LOGIN03
Wajah Aditya seketika merah padam, sesaat setelah mendengar penjelasan Bentley Green dan Channing Davies, kedua pengacara tim PBK di Kanada.
Aditya mengeraskan rahang, sembari menahan diri untuk tidak mengumpat. Namun, akhirnya dia tidak kuat dan memaki Ramzi yang melaporkannya dengan tuduhan penganiayaan.
Hasil visum Ranzi dan teman-temannya dijadikan alat bukti kuat oleh lawyer mereka, guna melaporkan balik tim PBK. Selain itu, pengelola vila juga turut melaporkan Aditya dan anak buahnya, dengan tuduhan pengrusakan pintu, meja, dan kursi-kursi di sekitar halaman belakang, serta di lantai dua vila.
Kendatipun tim pengacara PBK juga memberikan banyak bukti, tetapi polisi tetap bersikukuh untuk menahan ketujuh ajudan Indonesia, guna pemeriksaan lebih lanjut.
"Kami harus gimana, Pak?" tanya Aditya.
"Kita ikuti semua prosedur. Supaya polisi yakin jika kita berniat untuk berkoordinasi dengan baik," jelas Bentley dengan bahasa Indonesia berlogat unik.
Bentley dan Channing merupakan teman kuliah Ethan Janitra, salah satu pengusaha muda Indonesia yang keluarga ayahnya adalah campuran Kanada, dan Indonesia. Ethan dan semua cucu keluarga Janitra, menuntut ilmu di Vancouver. Sebelum kemudian kembali ke Indonesia.
Bentley dan Channing yang sering berkunjung ke rumah keluarga Janitra di tepi Kota Vancouver, mempelajari bahasa Indonesia dengan serius. Hal itu sangat berguna, karena mereka akhirnya menjadi lawyer untuk mewakili PG, PC, PCD, PCT, dan PBK, di Kanada.
"Jadi kami tetap harus mendekam di sel?" desak Aditya.
"Ya, tapi tidak lama, Dit. Maksimal 3 hari."
"Itu sudah lumayan lama. Kerjaanku banyak."
"Kamu tetap bisa kerja. Kami sudah mendapat izin, agar kamu dan yang lainnya menempati sel khusus, serta bisa membawa laptop."
"Ponsel, bisa?"
"Mungkin hanya bisa diselundupksn 1."
Aditya mengulum senyuman. "Sepertinya Bapak cukup piawai dalam bidang penyelundupan."
"Yeah. Aku mantan gembong narkoba."
Aditya dan yang lainnya terkekeh. Mereka menyukai gaya Bentley yang santai dan cukup humoris. Sementara Channing, meskipun lebih pendiam, tetapi dia juga senang bercanda.
Alodita yang turut mendengarkan percakapan itu, makin cemas. Dia mengamati Aditya yang telah kembali memasang tampang serius, kemudian Alodita beralih menatap kedua pengacara tersebut.
"Maaf menyela," tukas Alodita yang menyebabkan dirinya dipandangi semua orang di ruangan itu. "Apa nggak ada cara lain, supaya tim PBK nggak perlu ditahan?" tanyanya.
"Sepertinya tidak ada, Nona," jawab Bentley.
"Kalau aku yang balik menuntut Ramzi and the gank, gimana?"
"Tuduhannya apa?"
"Dia memaksaku untuk minum itu. Lalu, dia juga berusaha buat ... ehm ... memperkosaku."
"Itu bisa dilakukan, tapi Nona harus melakukan visum."
"Oke, kita lakukan sekarang."
"Tidak bisa, Nona," celetuk Channing.
"Kenapa?" desak Alodita.
"Nona sudah mandi. Itu menghilangkan jejak apa pun di tubuh Nona," jelas Channing yang mengejutkan Alodita.
"Pak, sebetulnya aku sempat meminta dokter buat memvisum Alodita. Waktu dia selesai ditangani itu," ungkap Aditya.
"Benarkah?" tanya Channing.
"Ya, Pak."
