เข้าสู่ระบบOrganisasi Mawar Biru, adalah salah satu dari lima organisasi besar yang mendunia. Pemimpin Organisasi Mawar Biru adalah seorang wanita bernama Rosella.
"Bu," Panggil seseorang yang baru saja masuk ke dalam ruangan di mana Rosella berada. "Ada apa? Kalau nggak bawa kabar soal ketua jangan kembali," ucap Rosella tanpa menatap seseorang itu. "Aku harus berusaha menjelaskan dengan baik. Supaya Bu Rose mau mendengarkan," kata seseorang itu dalam hati. "Nona, keberadaan ketua memang tidak bisa kami lacak. Kami sudah memakai koneksi sana sini, dan semuanya sia-sia. Saya juga nggak bisa apa-apa," kata seseorang itu memberikan penjelasan. Rosella memalingkan pandangan, "jadi, kita harus menyerah?" tanyanya. "Bukan begitu juga. Kita sudah delapan belas tahun mencari, tapi sama sekali nggak ada petunjuk. Kemungkinanya cuma satu," kata seseorang itu dengan dugaannya. "Aku bahkan sampai menyewa detektif ternama dalam dan luar negeri demi mencari keberadaan ketua. Dan hasilnya nol besar. Ketua ini pandai sekali bersembunyi. Jangan-jangan beliau sudah melakukan operasi wajah," kata seseorang dalam hati dengan dugaannya yang lain. "Kemungkinan apa?" tanya Rosella. "Ketua memang sengaja menyembunyikan identitasnya sehingga keberadaanya tak diketahui oleh kita," jawab seseorang itu. Rosella menatap sebuah bingkai foto yang terletak di atas meja kerjanya. Mantanya lekat menatap foto dalam bingkai. Dalam foto ada lima orang yang adalah lima pemimpin organisasi besar, yang juga merupakan orang-orang penting dalam hidup Rosella. "Di mana kamu sebenarnya, Angelica? Sudah delapan belas tahun, tapi aku sama sekali nggak bisa menghubungimu. Mungkinkah kamu ..." kata Rosella yang tiba-tiba saja ponselnya berdering. Rosella menatap ponselnya yang tergeletak di atas meja kerja, melihat layar ponsel. Muncul nama "Asisten Ervan" di layar ponsel Rosella. "Asisten Ervan? Ada apa dia menghubungiku?" tanya Rosella dalam hati. Penasaran, Rosell segera mengangkat ponselnya dan menarik panel hijau pada layar ponselnya. "Ya, halo. Ada apa?" tanya Rosella. Tanpa basa basi. "Apa anda mengenal seseorang bernama ..." Ervan bertanya tentang Papa Theo pada Rosella. Rosella diam sesaat untuk berpikir. Mencoba mengingat seseorang yang disebut Ervan. "Oh, sepertinya kenal, tapi kami nggak akrab. Ada apa?" tanya Rosella. "Begini, Nona. Ada masalah yang terjadi. Dia ..." Ervan menceritakan apa yang terjadi dengan Angelica pada Rosella. Mata Rosella melebar, "apa? Bagaimana bisa? Ke-ketua sudah kembali?" tanyanya. "Ya, beliau sudah kembali," jawab Ervan. "Aku... Aku ke sana sekarang. Aku mau menemui ketua," kata Rosella. "Jika nanti anda sudah sampai. Anda hubungi saya dulu," kata Ervan mengingatkan. "Hm," gumam Rosella. Ervan langsung mengakhiri panggilan. Sementra Rosella diam membeku sambil mencengkram erat ponsel di tangan. "Bu, Bu Rose... " Panggil seseorang. Rosella terkejut, "oh, kita harus segera pergi. Ayo," ajaknya. "Pergi? Pergi ke mana? Anda nggak bisa pergi. Sebentar lagi akan ada rapat," kata seseorang itu mengingatkan akan jadwal Rosella. "Tunda rapatnya. Ada hal yang lebih penting dari rapat dan nyawaku sendiri," kata Rosella. Segera Rosella berdiri dari posisinya duduk. Dia mengambil tas dan langsung pergi. Seseorang yang adalah Asisten Rosella hanya bisa pasrah pada perkataan Bosnya. Dia mengikuti Rosella pergi. *** Di sekolah ... Angelica