بيت / Romansa / AH! BRONDONGKU SAYANG / Bab 124 : Teman SD

مشاركة

Bab 124 : Teman SD

مؤلف: Kim Hwang Ra
last update تاريخ النشر: 2026-06-10 17:10:37

Minggu pagi itu adalah hari pekan, hari di mana Sari tidak memiliki jadwal sekolah. Sejak pukul enam subuh, anak remaja itu sudah heboh mengetuk pintu kamar Alia, memaksanya untuk bangun dan ikut jalan santai keliling kampung. Ibunya pun mendukung ide itu, mengizinkan mereka pergi dengan catatan Alia tidak boleh kelelahan.

"Ayo, Mbak Alia! Jalan santai pagi-pagi begini bagus tahu buat... itu, calon dedek bayi," bisik Sari setengah menggoda saat mereka baru saja melewati gerbang rumah.

Sepanjang
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 125 : Ketakutan Datang Lagi

    Seusai dengan tawarannya, Radit ikut berjalan kaki menuntun sepedanya, mengawal Alia dan Sari kembali sampai ke rumah panggung milik Bibi. Di sepanjang jalan, Radit tidak henti-hentinya melempar lelucon konyol tentang masa kecil mereka yang membuat Sari tertawa terpingkal-pingkal, sementara Alia sesekali ikut terkekeh geli.Namun, begitu mereka berbelok memasuki pekarangan rumah yang dinaungi pohon mangga lebat itu, tawa Sari mendadak terhenti. Langkah kaki Alia pun seketika mengunci di atas tanah berbatu.Itu mobil Rendra."Lho, Mbak... itu kan mobil Mas Rendra?" bisik Sari, suaranya mendadak berubah tegang sembari melirik ke arah Alia.Radit yang menyadari perubahan di antara dua bersaudara itu ikut menghentikan sepedanya. Sepasang mata elangnya menatap mobil sedan itu, lalu beralih menatap wajah Alia yang mendadak kembali pucat. "Al... ada apa? Itu suami kamu?"Alia tidak menjawab. Perasaan enggan, takut, dan sesak yang selama tiga hari ini berhasil dia kubur, mendadak bangkit kemb

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 124 : Teman SD

    Minggu pagi itu adalah hari pekan, hari di mana Sari tidak memiliki jadwal sekolah. Sejak pukul enam subuh, anak remaja itu sudah heboh mengetuk pintu kamar Alia, memaksanya untuk bangun dan ikut jalan santai keliling kampung. Ibunya pun mendukung ide itu, mengizinkan mereka pergi dengan catatan Alia tidak boleh kelelahan."Ayo, Mbak Alia! Jalan santai pagi-pagi begini bagus tahu buat... itu, calon dedek bayi," bisik Sari setengah menggoda saat mereka baru saja melewati gerbang rumah.Sepanjang jalan setapak yang membelah area persawahan hijau, Sari terus saja berceloteh. Dia menceritakan tentang teman-temannya, tentang guru matematikanya yang galak, hingga impiannya setelah lulus SMP nanti. Alia mendengarkan dengan saksama, sesekali menanggapi dengan tawa renyah.Setelah berjalan sekitar dua kilometer, mereka memutuskan untuk beristirahat di sebuah pos ronda kayu yang terletak di bawah pohon beringin rindang, tepat di tikungan jalan yang menghadap langsung ke hamparan sawah. Angin be

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 123 : Ibu Kedua

    Bibinya dan Sari langsung menyusul ke belakang. Bibinya mengusap-usap tengkuk Alia dengan penuh rasa khawatir, sementara Sari sibuk mengambilkan segelas air hangat."Ya ampun... Alia, kamu sakit apa toh, Nduk?" tanya Bibinya, suaranya bergetar cemas melihat tubuh Alia yang lemas hingga harus bersandar pada dinding kamar mandi. "Badanmu dingin begini, keringatmu keluar semua.""Cuma... cuma pusing sedikit kok, Bi. Mual biasa," bisik Alia parau, mencoba meraih gelas air hangat dari tangan Sari untuk berkumur. Namun, begitu dia mencoba melangkah keluar, lututnya mendadak lemas. Pandangannya berputar hebat hingga dia hampir terjatuh jika Sari tidak dengan sigap menangkap pinggangnya."Ibu! Ini Mbak Alia lemes banget! Udah, gak usah nunggu besok, kita bawa ke klinik desa sekarang aja!" seru Sari panik.Bibinya tidak berpikir dua kali. "Iya, iya! Kamu ambil kain jarik di kamar Ibu buat selimutan Mbakmu. Ibu mau panggil Pak RT di depan buat minta tolong antar pakai mobilnya!"*********Suasa

