Home / Romansa / AJUDAN SELEMBE / Bab 02 - Maybe Dialah Jodohku

Share

Bab 02 - Maybe Dialah Jodohku

Author: Olivia Yoyet
last update Last Updated: 2025-12-11 12:42:32

02

"Setan!" jerit Aditya seusai memasuki kamar. 

Ramzi terkejut melihat kedatangan musuhnya, dan segera bangkit dari kasur, di mana Alodita tengah berbaring dengan pakaian yang acak-acakan. 

Aditya maju dan menyerang Ramzi dengan tinjuan bertubi-tubi. Aditya kesal, karena Ramzi melawan dengan gerakan karate yang bagus. 

Fahreza dan Dzafri memasuki ruangan. Mereka langsung mengeroyok Ramzi, sedangkan Aditya mendatangi kasur untuk mengecek kondisi Adik Satria Daryantha tersebut. 

"Ta, bangun. Ta," panggil Aditya, tetapi Alodita bergeming. 

Aditya menarik selimut di ujung kasur guna membungkus tubuh Alodita. Dzafri meninggalkan Ramzi yang telah terkapar di lantai, lalu dia membantu Aditya yang hendak mengangkat dan menggendong Alodita. 

Aditya jalan secepat mungkin dengan disusul Dzafri. Sedangkan Fahreza memvideokan sekeliling, sebagai bukti atas kelakuan tidak senonoh Ramzi pada Alodita. 

Semua orang memandangi Aditya yang tengah menggendong Alodita. Dzafri berteriak agar para penonton itu memberikan jalan buat mereka. 

Setibanya di lantai 1, Aditya meminta Dzafri untuk mengambil kunci mobil dari saku celananya. Supaya Dzafri bisa segera membukakan pintu, dan menyalakan mesin kendaraan.

Dzulfadli menyusul Aditya bersama rekan-rekannya. Mereka membantu menggotong Alodita hingga bisa dimasukkan ke kursi tengah mobil MPV. 

"Laras, mana?" tanya Aditya. 

"Di mobil sedan, Bang," jawab Dzulfadli. 

"Temani dia, dan tunggu Reza datang. Lalu, susul kami ke rumah sakit terdekat." 

"Siap." 

Aditya memasuki mobil dan mendampingi Alodita di kursi tengah. Dzafri bergegas memasuki pintu kiri depan. Sedangkan Bagas menempati bagian pengemudi. 

Tidak berselang lama, mobil MPV biru tua itu sudah melaju di jalan raya. Aditya mengecek kondisi Alodita dengan mengendus-endus di depan mulut gadis itu. 

"Dia dicekokin minuman beralkohol," ujar Aditya sembari menjauhkan diri. 

"Aku tadi sempat mau nyegah, Bang, tapi nggak jadi," terang Dzafri. "Aku ingat pesan Abang, supaya dia nggak dicegah melakukan apa pun di depan umum," lanjutnya. 

"Kamu terlalu penurut. Harusnya ambil kaleng itu dan guyurkan airnya ke si nasi rames," jawab Aditya. 

"Aku justru pengen nyekokin ke Ramzi," balas Dzafri. 

"Kenapa nggak dilakuin?" 

"Itu tadi. Aku terlalu nurut amanat Abang." 

Aditya mendengkus, lalu dia memandangi sang sopir. "Gas, ngebut dikit," pintanya.

"Ngeri, Bang," kilah Bagas. 

"Harus berani. Jangan kalah sama mas-mu. Sunardi itu, pembalap PBK," seloroh Aditya. 

Bagas tersenyum menanggapi perkataan atasannya. Pria berkumis tipis itu menambah laju kendaraan, hingga tiba di rumah sakit tujuan. 

Belasan menit berikutnya, Dzulfadli dan Fahreza menyusul sembari menuntun Larasati yang juga tengah mabuk. Kedua pasien itu ditangani tim dokter dengan cepat. Sementara Aditya tengah menghubungi pengacara PBK, yang berjanji akan segera datang ke kantor polisi terdekat dengan tempat kejadian perkara. 

"Bar, kamu sama Syawal, lapor ke kantor polisi yang tadi kita lewatin. Bikin aduan buat si nasi rames dan para cecunguknya itu," cakap Aditya sembari memandangi juniornya, yang paling tinggi dari yang lainnya. 

"Laporannya kayak gimana, Bang?" tanya Baryal, sambil membuka aplikasi notes di ponselnya. 

"Pasal percobaan pemerkosaan, menghalangi penyelamatan, pengeroyokan, dan perbuatan tidak menyenangkan." 