sedang menghisap rokok dengan santai. Dia menatap dingin ke arah orang-orang yang merendahkannya tanpa mengatakan apa-apa. "Nona, silakan. Ini data mereka yang sudah kami kumpulkan," kata Ervan. Memberikan sebuah amplop cokelat kepada Angelica. "Kamu sudah menghubungi Rose?" tanya Angelica. Ervan menganggukkan kepala, "sudah. Nona Rose bilang hanya sebatas kenal, tapi nggak akrab." Angelica membuang puntung rokok dan lengsung menginjaknya. Dia menerima pemberian Ervan, lalu segera membuka amplop cokelat tersebut, dan langsung memeriksa isinya. "Aku kira mereka siapa. Ternyata hanya tumpukan sampah nggak berguna," kata Angelica menghina tersenyum. "Kamu ... Apa maksudmu? Beraninya kamu menghina kami ini sampah," Papa Theo bersuara tak terima dengan perkataan Angelica. "Oh, nggak terima? Aku memang berani, lantas kalian mau apa?" tanya Angelica menantang. "Kamu nggak tahu? Selain kerjasama dengan organisasi mawar biru, aku juga adalah sepupu dari kepala polisi kota ini. Bisa-bisanya jalang penjual buah sepertimu mengataiku samah. Cih," sahut Papa Theo makin emosi. "Apa? Kepala polisi?" tanya Angelica heran. Melihat ekspresi wajah heran Angelica, Papa Theo salah mengira Angelica sedang merasa ketakutan. "Huh, sudah kuduga. Jalang ini pasti ketakutan. Lihat ekspresi terkejutnya itu," kata Papa Theo dalam hati. "Kenapa? Takut? Terlambat untukmu pergi dari sekolah ini. Sepupuku itu sudah dalam perjalanan ke sini. Sebentar lagi dia akan datang. Saat dia datang nanti, aku akan memintanya memenjarakanmu. Dasar jalang sialan!" kata Papa Theo kesal. "Tutup mulutmu, bedebah. Kalau tidak akan ku ..." kata Ervan emosi. Saat Ervan ingin melakukan sesuatu, Angelica mencegahnya. "Biarkan saja," kata Angelica. "Untung kamu tahu diri. Apa kalian tahu? Kalian sama sekali bukan lawan kami," kata Papa Theo dengan begitu sombong. Angelica menganggukkan kepala dan bertepuk tangan. Membuat semua orang bingung dengan apa yang telah Angelica lakukan. "Si jalang ini sedang apa? Kenapa dia malah tepuk tangan dan menatapi kami seperti itu?" kata Papa Theo dalam hati. Tidak lama pintu rungan dibuka. Seseorang berseragam polisi masuk, dengan membawa dua orang rekan. "Siapa yang membuat onar di sekolah?" katanya yang baru datang. "Adik sepupu, dia orangnya. Dia sudah menghinaku habis-habisan. Cepat bawa dia dan masukkan dia ke penjara," kata Papa Theo. Menunjuk ke arah Angelica. Sepupu Papa Theo menatap Angelica, "kamu biang onarnya?" tanyanya. "Biang onar katamu? Berbalik dan buka matamu lebar-lebar, lihat orang-orang dibelakangmu. Merekalah biang onarnya," kata Angelica. Sepupu Papa Theo menuruti perkataan Angelica dan segera berbalik. Menatap satu per satu orang dibelakangnya. "Kalian ..." kata sepupu Papa Theo ingin menanyakan sesuatu, tapi perkataannya sudah langsung disela Papa Theo. "Adik sepupu. Jangan hiraukan perkataannya. Dia itu hanya mencari perhatianmu. Berharap orang besar sepertimu luluh dan tersentuh hatinya. Oh ya, kamu liht ini kepala sekolah. Dia ... Dia menyumpal mulut kepala sekolah dengan puntung rokok yang masih menyala. Dia itu gila. Dia gila!" kata Papa Theo. Mempengaruhi sepupunya untuk membenci Angelica. Sepupu Papa Theo mengerutkan dahi, dia menatap kepala sekolah yang masih tampak kesakitan. Segera dia memanggil bantuan dan menyuruh bawahannya menahan Angelica. "Bawa wanita itu ke kantor polisi segera," perintah