แชร์

5. Siapa Dia?

ผู้เขียน: Dea Anggie
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-10 14:45:04

Keesokan harinya, di sekolah.

Ketua yayasan mengumpulkan semua orang yang terlibat, termasuk Angelica dan wali kelas.

"Semua sudah berkumpul. Saya nggak akan berbelit-belit. Kali ini ditemukan adanya kejanggalan, dan pihak sekolah tak memberikan penjelasan yang memuaskan kepada keluarga Nathan. Saya selaku ketua yayasan meminta adanya penyelidikan agar semuanya jelas," kata ketua yayasan.

"Tidak bisa seperti itu, Pak. Anak saya tidak bersalah."

"Anak saya juga tidak. Dia siswan teladan. Mana mungkin melakukan perundungan. Ini tuduhan palsu."

"Saya setuju. Saya tidak terima dengan tuduhan yang ditujukan kepada anak saya."

Papa Theo menatap kepala sekolah, membuat kepala sekolah ketakutan.

"Pak ketua, bukankah ini hanya masalah sepele? Lebih baik saya menangani. Anda duduk manis saja di kantor," bisik kepala sekolah.

Ketua yayasan langsung menampar kepala sekolah, "kurang ajar. Beraninya kamu menyuruhku hanya duduk manis di kantor. Ada hal serius seperti ini. Bukannya melapor, kamu malah menutupinya dan menerima uang suap. Dasar nggak berguna," katanya marah.

Kepala sekolah terkejut, "bukan seperti yang anda bayangkan, Pak. Ini semua hanyalah salah paham. Anda lihat, mereka semua adalah orang berpengaruh di kota ini. Mana mungkin saya, demi anak seorang penjual buah, membiarkan mereka. Anda 'kan tahu. Reputasi sekolah itu segalanya. Saya hanya ..." katanya yang langsung di potong oleh Angelica.

"Memangnya ada masalah dengan anak seorang penjual buah? Kami tidak mencuri, tidak menipu ataupun korupsi. Uang kami jelas," sela Angelica tidak senang dengan perkataan kepala sekolah.

Kepala sekolah menatap Angelica dengan tatapan tidak senang, "jelas asalnya? Siapa yang tahu itu. Anda itu hanyalah orang tua tunggal. Biaya sekolah di sekolah ini sangat mahal. Penjual buah seperti anda punya uang dari mana. Mengandalkan menjual buah? Tidak mungkin," katanya.

"Kenapa tidak mungkin?Saya tahu, ini sekolah mahal. Karena saya ingin yang terbaik untuk putra saya, makanya saya memilih sekolah ini. Selama ini saya tidak pernah terlambat membayar uang kegiatan. Bahkan saya langsung membayar dimuka biaya bulanan sekolah untuk tiga tahun sekaligus. Saat pendaftaran masuk, saya juga nggak meminta diskon untuk biaya uang gedung. Anda benar-benar memandang saya sebelah mata ya?" kata Angelica kesal.

"Tetap saja. Itu semua nggak ada artinya di mata mereka. Anda tahu? Mereka-mereka ini adalah donatur sekolah. Mereka mendonasikan puluhan bahkan ratusan juga di sekolah ini. Hanya membayar uang sekolah adalah hal remeh untuk mereka," sahut kepala sekolah masih terus memojokkan Angelica.

Angelica menatap ketua yayasan, "ada dengar sendiri 'kan, Pak Ketua yayasan yang terhormat. Ternyata di mata kepala sekolah, penjual buah seperti saya adalah orang rendahan yang tak ternilai. Bagaimana anda menanggapi ini?" tanyanya.

Ketua yayasan menatap kepala sekolah, "minta maaf kepada Nyonya Angelica sekarang," perintahnya.

Kepala sekolah terkejut, "apa? Saya? Minta maaf padanya? Tidak mau. Atas dasar apa saya harus meminta maaf kepada penjual buah rendahan," katanya menolak.