"Berlapis?" 

"Ya. Tunggu pengacara kita datang. Biar dia yang nambahin pasal lain." 

"Oke." 

"Tunjukin video awal kalian masuk. Plus yang terakhir dibuat Fahreza." 

"Siap." 

*** 

Pagi hari menyapa Alodita dengan denyutan di kepala, dan perut yang bergejolak. Dia mengerjapkan mata beberapa kali, lalu memindai sekitar yang terasa asing. 

Tatapan Alodita terhenti pada seorang perempuan yang tengah berbaring di sofa panjang. Dia hendak memanggil Larasati, tetapi lidahnya kelu. Alodita beralih melihat ke kiri dan tercenung menyaksikan seorang pria bertubuh jangkung, yang tengah menghadap jendela sambil berbicara sendiri. 

Kala pria itu menyebut nama Satria, Alodita seketika deg-degan. Dia takut bila Aditya melaporkan tingkahnya yang sedikit liar, kemarin malam. Alodita tersentak, saat mengingat bila dirinya didorong Ramzi memasuki kamar, lalu semuanya menggelap. 

Aditya memutus sambungan telepon dan memasukkan ponsel ke saku celana jeans hitamnya. Pria berbibir penuh itu memutar tumit dan beradu pandang dengan sepasang mata besar milik Alodita. 

Tiba-tiba gadis itu menutup mulutnya dengan tangan kiri, sebelum bangkit duduk dan berusaha turun dari ranjang pasien. Namun, sedetik kemudian Alodita memuntahkan cairan berbau menyengat ke lantai.

"Ras, bangun!" seru Aditya sembari mengguncangkan tangan kanan gadis yang berbaring di sofa. 

Aditya berpindah ke dekat ranjang. Dia menyambar banyak tisu dari box di meja samping kanan, lalu Aditya mengelap sekitar mulut Alodita yang kotor. 

"Sudah selesai muntahnya?" tanya Aditya yang dibalas gelengan Alodita. 

Tanpa berpikir panjang, Aditya kembali menggendong Alodita ke kamar mandi. Larasati menekan bel untuk memanggil perawat, sebelum dia membersihkan sisa muntahan di lantai. Lalu dia menyusul ke toilet. 

Larasati tertegun menyaksikan bosnya yang kembali muntah di kloset. Larasati terhenyak, karena Aditya tampak sabar memegangi badan Alodita dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya sibuk menyemprotkan air dari shower, untuk mengguyur seluruh kotoran di kloset. 

"Ras, ambilkan baju ganti. Sekalian kamu mandiin Dita," pinta Aditya, sembari menutup kloset dan membantu Alodita duduk. 

Larasati segera mengerjakan permintaan Aditya. Seorang perawat masuk dan Larasati memintanya untuk mengganti seprai dengan yang baru. 

Puluhan menit berlalu. Alodita telah berpindah duduk di sofa. Dia membiarkan rambutnya disisiri Larasati, sedangkan Alodita mengamati tampilan wajahnya di cermin tempat bedak padat. 

Alodita melirik lelaki yang kembali terlibat percakapan telepon. Alodita menebak jika Aditya tengah melaporkan kejadian kemarin malam pada Alvaro. 

"Bang, gawat!" jerit Dzulfadli sembari memasuki ruangan. 

"Apaan?" tanya Aditya sambil memutar badan ke kanan. 

"Pihak Ramzi melaporkan balik kita ke polisi. Lalu, pemilik tempat itu juga minta ganti rugi. Banyak properti mereka yang rusak," jelas Dzulfadli. 

Aditya terdiam sejenak, sebelum mengusap wajahnya dengan sedikit kasar. "Sial! Nambah lagi masalah!" gerutunya. 

"Kita harus gimana, Bang?' 

"Aku mau nelepon lawyer. Tunggu di depan. Nanti kita diskusi." 

Detik berganti menjadi menit, hingga mengubah jam dengan kecepatan maksimal. Aditya jalan mondar-mandir sepanjang lorong depan ruang perawatan Alodita. 

Aditya gelisah sekaligus cemas dengan situasi dan kondisi yang berkembang di luar kendali. Aditya menjengit ketika ponselnya berdering, dan memunculkan nama Hisyam pada layarnya. 

"Kumaha?" tanya Hisyam dari seberang benua. 

"Aku lagi nunggu lawyer datang," jelas Aditya.

"Oke. Lusa kami otw ke sana. Apa ada yang mau dibawakan?" 

