分享

☀︎4

作者: goshxx
last update publish date: 2026-01-02 16:51:31

CHAPTER 4

Keesokan paginya, Summer berdiri beberapa detik di depan pintu kelas A-1 sambil memeluk tablet di dadanya.

Begitu pintu terbuka, suara obrolan di dalam langsung mengecil dan beberapa kepala serempak menoleh ke arahnya.

“Oh, ranking satu datang.”

“Yang kemarin ngomong ke senior Dylan itu kan?”

Summer berpura-pura tidak mendengar. Ia melangkah masuk sambil mencari kursi kosong, tetapi setiap kali mendekat, mereka justru memilih pindah.

Ada yang tiba-tiba sibuk menatap tablet, ada yang mengangkat tas lalu duduk di tempat lain, sampai akhirnya hanya tersisa satu kursi di paling belakang dekat jendela.

Saat Summer baru hendak duduk, murid laki-laki yang berada tepat di depannya mendadak berdiri sambil meraih tasnya. “Gue depan aja deh.”

Temannya langsung menyenggol bahunya sambil terkekeh. “Takut tertular miskin ya?” Tawa kecil pun langsung terdengar dari beberapa sudut kelas.

Summer tidak mengatakan apa-apa. Ia tetap duduk, meletakkan tablet di atas meja, lalu menyalakan layarnya tanpa benar-benar melihat apa yang ada di sana.

Di bawah meja, jemarinya kembali memainkan gelang bintang laut di pergelangan tangannya.

Tak lama kemudian pintu kelas kembali terbuka dan seorang guru wanita masuk sambil membawa tablet tipis serta beberapa dokumen di tangannya.

“Selamat pagi.”

Suara-suara di dalam kelas perlahan mereda. Guru itu melihat daftar di tabletnya beberapa saat lalu mengangkat kepala dan menyapu pandangan ke seluruh ruangan.

“Oh… dia di kelas ini.” Tatapannya berhenti sejenak. “Siapa yang bernama Summer Bong?”

Beberapa murid ikut menoleh ke belakang dan Summer berdiri dari kursinya. “Saya, Miss.”

Guru itu mengangguk pelan. “Peringkat satu di seluruh penempatan.” Senyum kecil muncul di wajahnya. “Kerja bagus.”

Summer hanya membalas dengan anggukan singkat lalu kembali duduk. Dari sudut matanya, ia masih bisa melihat beberapa murid saling melirik.

Seorang siswi memutar bolpennya sambil mendecakkan lidah pelan, sementara yang lain terus memandanginya tanpa berusaha menyembunyikannya.

Summer kembali menundukkan pandangan dan meremas ujung rok seragamnya di bawah meja.

Bahkan ketika pelajaran dimulai, ia masih bisa merasakan tatapan itu belum benar-benar hilang.

── ☀︎ ──

Guru wanita itu meletakkan tabletnya di meja depan lalu menyentuh layar digital besar di belakangnya. “Karena ini hari pertama,” katanya tenang sambil berjalan perlahan di depan kelas, “aku ingin melihat kemampuan dasar kalian dulu.”

Pertanyaan pertama langsung muncul di layar.

“Negara dengan ekonomi terbesar di Eropa?”

Beberapa tangan terangkat hampir bersamaan. “Jerman.”

Guru itu mengangguk lalu menyentuh layar sekali lagi. “Penyebab utama krisis ekonomi 2008?”

“Subprime mortgage.”

Pertanyaan terus berganti dan jawaban datang silih berganti dari berbagai sudut kelas.

Summer hanya duduk diam di dekat jendela, sesekali memutar stylus di sela jemarinya tanpa benar-benar memperhatikan layar tabletnya. Ia tidak pernah mengangkat tangan dan tidak ikut menjawab satu kali pun.

Tak lama kemudian gadis yang duduk di depannya menyandarkan tubuh ke kursi lalu melirik ke belakang. “Lihat, kan?”

Temannya ikut menoleh ke arah Summer dan tersenyum kecil. “Dia nggak sepintar itu ternyata.”

“Paling hoki waktu tes,” sahut murid laki-laki di samping mereka sambil memutar bolpennya asal. Beberapa orang langsung ikut terkekeh pelan.

Summer hanya menundukkan pandangannya sedikit, menarik napas pelan, lalu kembali memutar stylus di tangannya tanpa mengatakan apa-apa.

── ☀︎ ──

Menjelang makan siang, kafetaria utama sudah penuh oleh murid-murid yang baru selesai kelas.