Suasa mulai memanas. Melihat kepala sekolah yang dipojokkan ketua yayasan, Papa Theo pun turun tangan membela.

"Pak ketua yayasan. Semua bisa dibicarakan. Rasanya nggak pantas meminta kepala sekolah meminta maaf seperti itu," kata Papa Theo.

Angelica menatap Papa Theo, "siapa anda berkata seperti itu? Seolah saya tak pantas menerima permintaan maaf. Saya sudah direndahkan diremehkan. Menerima permintaan maaf adalah hal wajar," katanya.

Papa Theo menatap Angelica, "keluarga saya berada dibawah naungan organisasi mawar biru. Kalau anda masih terus bersikeras, anda bisa berada dalam bahaya lho. Anda mau kehilangan nyawa?" ucapnya.

Mata Angelica melebar, "apa? Coba katakan sekali lagi. Keluarga anda bernaung pada siapa?" tanyanya memastikan pendengaran.

"Organisasi mawar biru," jawab Papa Theo.

"Mawar biru? Organisasi yang dipimpin Rosella? Apa dia ada hunungan dengan Rosella?" tanya Angelica dalam hati.

"Apa hubungan anda dengan organisasi mawar biru? Apa anda kerabat mereka?" tanya Angelica.

"Tidak ada hubungan seperti itu, hanya hubungan kerjasama. Kembali ke topik pembicaraan saja. Topik lain tidak cocok untuk anda. Bisakah anda tidak membesar-besarkan masalah ini. Saya akan berikan sejumlah uang. Anggap saja biasa kompensasi," kata Papa Theo.

"Baguslah," kata Angelica.

Papa Theo tersenyum, "benar saja. Dihadapan uang. Siapa saja tergoda," ucapnya. Seolah sedang mengejek Angelica.

"Oh, maaf. Sepertinya anda salah paham dengan ucapan saya. Yang saya maksud adalah, bagus sekali, Anda nggak ada hubungan kerabat dengan pimpinan organisasi. Kalau gitu saya nggak akan sungkan-sungkan," ucap Angelica.

Papa Theo kaget, "apa? Apa maksudnya?" tanyanya.

"Sejujurnya, saya hanya ingin mendapatkan keadilan, atas apa yang menimpa putra saya. Penjelasan yang memuaskan, mungkin akan membuat hati saya tenang. Namun, sayang sekali, apa yang saya minta nggak saya dapatkan. Saya malah mendapatkan hinaan dan perlakuan buruk dari kalian semua. Karena kita nggak bisa bicara baik-baik, kita pakai cara lain saja untuk bicara," kata Angelica.

Angelica segera menghubungi Ervan. Tidak lama Ervan dan beberapa orang masuk ke dalam ruang kepala sekolah.

"Beraninya kalian mencari masalah dengan Nona kami," kata Ervan dengan suara dingin.

Semua orang terkejut dengan kedatangan Ervan dan yang lain.

"Siapa kalian? Beraninya masuk tanpa izin," tanya kepala sekolah.

"Siapa kami? Kamu nggak pantas tahu," jawab Ervan.

Angelica mengangkat tangan, menggerakkan tangannya perlahan, seolah sedang memberikan isyarat. Ervan segera memerintakan anak buahnya mengambil kursi untuk Angelica duduk.

"Silakan duduk, Nona," kata Ervan.

Angelica duduk dengan menyilangkan kaki. Dia mengangkat tangan, lalu mengikat rambutnya ekor kuda. Tangannya kembali membari isyarat. Dan Ervan segera mengeluarkan sebatang rokok, lalu memberikannya pada Angelica. Tak lupa Ervan menyalakan pemantik dan mendekatkannya ke rokok yang dia berikan kepada Angelica.

"Hubungi Rosella. Tanyakan soal bedebah itu padanya," perintah Angelica.