"Martabak asin dan manis. Kue cucur. Kue ali. Klepon. Lupis. Gemlong, dan burcangjo." 

"Kamu ngidam?" 

"Ho oh. Hamil anak gajah. Belalainya menciut." 

"Bisa tegak nggak, tuh?" 

"Lagi pingsan dia. Mungkin, karena aku lagi stres." 

"Tenang dan keep positif." 

"Syam, kalau sampai aku dihukum penjara kayak Ari, usahakan supaya orang tuaku nggak syok." 

"Enggak akan ada yang dihukum penjara." 

"Perasaanku nggak nyaman." 

"Ambil wudu, salat sunnah dan lanjut ngaji." 

"Sunnah naon? Sekarang masih pagi. Nggak bisa tahajjud." 

"Salat duha. Salat hajat. Salat naon waelah. Istikharah juga boleh." 

"Oke." 

"Dit, Alodita, kumaha?" 

"Kayaknya dia masih syok. Diam aja dari tadi." 

"Semoga setelah ini, dia nggak lagi berantem sama kamu." 

"Enggak yakin aku. Keras kepala banget dia." 

"Tetap sabar. Gimana pun, dia tanggung jawabmu. Papanya dan Satria sudah nitipin dia ke kamu." 

"Aku mau mundur jadi pengasuh Nona Daryantha itu. Capek. Pengen stay di Indonesia aja, dan taaruf sama perempuan yang ditawarkan Kak Leni sama Bang Yoga. Maybe dialah jodohku." 

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mispri Yani
Sabar Dit Itu kue mau kamu makan sendiri kah Bagi bagi donk Dit sama aku kwkwwk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 104

    104 Pagi di hari Iedul Fitri pertama, disambut gembira seluruh umat muslim di dunia. Mereka berbondong-bondong menuju masjid besar ataupun tempat-tempat khusus, yang disediakan pemerintah kota, guna menunaikan salat Iedul Fitri. Begitu pula yang dilakukan oleh Alodita dan Aditya. Bersama keluarga besar Bryatta, mereka turut menunaikan ibadah dengan khusyuk, di masjid besar pusat Kota Ciledug. Seusai salat, mereka bergegas menuju mobil supaya bisa segera pulang. Namun, karena banyaknya orang dan kendaraan lainnya, perjalanan itu sempat terhambat. Setibanya di rumah Syahban, Alodita segera menaiki tangga ke lantai 2. Dia menyambar handuknya dari gantungan di balkon, lalu memasuki toilet untuk membersihkan diri.Belasan menit berlalu, Alodita telah bergabung dengan keluarga Bryatta di ruang tengah. Alodita menyambangi suaminya, lalu menyalami Aditya dengan takzim. Perempuan bergamis biru muda itu menegakkan badan, kemudian memeluk lelakinya yang balas mendekap Alodita dengan erat. B

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 103

    103 Ruang rapat di kantor GUNZ siang itu tampak ramai orang. Mereka bergantian membacakan laporan proyek pegangan masing-masing, sampai tuntas. Aditya memegangi lehernya yang terasa kering. Meskipun di dalam ruangan itu sejuk, karena adanya AC, tetapi tetap kalah dingin daripada Toronto. Aditya mengedarkan pandangan ke sekeliling, sebelum tersenyum, karena rekan-rekannya juga turut memegangi leher masing-masing. Pertanda jika mereka juga kehausan. "Sudah semua, kan?" tanya Wirya yang menempati kursi di dekat ujung kanan meja oval. "Sudah," jawab beberapa orang di sekitar."Kalian ini. Lemas amat," ledek Wirya. "Kami masih manusia, Bang. Bukan robot, kayak Abang," kilah Jauzan Rengku Madhani, direktur utama WAR. "Aku juga manusia. Makannya kupat sama sate. Atau roti cane gulai daging. Minumnya, es teler dan es campolai," goda Wirya "Gusti! Malah disebutin," keluh Arudra, yang menjabat sebagai direktur utama JVS. "W, tolong kasihanilah mualaf ini," bujuk Sebastian, sang direktur

