Masuk
01
"Abang jangan mengaturku. Ingat, Abang bukan siapa-siapa buatku!" sentak Alodita Verlina Daryantha, sembari memelototi pria bertubuh tinggi di hadapannya.
"Ya, aku memang bukan keluarga atau kerabatmu. Tapi, kakakmu sudah menitipkanmu padaku!" tegas Aditya Bryatta, sembari berusaha untuk tetap tenang.
Alodita menggertakkan gigi. "Aku nggak peduli! Pokoknya jangan larang aku buat melakukan apa pun!"
"Okay, fine! Silakan pergi, dan puasin pesta. Aku mau tidur!" desis Aditya, sebelum dia berbalik dan jalan menuju kamarnya di bagian depan rumah dinas itu.
Alodita mencebik. Dia benar-benar kesal dengan sikap Aditya yang pengatur dan pemaksa. Alodita melirik asistennya, Larasati, dan memberi kode. Kemudian kedua perempuan itu bergegas keluar bangunan.
Bunyi kendaraan yang bergerak menjauh, membuat Aditya menggerutu dalam hati. Dia mengintip melalui celah gorden, lalu Aditya berbalik dan jalan ke pintu.
Lelaki beralis tebal itu menyambar jaket dan tas dari gantungan. Aditya membuka pintu dan keluar. Dia berteriak memanggil semua ajudan muda, sembari mengaitkan tas ke pinggang, lalu mengenakan jaketnya.
"Bawa perlengkapan standar, dan jaket. Kutunggu di mobil," cakap Aditya, sebelum jalan cepat ke carport.
Tidak berselang lama, mobil MPV biru tua telah melaju di jalan perumahan kelas menengah, di tepi kota.
Aditya mengemudikan mobilnya sembari menggerutu dalam hati, karena lagi-lagi dia bertengkar dengan Alodita, putri kedua Bahir Daryantha, pengusaha senior dari Bandung.
Aditya dan Alodita dinas bersama di kota itu, untuk mengawasi proyek yang diikuti perusahaan masing-masing, sekaligus jadi wakil banyak perusahaan para bos muda Indonesia.
Aditya yang juga merupakan direktur operasional PBK, perusahaan jasa keamanan terkemuka di Indonesia, sudah bertugas di Kanada semenjak 5 tahun silam, sebelum dirinya dilantik sebagai petinggi PBK.
Pria berambut belah tengah itu sejak dulu memang tidak bisa akrab dengan Alodita. Padahal dengan banyak putri pengusaha lainnya, Aditya bisa berteman cukup akrab.
Aditya tidak mampu memahami sikap Alodita yang sering ketus padanya, sedangkan pada para sahabatnya, Alodita bisa berteman, bahkan gadis itu cukup akrab dengan Lazuardi dan Halim.
Pria yang dijuluki Abang wajah datar oleh banyak ajudan muda, sebetulnya sudah lelah untuk terus berselisih paham dengan Alodita. Namun, Aditya pun bingung, bagaimana caranya agar dia dan Alodita bisa berteman. Sebab tugas mereka di negara itu masih akan terus berlanjut hingga bulan depan. Lalu, keduanya akan pulang ke tanah air, bersama para pengawas dan pengawal muda lainnya.
"Bang, mobilnya belok ke kanan," tutur Fahreza, yang seketika memutus lamunan atasannya.
"Gerbang putih?" tanya Aditya guna memastikan pendengarannya.
"Ya," sahut Fahreza.
Aditya menyalakan lampu sen, sebelum berbelok ke kanan dan melintasi gerbang putih bertuliskan Vila Lily. Aditya memperlambat laju mobil saat melihat Alodita dan Larasati keluar dari mobil sedan merah, milik sang nona muda Daryantha.
Aditya mengarahkan mobilnya ke sisi kanan pekarangan luas, yang tidak terlalu banyak kendaraan. Aditya menghentikan mobil dan mematikan mesin, lalu dia melepaskan sabuk pengaman.
"Dengar. Kita harus membaur," terang Aditya sembari memutar badan ke belakang. "Kalian bentuk regu dengan 2 anggota. Lalu menyebar sembari mengawasi Alodita," lanjutnya.
"Abang, gimana?" tanya Fahreza.
"Aku mau menunggu sekitar 10 menit, baru masuk. Tapi, kalian jangan nyamperin aku. Kita pura-pura nggak kenal aja."
"Siap."
"Fokuskan pandangan pada Alodita. Apa pun yang dia lakukan di depan umum, biarkan. Tapi, kalau dia menjauh dengan seseorang, ikuti."
