A Luna Reborn: A taste of her Forbidden Alpha

A Luna Reborn: A taste of her Forbidden Alpha

last updateTerakhir Diperbarui : 2025-10-20
Oleh:  Hali VTamat
Bahasa: English
goodnovel18goodnovel
10
3 Peringkat. 3 Ulasan-ulasan
137Bab
10.4KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

The Day my Family betrayed and Killed me, was the day everything changed. ___________________________________ Rhiannon Blackwood was the Brains behind the success of the True North Pack. She had dedicated her life for the Pack's benefit, but one day everyone turned their back against her and everything she built was handed to her twin sister. But it doesn't ends there - her beloved family and mate destroy her life and kill her at the end. As she dies, she promises vengeance to those who did this to her. When she woke up again and realized she had been gifted a second chance, Rhia would make sure not to make the same mistakes as before. Even if it meant joining hands with the enemy of the True North Pack, Elijah Reigns, the Alpha of the Timberfang Pack, a man who not only appears to be carved from the shadows, but who sets her heart ablaze with one glance. What happens when she realises the second chance given to her isn't just for revenge, and there's something even bigger in store for her? What happens when she comes to understand why she was Wolfless all this time? What happens when she has to make a difficult choice, after learning that Alpha Elijah is the definition of a 'Forbidden Fruit' ?

Lihat lebih banyak

Bab 1

Chapter One

                                  Happy reading dan jangan lupa kritik juga saran nya ya

Tidak ada yang pernah benar-benar siap menghadapi hari pertama kerja apalagi kalau pekerjaan itu menempatkanmu tepat di samping pria yang reputasinya lebih tajam dari pisau bedah: Arkana Rivard.

Gedung Aude’C Group menjulang tinggi di kawasan bisnis Sudirman. Dinding kacanya memantulkan langit Jakarta yang muram pagi ini. Orang-orang bersetelan formal bergerak cepat keluar-masuk lobi, seolah tidak ada ruang untuk kesalahan atau keterlambatan.

Dan di sanalah Narine Aldira berdiri, menggenggam map biru tua berisi dokumen onboarding dan kontrak kerjanya pekerjaan baru yang ia dapat hanya tiga hari setelah keluar dari perusahaan lamanya karena fitnah yang menjatuhkan namanya dalam semalam.

Brakk

"De cepetan dong katanya mau mandiri masa jam 7 belum siap-siap juga, kan ini hari pertama lo kerja" Pagi ku disambut dengan omelan 'Rajan' ya dia kakak ku satu satunya.

Dengan berjalan didepan ku dia masih terus mengomel tanpa henti "Lagian kenapa gak di perusahaan gue sih de, kan lebih praktis tu tinggal masuk terus ngintilin gue kemana pun"

"Justru itu yang gue gak mau, ogah banget ngintilin lu" jawabku ketus


“Nama?” tanya resepsionis formal di front desk tanpa senyum.

“Narine Aldira. Hari ini mulai bekerja,” jawabnya.

Resepsionis itu mengetik cepat, lalu mengangguk. “Divisi Sekretariat Eksekutif. Lantai 39. Pakai lift kanan.”

Ucapan ‘selamat datang’ tampaknya tidak tersedia di gedung ini. Bagus, pikir Narine. Profesional. Tanpa basa-basi. Cocok.

Begitu lift terbuka, suasana berubah drastis. Interior lantai 39 didominasi kayu walnut dan kaca gelap, dengan suasana sunyi tegang seperti ruang pengadilan. Karyawan berjalan cepat sambil menenteng iPad atau dokumen, nyaris tidak ada yang bicara.

Di dekat pintu masuk lantai, seorang wanita berponi pendek menyapanya cepat. “Kamu Narine? Saya Helena, sekretaris senior. Ikut saya.”

Tanpa menunggu jawaban, wanita itu memutar badan dan melangkah cepat. Narine mengikutinya.

“Saya akan kasih kamu briefing singkat,” kata Helena dengan nada efisien, seperti seseorang yang tidak punya waktu untuk berbasa-basi. “Kamu sekretaris pribadi Pak Arkana. Harus selalu siap dipanggil kapan pun. Termasuk kalau dia butuh kamu di luar jam kantor.”

Narine mengangguk. “Baik.”

“Nomor ponselmu harus aktif 24 jam.”

“Baik.”

“Jangan tanya dua kali kalau dia sudah menjawab sekali. Jangan ulangi kesalahan. Jangan pernah buat asumsi.”

Narine kembali mengangguk, tapi dalam hati bertanya apakah dia melamar sebagai sekretaris atau robot personal?

'Gue jadi sekretaris apa jadi babysitter nih masa 24 jam anjir'

Helena melanjutkan dengan suara lebih pelan, seakan kalimat berikutnya rahasia kantor yang tidak boleh terdengar oleh dinding. “Satu lagi. Ada tiga aturan utama bekerja dengan Mr. Arkana Rivard.”

Narine menatapnya.

“Pertama, jangan pernah telat kamu harus tepat waktu. Kedua, jangan pernah menunda instruksi. Ketiga-” Helena menatap langsung, “usahakan jangan pernah salah.”

