Masuk02
"Setan!" jerit Aditya seusai memasuki kamar.
Ramzi terkejut melihat kedatangan musuhnya, dan segera bangkit dari kasur, di mana Alodita tengah berbaring dengan pakaian yang acak-acakan.
Aditya maju dan menyerang Ramzi dengan tinjuan bertubi-tubi. Aditya kesal, karena Ramzi melawan dengan gerakan karate yang bagus.
Fahreza dan Dzafri memasuki ruangan. Mereka langsung mengeroyok Ramzi, sedangkan Aditya mendatangi kasur untuk mengecek kondisi Adik Satria Daryantha tersebut.
"Ta, bangun. Ta," panggil Aditya, tetapi Alodita bergeming.
Aditya menarik selimut di ujung kasur guna membungkus tubuh Alodita. Dzafri meninggalkan Ramzi yang telah terkapar di lantai, lalu dia membantu Aditya yang hendak mengangkat dan menggendong Alodita.
Aditya jalan secepat mungkin dengan disusul Dzafri. Sedangkan Fahreza memvideokan sekeliling, sebagai bukti atas kelakuan tidak senonoh Ramzi pada Alodita.
Semua orang memandangi Aditya yang tengah menggendong Alodita. Dzafri berteriak agar para penonton itu memberikan jalan buat mereka.
Setibanya di lantai 1, Aditya meminta Dzafri untuk mengambil kunci mobil dari saku celananya. Supaya Dzafri bisa segera membukakan pintu, dan menyalakan mesin kendaraan.
Dzulfadli menyusul Aditya bersama rekan-rekannya. Mereka membantu menggotong Alodita hingga bisa dimasukkan ke kursi tengah mobil MPV.
"Laras, mana?" tanya Aditya.
"Di mobil sedan, Bang," jawab Dzulfadli.
"Temani dia, dan tunggu Reza datang. Lalu, susul kami ke rumah sakit terdekat."
"Siap."
Aditya memasuki mobil dan mendampingi Alodita di kursi tengah. Dzafri bergegas memasuki pintu kiri depan. Sedangkan Bagas menempati bagian pengemudi.
Tidak berselang lama, mobil MPV biru tua itu sudah melaju di jalan raya. Aditya mengecek kondisi Alodita dengan mengendus-endus di depan mulut gadis itu.
"Dia dicekokin minuman beralkohol," ujar Aditya sembari menjauhkan diri.
"Aku tadi sempat mau nyegah, Bang, tapi nggak jadi," terang Dzafri. "Aku ingat pesan Abang, supaya dia nggak dicegah melakukan apa pun di depan umum," lanjutnya.
"Kamu terlalu penurut. Harusnya ambil kaleng itu dan guyurkan airnya ke si nasi rames," jawab Aditya.
"Aku justru pengen nyekokin ke Ramzi," balas Dzafri.
"Kenapa nggak dilakuin?"
"Itu tadi. Aku terlalu nurut amanat Abang."
Aditya mendengkus, lalu dia memandangi sang sopir. "Gas, ngebut dikit," pintanya.
"Ngeri, Bang," kilah Bagas.
"Harus berani. Jangan kalah sama mas-mu. Sunardi itu, pembalap PBK," seloroh Aditya.
Bagas tersenyum menanggapi perkataan atasannya. Pria berkumis tipis itu menambah laju kendaraan, hingga tiba di rumah sakit tujuan.
Belasan menit berikutnya, Dzulfadli dan Fahreza menyusul sembari menuntun Larasati yang juga tengah mabuk. Kedua pasien itu ditangani tim dokter dengan cepat. Sementara Aditya tengah menghubungi pengacara PBK, yang berjanji akan segera datang ke kantor polisi terdekat dengan tempat kejadian perkara.
"Bar, kamu sama Syawal, lapor ke kantor polisi yang tadi kita lewatin. Bikin aduan buat si nasi rames dan para cecunguknya itu," cakap Aditya sembari memandangi juniornya, yang paling tinggi dari yang lainnya.
"Laporannya kayak gimana, Bang?" tanya Baryal, sambil membuka aplikasi notes di ponselnya.
"Pasal percobaan pemerkosaan, menghalangi penyelamatan, pengeroyokan, dan perbuatan tidak menyenangkan."
"Berlapis?"
"Ya. Tunggu pengacara kita datang. Biar dia yang nambahin pasal lain."
"Oke."