sepupu Papa Theo. "Siapa berani?" tanya Ervan. Yang langsung memasang badan. Menghalangi Nona majikannya. "Tenangkan dirimu, Ervan. Mimggirlah," kata Angelica. "Tapi," kata Ervan khawatir. "Ini perintah," kata Angelica. Ervan terpaksa patuh akan perintah Angelica dan kembali ke posisi semula, di samping Angelica duduk. "Lihat apa kalian? Cepat bawa dia!" perintah sepupu Papa Theo pada bawahannya. Segera dua orang bawahan sepupu Papa Theo bergerak mendekati Angelica. Dengan gerakan cepat, Angelica langsung menembak kaki kedua bawahan sepupu Papa Theo dan membuat keduanya langsung tersungkur. Membut semua orang terkejut. Ervan juga terkejut saat tiba-tiba Angelica melesatkan tembakan. "Pistol itu ..." Ervan segera meraba pinggangnya. Benar saja dugaannya, dia telah kehilangan pistolnya.Andrew mendorong kursi roda yang diduduki Nathan keluar dari dalam lift. Dipersimpangan jalan, mereka bertemu Felix."Lho, anda sudah sampai di sini. Saya baru mau naik menjemput anda dan Tuan Muda," kata Felix, saat bertemu Andrew dan Nathan di lantai bawah."Oh, apa kamu disuruh Angelica menjemputku?" tanya Andrew."Ya. Nona tadi menghubungi saya dan meminta saya menemani Anda. Makanya saya inisiatif mau naik," jawab Felix."Bukannya kamu lagi melakukan pemeriksaan? Apa sudah selesai?" tanya Andrew."Iya. Baru saja selesai," jawab Felix."Gimana hasilnya? Apa kamu masih ngerasa nggak nyaman karena kejadian waktu itu?" tanya Andrew."Bisa dibilang penulihan saya cepat. Sekarang saya merasa sudah baikan," kata Felix."Oh, ok. Kalau gitu kamu ikut kami jalan-jalan saja. Sekalian melemaskan kaki," kata Andrew, yang dijawab anggukan kepala cepat oleh Felix."Biar saya yang mendorong Tuan Muda," kata Felix yang langsung mengambil alih posisi Andrew.Nathan menatap Felix, "apa om Asistenny
Setelah hari kesepakatan dengan Nathan, Ethan secara aktif melakuakan pendekatan dengan Angelica.Dia bahknan secara terang-terangan menunjukkan perhatian tanpa rasa canggung sedikitpun.Angelica merasa aneh, sikap Ethan semakin hari semakin aneh. Seperti bukan Ethan yang dia kenal sebelumnya."Dia kenapa? Aneh sekali. Kerasukan hantu 'kah?" tanya Angelica dalam hati. Saat melihat Ethan membawakan sarapan untuknya dan bahkan menyiapkan menu khusus."Cobalah. Aku yang memasaknya sendiri," kata Ethan."Ethan ... Kamu kenapa? Tumben masak sendiri," tanya Angelica."Mulai hari ini aku akan memasakkan kalian berdua. Kalau ada yang ingin kamu dan Nathan makan, katakan saja. Sekalipun masakan asing, aku akan buat dan masakkan untuk kalia . Jangan sungkan-sungkan," kata Ethan dengan percaya diri.Nathan tersenyum, "cukup bisa diandalkan. Gayanya sudah lumayan. Entah Mama akan menerimanya atau tidak dengan sikapnya yang seperti ini," katanya dalam hati.Ethan memberikan Nathan semangkuk bubur
Setelah Andrew pulang, sekarang giliran Ethan yang melakukan pendekatan dengan Nathan. Dia ingin saling mengenal dengan putranya itu.Meskipun canggung, Nathan berusaha menjaga sikap dan ucapannya agar tak menyinggung. Dia takut Ethan sakit hati dan memarahi Mamanya.Seperti sebelumnya, saat berduaan mereka hanya saling diam. Nathan menatap Ethan, "itu ... Apa om nggak kerja? Mama aja sudah berangkat kerja lho," tanyanya."Oh, aku bisa masuk dan pulang kerja kapan saja. Kamu nggak perlu khawatir. Kita punya banyak waktu untuk saling mengenal satu sama lain," jawab Ethan."Kalau nggak bekerja, apa om punya uang? Kalau mau jadi keluarga kami, om harus punya banyak uang lho. Aku nggak mau punya Papa pengangguran banyak acara. Itu sangat menyebalkan. Nanti yang susah Mamaku," ucap Nathan tanpa basa-basi. Ethan tersenyum, "entah kenapa, meskipun kata-katamu itu pedas di telinga, tapi aku menyukainya. Tenang saja. Aku bukan tipe lelaki yang numpang hidup dari uang perempuan. Aku punya ban
