sangat elegan, hijabnya dibentuk rapi, wajahnya dipulas make-up natural yang segar, dan sorot matanya kembali tajam namun tenang—khas seorang arsitek senior yang profesional.Ivan dan Adit yang sedang sarapan di meja makan mendadak membeku, memegang sendok mereka di udara seolah takut bergerak sedikit saja akan memicu "ledakan" hormon seperti hari-hari sebelum
Ada tamu tak terduga datang setelah Anita pulang dari dokter kandungan bersama Radiga dan Talita, Habib datang bersama kedua orangtuanya. Suasana di ruang tamu yang tadinya tegang perlahan-lahan mencair, meski tetap terasa sangat canggung. Hadid dan Nisa, duduk dengan raut wajah yang tulus, meski ada guratan penyesalan di sana. Sementara Habib sendiri hanya menunduk, sesekali memaksakan senyum tipis yang terlihat getir."Kami benar-benar ikut bersyukur mendengar kabar ini, Radiga, Talita," ucap Hadid dengan suara rendah. "Mendengar Anita sedang mengandung, hati kami ikut tenang."Nisa mengangguk, matanya menatap Anita dengan lembut. "Iya, Ta. Mama sama Papa ikut seneng denger kamu kehamilan kamu. Kamu berhak mendapatkan kebahagiaan ini. Kami sering mendengar betapa Gibran sangat menjaga kamu. Jujur, kami membandingkannya dengan Habib..." Nisa menghela napas panjang sambil melirik putranya."Sampai
Malam itu, halaman rumah keluarga Radiga sudah seperti zona merah. Adit mencegat rombongan dari firma arsitek—Hega yang terlihat tenang sebagai senior, Rifa dan Raja yang membawa keranjang buah besar, serta Miko yang sudah membawa kado kecil—tepat di bawah lampu taman."Dengerin gue baik-baik," bisik Adit dengan wajah sangat serius, seolah sedang memberikan instruksi misi rahasia. "Jangan bahas soal proyek yang tunda, jangan bahas soal gedung yang miring, dan yang paling penting... jangan ketawa kalau dia ngomong hal yang nggak masuk akal. Anggap aja dia itu presiden yang lagi pidato. Ngerti?"Miko menyengit. "Bang Adit lebay banget deh. Mbak Tata kan biasanya paling kalem di kantor.""Mbak Tata yang lo kenal udah 'pindah' ke planet lain, Miko," sahut Ivan yang tiba-tiba muncul dari kegelapan dengan mata lelah. "Masuk aja, tapi gue udah peringatin ya."
Pagi itu suasana rumah keluarga Radiga jauh lebih tenang. Matahari masuk melalui celah jendela, menerangi Anita yang sedang duduk bersandar di sofa ruang tengah. Karena baru saja menyelesaikan proyek besar di firma arsiteknya, Anita memiliki waktu libur yang sangat ia butuhkan—terutama untuk menata emosinya yang masih naik-turun.Setelah sarapan, Anita memutuskan untuk menelpon ibu mertuanya. "Halo, Mama... Anita mau kasih kabar," ucap Anita dengan suara lembut namun bergetar. "Alhamdulillah, Anita positif hamil, Ma."Di seberang telepon, terdengar jeritan bahagia yang sangat kencang hingga Anita harus menjauhkan ponsel dari telinganya. Tak butuh waktu lama, hanya dua jam setelah telepon ditutup, bel rumah berbunyi dengan heboh.Mama Bela datang tidak sendirian; ia memboyong Gesa, adik bungs
Suasana di kamar Anita kini jauh lebih tenang. Lampu tidur yang temaram memberikan kesan hangat, kontras dengan kekacauan yang terjadi di taman dan dapur tadi sore. Anita duduk bersandar di tumpukan bantal, memegang ponselnya dengan kedua tangan yang masih sedikit gemetar.Di layar ponsel, wajah Gibran tampak sangat jelas. Dia masih mengenakan kemeja kantor yang sudah kusut, duduk di pinggir tempat tidurnya dengan wajah yang tegang sekaligus penuh harap. "Jadi... hasilnya gimana, Sayang?" tanya Gibran pelan, suaranya serak karena menahan cemas.Anita tidak langsung menjawab. Dia menunjukkan testpack itu ke arah kamera. Begitu melihat dua garis merah di sana, Gibran seketika menutup mulutnya dengan tangan. Matanya langsung berkaca-kaca. "Ya Allah... beneran, Ta? Kita... kita bakal punya anak?" Gibran tersenyum