"Sudah kubilang berulang kali. Jangan panggil aku Bapak. Aku masih muda."
Aditya meringis. "Okay, Mas."
"Aneh dengar Channing dipanggil Mas," seloroh Bentley.
"Aku juga tidak nyaman dipanggil itu," cetus Channing.
"Terus, mau dipanggil apa?" tanya Aditya.
"Selain Mas, apa lagi panggilan buat Kakak laki-laki?"
"Abang. Akang. Aa'.
Uda. Koko. Kakanda."
"Yang terakhir. Aku suka."
"Bentar, aku coba dulu." Aditya berdeham, lalu dia berkata, "Kakanda Channing. Adinda sudah meminta dokter buat memvisum Nona Alodita. Apakah data itu bisa digunakan sebagai bahan untuk melaporkan si nasi rames ke polisi?"
Gelakak Bentley menguar. Begitu pula dengan keenam ajudan muda. Alodita dan Larasati sama-sama terkekeh. Sedangkan Channing mengusap dagunya seraya tersenyum, mendengar candaan Aditya.
***
Rembulan mengeluarkan sepenuh bentuknya, hingga langit malam itu tampak indah. Embusan angin musim semi menyentuh dedaunan di pohon, dan menerbangkan apa pun yang berada di permukaan bumi.
Alodita memandangi langit malam dengan tatapan kosong. Terbayang kembali pertengkarannya dengan Aditya, sebelum dia nekat berangkat ke pesta, yang menjadikan situasi makin kacau.
Alodita malu, karena telah membantah ucapan Aditya. Gadis berkulit putih itu juga merasa bersalah, karena demi menyelamatkannya, Aditya dan keenam ajudan junior terpaksa harus berurusan dengan hukum.
Panggilan dari Maghda, pengurus rumah keluarga Janitra, membuat Alodita menoleh ke kanan. Dia terkejut ketika perempuan tua itu mengulurkan ponsel, sembari menyebut nama Benigno.
Alodita meraih ponsel itu dan menempelkannya ke telinga kanan. Dia hendak menyapa Benigno, tetapi dibatalkan, karena mendengar suara kakaknya di kejauhan.
"Assalamualaikum. Ta, kamu dengar aku?" tanya Benigno Griffin Janitra, Kakak Ethan.
"Waalaikumsalam. Ya, Mas," cicit Alodita.
"Kamu ingat nggak? Apa nama minuman yang dikasih cowok itu ke kamu?"
"Itu sejenis soda, tapi dia nambahin bubuk apa, gitu. Aku sempat tanya, dan dia bilang itu hanya vitamin."
"Masa vitamin dicampur ke soda? Ngawur."
"Ehm, ya, aku baru ngeh, setelah di rumah sakit."
"Kamu cari gambar kalengnya, send ke aku."
"Oke."
"Satria mau bicara."
Alodita menggigit bibir bawah. Dadanya berdegup kencang saat mendengar suara sang kakak yang menyapanya dengan salam, dan dilanjutkan dengan ocehan dalam bahasa Sunda.
Alodita meringis sambil memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut. Alodita tetap diam dan membiarkan Satria selesai mengomel.
"Ya, Kang. Hampura," rengek Alodita.
"Mama sampai demam, Ta. Papa juga mengurung diri di ruang kerja," ungkap Satria.
"Ehm, maaf."
"Ayeuna, kumaha?"
"Pengacara lagi ngajuin uang tebusan, buat membebaskan semua pengawal."
"Kamu ikut nyumbang, nggak?"
"Ada."
"Baraha?"
"$2000."
"Kurang, atuh. Kudunya, 5000."
"Besok kutambahin."
"Enggak usah. Aku mau setor ke Ari."
"Ehm, Akang jadi berangkat ke sini?"
"Jadi. Ini sudah di bandara. Bentar lagi mau naik ke pesawat."
"Pesananku, ada?"
"Hu um."
"Oke. Sampai ketemu besok."