Summer mengambil makanannya lalu berjalan pelan mencari tempat duduk yang paling pinggir.

Saat tangannya baru menyentuh sandaran kursi, sebuah suara terdengar cukup keras dari arah meja senior.

“Oh… jadi itu dia?”

Summer refleks menoleh dan melihat seorang gadis berjalan mendekat ke arahnya.

Blair Whitmore.

Di Royal Crest Academy, hampir semua orang mengenalnya dengan julukan ratu tak bermahkota. Cantik, populer, dan selalu menjadi pusat perhatian ke mana pun ia pergi. Sora dan Eve yang berada di sampingnya ikut memandang Summer tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Blair berhenti hanya beberapa langkah di depannya sambil tersenyum tipis. “Gadis yang lagi jadi topik satu sekolah.”

Eve mengamati Summer dari atas sampai bawah sebelum ikut berkomentar, “Yang datang naik taksi itu?”

Blair terkekeh pelan. “Ternyata memang cantik.”

Semakin banyak murid mulai memperhatikan ke arah mereka, tetapi Summer memilih diam. Ia hanya menggenggam nampannya sedikit lebih erat lalu kembali menarik kursi di depannya, berharap semuanya segera selesai.

Namun tepat saat Blair bergeser seolah hendak lewat, sikunya menyenggol sisi nampan di tangan Summer.

Brak.

Makanan dan minuman langsung berhamburan ke lantai. Saus memercik ke rok dan lengan seragamnya, sementara tawa kecil mulai terdengar dari berbagai arah. Summer hanya memandangi makanan yang berserakan di lantai.

“Oh God…” ucap Blair sambil menutup mulutnya dengan tangan. “Aku gak sengaja.”

“Oh no,” sahut Eve sambil menahan tawa kecil. “Seragammu jadi kotor.”

Tawa di sekitar mereka terdengar semakin jelas, tetapi Summer tetap berdiri diam. Jemarinya mengepal di sisi tubuhnya, sementara pandangannya masih tertuju pada makanan yang berserakan di lantai.

Namun beberapa detik kemudian suasana kafetaria mendadak berubah.

Suara tawa perlahan menghilang. Satu per satu murid menoleh ke arah pintu masuk lalu tanpa sadar menyingkir memberi jalan saat lima anak laki-laki itu berjalan masuk.

Cloud melirik lantai yang berantakan lalu mengangkat alis. “Serius?”

Axl mendecakkan lidah pelan. “Baru juga berapa hari.”

Pria yang berjalan di tengah berhenti beberapa langkah dari Summer. Pandangannya turun menyapu makanan yang berserakan di lantai sebelum akhirnya terdengar suara tenang yang membuat seluruh kafetaria semakin sunyi.

“Siapa pun yang melakukan ini… bersihkan.”

Blair yang sejak tadi berdiri di dekat Summer langsung mundur setengah langkah.

“Bukan aku,” jawabnya cepat. “Itu kecelakaan. Eve yang nyenggol dia.”

Eve langsung menoleh dengan wajah kaget. “Blair—”

Tatapan pria itu beralih pelan ke arahnya. “Sekarang.”

Wajah Eve langsung memucat. Tanpa berani membantah, ia buru-buru berjongkok dan mulai membersihkan lantai dengan tangan gemetar.

Tidak ada lagi suara tawa yang terdengar.

Summer menatap semua itu beberapa detik lalu mengusap noda di rok seragamnya. “Terima kasih,” ucapnya pelan, lalu berbalik dan berjalan keluar dari kafetaria tanpa melihat ke belakang.

── ☀︎ ──

Setelah keluar dari kafetaria, Summer mempercepat langkahnya menyusuri koridor akademi sambil menundukkan wajah.

Sesekali ia masih bisa merasakan tatapan beberapa murid yang melirik noda saus di rok seragamnya lalu kembali berbisik pelan dengan teman di sebelah mereka, tetapi Summer memilih terus berjalan tanpa menoleh sampai akhirnya tiba di asrama.

Begitu pintu kamar terbuka, ia langsung meletakkan tasnya di atas ranjang lalu mengambil blazer cadangan dari dalam lemari dan masuk ke kamar mandi.

Tak lama kemudian Summer keluar dengan seragam yang sudah bersih dan rambut yang masih sedikit basah.

Ia meraih ponselnya, melihat jam beberapa detik, lalu memasukkannya kembali ke dalam saku.

Masih ada waktu sebelum kelas berikutnya dimulai.

