Home / Romansa / AJUDAN SELEMBE / Bab 01 - Abang Pengatur dan Pemaksa

Share

AJUDAN SELEMBE
AJUDAN SELEMBE
Author: Olivia Yoyet

Bab 01 - Abang Pengatur dan Pemaksa

Author: Olivia Yoyet
last update Last Updated: 2025-12-11 12:35:35

01

"Abang jangan mengaturku. Ingat, Abang bukan siapa-siapa buatku!" sentak Alodita Verlina Daryantha, sembari memelototi pria bertubuh tinggi di hadapannya. 

"Ya, aku memang bukan keluarga atau kerabatmu. Tapi, kakakmu sudah menitipkanmu padaku!" tegas Aditya Bryatta, sembari berusaha untuk tetap tenang. 

Alodita menggertakkan gigi. "Aku nggak peduli! Pokoknya jangan larang aku buat melakukan apa pun!" 

"Okay, fine! Silakan pergi, dan puasin pesta. Aku mau tidur!" desis Aditya, sebelum dia berbalik dan jalan menuju kamarnya di bagian depan rumah dinas itu. 

Alodita mencebik. Dia benar-benar kesal dengan sikap Aditya yang pengatur dan pemaksa. Alodita melirik asistennya, Larasati, dan memberi kode. Kemudian kedua perempuan itu bergegas keluar bangunan. 

Bunyi kendaraan yang bergerak menjauh, membuat Aditya menggerutu dalam hati. Dia mengintip melalui celah gorden, lalu Aditya berbalik dan jalan ke pintu. 

Lelaki beralis tebal itu menyambar jaket dan tas dari gantungan. Aditya membuka pintu dan keluar. Dia berteriak memanggil semua ajudan muda, sembari mengaitkan tas ke pinggang, lalu mengenakan jaketnya.

"Bawa perlengkapan standar, dan jaket. Kutunggu di mobil," cakap Aditya, sebelum jalan cepat ke carport. 

Tidak berselang lama, mobil MPV biru tua telah melaju di jalan perumahan kelas menengah, di tepi kota.

Aditya mengemudikan mobilnya sembari menggerutu dalam hati, karena lagi-lagi dia bertengkar dengan Alodita, putri kedua Bahir Daryantha, pengusaha senior dari Bandung. 

Aditya dan Alodita dinas bersama di kota itu, untuk mengawasi proyek yang diikuti perusahaan masing-masing, sekaligus jadi wakil banyak perusahaan para bos muda Indonesia. 

Aditya yang juga merupakan direktur operasional PBK, perusahaan jasa keamanan terkemuka di Indonesia, sudah bertugas di Kanada semenjak 5 tahun silam, sebelum dirinya dilantik sebagai petinggi PBK. 

Pria berambut belah tengah itu sejak dulu memang tidak bisa akrab dengan Alodita. Padahal dengan banyak putri pengusaha lainnya, Aditya bisa berteman cukup akrab. 

Aditya tidak mampu memahami sikap Alodita yang sering ketus padanya, sedangkan pada para sahabatnya, Alodita bisa berteman, bahkan gadis itu cukup akrab dengan Lazuardi dan Halim.

Pria yang dijuluki Abang wajah datar oleh banyak ajudan muda, sebetulnya sudah lelah untuk terus berselisih paham dengan Alodita. Namun, Aditya pun bingung, bagaimana caranya agar dia dan Alodita bisa berteman. Sebab tugas mereka di negara itu masih akan terus berlanjut hingga bulan depan. Lalu, keduanya akan pulang ke tanah air, bersama para pengawas dan pengawal muda lainnya. 

"Bang, mobilnya belok ke kanan," tutur Fahreza, yang seketika memutus lamunan atasannya.

"Gerbang putih?" tanya Aditya guna memastikan pendengarannya. 

"Ya," sahut Fahreza. 

Aditya menyalakan lampu sen, sebelum berbelok ke kanan dan melintasi gerbang putih bertuliskan Vila Lily. Aditya memperlambat laju mobil saat melihat Alodita dan Larasati keluar dari mobil sedan merah, milik sang nona muda Daryantha. 

Aditya mengarahkan mobilnya ke sisi kanan pekarangan luas, yang tidak terlalu banyak kendaraan. Aditya menghentikan mobil dan mematikan mesin, lalu dia melepaskan sabuk pengaman. 

"Dengar. Kita harus membaur," terang Aditya sembari memutar badan ke belakang. "Kalian bentuk regu dengan 2 anggota. Lalu menyebar sembari mengawasi Alodita," lanjutnya. 