Keenam ajudan muda itu serentak mengangguk. Lalu mereka membuka pintu dan keluar dari mobil, sembari menutup pintunya dengan pelan. Fahreza dan teman-temannya melenggang menuju pintu utama, di mana beberapa pria berbadan tinggi besar tengah berjaga.
Fahreza memindai sekeliling. Dia merasa lega, karena banyak wajah Asia yang turut menghadiri pesta itu. Hingga kehadiran tim Indonesia tidak terlihat menonjol dan mencurigakan.
Sementara di mobil, Aditya mengambil tas dari bagasi. Dia membuka tas itu dan mengambil kacamata baca, kumis dan janggut palsu. Aditya berpindah lagi ke kursi depan. Dia memasang semua atribut sambil bercermin, kemudian dia mengecek arloji di tangan kiri.
Aditya menghitung waktu. Setelah 8 menit, dia keluar dan mengunci pintu. Aditya kembali mengecek arloji, lalu dia mengayunkan tungkai menuju teras depan rumah besar bercat gading.
Setibanya di dalam, Aditya mengamati sekitar. Dia beradu pandang dengan Dzulfadli, Baryal, Syawal, dan Bagas. Sedangkan Fahreza dan Dzafri tidak terlihat. Aditya melangkah menuju meja besar di ruangan kiri. Dia mengambil minuman, lalu bergeser ke dekat jendela besar yang menghadap halaman belakang.
Aditya memerhatikan setiap orang yang berada di luar. Dia menggeleng pelan saat melihat beberapa pasang manusia tengah bercumbu di sekitar area, tanpa memedulikan jika mereka tengah berada di tempat umum.
Tatapan Aditya berhenti pada kedua perempuan yang tengah berkumpul dengan tiga pria, yang juga merupakan warga negara Indonesia. Aditya berdecak kesal, karena dia tidak menyukai sosok Ramzi Parviz, dan kedua sahabatnya, Darius, serta Nolan.
Aditya sudah mengetahui sepak terjang ketiga pria yang berasal dari Semarang itu. Ramzi dan kedua rekannya bekerja di BM Grup, salah satu perusahaan properti yang pernah berkoordinasi dengan Pramudya Grup, bos utama PB dan PBK.
Aditya yang juga mewakili Pramudya Grup, sempat beradu argumen dengan Ramzi, yang salah menafsirkan perintah atasannya. Hingga pengerjaan proyek di Ontario sempat terhambat. Semenjak saat itu, baik Aditya maupun Ramzi tidak pernah bertegur sapa. Bahkan, jika bertemu di tempat klien, keduanya akan berlaku tidak saling mengenal.
Aditya mengerutkan dahi, ketika melihat Ramzi memberikan kaleng minuman pada Alodita. Seringai di wajah Ramzi menyebabkan radar kewaspadaan Aditya meningkat.
Pria berhidung bangir itu menghabiskan minumannya, lalu meletakkan gelas ke sembarang tempat. Aditya jalan cepat menuju pintu samping sembari memberi kode pada keempat juniornya.
Akan tetapi, sesampainya di gazebo belakang, kelima orang tadi sudah menghilang. Aditya menoleh ke belakang saat dipanggil, dan dia segera memahami maksud Dzafri yang tengah menunjuk ke tangga melingkar, di sisi kanan bangunan.
Aditya bergegas ke sana, tetapi sekelompok pria asli luar negeri menghadangnya. Aditya hendak menerobos, tetapi pria berbaju hitam itu langsung meninjunya.
Aditya refleks menghindar sembari balik meninju rahang lawannya. Tidak sampai di situ, Aditya langsung memukuli pria berambut pirang itu dengan gerakan cepat. Hingga lawannya terhuyung-huyung dan jatuh telentang.
Para lelaki bule itu segera menerjang, dan disambut tim Fahreza dengan gerakan silat. Aditya bergeser ke kiri dan lari secepat mungkin ke tangga. Dia menaiki undakan sembari memaki, karena terpaksa menggunakan kekerasan.
Aditya tiba di ruangan atas yang juga ramai orang. Dia celingukan, lalu melihat Larasati duduk di sofa ujung. Aditya mendekati gadis itu yang memandanginya dengan tatapan kosong.
"Ras, Dita di mana?" tanya Aditya.
Akan tetapi, belum sempat Larasati menjawab, Aditya melihat Darius muncul dari lorong kanan. Aditya bergegas menyambangi pria itu yang jalan terhuyung-huyung dan menabrak Aditya, yang menggeser badan Darius hingga terduduk di kursi.
