LOGINKampus pagi itu berubah menjadi lautan warna dan suara. Musik dari panggung utama beradu dengan teriakan ceria para mahasiswa yang menjajakan dagangannya di bawah tenda-tenda festival. Aroma makanan jalanan, tumpukan barang handmade, dan pernak-pernik lucu memenuhi setiap sudut lapangan. Alia berjalan perlahan di antara kerumunan, mencoba sekuat tenaga menenggelamkan rasa sakit hati akibat foto kiriman mertuanya dalam hiruk-pikuk festival.Hampir semua laporan mahasiswa bimbingannya sudah rampung, kecuali satu: milik Arhan. Ia tertawa kecil saat seorang mahasiswi menawarkan gelang manik-manik padanya, meski matanya tetap terlihat sedikit kosong.Tiba-tiba, sebuah tangan kokoh menarik lengannya dengan cepat. Sebelum sempat berteriak, Alia sudah diseret menjauh dari keramaian, masuk ke dalam sebuah lorong kelas yang sepi dan remang-remang."Siapa—" Alia tertegun.Di depannya berdiri seekor "kelinci" raksasa. Arhan mengenakan kostum cosplay karakter game lengkap dengan bando telinga keli
Di hotel yang mewah dengan pemandangan pegunungan Puncak yang berkabut, Rendra tengah sibuk merapikan koper-kopernya. Beberapa kantong belanjaan berisi oleh-oleh khas daerah tersebut sudah tertata rapi di sudut ruangan. Pikirannya sempat melayang pada percakapan teleponnya dengan Alia beberapa saat lalu yang terasa sangat janggal, namun ia berusaha menepis prasangka buruk itu dengan fokus pada persiapan kepulangannya besok pagi.Tiba-tiba, suara ketukan pelan terdengar di pintu kamar hotelnya yang memang tidak terkunci rapat."Rendra?" suara lembut itu berasal dari Desy.Gadis itu melangkah masuk dengan gaun tidur berbahan satin yang tipis, membawa nampan berisi dua gelas minuman berwarna merah. Ia mendekat dengan senyum yang sulit diartikan, duduk di tepi ranjang sementara Rendra masih sibuk dengan kopernya."Kamu tengah malam begini ke sini?" tanya Rendra tanpa menoleh, suaranya terdengar datar."Cuma mau mengantar minuman. Kamu pasti lelah mengurus pekerjaan," balas Desy dengan nad
Tiba-tiba, sebuah tangan yang panas melingkar di pinggang Alia. Tubuh Alia tersentak, namun ia segera membekap mulutnya sendiri agar tidak berteriak. Arhan menempelkan dadanya ke punggung Alia, menyandarkan dagunya di bahu wanita itu tepat di samping telinganya."Ali? Kamu kenapa?" tanya Rendra di seberang telepon, keningnya berkerut penuh selidik."N-nggak apa-apa, Ren... tadi cuma... kakiku tersenggol kaki meja," ucap Alia dengan suara yang mulai bergetar.Arhan tidak berhenti. Ia justru semakin berani. Ia mulai mengecup leher Alia yang jenjang, menghirup aroma tubuh wanita itu dengan dalam. Alia berusaha menepis tangan Arhan dengan tangan kirinya yang bebas, namun Arhan justru mencengkeram tangan itu dan menekannya ke perut Alia."Ali, gerakkan kameranya. Aku mau lihat kondisi rumah," pinta Rendra tiba-kira.Alia panik. "Jangan sekarang, Ren. Rumah lagi berantakan karena aku bongkar rak buku. Besok saja ya?"Arhan tertawa tanpa suara di ceruk leher Alia. Ia kemudian menarik tubuh A
Mobil putih Alia berhenti tepat di depan gerbang kosan Arhan. Di kursi belakang, beberapa tas belanjaan dari butik mewah tadi tergeletak rapi—hasil dari kesepakatan mereka. Sesuai janji, Arhan harus menceritakan jati dirinya, namun pemuda itu justru bergeming di kursi penumpang."Sudah sampai. Turun. Kamu langsung istirahat saja," ujar Alia sembari melirik jam di dasbor. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.Arhan tidak bergerak. Ia justru menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke depan dengan raut wajah yang mendadak muram. "Aku tidak mau turun di sini."Alia menghela napas panjang, mencoba bersabar. "Jangan mulai lagi. Kita sudah sepakat, kan?""Aku akan ceritakan semuanya, tapi tidak di sini," potong Arhan cepat. Ia menoleh ke arah Alia dengan tatapan yang sangat serius. "Gimana kalau di rumah kakak? Sampai aku selesai bercerita.""Tidak!" suara Alia sedikit meninggi. "Suami saya memang tidak pulang, tapi bukan berarti kamu bisa bertamu selarut ini. Kamu tahu sendiri bagaim
Mobil putih Alia membelah kemacetan sore menuju pusat kota, kawasan yang dikenal sebagai jantung hiburan bagi anak muda. Awalnya, Alia bersikeras untuk langsung pulang karena Rendra dijadwalkan kembali dari Puncak malam ini. Namun, saat ia memeriksa ponselnya (yang baru saja ia ambil dari tas), sebuah notifikasi masuk dari suaminya.“Alia, maaf. Mobil kantor yang kami pakai mengalami masalah mesin di perjalanan turun. Sepertinya kami harus menginap satu malam lagi di sini sampai perbaikan selesai. Jaga diri di rumah ya.”Alia menghela napas, ada rasa lega sekaligus getir yang beradu. Ia menoleh ke arah Arhan yang duduk di sampingnya. Arhan yang menyadari perubahan raut wajah Alia langsung menangkap peluang."Suami Kakak tidak jadi pulang?" tanya Arhan dengan nada yang berusaha terdengar prihatin meski matanya berbinar.Alia hanya mengangguk pelan. "Ya.""Kalau begitu, tidak ada alasan untuk buru-buru pulang, kan?" Arhan tersenyum lebar, menunjukkan deretan giginya yang rapi. "Ayo, Kak
Langkah kaki Alia terasa begitu berat saat ia menyusuri lorong kampus. Ia terlambat hampir dua puluh menit karena harus pulang terlebih dahulu untuk mandi dan mengganti pakaiannya yang kusut, serta mengambil tumpukan laporan yang tertinggal. Akibatnya, ia sempat dipanggil ke ruang Rektor—sebuah teguran yang jarang sekali ia terima selama masa mengajar. Namun, Alia hanya bisa menunduk dan berulang kali meminta maaf tanpa bisa menjelaskan alasan sebenarnya di balik keterlambatannya.Siang itu, rasa pusing di kepalanya semakin menjadi-jadi. Perutnya terasa mual, dan ia sama sekali tidak memiliki selera makan. Arhan memang tidak datang ke kampus hari ini, mungkin masih mematuhi perintahnya untuk beristirahat di kosan, karena merasa tubuhnya tidak sanggup lagi berdiri tegak, Alia memutuskan untuk pergi ke klinik kampus dan memohon izin untuk berbaring sebentar di salah satu bilik setelah meminum obat pereda nyeri.Keheningan klinik itu hanya bertahan beberapa saat sampai suara tirai yang d