"Abang, gimana?" tanya Fahreza. 

"Aku mau menunggu sekitar 10 menit, baru masuk. Tapi, kalian jangan nyamperin aku. Kita pura-pura nggak kenal aja." 

"Siap." 

"Fokuskan pandangan pada Alodita. Apa pun yang dia lakukan di depan umum, biarkan. Tapi, kalau dia menjauh dengan seseorang, ikuti." 

Keenam ajudan muda itu serentak mengangguk. Lalu mereka membuka pintu dan keluar dari mobil, sembari menutup pintunya dengan pelan. Fahreza dan teman-temannya melenggang menuju pintu utama, di mana beberapa pria berbadan tinggi besar tengah berjaga. 

Fahreza memindai sekeliling. Dia merasa lega, karena banyak wajah Asia yang turut menghadiri pesta itu. Hingga kehadiran tim Indonesia tidak terlihat menonjol dan mencurigakan. 

Sementara di mobil, Aditya mengambil tas dari bagasi. Dia membuka tas itu dan mengambil kacamata baca, kumis dan janggut palsu. Aditya berpindah lagi ke kursi depan. Dia memasang semua atribut sambil bercermin, kemudian dia mengecek arloji di tangan kiri. 

Aditya menghitung waktu. Setelah 8 menit, dia keluar dan mengunci pintu. Aditya kembali mengecek arloji, lalu dia mengayunkan tungkai menuju teras depan rumah besar bercat gading. 

Setibanya di dalam, Aditya mengamati sekitar. Dia beradu pandang dengan Dzulfadli, Baryal, Syawal, dan Bagas. Sedangkan Fahreza dan Dzafri tidak terlihat. Aditya melangkah menuju meja besar di ruangan kiri. Dia mengambil minuman, lalu bergeser ke dekat jendela besar yang menghadap halaman belakang. 

Aditya memerhatikan setiap orang yang berada di luar. Dia menggeleng pelan saat melihat beberapa pasang manusia tengah bercumbu di sekitar area, tanpa memedulikan jika mereka tengah berada di tempat umum. 

Tatapan Aditya berhenti pada kedua perempuan yang tengah berkumpul dengan tiga pria, yang juga merupakan warga negara Indonesia. Aditya berdecak kesal, karena dia tidak menyukai sosok Ramzi Parviz, dan kedua sahabatnya, Darius, serta Nolan.

Aditya sudah mengetahui sepak terjang ketiga pria yang berasal dari Semarang itu. Ramzi dan kedua rekannya bekerja di BM Grup, salah satu perusahaan properti yang pernah berkoordinasi dengan Pramudya Grup, bos utama PB dan PBK. 

Aditya yang juga mewakili Pramudya Grup, sempat beradu argumen dengan Ramzi, yang salah menafsirkan perintah atasannya. Hingga pengerjaan proyek di Ontario sempat terhambat. Semenjak saat itu, baik Aditya maupun Ramzi tidak pernah bertegur sapa. Bahkan, jika bertemu di tempat klien, keduanya akan berlaku tidak saling mengenal. 

Aditya mengerutkan dahi, ketika melihat Ramzi memberikan kaleng minuman pada Alodita. Seringai di wajah Ramzi menyebabkan radar kewaspadaan Aditya meningkat. 

Pria berhidung bangir itu menghabiskan minumannya, lalu meletakkan gelas ke sembarang tempat. Aditya jalan cepat menuju pintu samping sembari memberi kode pada keempat juniornya. 

Akan tetapi, sesampainya di gazebo belakang, kelima orang tadi sudah menghilang. Aditya menoleh ke belakang saat dipanggil, dan dia segera memahami maksud Dzafri yang tengah menunjuk ke tangga melingkar, di sisi kanan bangunan. 

Aditya bergegas ke sana, tetapi sekelompok pria asli luar negeri menghadangnya. Aditya hendak menerobos, tetapi pria berbaju hitam itu langsung meninjunya. 

Aditya refleks menghindar sembari balik meninju rahang lawannya. Tidak sampai di situ, Aditya langsung memukuli pria berambut pirang itu dengan gerakan cepat. Hingga lawannya terhuyung-huyung dan jatuh telentang.

Para lelaki bule itu segera menerjang, dan disambut tim Fahreza dengan gerakan silat. Aditya bergeser ke kiri dan lari secepat mungkin ke tangga. Dia menaiki undakan sembari memaki, karena terpaksa menggunakan kekerasan.

Aditya tiba di ruangan atas yang juga ramai orang. Dia celingukan, lalu melihat Larasati duduk di sofa ujung. Aditya mendekati gadis itu yang memandanginya dengan tatapan kosong. 