"Tunjukin video awal kalian masuk. Plus yang terakhir dibuat Fahreza."
"Siap."
***
Pagi hari menyapa Alodita dengan denyutan di kepala, dan perut yang bergejolak. Dia mengerjapkan mata beberapa kali, lalu memindai sekitar yang terasa asing.
Tatapan Alodita terhenti pada seorang perempuan yang tengah berbaring di sofa panjang. Dia hendak memanggil Larasati, tetapi lidahnya kelu. Alodita beralih melihat ke kiri dan tercenung menyaksikan seorang pria bertubuh jangkung, yang tengah menghadap jendela sambil berbicara sendiri.
Kala pria itu menyebut nama Satria, Alodita seketika deg-degan. Dia takut bila Aditya melaporkan tingkahnya yang sedikit liar, kemarin malam. Alodita tersentak, saat mengingat bila dirinya didorong Ramzi memasuki kamar, lalu semuanya menggelap.
Aditya memutus sambungan telepon dan memasukkan ponsel ke saku celana jeans hitamnya. Pria berbibir penuh itu memutar tumit dan beradu pandang dengan sepasang mata besar milik Alodita.
Tiba-tiba gadis itu menutup mulutnya dengan tangan kiri, sebelum bangkit duduk dan berusaha turun dari ranjang pasien. Namun, sedetik kemudian Alodita memuntahkan cairan berbau menyengat ke lantai.
"Ras, bangun!" seru Aditya sembari mengguncangkan tangan kanan gadis yang berbaring di sofa.
Aditya berpindah ke dekat ranjang. Dia menyambar banyak tisu dari box di meja samping kanan, lalu Aditya mengelap sekitar mulut Alodita yang kotor.
"Sudah selesai muntahnya?" tanya Aditya yang dibalas gelengan Alodita.
Tanpa berpikir panjang, Aditya kembali menggendong Alodita ke kamar mandi. Larasati menekan bel untuk memanggil perawat, sebelum dia membersihkan sisa muntahan di lantai. Lalu dia menyusul ke toilet.
Larasati tertegun menyaksikan bosnya yang kembali muntah di kloset. Larasati terhenyak, karena Aditya tampak sabar memegangi badan Alodita dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya sibuk menyemprotkan air dari shower, untuk mengguyur seluruh kotoran di kloset.
"Ras, ambilkan baju ganti. Sekalian kamu mandiin Dita," pinta Aditya, sembari menutup kloset dan membantu Alodita duduk.
Larasati segera mengerjakan permintaan Aditya. Seorang perawat masuk dan Larasati memintanya untuk mengganti seprai dengan yang baru.
Puluhan menit berlalu. Alodita telah berpindah duduk di sofa. Dia membiarkan rambutnya disisiri Larasati, sedangkan Alodita mengamati tampilan wajahnya di cermin tempat bedak padat.
Alodita melirik lelaki yang kembali terlibat percakapan telepon. Alodita menebak jika Aditya tengah melaporkan kejadian kemarin malam pada Alvaro.
"Bang, gawat!" jerit Dzulfadli sembari memasuki ruangan.
"Apaan?" tanya Aditya sambil memutar badan ke kanan.
"Pihak Ramzi melaporkan balik kita ke polisi. Lalu, pemilik tempat itu juga minta ganti rugi. Banyak properti mereka yang rusak," jelas Dzulfadli.
Aditya terdiam sejenak, sebelum mengusap wajahnya dengan sedikit kasar. "Sial! Nambah lagi masalah!" gerutunya.
"Kita harus gimana, Bang?'
"Aku mau nelepon lawyer. Tunggu di depan. Nanti kita diskusi."
Detik berganti menjadi menit, hingga mengubah jam dengan kecepatan maksimal. Aditya jalan mondar-mandir sepanjang lorong depan ruang perawatan Alodita.
Aditya gelisah sekaligus cemas dengan situasi dan kondisi yang berkembang di luar kendali. Aditya menjengit ketika ponselnya berdering, dan memunculkan nama Hisyam pada layarnya.
"Kumaha?" tanya Hisyam dari seberang benua.
"Aku lagi nunggu lawyer datang," jelas Aditya.
"Oke. Lusa kami otw ke sana. Apa ada yang mau dibawakan?"
"Martabak asin dan manis. Kue cucur. Kue ali. Klepon. Lupis. Gemlong, dan burcangjo."
"Kamu ngidam?"
