LOGINPagi itu, sinar matahari yang menerobos celah tirai terasa lebih hangat. Alia dan Rendra masih berbaring, diselimuti rasa lelah yang asing namun terasa nyata—jenis kelelahan yang sudah bertahun-tahun tidak mereka rasakan bersama. Biasanya, Alia akan langsung beranjak, namun kali ini ia terdiam, menatap wajah suaminya.Harus diakui, Rendra memiliki fisik yang nyaris tanpa cela. Dari garis rahang yang tegas, postur tubuh tinggi yang atletis, hingga wajah yang selalu berhasil memikat siapapun yang melihatnya. Namun, hanya Alia yang tahu betapa rumitnya sifat di balik kesempurnaan itu.Rendra perlahan membuka mata, senyumnya terkembang saat melihat Alia masih di sampingnya. Ia menarik Alia kembali ke dalam pelukannya."Ren, bangun. Kamu harus kerja," gumam Alia pelan, mencoba melepaskan diri.Sudah lama sekali mereka tidak menghabiskan malam di kamar utama ini. Namun, momen tenang itu pecah saat suara ketukan pintu terdengar bertalu-talu. Alia hendak bangun untuk membukanya, tapi Rendra m
Bukannya kekerasan yang ia lihat, Arhan justru mendapati Alia dan Rendra yang tengah bercumbu panas di atas meja rias. Rendra mencium Alia dengan penuh tuntutan, sementara tangan pria itu menyapu barang-barang di atas meja hingga sebuah botol parfum kaca terjatuh dan hancur berkeping-keping di lantai.Arhan mematung. Matanya membelalak menatap tangan Rendra yang mendekap pinggang Alia erat, posisi yang sangat intim di tengah temaram lampu kamar. Alia tidak melawan; ia justru tampak terhanyut dalam suasana yang sengaja diciptakan Rendra untuk mengklaim kembali miliknya."Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Alia," bisik Rendra di sela ciumannya, suaranya terdengar jelas sampai ke telinga Arhan. "Kamu milikku."Di balik jendela, napas Arhan menjadi pendek dan berat. Rahangnya mengeras hingga otot lehernya menegang. Rasa cemburu yang luar biasa hebat membakar dadanya—rasa panas yang membuatnya ingin mendobrak kaca itu dan menarik Alia keluar dari sana.Kepalan tangannya menghantam bingkai
Obrolan Arhan dan Maya terputus saat suara ayah Maya terdengar memanggil dari dalam, mengisyaratkan bahwa kunjungan formal itu telah berakhir. Begitu mobil mereka meninggalkan pelataran rumah, suasana mendadak menjadi sangat sunyi dan tegang. Ayah Arhan berjalan mendekati putranya yang masih berdiri di teras, wajahnya tampak lelah namun tetap menunjukkan wibawa yang keras."Arhan, masuk. Ada yang perlu Ayah bicarakan," ujar ayahnya tanpa menoleh, langsung berbalik menuju ruang kerja.Di dalam, ayahnya duduk di balik meja kayu besar, menatap Arhan dengan sorot mata menuntut. "Ayah ingin semester akhir ini kamu memperbaiki nilai. Ayah tidak mau lihat hasil yang mengecewakan lagi."Arhan hanya terdiam, namun ayahnya belum selesai. "Contoh kakak laki-lakimu, dia sukses dengan perusahaannya di luar negeri. Lihat kakak perempuanmu, dia selalu memberikan kebanggaan dengan nilai tertinggi. Kenapa cuma kamu yang sulit diatur?"Arhan mengepalkan tangan di balik saku celananya. Ia tahu betul nar
Alia berjalan kembali menemui Rendra dengan langkah yang dipaksakan tenang. Jantungnya masih berdegup kencang, dan ia bisa merasakan sisa hangat di bibirnya yang coba ia hapus berkali-kali dengan punggung tangan."Lama banget? Kamu beneran tidak apa-apa?" Rendra menyambutnya dengan dahi berkerut, menatap wajah Alia yang tampak sedikit lebih pucat dari biasanya."Antrenya panjang, Ren," jawab Alia cepat, berusaha menghindari kontak mata yang terlalu lama. "Sudah yuk, aku tiba-tiba lapar. Kita cari makan saja di lantai atas, jangan di sini."Alia sengaja menggandeng lengan Rendra—sesuatu yang jarang ia lakukan akhir-akhir ini—hanya untuk menarik suaminya menjauh dari area toilet itu secepat mungkin. Rendra yang merasa mendapat perhatian tak terduga dari istrinya tampak senang dan menurut saja saat Alia membawanya ke arah berlawanan.Sementara itu di dalam toilet, Arhan menguping di balik pintu bilik hingga suasana terasa sunyi. Merasa keadaan sudah aman, ia perlahan membuka kunci dan ke
Alia masuk ke rumah dengan napas yang masih sedikit memburu akibat perdebatan di depan gerbang. Di ruang tamu, Rendra sudah duduk santai di sofa sambil membolak-balik halaman bukunya."Baru pulang? Olahraga atau jalan-jalan?" tanya Rendra tanpa mengalihkan pandangan dari buku.Alia tidak menjawab. Ia terus melangkah menuju tangga, mengabaikan pertanyaan suaminya seolah Rendra hanya bagian dari perabotan rumah.Rendra menutup bukunya, mencoba bersabar menghadapi sikap dingin Alia. Ia berdiri dan menyusul istrinya. "tunggu sebentar, aku mau ajak kamu belanja di mall, sudah lama kan aku tidak membelikanmu barang-barang baru?"Alia berhenti di anak tangga pertama, menoleh sekilas. "Aku capek, mau istirahat saja."Rendra menghela napas, rasa kesalnya mulai naik ke permukaan namun ia tahan. "Cuma sebentar, jangan ditolak terus. Ayo, bersiap-siap sekarang."Meski malas berdebat, Alia akhirnya mengangguk pasrah. "Ya sudah. Aku ganti baju dulu."Tak butuh waktu lama, Alia kembali turun ke lant
Rendra tersentak dan segera bergeser menjauh. Ia berdehem canggung, Alia hanya menatapnya sekilas dengan mata sayu, lalu kembali memejamkan mata dan menarik selimut tanpa sepatah kata pun. Rendra bersandar di kepala ranjang sambil menatap langit-langit kamar."Alia," panggil Rendra pelan. "Andai saja kamu tidak sering membantahku dan lebih menurut pada Ibu, aku tidak mungkin marah-marah seperti tadi. Semuanya bisa tenang kalau kamu tidak keras kepala."Alia masih membelakangi Rendra, namun suaranya terdengar jernih di tengah sunyinya kamar."Cerai saja, kalau kamu ngga puas denganku."Rendra langsung terduduk tegak. Wajahnya menegang, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat mendengar kata itu meluncur begitu santai dari mulut istrinya."Apa kamu bilang? Cerai?!" suara Rendra meninggi, mulai meracau panik. "Jangan bicara yang aneh-aneh! Kamu pikir pernikahan ini mainan? Kamu kira bisa bicara seenaknya karena kesal!"Alia tidak bergeming, tetap diam dalam posisinya."Kamu pikir hidup







