Home / Rumah Tangga / A Mother's Justice / 50. Reuni Teman Lama (6)

Share

50. Reuni Teman Lama (6)

Author: Dea Anggie
last update publish date: 2026-04-25 22:37:23

Rosella dan Mario menerobos kerumunan, begitu sampai di barisan depan, mereka melihat Angelica sedang duduk merokok dengan menginjak seseorang dibawah kakinya.

Seseorang yang diijak Angelica merintih kesakitan. Wajahnya sampai menempel di lantai.

"A-ampun, ampuni aku ..."

Angelica menghisap rokok dan mengepulkan asap ke udara, "Mengampunimu?" tanyanya tersenyum miring.

Angelica semakin kuat menginjak punggung seseorang itu.

"Jangan berlagak merasa kasihan sekarang. Siapa tadi yang sok jagoan,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • A Mother's Justice   72. Perburuan di Mulai (4)

    Felix keluar dari kamar mandi, dia melihat Angelica sedang fokus menatap layar ponsel. Dia perlahan mendekat dan mengintip apa yang sedang dilihat Angelica."Apa yang kamu lihat?" tanya Felix. Berdiri dibelakang Angelica.Angelica kaget, menatap Felix yang berdiri dibelakangnya. "Oh, ini rekaman kamera pengawas yang ada di bar. Kamu bilang kalau kamu papasan sama pelayan lain saat dilorong ruang VIP, dan aku minta temanku meretas sistem kamera pengawas bar itu. Coba lihat ini," kata Angelica memperlihatkan video rekaman kamera pengawas yang ada di ponselnya pada Felix.Felix menatap layar ponsel dan melihat rekaman yang dimaksud Angelica. "Benar. Dia orangnya. Kemungkin dia si gigi taring yang kamu cari itu. Karena aku nggak tau wajah gigi taring seperti apa, makanya aku nggak tau pelayan ini dia atau bukan. Maaf ya ... kalau dari awal aku tau itu dia, aku nggak akan biarin dia kabur," kata Felix merasa bersalah."Nggak apa-apa. Lagi pula dia masih ada di hotel. Kita bisa mengurusny

  • A Mother's Justice   71. Perburuan di Mulai (3)

    Malam harinya ... Di bar ...Sesuai rencana, Angelica dan Felix sudah membagi tugas masing-masing untuk bisa menangkap dalang dibalik percobaan pembunuhan pada Nathan.Felix menyamar sebagai pelayan bar dan bersiap melayani tamu. Ditelinga Felix terpasang earphone untuk berkomunikasi."Fel, kamu sudah siap?" tanya seseorang di ujung panggilan. Yang adalah Angelica."Aku siap," jawab Felix."Ruang VIP 8. Lakukan sesuai rencana kita," kata Angelica."Ok," jawab Felix.Felix berjalan pergi mendorong kereta makanan dan minuman menuju ruang VIP 8. Di tengah jalan, dia berpapasan dengan seorang pelayan yang juga mendorong kereta makanan.Di depan pintu ruang VIP 8, Felix berdiri. Dia mengetuk pintu, lalu masuk dengan mendorong kereta makanan. Dia segera menutup pintu, dan mengunci pintu diam-diam. Selayaknya pelayan pada umumnya, Felix melakukan peran dengan sangat profesional.Di dalam ruangan, ada dua orang laki-laki dan empat perempuan yang diduga adalah perempuan panggilan. Felix me

  • A Mother's Justice   70. Perburuan di Mulai (2)

    Felix berdiri dari posisinya duduk, lalu berjalan mendekati Angelica dan Andrew."Ayo," kata Felix.Felix menatap Andrew, lalu menundukkan kepalanya sedikit. Dia merasa malu dan setengah canggung."Cuma menatap dan menundukkan kepala gitu aja? Nggak ada omongan apa-apa?" kata Andrew."Kami pergi dulu," kata Felix.Angelica menatap Felix, lalu menatap Andrew dan kembali menatap Felix lagi."Ada apa denganmu dan Papa? Kalian bertengkar?" tanya Angelica."Nggak kok. Kami nggak bertengakar," jawab Felix cepat.Angelica menatap Andrew, "pa, dia kenapa?" tanyanya bingung.Andrew tersenyum, "nggak apa-apa. Dia cuma malu aja. Tadi habis tes kesehatan kami ngobrol sebentar. Niatnya Papa suruh dia buat istirahat, tapi dia bilang sudah janji ke kamu bakalan balik. Takut kamu khawatir kalau nggak ngabarin. Dan dia bilang kalau kalian sudah punya hubungan kakak - adik," katanya menjelaskan.Angelica menganggukkan kepala, "oh, gitu. Ok, ok. Aku ngerti sekarang. Ya sudah, Pa ... Aku dan Felix pergi