"Ho oh. Hamil anak gajah. Belalainya menciut."
"Bisa tegak nggak, tuh?"
"Lagi pingsan dia. Mungkin, karena aku lagi stres."
"Tenang dan keep positif."
"Syam, kalau sampai aku dihukum penjara kayak Ari, usahakan supaya orang tuaku nggak syok."
"Enggak akan ada yang dihukum penjara."
"Perasaanku nggak nyaman."
"Ambil wudu, salat sunnah dan lanjut ngaji."
"Sunnah naon? Sekarang masih pagi. Nggak bisa tahajjud."
"Salat duha. Salat hajat. Salat naon waelah. Istikharah juga boleh."
"Oke."
"Dit, Alodita, kumaha?"
"Kayaknya dia masih syok. Diam aja dari tadi."
"Semoga setelah ini, dia nggak lagi berantem sama kamu."
"Enggak yakin aku. Keras kepala banget dia."
"Tetap sabar. Gimana pun, dia tanggung jawabmu. Papanya dan Satria sudah nitipin dia ke kamu."
"Aku mau mundur jadi pengasuh Nona Daryantha itu. Capek. Pengen stay di Indonesia aja, dan taaruf sama perempuan yang ditawarkan Kak Leni sama Bang Yoga. Maybe dialah jodohku."
09Seunit mobil MPV biru tua melesat di jalan bebas hambatan menuju Kota Bandung. Semua penumpangnya tampak tegang, sedangkan sang sopir tetap fokus melajukan kendaraan dengan kecepatan tinggi. Kedipan lampu dari belakang, dijawab sopir dengan hal serupa. Dimas meneruskan mengemudi, sembari sekali-sekali mengecek kaca spion. "Siapa yang di mobil belakang?" tanya Aditya sambil mengamati mobil MPV hitam yang dimaksud. "Bang Andri, Bang W, dan Bang Zulfi," jawab Lazuardi yang mendampingi sopir di depan. "Duh. Ngapain mereka ikut ke Bandung?" "Mereka mewakili Bang Yoga, buat ngawal Abang." "Aku nggak perlu dikawal. Aku bisa menyelesaikan ini sendiri." "Abang telepon sana, dan suruh mereka balik arah." "Mana Adit berani," ledek Jauhari yang menempati kursi belakang bersama Halim."Bisa-bisa dikemplang ketiga Abang itu. Adit langsung pingsan," kelakar Qadry, yang mendampingi Aditya di kursi tengah. "Kalian hobi banget, lihat aku disiksa," keluh Aditya. "Mereka, tuh, sayang ke Aban
08 Seorang pria berkemeja hijau muda, keluar dari lift dengan langkah lebar. Dia berhenti di depan pintu besar, lalu merapikan dasi dan menyugar rambutnya. Aditya bergumam pelan, sebelum memegangi gagang dan mendorong pintu hingga terbuka. Sudut bibir Aditya mengukir senyuman, sembari melangkah maju dan menutup pintu dengan pelan. Aditya menyambangi belasan orang di dekat meja besar. Dia menyalami mereka satu per satu, kemudian berpindah ke area depan di mana Bilal, asisten keduanya, telah menunggu sejak tadi. Aditya meletakkan tas kerjanya ke meja. Dia bergeser ke dekat layar televisi besar yang menampilkan denah proyek terbaru di Montréal, yang akan dimulai pengerjaannya pada pertengahan bulan Agustus. Aditya yang sudah cukup hafal dengan kawasan itu, menerangkan detailnya secara rinci. Kemudian dia meminta Bilal untuk menjelaskan proyek selanjutnya, yang rencananya akan dimulai pada awal Maret tahun depan, masih di kota yang sama.Setelahnya, sesi tanya jawab dimulai. Aditya m
07 *Grup PBK KomDirManAst*Zulfi : Bule! Iseng pisan bikin grup baru. Andri : Aku salfok sama nama grupnya. Haryono : Artine opo? Alvaro : Komisaris, Direktur, Manajer, dan Asisten. Wirya : Singkatannya, KDMA. Jadi kayak nama gubernur. Hisyam : Ditukar aja posisinya. Jadi DMAK. Jeffrey : Lebih bagus, MAKD.Zulfi ; D-nya digeser. Dari kata direktur, kita ambil huruf E. Jadi, grup ini namanya EMAK.Wirya : FANS EMAK OY. Yoga : Setuju! Jauhari : Yes, i do. Aditya : Accepter. Yusuf : Agree. Mukti : You got it.Fikri : My thoughts exactly.Chairil : Definitely.Fawwaz : Absolutely!Nanang : Sepakat.Qadry : Sependapat. Ibrahim : Idem. Lazuardi : Mattaku sono tori desu.Kimora : Ne, majayo.Dimas : Apa itu artinya? @Neng Kim. Kimora : Ya, Anda benar. Syuja : Kimora ngomong bahasa Korea, aku langsung ngebayangin dia pakai baju khas Korea. Hasbi : Hanbok? Syuja : Yups.Gumelar : Cocok emang Kimora pakai itu. Andara : Teh Kim juga pas jadi orang Jepang. Syafid : Thailand. P