"Baik," jawab Ervan. Yang langsung mengeluarkan ponsel dan menghubungi seseorang bernama Rosella sesuai permintaan Angelica.

Melihat sikap tak biasa Angelica, membuat ketua yayasan ketakutan. Berbeda dengan kepala sekolah dan yang lain, yang memandang aneh sikap Angelica.

"Apa yang kamu lakukan? Ini sekolah. Bukan pasar tempatmu berdagang. Beraninya di sekolah merokok. Ka ... " kata kepala sekolah yang tiba-tiba saya mulutnya tersumpal rokok.

Kepala sekolah langsung tersedak. Tenggorokannya juga terasa terbakar karena rokok yang masuk ke dalam mulutnya masih menyala. Dia pun merintih kesakitan.

"Berisik!" sentak Angelica. Yang langsung membuat semua orang terkejut.

Ternyata rokok yang masuk ke dalam mulut kepala sekolah adalah rokok milik Angelica.

"Bagaimana bisa? Dari jarak sejauh itu rokoknya langsung masuk ke dalam mulut? Siapa dia sebenarnya?" tanya Papa Theo dalam hati.

"Siapa dia? Menyeramkan sekali," kata seseorang dalam hati.

"Wanita ini, sungguh mengerikan. Tadi auranya biasa saja. Sekarang kok jadi kayak mafia?" kata seseorang lain dalam hati.

"Sudah aku duga. Nyonya ini bukanlah orang biasa. Dia mampu mengeluarkan uang puluhan milyar untuk pembangunan perpustakaan dan gedung olah raga. Sudah pasti penjual buah hanyalah identitas palsu. Siapa dia sesungguhnya? Apa dia sedang melakukan penyamaran?" kata ketua yayasan dalam hati.

Suasana seketika berubah hening. Satu per satu mulai membeku karena hawa dingin yang dikeluarkan Angelica.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (2)
goodnovel comment avatar
moo
wow, keren
goodnovel comment avatar
Moonlight
yes.. akhirnya Mama Angel unjuk aksi.. semangat mama.. aku mendukungmu
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • A Mother's Justice   107. Ancaman

    Seseorang mengawasi gerak-gerik Andrew, Nathan dan Felix dari dalam sebuah restoran. Seseorang itu sedang sarapan dengan rekannya."Apa dia, anaknya Daisy?" "Benar. Menurut informasi, dia baru saja sadar dari koma selama beberapa bulan."Seseorang mengunyah makanan sambil terus menatap Nathan yang tampak sedang tersenyum."Karena Mamamu sudah membunuh sauadaraku, maka jangan salahkan aku membalas dendam. Kamu akan menggantikan nyawa saudaraku," kata seseorang dalam hati."Apa yang akan kamu lakukan sekarang?" "Apalagi? Buruan di depan mata harus didapatkan. Karena dia sudah susah payah keluar tanpa diminta, ini merupakan keuntungan besar buatku. Nggak perlu basa basi lagi, langsung saja kita mulai permainannya. Hubungi dia, suruh lakukan pekerjaannya dengan baik.""Ok."Rekan seseorang itu mengeluarkan ponsel dari saku celana dan menghubungi seseorang lain."Mereka sudah bersiap.""Hm ...""Angelica oh Angelica ... Kamu nggak akan menduga 'kan, kalau ajal anakmu sudah dekat. Hahaha