"Ras, Dita di mana?" tanya Aditya. 

Akan tetapi, belum sempat Larasati menjawab, Aditya melihat Darius muncul dari lorong kanan. Aditya bergegas menyambangi pria itu yang jalan terhuyung-huyung dan menabrak Aditya, yang menggeser badan Darius hingga terduduk di kursi.

Nolan keluar dari kamar ujung dan seketika kaget, menyaksikan kehadiran Aditya. Nolan maju beberapa langkah dan menyerang pria yang dikenalnya sebagai pengawas proyek bos PG. Namun, justru Nolan yang tersungkur akibat tendangan Aditya. 

"Di mana Dita?" tanya Aditya sembari mencengkeram kerah baju Nolan. "Jawab!" bentaknya sambil memelototi pria bersweter merah. 

"Di situ," cicit Nolan seraya menunjuk kamar ujung. 

Aditya menghempaskan Nolan, lalu berdiri dan lari. Dia berhenti di depan pintu yang dimaksud dan mencoba membuka pintunya, tetapi gagal. Tidak hilang akal, Aditya mundur 5 langkah, kemudian dia lari dan menabrakkan diri ke pintu. 

Sebab benda itu masih bergeming, akhirnya Aditya mengulangi hal tadi hingga terdengar bunyi keras, pertanda kunci pintu telah bergeser. 

"Minggir, Bang!" pekik Dzafri yang tengah menggotong meja bersama Fahreza. 

Aditya berpindah ke kanan. Dia menunggu meja tepat posisinya, kemudian Aditya dan kedua junior mendorong meja itu hingga menghantam pintu, yang seketika terbuka. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 104

    104 Pagi di hari Iedul Fitri pertama, disambut gembira seluruh umat muslim di dunia. Mereka berbondong-bondong menuju masjid besar ataupun tempat-tempat khusus, yang disediakan pemerintah kota, guna menunaikan salat Iedul Fitri. Begitu pula yang dilakukan oleh Alodita dan Aditya. Bersama keluarga besar Bryatta, mereka turut menunaikan ibadah dengan khusyuk, di masjid besar pusat Kota Ciledug. Seusai salat, mereka bergegas menuju mobil supaya bisa segera pulang. Namun, karena banyaknya orang dan kendaraan lainnya, perjalanan itu sempat terhambat. Setibanya di rumah Syahban, Alodita segera menaiki tangga ke lantai 2. Dia menyambar handuknya dari gantungan di balkon, lalu memasuki toilet untuk membersihkan diri.Belasan menit berlalu, Alodita telah bergabung dengan keluarga Bryatta di ruang tengah. Alodita menyambangi suaminya, lalu menyalami Aditya dengan takzim. Perempuan bergamis biru muda itu menegakkan badan, kemudian memeluk lelakinya yang balas mendekap Alodita dengan erat. B

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 103

    103 Ruang rapat di kantor GUNZ siang itu tampak ramai orang. Mereka bergantian membacakan laporan proyek pegangan masing-masing, sampai tuntas. Aditya memegangi lehernya yang terasa kering. Meskipun di dalam ruangan itu sejuk, karena adanya AC, tetapi tetap kalah dingin daripada Toronto. Aditya mengedarkan pandangan ke sekeliling, sebelum tersenyum, karena rekan-rekannya juga turut memegangi leher masing-masing. Pertanda jika mereka juga kehausan. "Sudah semua, kan?" tanya Wirya yang menempati kursi di dekat ujung kanan meja oval. "Sudah," jawab beberapa orang di sekitar."Kalian ini. Lemas amat," ledek Wirya. "Kami masih manusia, Bang. Bukan robot, kayak Abang," kilah Jauzan Rengku Madhani, direktur utama WAR. "Aku juga manusia. Makannya kupat sama sate. Atau roti cane gulai daging. Minumnya, es teler dan es campolai," goda Wirya "Gusti! Malah disebutin," keluh Arudra, yang menjabat sebagai direktur utama JVS. "W, tolong kasihanilah mualaf ini," bujuk Sebastian, sang direktur