Kedatangan Andrew memberi kesan tersendiri bagi Nathan. Dia senang bisa bertemu Kakeknya. Keduanya langsung akrab dan dekat.Melihat kedekatan Papa dengan Anaknya, Angelica hanya bisa tersenyum. Dia senang Nathan bisa menerima keberadaan keluarganya meski sejak kecil tidak pernah bertemu."Mereka langsung akrab, ya?" tanya Ethan. Duduk di sofa di samping Angelica.Angelica menatap Nathan, "kenapa? Kamu cemburu?" tanyanya."Iyalah. Kamu nggak lihat dia memusuhiku kayak aku ini mau ngerebut kamu dari dia. Padahal aku ini Papanya lho," ucap Etha menggerutu."Gitu aja ngambek. Kamu kekanak-kanakan banget," kata Angelica."Nggak mau tahu ya, pokoknya kamu harus bantuin aku. Supaya aku bisa dekat sama Nathan. Aku nggak mau dia cuekin aku kayak gini," kata Ethan."Lah, kok malah aku yang harus buat Nathan dekat sama kamu. Rayu sendiri lah. Cari cara supaya dia nggak cuekin kamu. Aku juga nggak mau tahu. Cari cara sendiri. Jangan libatin aku," jawab Angelica menolak permintaan Nathan.Ethan m
Setelah berteleponan dengan Ervan, Angelica kembali. Ethan berbisik sesuatu. Mengajak Angelica bicara sebentar.Keduanya lantas bergeser agak jauh dari Nathan, laku berbisik-bisik. Ethan menyarankan agar Angelica menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Ethan, tapi Angelica menolak. Merasa Ethan tak perlu tahu. Ethan dan Angelica sempat berdebat. Membuat Nathan curiga karena kedua orang tuanya lama sekali berbisik-bisik."Ma ..." panggil Nathan.Angelica memalingkan pandangan menatap Nathan, "ya, sayang. Sebentar," jawabnya.Angelica kembali menatap Ethan, "kamu jangan meracuni isi kepala anakku dengan cerita nggak bener. Ngerti?" bisiknya."Lho, nggak bener dari mana. Aneh kamu ini. Dia sudah tujuh belas tahun. Mengetahui tentang kita 'kan wajar," bisik Ethan."Nggak boleh. Itu rahasia kita," tolak Angelica."Ya sudah. Kalau gitu ceritakan singkat saja tentang kita. Kalau nggak ada omongan apa-apa, apa yang dia pikirkan tentang kita?" sahut Ethan.Angelica diam beberapa saat, "o
Keesokan harinya ...Mendengar cucunya sudah sadar, Andrew yang sedang dalam perjalanan bisnis di luar negeri langsung bergegas pulang. Dia sangat senang dan tidak sabar ingin bertemu sang cucu.Setibanya dibandara, Andrew tidak mau diantar pulang. Dia mau langsung ke rumah sakit.*Rumah sakit ...Keadaan Nathan semakin membaik. Meski belum bisa banyak bergerak, Nathan sudah mulai lancar bicara. "Ma ... " panggil Nathan."Ya?" jawab Angelica. Bergegas menghmpiri Nathan. "Ada apa, sayang?" tanya Angelica. "Ma, kapan kita pulang?" tanya Nathan."Nanti kalau kamu sudah benar-benar sembuh. Kenapa?" tanya Angelica setelah menjawab pertanyaan putranya."Ma, om-om kemarin, siapa? Pacarnya Mama?" tanya Nathan."Pacar apaan. Dia itu Papa kandungmu," jawab Angelica."Papa kandung?" tanya Nathan tidak yakin dengan ucapan Mamanya."Kaget, ya? Awalnya Mama juga keget. Tiba-tiba ada orang asing yang ngaku Papamu. Dia bawa hasil tes dan wajahnya mirip denganmu. Setelah dipastikan dia memang Papa