  • A Mother's Justice   106. Obrolan Santai

    Andrew mendorong kursi roda yang diduduki Nathan keluar dari dalam lift. Dipersimpangan jalan, mereka bertemu Felix."Lho, anda sudah sampai di sini. Saya baru mau naik menjemput anda dan Tuan Muda," kata Felix, saat bertemu Andrew dan Nathan di lantai bawah."Oh, apa kamu disuruh Angelica menjemputku?" tanya Andrew."Ya. Nona tadi menghubungi saya dan meminta saya menemani Anda. Makanya saya inisiatif mau naik," jawab Felix."Bukannya kamu lagi melakukan pemeriksaan? Apa sudah selesai?" tanya Andrew."Iya. Baru saja selesai," jawab Felix."Gimana hasilnya? Apa kamu masih ngerasa nggak nyaman karena kejadian waktu itu?" tanya Andrew."Bisa dibilang penulihan saya cepat. Sekarang saya merasa sudah baikan," kata Felix."Oh, ok. Kalau gitu kamu ikut kami jalan-jalan saja. Sekalian melemaskan kaki," kata Andrew, yang dijawab anggukan kepala cepat oleh Felix."Biar saya yang mendorong Tuan Muda," kata Felix yang langsung mengambil alih posisi Andrew.Nathan menatap Felix, "apa om Asistenny

  • A Mother's Justice   105. Pendekatan Aktif

    Setelah hari kesepakatan dengan Nathan, Ethan secara aktif melakuakan pendekatan dengan Angelica.Dia bahknan secara terang-terangan menunjukkan perhatian tanpa rasa canggung sedikitpun.Angelica merasa aneh, sikap Ethan semakin hari semakin aneh. Seperti bukan Ethan yang dia kenal sebelumnya."Dia kenapa? Aneh sekali. Kerasukan hantu 'kah?" tanya Angelica dalam hati. Saat melihat Ethan membawakan sarapan untuknya dan bahkan menyiapkan menu khusus."Cobalah. Aku yang memasaknya sendiri," kata Ethan."Ethan ... Kamu kenapa? Tumben masak sendiri," tanya Angelica."Mulai hari ini aku akan memasakkan kalian berdua. Kalau ada yang ingin kamu dan Nathan makan, katakan saja. Sekalipun masakan asing, aku akan buat dan masakkan untuk kalia . Jangan sungkan-sungkan," kata Ethan dengan percaya diri.Nathan tersenyum, "cukup bisa diandalkan. Gayanya sudah lumayan. Entah Mama akan menerimanya atau tidak dengan sikapnya yang seperti ini," katanya dalam hati.Ethan memberikan Nathan semangkuk bubur

  • A Mother's Justice   104. Mengenal Keluarga (2)

    Setelah Andrew pulang, sekarang giliran Ethan yang melakukan pendekatan dengan Nathan. Dia ingin saling mengenal dengan putranya itu.Meskipun canggung, Nathan berusaha menjaga sikap dan ucapannya agar tak menyinggung. Dia takut Ethan sakit hati dan memarahi Mamanya.Seperti sebelumnya, saat berduaan mereka hanya saling diam. Nathan menatap Ethan, "itu ... Apa om nggak kerja? Mama aja sudah berangkat kerja lho," tanyanya."Oh, aku bisa masuk dan pulang kerja kapan saja. Kamu nggak perlu khawatir. Kita punya banyak waktu untuk saling mengenal satu sama lain," jawab Ethan."Kalau nggak bekerja, apa om punya uang? Kalau mau jadi keluarga kami, om harus punya banyak uang lho. Aku nggak mau punya Papa pengangguran banyak acara. Itu sangat menyebalkan. Nanti yang susah Mamaku," ucap Nathan tanpa basa-basi. Ethan tersenyum, "entah kenapa, meskipun kata-katamu itu pedas di telinga, tapi aku menyukainya. Tenang saja. Aku bukan tipe lelaki yang numpang hidup dari uang perempuan. Aku punya ban

  • A Mother's Justice   103. Mengenal Keluarga (1)