Summer kembali merapikan tasnya sebentar sebelum melangkah keluar dari kamar.

── ☀︎ ──

Area kandang kuda Royal Crest Academy jauh lebih sepi dibanding gedung utama. Summer berjalan pelan melewati deretan pagar kayu tua sambil melihat satu per satu kuda yang berada di dalam kandang mereka.

Tempat itu terasa jauh lebih tenang daripada koridor akademi, seolah suara bisik-bisik dan tatapan aneh yang mengikutinya sejak pagi tidak pernah sampai ke sana.

Di ujung deretan kandang, seekor kuda hitam perlahan mengangkat kepalanya. Summer ikut menghentikan langkah saat kuda itu justru berjalan mendekat ke arah pagar.

Ia mengulurkan tangan dengan hati-hati, dan sesaat kemudian moncong hangat itu menyentuh telapak tangannya pelan hingga senyum kecil muncul di wajahnya. “Halo…”

Jemarinya bergerak pelan mengusap bagian atas kepala kuda itu lalu turun menyusuri surainya yang hitam mengilap. Kuda itu mendengus pelan, sama sekali tidak menjauh.

“Setidaknya, kamu tidak ikut menertawakan aku.”

Summer terkekeh lirih pada ucapannya sendiri sambil terus mengusap surai hitam itu dengan hati-hati. Bahunya yang sejak tadi tegang perlahan mulai mengendur, ia merasa sedikit lebih tenang.

Bel akademi tiba-tiba berbunyi dari kejauhan.

Summer langsung tersadar lalu buru-buru mengeluarkan ponselnya dan melihat jam di layar.

“Aku harus kembali.” Tangannya kembali mengusap kepala kuda itu pelan. “Sampai bertemu lagi.”

Ia tersenyum tipis lalu melangkah pergi sambil memeluk tasnya di depan dada. Langkahnya semakin lama semakin menjauh hingga akhirnya menghilang di ujung koridor.

── ☀︎ ──

Di balik ruang perawatan yang hanya dipisahkan dinding kayu dan pintu setengah terbuka, Pak Herry sejak tadi memperhatikan gadis yang berdiri di depan kandang Midnight.

Begitu melihat gadis itu mengulurkan tangan, wajahnya langsung berubah panik dan ia refleks hendak keluar. “Eh, jangan—”

Namun Dylan lebih dulu menahan lengannya pelan. Pak Herry menoleh bingung, sementara Dylan tetap memandang ke arah kandang.

“Midnight kalau mau menyerang pasti sudah kasih tanda,” ucapnya tenang. “Lihat saja dulu.”

Pak Herry akhirnya mengurungkan niatnya, meski pandangannya sama sekali tidak lepas dari Summer.

Di luar, Midnight justru mendekat sendiri hingga moncongnya menyentuh telapak tangan gadis itu, lalu membiarkan kepalanya diusap pelan.

Pak Herry hanya bisa menatap dengan mulut sedikit terbuka. “…kok bisa?”

Tak lama kemudian bel akademi berbunyi. Gadis itu berpamitan, mengusap kepala Midnight sekali lagi, lalu berjalan pergi sambil memeluk tasnya di depan dada.

Dylan dan Pak Herry tetap berdiri di tempat mereka sampai langkah gadis itu benar-benar menghilang di ujung koridor, barulah Pak Herry mengembuskan napas panjang dan keluar dari ruang perawatan.

“Aneh…” gumamnya pelan sambil menggeleng. “Saya sudah bertahun-tahun ngurus Midnight. Dia paling nggak suka orang asing. Baru kali ini saya lihat dia sendiri yang nyamperin orang.”

Midnight sendiri masih berdiri tenang di dekat pagar, masih memandang ke arah luar halaman yang kini sudah kosong.

Dylan tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya mengusap pelan leher kuda hitam itu beberapa saat dan mengangkat pandangan ke arah yang sama, lalu kembali terdiam.

── ☀︎ ──

Sepulang sekolah, Summer kembali ke kamar. Ia melihat Emma yang sedang duduk di meja belajarnya dengan beberapa buku dan catatan berserakan di depan.

Emma langsung mengangkat kepala. “Kamu pilih klub apa?”

“Seni,” jawab Summer sambil meletakkan tasnya di atas ranjang.

Emma langsung tersenyum. “Pantes. Aku robotik.”

Summer ikut menoleh. “Cocok buat kamu.”