Nada itu membuat Narine sedikit mengeraskan rahangnya. “Saya bisa mengikuti standar kerja tinggi. Itu bukan masalah, kak.”

Helena tersenyum tipis. “Bukan standar kerja yang jadi masalah. Orangnya.”

Maksudnya apa?

Tapi sebelum Narine sempat bertanya, pintu ruang eksekutif terbuka. Seorang pria keluar dengan wajah memucat, memegang dokumen yang tampaknya baru saja dikoreksi. Kemeja birunya basah oleh keringat meski lantai ini ber-AC dingin.

Dia membisik pada Helena sebelum pergi, “Dia kenapa kayak bukan manusia.”

Helena hanya menepuk bahunya. “Dia masih hidup, ada-ada aja kamu”

Narine hampir tertawa sampai seseorang lewat di hadapannya.

Langkah panjang, jas hitam slim fit, aura tenang yang berbahaya. Sorot mata tajam. Rahang keras. Rambut hitam rapi sedikit berantakan seolah disentuh angin pagi. Arkana Rivard. Bahkan tanpa diperkenalkan pun semua orang akan tahu: dialah pusat gravitasi lantai ini.

Udaranya berubah saat pria itu lewat. Beberapa staf langsung menunduk. Ada yang pura-pura sibuk. Ada yang menahan napas. Sementara Narine berdiri diam.

Arkana nyaris melewatinya, tapi kemudian berhenti. Menoleh. Menatap Narine sebentar dari ujung kepala sampai ujung sepatu. Bukan tatapan menggoda. Bukan juga tatapan ramah. Lebih mirip evaluasi instan dan dingin.

“Orang baru,” katanya datar pada Helena.

“Ya, ini Narine Aldira, sekretaris-”

“Follow me,” potong Arkana.

Begitu saja. Tanpa kata perkenalan, tanpa salam. Ia berbalik dan berjalan. Narine refleks mengikuti. Helena memberi isyarat halus, cepet ikutin.

Ruang kerja Arkana berada di sisi paling ujung. Pintu kacanya tertutup, dan saat terbuka otomatis, Narine langsung merasa masuk ke tempat dengan tekanan oksigen lebih rendah.

Tidak ada foto pribadi. Tidak ada dekorasi. Hanya kesempurnaan dingin rak buku hitam, meja kerja walnut besar, dan pemandangan Jakarta dari dinding kaca.

“Sit,” katanya pendek, tanpa melihat ke arah Narine yang masih berdiri. Ia membuka iPad dan file digital.

Narine duduk. Diam. Menunggu.

Satu menit. Dua menit. Lima menit. Tidak ada suara selain suara notifikasi e-mail yang sesekali terdengar dari perangkat Arkana. Narine ingin bicara tapi tak punya alasan.

Akhirnya, pria itu angkat wajah.

“Saya tidak akan bicara dua kali,” ucapnya tiba-tiba.

Narine menatapnya heran. “Maaf?”

“Saya tidak ulangi instruksi,” ulangnya, datar.

“Sa-saya belum menerima—”

“Kamu sekretaris. Artinya kamu harus cepat tanggap. Mengerti?”

Narine menahan napas. Wow. Ini baru tiga menit bertemu, dan pria ini sudah membuatnya ingin melempar binder.

“Baik,” jawabnya singkat.

“Bagus.” Arkana menggeser iPad-nya. “Jadwal saya hari ini.”

Agenda itu muncul di layar yang diarahkan padanya penuh rapat, penuh negosiasi, penuh panggilan bisnis.

“Tugas pertama,” kata Arkana. “Siapkan dokumen kontrak dan proyeksi final untuk meeting jam sepuluh. Pastikan setiap lembar rapi, highlight poin negosiasi, dan tanda tangan direktur legal sudah ada sebelum pukul sembilan empat puluh.”

Narine mengecek jam tangannya. 08.52.

Sisa 48 menit?

“Dokumennya ada di server. Cari folder ‘Confidential’, subfolder ‘Aurum Merger’,” lanjut Arkana.

Narine mencatat cepat. “Passwordnya?”

Arkana menatapnya lama lalu tersenyum tipis. Sebuah senyum yang tidak ramah. Lebih mirip tantangan.

“Cari tau. Kalau kamu pantas duduk di ruangan ini, kamu harus bisa menemukan semuanya.”

Mendengar itu Narine hanya bisa tersenyum lebar dan bergumam dalam hati

'Akhhhhhh! gila ni orang yang punya password kan dia, gitu aja suruh gue yang mikir'

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.

Ulasan-ulasan

Christine Owings
Christine Owings
46 chapters 8/6/25
2025-08-07 07:09:29
1
0
Blessed assurance
Blessed assurance
The thought of Rhiannon making a serum to help younger wolfs have a painless shift hooked me but then again, I hope she makes all of them pay after being reborn for what they did. I love reborn stories......
2025-07-03 00:06:54
5
0
Zainabou
Zainabou
I absolutely love Rhiannon smart and spicy what a combination
2025-09-06 15:07:06
2
0
137 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status