Nolan keluar dari kamar ujung dan seketika kaget, menyaksikan kehadiran Aditya. Nolan maju beberapa langkah dan menyerang pria yang dikenalnya sebagai pengawas proyek bos PG. Namun, justru Nolan yang tersungkur akibat tendangan Aditya.
"Di mana Dita?" tanya Aditya sembari mencengkeram kerah baju Nolan. "Jawab!" bentaknya sambil memelototi pria bersweter merah.
"Di situ," cicit Nolan seraya menunjuk kamar ujung.
Aditya menghempaskan Nolan, lalu berdiri dan lari. Dia berhenti di depan pintu yang dimaksud dan mencoba membuka pintunya, tetapi gagal. Tidak hilang akal, Aditya mundur 5 langkah, kemudian dia lari dan menabrakkan diri ke pintu.
Sebab benda itu masih bergeming, akhirnya Aditya mengulangi hal tadi hingga terdengar bunyi keras, pertanda kunci pintu telah bergeser.
"Minggir, Bang!" pekik Dzafri yang tengah menggotong meja bersama Fahreza.
Aditya berpindah ke kanan. Dia menunggu meja tepat posisinya, kemudian Aditya dan kedua junior mendorong meja itu hingga menghantam pintu, yang seketika terbuka.
17Aditya mendengarkan penjelasan supervisor hotel Bramanty, yang berada di pusat Kota Bandung. Sebab tidak memahami urusan dekorasi dan lainnya, Aditya tetap bungkam dan membiarkan Alodita yang banyak bertanya. Kala dimintai pendapat, Aditya bingung. Dia akhirnya mempersilakan Alodita untuk memilih warna dekorasi, dan konsepnya. Aditya tidak memprotes, ketika gadis itu memilih tema green dan dipenuhi banyak dedaunan. "Aku kapan bisa melihat contohnya?" tanya Alodita. "Maksimal minggu depan, Mbak. Tim kami akan membuatkan desain terbaru, khusus buat Mbak dan Mas," jawab perempuan berambut ikal itu seraya tersenyum. "Oke. Nanti aku geser schedule." Alodita melirik pria berkemeja putih pas badan, yang tengah mengamati sekeliling. "Bang, bisa datang minggu depan?" tanyanya. "Belum tahu. Nanti aku cek jadwal," jawab Aditya. "Ehm, aku boleh rekues?" tanyanya. "Silakan, Mas," sahut perempuan bersetelan blazer abu-abu. "Sisi kiri, dikosongkan. Khusus buat panggung pertunjukan," jelas
16Aditya dan Alodita mencatat semua hal yang diucapkan Bahir. Sekali-sekali, Nerissa, Satria, dan Karenina, akan menimpali guna memberikan masukan. Sedangkan Bahuraska tetap diam sambil mengamati pasangan calon pengantin, yang duduk berdampingan di sofa sisi kanan. Bahuraska mengulum senyuman, saat mengingat ucapan pacarnya, Claire Banafri, tentang kemiripan paras Aditya dan Alodita. Bahuraska akhirnya mengakui jika perkataan kekasihnya itu benar. Seusai rapat keluarga, Bahuraska berdiri dan mengikuti langkah Satria serta Aditya, menuju teras depan, di mana Sofyan menunggu sejak tadi. "Yan, kita nginap. Besok pagi aku mau lihat gedung buat resepsi," ujar Aditya, seusai duduk di sebelah kanan anak buahnya. "Aku izin cari baju, ya, Bang. Buat besok, nggak ada," jelas Sofyan. "Aku punya baju baru, belum buka bungkus. Ukuran badan kita nggak beda jauh. Pasti muat ke Akang," sela Bahuraska. "Muhun, Kang. Tapi aku tetap mau nyari underwear," papar Sofyan. "Ada, Kang. Lengkap. Nggak p