  • A Mother's Justice   69. Perburuan di Mulai (1)

    Angelica dan Felix makan cemilan bersama sambil mengobrol."Tadi, kamu ngapain? Ke mana aja?" tanya Angelica ingin tahu."Ketemu Papamu. Beliau minta aku tes kesehatan. Mendadak banget. Untung tadi aku belum makan dan minum apa-apa jadi langsung tes keseluruhan," jawab Felix bercerita."Hah? Tes kesehatan? Kok tumben?" tanya Angelica cukup kaget."Papamu bilang khawatir sama kesehatanku. Lagipula aku sudah lama juga nggak melakukan tes kesehatan. Sekalian aja," jawab Felix."Kapan hasil tes kesehatanmu keluar?" tanya Angelica ingin tahu."Mungkin besok atau lusa. Aku nggak tanya. Kalau hasilnya sudah keluar pasti Tuan ngasih tahu," jawab Felix.Angelica menganggukkan kepala, "pantas saja kamu perginya lama. Aku kira Papa nyuruh kamu ke mana atau ngapain gitu. Taunya lagi tes kesehatan," katanya."Makanya aku juga bingung tadi. Mau nolak, tapi Papamu pakai alesan macam-macam. Bahkan sampai ngancam mogok makan kalau aku nggak melakukan tes kesehatan. Jadi, mau nggak mau aku iyakan," kat

  • A Mother's Justice   68. Demi Untuk Tes

    Andrew meminta Felix untuk tes kesehatan. Dengan alasan itu, dia meminta Direktur rumah sakit untuk mengambil sampel yang bisa digunakan untuk tes DNA. Awalnya Felix bingung karena Andrew tiba-tiba saja memintanya untuk melakukan tes kesehatan, tapi Andrew punya seribu macam alasan. Sehingga Felix langsung setuju dan menjalani serangkaian pemeriksaan dan tes kesehatan.Setelah hampir 2 jam menjalani tes kesehatan, Felix akhirnya selesai. Dia kembali menemui Andrew di ruang Direktur utama rumah sakit."Bagaimana? Merasa tidak nyaman, atau mungkin tadi ada masalah dengan pemeriksaa kesehatanmu?" tanya Andrew."Anda terlalu mengkhawatirkan saya. Pemeriksaannya berjalan lancar kok," jawab Felix."Baguslah kalau begitu. Setelah ini kamu istirahat saja. Biar aku yang beri tahu Angelica nanti," kata Andrew."Nggak mau. Saya nggak kenapa-kenapa kok di suruh istirahat. Lagipula saya sudah janji sama Nona bakal langsung balik kalau urusan dengan Anda sudah selesai. Kalau saya nggak kembali nan

  • A Mother's Justice   67. Hasil Pencarian

    Ethan dan Andrew kembali menghabiskan banyak waktu. Pembicaraan mereka cocok dan nyambung. Sampai saat Ethan menerima panggilan dari Asistennya terkait perkerjaan mendesak. Akhirnya pembicaraan keduanya disudahi."Maafkan saya. Lain waktu kita bicara lagi, Pak. Ada pekerjaan mendesak yang perlu saya selesaikan," kata Ethan."Karena kamu anak temanmu. Kamu nggak perlu terlalu formal. Panggil saja "Om" dengan nyaman. Apa aku boleh menambah kontakmu dan kontak Papamu? Karena aku memang sudah lama tak berhubungan dengan Papamu," tanya Andrew meminta Izin."Tentu saja. Boleh saya pinjam ponsel anda? Saya akan salin dan simpankan nomor Papa juga saya," kata Ethan meminta izin.Andrew memberikan ponselnya, dan Ethan segera memasukkan nomornya dan nomor Papanya untuk disimpan."Sudah saya simpan dan namai," kata Ethan. Memberikan kembali ponsel milik Andrew."Oh, ok. Kamu lanjutlah kesibukanmu. Lain waktu kita makan bersama," kata Andrew."Iya, Om. Saya menantikannya," jawab Ethan.Ethan ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status