Se connecterKarena ada urusan mendesak, Andrew harus pergi kembali ke kantornya. Sebelum pergi, Andrew menitipkan Nathan pada Ethan untuk dijaga sampai Bibi pengasuh datang. Etha tidak menolak. Dia justru senang diberi kesempatan untuk menemani Nathan. "Kamu nggak ada kerjaan 'kan?" tanya Andrew."Nggak ada. Kenapa? Om takut ngerepotin aku?" tanya Ethan."Iyalah. Kalau sibuk aku bisa minta tolong perawat buat bantu jaga sampai Bibi pengasuh datang," kata Andrew."Aku nggak sibuk. Biar aku saja yang jaga. Mumpung Mamanya nggak ada. Aku senang bisa berduaan sama anakku," kata Ethan."Ok. Nanti kalau Bibi pengasuh datang, kamu bisa pergi," kata Andrew."Ya," jawab Ethan.Andrew menatap Nathan, lalu memegang tangan cucunya itu."Kakek pergi dulu. Nanti kakek bacakan cerita. Baik-baik sama Papamu ya," kata Andrew.Andrew berbalik, menepuk bahu Ethan pelan dan berjalan perlahan melewatinya menuju pintu.Ethan hanya diam menatap kepergian Andrew sampai hilang dibalik pintu. *Erika datang. Saat masuk
Sebelumnya ...Setelah dihubungi Andrew, Ethan datang ke rumah sakit. Dia datang sendirian karena Asistennya ditugasnya ke luar kota untuk suatu hal. Ethan datang membawa bunga dan keranjang buah serta beberapa cemilan sebagai buah tangan agar Andrew memiliki kesan padanya.Saat tiba di rumah sakit, Ethan menghubungi Andrew. Menyampaikan jika dia sudah sampai di lantai khusus bangsa VVIP. Tak beberapa lama Asisten Andrew datang menghampiri Ethan. Melihat Ethan membawa banyak barang bawaan, Asisten segera turun tangan menawarkan bantuan"Mari, saya bantu," kata Asisten Andrew.Ethan segera memberikan keranjang buah dan sekotak kue pada Asisten calon mertuanya itu, lalu berterima kasih."Maaf merepotkan," kata Ethan."Tidak masalah. Silakan ikut saya. Tuan sudah menunggu anda sejak tadi," kata Asisten. Berjalan menyusuri lorong menuju bangsal tempat Nathan di rawat.Ethan juga segera berjalan mengikuti. Dia tepat beberapa langkah dibelakang Asisten Andrew.Mata Ethan menyelisik sekita
Felix keluar dari kamar mandi, dia melihat Angelica sedang fokus menatap layar ponsel. Dia perlahan mendekat dan mengintip apa yang sedang dilihat Angelica."Apa yang kamu lihat?" tanya Felix. Berdiri dibelakang Angelica.Angelica kaget, menatap Felix yang berdiri dibelakangnya. "Oh, ini rekaman kamera pengawas yang ada di bar. Kamu bilang kalau kamu papasan sama pelayan lain saat dilorong ruang VIP, dan aku minta temanku meretas sistem kamera pengawas bar itu. Coba lihat ini," kata Angelica memperlihatkan video rekaman kamera pengawas yang ada di ponselnya pada Felix.Felix menatap layar ponsel dan melihat rekaman yang dimaksud Angelica. "Benar. Dia orangnya. Kemungkin dia si gigi taring yang kamu cari itu. Karena aku nggak tau wajah gigi taring seperti apa, makanya aku nggak tau pelayan ini dia atau bukan. Maaf ya ... kalau dari awal aku tau itu dia, aku nggak akan biarin dia kabur," kata Felix merasa bersalah."Nggak apa-apa. Lagi pula dia masih ada di hotel. Kita bisa mengurusny
Malam harinya ... Di bar ...Sesuai rencana, Angelica dan Felix sudah membagi tugas masing-masing untuk bisa menangkap dalang dibalik percobaan pembunuhan pada Nathan.Felix menyamar sebagai pelayan bar dan bersiap melayani tamu. Ditelinga Felix terpasang earphone untuk berkomunikasi."Fel, kamu sudah siap?" tanya seseorang di ujung panggilan. Yang adalah Angelica."Aku siap," jawab Felix."Ruang VIP 8. Lakukan sesuai rencana kita," kata Angelica."Ok," jawab Felix.Felix berjalan pergi mendorong kereta makanan dan minuman menuju ruang VIP 8. Di tengah jalan, dia berpapasan dengan seorang pelayan yang juga mendorong kereta makanan.Di depan pintu ruang VIP 8, Felix berdiri. Dia mengetuk pintu, lalu masuk dengan mendorong kereta makanan. Dia segera menutup pintu, dan mengunci pintu diam-diam. Selayaknya pelayan pada umumnya, Felix melakukan peran dengan sangat profesional.Di dalam ruangan, ada dua orang laki-laki dan empat perempuan yang diduga adalah perempuan panggilan. Felix me
Felix berdiri dari posisinya duduk, lalu berjalan mendekati Angelica dan Andrew."Ayo," kata Felix.Felix menatap Andrew, lalu menundukkan kepalanya sedikit. Dia merasa malu dan setengah canggung."Cuma menatap dan menundukkan kepala gitu aja? Nggak ada omongan apa-apa?" kata Andrew."Kami pergi dulu," kata Felix.Angelica menatap Felix, lalu menatap Andrew dan kembali menatap Felix lagi."Ada apa denganmu dan Papa? Kalian bertengkar?" tanya Angelica."Nggak kok. Kami nggak bertengakar," jawab Felix cepat.Angelica menatap Andrew, "pa, dia kenapa?" tanyanya bingung.Andrew tersenyum, "nggak apa-apa. Dia cuma malu aja. Tadi habis tes kesehatan kami ngobrol sebentar. Niatnya Papa suruh dia buat istirahat, tapi dia bilang sudah janji ke kamu bakalan balik. Takut kamu khawatir kalau nggak ngabarin. Dan dia bilang kalau kalian sudah punya hubungan kakak - adik," katanya menjelaskan.Angelica menganggukkan kepala, "oh, gitu. Ok, ok. Aku ngerti sekarang. Ya sudah, Pa ... Aku dan Felix pergi
Angelica dan Felix makan cemilan bersama sambil mengobrol."Tadi, kamu ngapain? Ke mana aja?" tanya Angelica ingin tahu."Ketemu Papamu. Beliau minta aku tes kesehatan. Mendadak banget. Untung tadi aku belum makan dan minum apa-apa jadi langsung tes keseluruhan," jawab Felix bercerita."Hah? Tes kesehatan? Kok tumben?" tanya Angelica cukup kaget."Papamu bilang khawatir sama kesehatanku. Lagipula aku sudah lama juga nggak melakukan tes kesehatan. Sekalian aja," jawab Felix."Kapan hasil tes kesehatanmu keluar?" tanya Angelica ingin tahu."Mungkin besok atau lusa. Aku nggak tanya. Kalau hasilnya sudah keluar pasti Tuan ngasih tahu," jawab Felix.Angelica menganggukkan kepala, "pantas saja kamu perginya lama. Aku kira Papa nyuruh kamu ke mana atau ngapain gitu. Taunya lagi tes kesehatan," katanya."Makanya aku juga bingung tadi. Mau nolak, tapi Papamu pakai alesan macam-macam. Bahkan sampai ngancam mogok makan kalau aku nggak melakukan tes kesehatan. Jadi, mau nggak mau aku iyakan," kat