06 Malam itu, seusai bersantap, Aditya mengajak ayahnya keluar. Mereka menaiki motor milik Nareswara, Adik Aditya dan Narapati, lalu menjauhi kediaman direktur operasional PBK tersebut. Aditya melajukan kendaraan menuju area depan kompleks perumahan kelas menengah ke atas, yang dibangun PT. BHANDIT, milik Baskara Gardapati Ganendra, Heru Pranadipa Dewawarman, Artio Laksamana Pramudya, Arrivan Qaiz Latief, Axelle Dante Adhitama, Hadrian Danadyaksha, dan Tristan Cyrus. Rumah Aditya dan banyak rekannya sesama pengawal lapis 3 hingga 10, berada di cluster 7. Begitu pula dengan rumah Wirya, yang memborong banyak unit, hingga rumah barunya itu lebih besar daripada rumah lamanya, yang berada di cluster 5.Yoga, dan tim Power Rangers lainnya, masih menempati rumah mereka di cluster 5, yang berdekatan dengan rumah lama Wirya, yang telah dialihfungsikan sebagai mess para pengawal. Setibanya di deretan rumah toko, Aditya menghentikan motor di depan salah satu warung makan. Dia memasang stand
05Hari berganti dengan cepat hingga minggu terlewati. Ramzi dan Aditya sama-sama menarik gugatan dari kantor polisi. Mereka dan semua pihak yang terlibat, sepakat untuk berdamai. Pagi itu, puluhan orang berkumpul di ruang rapat kantor firma hukum B&C. Mereka menjadi saksi surat perjanjian perdamaian antara kedua belah pihak. Ramzi, Darius, Nolan, dan ketujuh rekan mereka, menandatangani beberapa lembar kertas secara bergantian. Aditya dan keenam ajudan muda maju beberapa langkah. Demikian pula dengan Alodita dan Larasati. Mereka membubuhkan tanda tangan di berkas itu. Lalu Syawal memberikan tumpukan kertas itu pada kedua pengacara PBK, dan tim lawyer pihak lawan, guna diperiksa keabsahannya. Puluhan menit berlalu, rombongan Indonesia telah berada di bus yang menuju bandara. Aditya dan yang lainnya sudah diizinkan polisi untuk pulang ke Indonesia, karena kasus mereka dianggap selesai, sesuai dengan perjanjian tadi. "Kata Asmi, keluarga kita sudah nyampe di rumah Abang," ujar Narap
04Alodita bergegas mendatangi rombongan Indonesia yang baru turun dari bus hotel J&A, milik keluarga Janitra dan Aryeswara. Alodita mengulaskan senyuman, sebelum menyalami Benigno dan yang lainnya dengan takzim. Alodita berpindah untuk menyalami akangnya, kemudian dia mendekap Satria. Bulir bening luruh dari mata Alodita, karena dia menyesal telah menyebabkan situasi yang kurang nyaman, bagi tim Indonesia di Kanada. Seusai menjauhkan diri, Alodita mengusap pipinya dengan ujung jemari. Dia menggamit lengan kiri Satria dan melangkah bersama sang akang, untuk menyusul anggota rombongan lainnya yang tengah bergerak memasuki kantor polisi. Bentley dan Channing menyambut rekan-rekan mereka dengan ramah. Para lelaki itu duduk di banyak kursi sembari berbincang serius. Tidak berselang lama, ketujuh tahanan keluar untuk menemui tamu. Aditya mendekap Yoga sembari memejamkan mata. Kemudian dia melepaskan dekapan dan berpindah untuk memeluk adiknya, Narapati Bryatta.Setelahnya, Aditya beral