"Enggak usah jemput ke bandara. Kita ketemu di kantor polisi aja. Karena aku mesti mastiin kondisi Bang Adit dan teman-temannya. Buat laporan ke Papa."
Sementara itu, di dalam sel khusus, Aditya tengah berbaring sambil memejamkan mata. Dia membayangkan reaksi orang tuanya, bila mengetahui Aditya tengah terkurung di penjara kantor polisi.
Kenangan 5 tahun lalu kembali terbayang, saat Aditya menemani Jauhari di dalam sel kantor polisi Kota Sydney. Aditya menyadari, sebab pernah terkurung di tempat serupa, dia sudah tidak kaget lagi berada di dalam penjara.
Aditya ingin menelepon Jauhari, sebelum akhirnya dia sadar jika semua ponsel telah disita polisi. Aditya membuka mata, lalu bangkit duduk. Dia meminta laptop yang tengah dipakai teman-temannya menonton film yang sudah diunduh, kemudian Aditya menggulirkan kursor untuk membuka email.
Selama belasan menit berikutnya, Aditya berbalas email dengan Jauhari, yang tidak ikut terbang ke Vancouver dan menjadi penjaga kantor PBK.
"Pesawat sudah berangkat," tukas Aditya, seusai mengakhiri percakapannya dengan Jauhari.
"Abang dapat kabar dari siapa?" tanya Syawal.
"Ari. Dia baru naik ke mobil. Habis nganter rombongan PBK ke bandara," jelas Aditya.
"Siapa aja yang berangkat, Bang?" desak Bagas.
"Bang Varo, Bang Yoga, Pak Benigno, Mas Ethan, Pak Tio, Mas Levin, Hisyam, Yusuf, Jeffrey, Qadry, Chairil, Narapati, dan Mahesa," terang Aditya. "Plus belasan ajudan. Enggak tahu siapa orangnya," lanjutnya.
06 Malam itu, seusai bersantap, Aditya mengajak ayahnya keluar. Mereka menaiki motor milik Nareswara, Adik Aditya dan Narapati, lalu menjauhi kediaman direktur operasional PBK tersebut. Aditya melajukan kendaraan menuju area depan kompleks perumahan kelas menengah ke atas, yang dibangun PT. BHANDIT, milik Baskara Gardapati Ganendra, Heru Pranadipa Dewawarman, Artio Laksamana Pramudya, Arrivan Qaiz Latief, Axelle Dante Adhitama, Hadrian Danadyaksha, dan Tristan Cyrus. Rumah Aditya dan banyak rekannya sesama pengawal lapis 3 hingga 10, berada di cluster 7. Begitu pula dengan rumah Wirya, yang memborong banyak unit, hingga rumah barunya itu lebih besar daripada rumah lamanya, yang berada di cluster 5.Yoga, dan tim Power Rangers lainnya, masih menempati rumah mereka di cluster 5, yang berdekatan dengan rumah lama Wirya, yang telah dialihfungsikan sebagai mess para pengawal. Setibanya di deretan rumah toko, Aditya menghentikan motor di depan salah satu warung makan. Dia memasang stand
05Hari berganti dengan cepat hingga minggu terlewati. Ramzi dan Aditya sama-sama menarik gugatan dari kantor polisi. Mereka dan semua pihak yang terlibat, sepakat untuk berdamai. Pagi itu, puluhan orang berkumpul di ruang rapat kantor firma hukum B&C. Mereka menjadi saksi surat perjanjian perdamaian antara kedua belah pihak. Ramzi, Darius, Nolan, dan ketujuh rekan mereka, menandatangani beberapa lembar kertas secara bergantian. Aditya dan keenam ajudan muda maju beberapa langkah. Demikian pula dengan Alodita dan Larasati. Mereka membubuhkan tanda tangan di berkas itu. Lalu Syawal memberikan tumpukan kertas itu pada kedua pengacara PBK, dan tim lawyer pihak lawan, guna diperiksa keabsahannya. Puluhan menit berlalu, rombongan Indonesia telah berada di bus yang menuju bandara. Aditya dan yang lainnya sudah diizinkan polisi untuk pulang ke Indonesia, karena kasus mereka dianggap selesai, sesuai dengan perjanjian tadi. "Kata Asmi, keluarga kita sudah nyampe di rumah Abang," ujar Narap