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 102

    102Alodita menciumi dahi dan kedua pipi Adyata dalam gendongannya. Alodita berusaha keras menahan tangis, karena sedih berpisah dengan bayi yang sudah diasuhnya selama dua bulan terakhir.Aditya turut menciumi anak angkatnya, lalu dia memandangi Adyata yang balas menatapnya penuh minat. Aditya mengusap rambut Adyata, sambil menahan sesak dalam dada. "Sehat terus ya, Nak," ucap Aditya. "Kalau Bunda sudah kuat, kami akan ke Semarang buat jenguk kamu," lanjutnya. "Kami tunggu, Dit," sahut Raka yang datang untuk menjemput keluarganya. "Mas, kalau dinas ke sini, kabarin. Kusamperin," terang Aditya. "InsyaAllah. Aku memang berencana buat mutasi. Semoga ada celah di sini," ungkap Raka. "Syukurlah. Kalau Mas stay di sini, bisa jadi partner PB dan PBK." "Itu memang tujuanku, sesuai arahan Bang Varo." "Titip salam buat Bapak dan Ibu," sela Alodita, sembari menyerahkan Adyata."Ya, Ta. InsyaAllah, kami sampaikan," jawab Devianti. "Salam juga buat keluarga kalian. Kalau bisa ke sini, aku

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 101

    101Dahi Hisyam berkerut, karena sedang berpikir keras tentang daftar nama ajudan lapis 21 dan 22, yang akan disebar ke Eropa, serta Kanada, guna menggantikan tugas para senior mereka di kedua benua itu. Selain Hisyam, Jauhari dan Fikri juga terlihat sibuk dalam mengkalkulasi semua biaya operasional. Sedangkan Kimora dan Deswin tengah menyusun berbagai bahan proposal marketing baru, yang sesuai dengan perkembangan di luar negeri.Hanya Zikria yang tampak tenang. Dia membuat daftar orang-orang yang telah lulus diklat 4 angkatan ajudan terbaru, yang akan diserahkan pada Wirya, guna menentukan siapa saja yang masuk tim lapisan 26 hingga 28. "Zik, sudah beres?" tanya Hisyam, seusai memandangi pria berkumis tipis di kursi seberang. "Sudah," sahut Zikria. "Bantuin aku. Lieur." Zikria mengulum senyuman. "Abang nggak sabaran. Jadi kesal sendiri." Hisyam mendengkus pelan. "Nyusun beginian, langsung berdenyut kepalaku. Adit lebih sabar ngerjain kayak gini." "Dia sudah sibuk pegang operasi

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 100

    100Semua pasang mata mengarah pada layar televisi besar, di sisi kanan tenda. Mereka mendengarkan tausiah singkat dari Haikal, yang menerangkan makna puasa dan fungsinya bagi tubuh, menggunakan bahasa Inggris fasih. Setelah 15 menit berkhotbah, Haikal mengadakan sesi tanya jawab selama 10 menit. Lalu dia menutup acara dengan untaian doa dalam bahasa Arab, yang diamini semua orang di bawah tenda, termasuk yang non muslim. "Dit, bayaran ane, jangan lupa," seloroh Haikal. "Ya, Bang. Nanti kutransfer ke rekening Abang," jawab Aditya. "Jangan ke rekening ane, tapi ke rekening Bariq. Buat tambahan dia masuk kuliah tahun ini." Aditya tertegun sesaat. "MasyaAllah. Bariq sudah mau jadi mahasiswa. Kirain masih SD." "Ane aja masih kaget. Tau-tau dia membesar dan menjulang. Bawa pacar ke rumah, tapi habis itu putus nggak jelas." "Astaga!" "Ane bilang, dia kudu belajar kesetiaan dari ane, ente, dan banyak Om lainnya. Jangan ikut aliran Hans, Arudra, Biantara, Farzan, Farisyasa, Mas Baskar

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 99

    99Waktu yang ditunggu-tunggu umat muslim di seluruh dunia, akhirnya tiba. Subuh itu, kediaman Aditya dipenuhi banyak orang yang semuanya muslim. Mereka melakukan sahur pertama sembari menonton berita channel Indonesia, yang waktunya lebih cepat 11 jam dari Toronto. Seusai bersantap, mereka bekerjasama membereskan perlengkapan makan, yang dilanjutkan dengan membersihkan rumah. Adyata yang ikut sahur, tampak gembira digendong banyak orang secara bergantian. Namun, ketika diletakkan di bouncher, karena yang lainnya hendak salat subuh, Adyata merengek. "Kugendong aja," cakap Aditya. "Nanti ganggu gerakan salat, Bang," cegah Ramzi. "Enggak. Gendong model kangguru," jelas Aditya sembari mengangkat kedua tangannya, dan Alodita segera memasangkan kain gendongan yang dimaksud. "Dulu, waktu ngasuh Qizar dan Ryker, aku begini juga. Aku salat, mereka malah tidur. Mungkin enak, kayak diayun," imbuh Aditya sambil berputar, supaya Alodita bisa melilitkan gendongan dengan sempurna. "Udah," tu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status