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 122 : Mual Lagi

    "Nggak diapa-apain yang gimana-gimana sih, Mbak. Tapi mereka jahilnya kelewatan!" jawab Sari sewot. "Karena Sari tetep ngelawan dan sempat gigit tangan temannya, mereka malah ngetawain Sari. Terus tangan Sari diikat pakai tali di pohon beringin besar dekat gudang tua belakang sekolah. Mbak tahu kan pohon yang katanya ada penunggunya itu? Sari ditinggal sendirian di sana hampir satu jam lebih, Mbak!"Alia menutup mulutnya dengan tangan, terkejut sekaligus marah membayangkan adik sepupunya diperlakukan seperti itu. "Astaga, Sari... Kenapa kamu gak cerita sama Ibu?""Sari takut, Mbak! Ibu kan orangnya gampang panik dan darah tinggi," keluh Sari sambil menunduk. "Gara-gara diikat di pohon itu, Sari kelewatan jam pelajaran matematika. Pas Sari bisa lepasin diri dan balik ke kelas, gurunya gak mau denger alasan Sari. Sari dituduh bolos, terus dihukum lagi disuruh bersihin kamar mandi sekolah sendirian sampai sore. Padahal Sari itu korban!"Air mata Sari akhirnya menetes juga. Dia mengusapny

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 121 : Semua Ada Sebabnya

    Alia menghentikan gerakannya yang sedang berusaha memisahkan mereka. Dia menoleh pelan, menatap Sari dengan dahi berkerut dalam. "Sari... Kamu beneran lakuin kayak gitu?"Sari langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain, menggigit bibir bawahnya dengan wajah bersalah yang sangat kentara. Kepolosan anak nakal itu runtuh seketika saat rahasianya terbongkar di depan Alia. "I-itu... itu karena pacarnya Kakak ini yang duluan jahat, Mbak..." bisik Sari sangat lirih, suaranya mendadak mencicit ketakutan."Tuh, kan! Kakak lihat sendiri! Dia ngaku!" seru anak SMA itu penuh kemenangan, kembali menarik lengan Sari dengan sentakan keras. "Pacarku sampai harus pulang pakai sarung kemarin karena celananya menempel di jok motor! Hari ini aku mau bawa anak ini ke kepala sekolahnya langsung agar dia dikeluarkan dari sekolah!""Tunggu dulu! Lepaskan dulu tanganmu!" bentak Alia, kali ini suaranya berubah menjadi sangat dingin.Alia menarik Sari ke belakang punggungnya, melindunginya sepenuhnya dari j

  • AH! BRONDONGKU SAYANG   Bab 120 : Masalah Sari

    Setelah bel masuk kelas berbunyi panjang dan area kantin kembali sunyi senyap, Alia membantu Bibi membereskan wadah-wadah plastik yang kini sebagian besar sudah kosong melongpong.Alia mengelap tangannya dengan selembar kain bersih, lalu menghampiri Bibinya yang sedang menghitung uang pecahan ribuan yang tampak lecek di dalam kotak kaleng bekas wafer."Bi, Alia mau izin pergi ke pasar induk di depan kelurahan bentar, boleh?" tanya Alia lembut. "Ada yang mau Alia beli, sekalian nanti makan siang biar Alia aja yang masak."Belum sempat Bibi memberikan jawaban, sebuah kepala dengan rambut dikuncir kuda mendadak menyembul dari balik tiang stan."Ikut, Mbak! Sari mau ikut ke pasar! Sekalian Sari temani bawa belanjaannya biar ngga berat!" seru Sari penuh semangat, melompat kecil ke samping Alia.Mendengar penuturan anaknya, wajah teduh Bibinya seketika berubah ketat. Beliau meletakkan kaleng uangnya dengan ketukan yang cukup keras di atas meja."Sari! Kamu ini apa-apaan?!" omel Bibi dengan n

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status