15Seunit mobil MPV biru tua meluncur di jalan raya bebas hambatan, siang menjelang sore itu. Di belakangnya, satu mobil sedan putih mengekori dari jarak aman. Aditya mendengarkan ocehan Alodita tanpa menyela sedikit pun. Aditya mempraktikkan tips dari teman-temannya. Yakni, dia harus menjadi pendengar dan tidak memberikan solusi tanpa diminta. Kendatipun itu berat, tetapi Aditya berusaha mengamalkannya. Pria berhidung bangir itu juga akhirnya menyadari, penyebab dirinya selalu gagal dalam membina hubungan di masa lalu. Yakni, karena dia kurang mendengarkan penuturan perempuan yang tengah didekati, kala itu.Aditya melirik Alodita yang telah berhenti mengoceh. Pria yang mengenakan t-shirt hijau tersebut menguatkan hatinya, agar bisa lebih sabar menghadapi Alodita yang sedikit perajuk dan manja. Aditya teringat ucapan Hisyam. Dia membandingkan Alodita dengan istri para sahabatnya, sebelum memahami, jika karakter Alodita merupakan perpaduan antara Utari yang manja, Naysila yang peraj
14Niat Alodita untuk pulang ke Bandung malam itu, akhirnya dibatalkan. Hujan petir yang turun dari selepas magrib tadi, membuat banyak orang khawatir melepas Alodita pergi. Utari menghubungi Nerissa dan menerangkan situasi. Istri Hisyam itu juga berjanji untuk mengurus Alodita dengan baik. "Oke, beres. Mamamu sudah ngasih izin," cakap Utari sembari meletakkan ponselnya di meja. "Horee! Kita party!" seru Avreen, istri Jauhari. "Bapak-bapak, tolong diasuh dulu para bocah," pinta Naysila, istri Yusuf. "Kami mau ladies party di kamar tamu," ujar Yuli, istri Qadry. "Bocah-bocah, tolong jangan ganggu, ya. Bunda mau me time," seloroh Yuranita, istri Ibrahim. "Apa aja yang mau diangkut ke atas?" tanya Delissa, istri Chairil. "Bentar. Kuambil dulu di belakang," sahut Utari. "Kalian bawa banyak minuman aja. Supaya nggak bolak-balik ke bawah," lanjutnya, sebelum berdiri dan bergegas ke dapur. Para lelaki yang berada di ruang tamu, saling menatap sesaat, sebelum sama-sama mendengkus pela
13Beberapa saat berikutnya, Alodita telah berada di kursi teras depan. Dia tidak berani mengajak Cheva masuk ke ruang tamu, karena khawatir Nerissa akan mengomelinya. "Kamu, kenapa ke sini?" tanya Alodita, setelah sekian menit tidak ada yang urun suara. "Aku baru dengar kabar, kalau kamu mau nikah. Itu beneran?" tanya Cheva. "Ya," sahut Alodita. "Kamu tahu dari siapa?" desaknya. "Thalita. Kami ketemu di mal, tadi sore." "Hmm, ya. Dia salah satu panitia dari GPCI." "Kata Thalita, calon suamimu itu, ajudan. Tapi, dia nggak nyebutin namanya, dan itu bikin aku penasaran.""Kamu kenal, kok, sama orangnya." "Siapa, Ta? Tolong jelaskan. Supaya aku nggak kepo terus." "Ngapain juga kamu kepo?" "Aku ... masih sayang sama kamu. Jadi, aku harus tahu, siapa orang yang berhasil mendapatkan restu orang tuamu. Hal yang nggak pernah bisa kudapatkan, selama setahun lebih kita pacaran." "Aku nggak mau jawab. Nanti kamu bisa lihat sendiri siapa orangnya." "Aku diundang juga?" Alodita terdiam
12Hari berganti hari. Malam itu, Aditya telah berada di rumah orang tuanya di kawasan Ciledug, Tangerang. Pria berusia 35 tahun itu menerangkan keputusannya untuk menikahi Alodita. Sesuai dugaan Aditya, Syahban dan Natarina, sama-sama terkejut dengan kabar itu. Keduanya saling menatap, sebelum kembali memandangi putra sulung mereka di kursi tunggal. "Ayah bingung, Bang. Bukannya waktu itu, Abang bilang mau pendekatan dengan Haifa?" tanya Syahban. "Ehm, sebetulnya waktu itu, aku dan Alodita sudah cukup dekat, tapi kami masih ragu-ragu buat mengungkapkan perasaan," terang Aditya, sesuai dengan skenario yang dibuat Jauhari, dan Wirya. "Terus, gimana ceritanya bisa langsung mutusin buat nikah?" desak Syahban. "Waktu dinas ke Bandung minggu lalu, kami janjian ketemuan. Aku nekat ngelamar dia. Tahunya, diterima. Lalu dia omongin tentang itu ke orang tuanya. Tiga hari lalu, aku dipanggil Pak Bahir, dan ternyata beliau minta pernikahan kami disegerakan." Syahban menatap putra sulungnya