    Kedatangan Andrew memberi kesan tersendiri bagi Nathan. Dia senang bisa bertemu Kakeknya. Keduanya langsung akrab dan dekat.Melihat kedekatan Papa dengan Anaknya, Angelica hanya bisa tersenyum. Dia senang Nathan bisa menerima keberadaan keluarganya meski sejak kecil tidak pernah bertemu."Mereka langsung akrab, ya?" tanya Ethan. Duduk di sofa di samping Angelica.Angelica menatap Nathan, "kenapa? Kamu cemburu?" tanyanya."Iyalah. Kamu nggak lihat dia memusuhiku kayak aku ini mau ngerebut kamu dari dia. Padahal aku ini Papanya lho," ucap Etha menggerutu."Gitu aja ngambek. Kamu kekanak-kanakan banget," kata Angelica."Nggak mau tahu ya, pokoknya kamu harus bantuin aku. Supaya aku bisa dekat sama Nathan. Aku nggak mau dia cuekin aku kayak gini," kata Ethan."Lah, kok malah aku yang harus buat Nathan dekat sama kamu. Rayu sendiri lah. Cari cara supaya dia nggak cuekin kamu. Aku juga nggak mau tahu. Cari cara sendiri. Jangan libatin aku," jawab Angelica menolak permintaan Nathan.Ethan m

  • A Mother's Justice   102. Kedatangan Kakek

    Setelah berteleponan dengan Ervan, Angelica kembali. Ethan berbisik sesuatu. Mengajak Angelica bicara sebentar.Keduanya lantas bergeser agak jauh dari Nathan, laku berbisik-bisik. Ethan menyarankan agar Angelica menceritakan apa yang terjadi antara dia dan Ethan, tapi Angelica menolak. Merasa Ethan tak perlu tahu. Ethan dan Angelica sempat berdebat. Membuat Nathan curiga karena kedua orang tuanya lama sekali berbisik-bisik."Ma ..." panggil Nathan.Angelica memalingkan pandangan menatap Nathan, "ya, sayang. Sebentar," jawabnya.Angelica kembali menatap Ethan, "kamu jangan meracuni isi kepala anakku dengan cerita nggak bener. Ngerti?" bisiknya."Lho, nggak bener dari mana. Aneh kamu ini. Dia sudah tujuh belas tahun. Mengetahui tentang kita 'kan wajar," bisik Ethan."Nggak boleh. Itu rahasia kita," tolak Angelica."Ya sudah. Kalau gitu ceritakan singkat saja tentang kita. Kalau nggak ada omongan apa-apa, apa yang dia pikirkan tentang kita?" sahut Ethan.Angelica diam beberapa saat, "o

  • A Mother's Justice   57. Wanita Malam Itu

    Acara terus berlanjut. Angelica yang bosan memilih untuk mencari angin segar di luar gedung. Di sana dia merokok. Setelah menghisap setengah batang rokok, Angelica memutuskan kembali. Dalam perjalanan kembali dia secara tak sengaja menabrak seseorang dan hampir jatuh. Tangan Angelica dipegang e

  • A Mother's Justice   56. Ulang Tahun Wali Kota

    Angelica dan Felix datang bersama ke pesta ulang tahun wali kota. Keduanya mengantri untuk pemeriksaan undangan.Saat panitia melihat undangan yang diberikan Felix, dia langsung memanggil pelayan dan meminta pelayan mengantar ke meja tamu VIP. "Silakan ikut saya, Nona dan Tuan. Saya akan mengantar

  • A Mother's Justice   55. Mirip

    Seseorang keluar dari dalam mobil, dia segera membuka pintu mobil bagian belakang. Begitu pintu mobil terbuka, seorang lelaki tampan keluar dari dalam mobil. Wajahnya sudah tidak muda lagi, tetapi dia punya seribu pesona. Lelaki itu berjalan masuk ke sebuah butik diikuti Asistennya."Selamat datan

  • A Mother's Justice   54. Undangan

    Hari berganti hari, waktu begitu cepat berlalu. Tanpa terasa sudah tiga bulan Nathan terbaring koma. Dengan sabar Angelica merawat Nathan. Dia masih mengharapkan adanya keajaiban, dan tidak menyerah akan takdir.Angelica menutup buku yang sudah selesai dia baca, lalu meletakkan buku di atas nakas

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status