Emma terkekeh pelan, tetapi beberapa detik kemudian tatapannya berubah serius. Ia memperhatikan wajah Summer sejenak lalu menutup bukunya. “Kamu mandi dulu sana. Mukamu pucat banget.”

Summer mengangguk kecil, mengambil pakaian ganti, lalu masuk ke kamar mandi.

Air hangat dari shower membasahi rambut dan bahunya. Awalnya hanya terdengar gemericik air, tetapi sedikit demi sedikit pikirannya kembali dipenuhi bisik-bisik di kelas, tawa di kafetaria, dan tatapan orang-orang yang terus mengikutinya sejak pagi.

Summer memejamkan mata, mencoba mengabaikan semuanya, tetapi dadanya justru terasa semakin sesak.

Kenangan-kenangan itu datang silih berganti, memenuhi kepalanya sampai ia mulai kesulitan membedakan mana yang nyata dan mana yang hanya ada dalam ingatannya.

Lalu sebuah suara lain memecah semuanya.

DOR!

Tubuh Summer langsung menegang. Bayangan lantai marmer yang dipenuhi darah kembali muncul di kepalanya, disusul suara teriakan dan langkah kaki yang saling bersahutan.

Ia mundur sampai punggungnya membentur dinding, lalu menutup telinganya erat-erat sambil berusaha mengatur napas yang semakin kacau.

“Jangan sekarang…”

Namun suara-suara itu tidak berhenti.

Tubuh Summer perlahan merosot ke lantai yang dingin. Jemarinya bergerak lemah meraih gagang pintu di depannya, sementara bibirnya bergetar pelan.

“Tolong aku…”

ོ☼𓂃BERSAMBUNG𓂃𓇼 𓂃 𓈒𓏸

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   ☀︎99

    CHAPTER 99Takumi yang berdiri di sampingnya langsung menoleh. “Ayah…”“Dia tetap berhak menentukan hidupnya sendiri.”Ren mengangguk santai. “Aku bisa menerima itu.”Takeshi mengambil pena yang berada di atas meja, tetapi Takumi lebih dulu menahan pergelangan tangannya. “Berpikirlah dulu.” Tatapan putranya tidak bergeser sedikit pun. “Summer bukan alat tukar. Dia putriku.”“Dia juga cucuku.”“Kalau begitu jangan lakukan ini.” Suara Takumi terdengar lebih keras dari sebelumnya. “Biarkan dia memilih kebahagiaannya sendiri.”Takeshi terdiam mendengar itu. Baginya, tidak ada yang lebih ia inginkan selain melihat Summer bahagia.Namun setiap kali memikirkan masa depan cucunya, yang terbayang justru wajah orang-orang yang selama bertahun-tahun menunggu kesempatan menjatuhkan keluarga Ryu. “Aku hanya ingin memastikan dia aman.”“Biarkan aku melindunginya.”Takeshi memandang putranya cukup lama. Ia ingin mempercayai kalimat itu. Sungguh ingin. N

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   ☀︎98

    CHAPTER 98Pertanyaan itu membuat Summer tertawa kecil. “Tentu saja.” Jemarinya masih bermain dengan liontin kecil di gelang tersebut. “Aku sangat ingin.”Saat mengangkat kepala lagi, Summer sempat melihat senyum tipis di sudut bibir Dylan. “Ada apa?”Dylan menggeleng. “Tidak ada.”Jawaban itu terdengar terlalu cepat untuk benar-benar meyakinkannya, tetapi Summer memilih tidak mengejar penjelasan lain.Beberapa saat kemudian Dylan berdiri dari bangku dan memasukkan kedua tangannya ke saku celana olahraga. Summer ikut bangkit. “Summer.”“Iya?”Dylan menatapnya beberapa saat hingga tanpa sadar Summer ikut menahan napas. “Jangan takut mengambil keputusan untuk hidupmu sendiri.”Kalimat itu langsung mengingatkannya pada percakapan dengan kakeknya. “Kakekku bilang hal yang hampir sama.”“Kakekmu benar.”Summer menunggu, dan Dylan kembali membuka suara dengan tenang. “Keputusanmu akan menentukan takdirmu.”Ia mengangguk pelan. Aneh, tetapi