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 102

    102Alodita menciumi dahi dan kedua pipi Adyata dalam gendongannya. Alodita berusaha keras menahan tangis, karena sedih berpisah dengan bayi yang sudah diasuhnya selama dua bulan terakhir.Aditya turut menciumi anak angkatnya, lalu dia memandangi Adyata yang balas menatapnya penuh minat. Aditya mengusap rambut Adyata, sambil menahan sesak dalam dada. "Sehat terus ya, Nak," ucap Aditya. "Kalau Bunda sudah kuat, kami akan ke Semarang buat jenguk kamu," lanjutnya. "Kami tunggu, Dit," sahut Raka yang datang untuk menjemput keluarganya. "Mas, kalau dinas ke sini, kabarin. Kusamperin," terang Aditya. "InsyaAllah. Aku memang berencana buat mutasi. Semoga ada celah di sini," ungkap Raka. "Syukurlah. Kalau Mas stay di sini, bisa jadi partner PB dan PBK." "Itu memang tujuanku, sesuai arahan Bang Varo." "Titip salam buat Bapak dan Ibu," sela Alodita, sembari menyerahkan Adyata."Ya, Ta. InsyaAllah, kami sampaikan," jawab Devianti. "Salam juga buat keluarga kalian. Kalau bisa ke sini, aku

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 101

    101Dahi Hisyam berkerut, karena sedang berpikir keras tentang daftar nama ajudan lapis 21 dan 22, yang akan disebar ke Eropa, serta Kanada, guna menggantikan tugas para senior mereka di kedua benua itu. Selain Hisyam, Jauhari dan Fikri juga terlihat sibuk dalam mengkalkulasi semua biaya operasional. Sedangkan Kimora dan Deswin tengah menyusun berbagai bahan proposal marketing baru, yang sesuai dengan perkembangan di luar negeri.Hanya Zikria yang tampak tenang. Dia membuat daftar orang-orang yang telah lulus diklat 4 angkatan ajudan terbaru, yang akan diserahkan pada Wirya, guna menentukan siapa saja yang masuk tim lapisan 26 hingga 28. "Zik, sudah beres?" tanya Hisyam, seusai memandangi pria berkumis tipis di kursi seberang. "Sudah," sahut Zikria. "Bantuin aku. Lieur." Zikria mengulum senyuman. "Abang nggak sabaran. Jadi kesal sendiri." Hisyam mendengkus pelan. "Nyusun beginian, langsung berdenyut kepalaku. Adit lebih sabar ngerjain kayak gini." "Dia sudah sibuk pegang operasi

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 100

    100Semua pasang mata mengarah pada layar televisi besar, di sisi kanan tenda. Mereka mendengarkan tausiah singkat dari Haikal, yang menerangkan makna puasa dan fungsinya bagi tubuh, menggunakan bahasa Inggris fasih. Setelah 15 menit berkhotbah, Haikal mengadakan sesi tanya jawab selama 10 menit. Lalu dia menutup acara dengan untaian doa dalam bahasa Arab, yang diamini semua orang di bawah tenda, termasuk yang non muslim. "Dit, bayaran ane, jangan lupa," seloroh Haikal. "Ya, Bang. Nanti kutransfer ke rekening Abang," jawab Aditya. "Jangan ke rekening ane, tapi ke rekening Bariq. Buat tambahan dia masuk kuliah tahun ini." Aditya tertegun sesaat. "MasyaAllah. Bariq sudah mau jadi mahasiswa. Kirain masih SD." "Ane aja masih kaget. Tau-tau dia membesar dan menjulang. Bawa pacar ke rumah, tapi habis itu putus nggak jelas." "Astaga!" "Ane bilang, dia kudu belajar kesetiaan dari ane, ente, dan banyak Om lainnya. Jangan ikut aliran Hans, Arudra, Biantara, Farzan, Farisyasa, Mas Baskar

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 99

    99Waktu yang ditunggu-tunggu umat muslim di seluruh dunia, akhirnya tiba. Subuh itu, kediaman Aditya dipenuhi banyak orang yang semuanya muslim. Mereka melakukan sahur pertama sembari menonton berita channel Indonesia, yang waktunya lebih cepat 11 jam dari Toronto. Seusai bersantap, mereka bekerjasama membereskan perlengkapan makan, yang dilanjutkan dengan membersihkan rumah. Adyata yang ikut sahur, tampak gembira digendong banyak orang secara bergantian. Namun, ketika diletakkan di bouncher, karena yang lainnya hendak salat subuh, Adyata merengek. "Kugendong aja," cakap Aditya. "Nanti ganggu gerakan salat, Bang," cegah Ramzi. "Enggak. Gendong model kangguru," jelas Aditya sembari mengangkat kedua tangannya, dan Alodita segera memasangkan kain gendongan yang dimaksud. "Dulu, waktu ngasuh Qizar dan Ryker, aku begini juga. Aku salat, mereka malah tidur. Mungkin enak, kayak diayun," imbuh Aditya sambil berputar, supaya Alodita bisa melilitkan gendongan dengan sempurna. "Udah," tu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status