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   ☀︎97

    CHAPTER 97Arthur masih memeriksa laporan keuangan di atas mejanya saat ketukan pintu terdengar dari luar. Ia tidak perlu menebak siapa yang datang. “Masuk.”Pintu terbuka dan Dylan melangkah ke dalam ruang kerja, lalu berhenti beberapa langkah dari meja seperti biasa.Arthur menutup map di hadapannya, berdiri dari kursi, lalu berjalan ke arah jendela yang menghadap taman. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat para petugas taman yang masih sibuk merapikan semak-semak di sepanjang jalan setapak. “Sudah kau putuskan?”“Aku akan melindunginya.”Arthur tidak langsung menjawab. Pandangannya tetap tertuju ke luar jendela sementara kata-kata itu terngiang di kepalanya. Jawaban itu sama sekali tidak mengejutkan.Dylan tidak pernah mengambil keputusan karena emosi sesaat. Sejak kecil, anak itu selalu memikirkan segala sesuatu jauh lebih lama daripada orang lain sebelum akhirnya menentukan pilihan.Karena itulah Dylan sering terlihat keras kepala di mata ora

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   ☀︎96

    CHAPTER 96Lampu belajar yang masih menyala membuat Cloud membuka mata. Ia berkedip beberapa kali sambil menyesuaikan pandangan, lalu memiringkan kepala ke arah meja di dekat jendela.Dylan masih berada di sana dengan laptop yang belum juga ditutup. Cahaya layar memantul di wajahnya, menerangi tumpukan map dan catatan yang memenuhi meja, sementara suara pelan dari tombol keyboard terus terdengar.Cloud melirik jam di samping ranjang dan refleks mengernyit. Sudah lewat pukul dua dini hari, tetapi Dylan masih belum beranjak sedikit pun.Ia mengusap wajah sekilas lalu menyandarkan punggung ke kepala tempat tidur. “Belum tidur?”“Belum.”“Siang nanti, lo jadi meeting sama kepala divisi IT?”“Iya.”“Istirahat, Dy. Nanti lo capek.”Suara keyboard tetap terdengar beberapa kali lalu akhirnya berhenti. Dylan tidak mengalihkan pandangan dari layar di depannya saat menjawab singkat, “Bisa.”Cloud menggeleng pelan. “Kalau lo sakit, lo gak akan bisa ngapa-ngapain.”Ia memandangi punggung sahabatny

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   ☀︎95

    CHAPTER 95Pagi itu Royal Crest Academy kembali dipenuhi murid-murid dengan seragam rapi dan wajah penuh semangat. Koridor yang sempat lengang selama beberapa minggu terakhir kembali ramai oleh suara langkah kaki dan obrolan yang saling bersahutan.Setelah jam pelajaran keempat berakhir, Summer berjalan berdampingan dengan Emma menuju kantin. Begitu menemukan meja kosong, Emma meletakkan nampannya lalu duduk sambil mengembuskan napas pelan. “Liburannya terasa sebentar sekali.”Summer ikut duduk di hadapannya. “Iya.”Emma membuka botol minumnya, meneguk sedikit, lalu menoleh. “Bagaimana di rumah Jess?”“Menyenangkan.” Senyum Summer bertahan begitu saja di wajahnya hanya karena kembali mengingat beberapa hari terakhir. “Mama dan Papa Jess sangat baik. Kami makan bersama, membantu di dapur, bermain dengan anjing-anjing di halaman, lalu mengobrol sampai malam.”“Kelihatannya menyenangkan.”“Memang.” Summer mengangkat wajah dan balik menatapnya. “Kalau ka

  • 🇮🇩 A LOVE NAMED SUMMER   ☀︎94

    CHAPTER 94“Summer! Cepat sedikit!” Suara Jess sudah terdengar bahkan sebelum pintu kamar benar-benar terbuka.Ia masuk sambil menyeret koper dan berhenti di depan Summer yang masih melipat pakaian di atas ranjang.Emma cuma melirik sekilas dari tempatnya duduk di lantai, lalu kembali memasukkan buku terakhir ke dalam tas.“Kita bakal telat.”Summer menoleh ke jam di dinding. “Masih satu jam lagi.”“Itu sebentar.”“Masih lama.”Emma mengangkat kepala sambil menahan senyum. “Kalau kalian lanjut begini, sampai besok juga nggak jadi berangkat.”Jess pura-pura tidak dengar. Perhatiannya sudah pindah ke tas Summer yang masih terbuka. “Dompet?”“Ada.”“Ponsel?”“Ada.”“Charger?”Summer berhenti melipat baju lalu menatapnya. “Jess.”“Apa?”“Aku cuma pergi beberapa hari.”“Terus?”“Kamu bikin rasanya seperti mau pindah rumah.”Emma terkekeh pelan, sementara Jess cuma mengangkat bahu tanpa merasa bersalah. “Biar

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status