04Alodita bergegas mendatangi rombongan Indonesia yang baru turun dari bus hotel J&A, milik keluarga Janitra dan Aryeswara. Alodita mengulaskan senyuman, sebelum menyalami Benigno dan yang lainnya dengan takzim. Alodita berpindah untuk menyalami akangnya, kemudian dia mendekap Satria. Bulir bening luruh dari mata Alodita, karena dia menyesal telah menyebabkan situasi yang kurang nyaman, bagi tim Indonesia di Kanada. Seusai menjauhkan diri, Alodita mengusap pipinya dengan ujung jemari. Dia menggamit lengan kiri Satria dan melangkah bersama sang akang, untuk menyusul anggota rombongan lainnya yang tengah bergerak memasuki kantor polisi. Bentley dan Channing menyambut rekan-rekan mereka dengan ramah. Para lelaki itu duduk di banyak kursi sembari berbincang serius. Tidak berselang lama, ketujuh tahanan keluar untuk menemui tamu. Aditya mendekap Yoga sembari memejamkan mata. Kemudian dia melepaskan dekapan dan berpindah untuk memeluk adiknya, Narapati Bryatta.Setelahnya, Aditya beral
03Wajah Aditya seketika merah padam, sesaat setelah mendengar penjelasan Bentley Green dan Channing Davies, kedua pengacara tim PBK di Kanada. Aditya mengeraskan rahang, sembari menahan diri untuk tidak mengumpat. Namun, akhirnya dia tidak kuat dan memaki Ramzi yang melaporkannya dengan tuduhan penganiayaan. Hasil visum Ranzi dan teman-temannya dijadikan alat bukti kuat oleh lawyer mereka, guna melaporkan balik tim PBK. Selain itu, pengelola vila juga turut melaporkan Aditya dan anak buahnya, dengan tuduhan pengrusakan pintu, meja, dan kursi-kursi di sekitar halaman belakang, serta di lantai dua vila.Kendatipun tim pengacara PBK juga memberikan banyak bukti, tetapi polisi tetap bersikukuh untuk menahan ketujuh ajudan Indonesia, guna pemeriksaan lebih lanjut. "Kami harus gimana, Pak?" tanya Aditya. "Kita ikuti semua prosedur. Supaya polisi yakin jika kita berniat untuk berkoordinasi dengan baik," jelas Bentley dengan bahasa Indonesia berlogat unik. Bentley dan Channing merupakan
02"Setan!" jerit Aditya seusai memasuki kamar. Ramzi terkejut melihat kedatangan musuhnya, dan segera bangkit dari kasur, di mana Alodita tengah berbaring dengan pakaian yang acak-acakan. Aditya maju dan menyerang Ramzi dengan tinjuan bertubi-tubi. Aditya kesal, karena Ramzi melawan dengan gerakan karate yang bagus. Fahreza dan Dzafri memasuki ruangan. Mereka langsung mengeroyok Ramzi, sedangkan Aditya mendatangi kasur untuk mengecek kondisi Adik Satria Daryantha tersebut. "Ta, bangun. Ta," panggil Aditya, tetapi Alodita bergeming. Aditya menarik selimut di ujung kasur guna membungkus tubuh Alodita. Dzafri meninggalkan Ramzi yang telah terkapar di lantai, lalu dia membantu Aditya yang hendak mengangkat dan menggendong Alodita. Aditya jalan secepat mungkin dengan disusul Dzafri. Sedangkan Fahreza memvideokan sekeliling, sebagai bukti atas kelakuan tidak senonoh Ramzi pada Alodita. Semua orang memandangi Aditya yang tengah menggendong Alodita. Dzafri berteriak agar para penonton
01"Abang jangan mengaturku. Ingat, Abang bukan siapa-siapa buatku!" sentak Alodita Verlina Daryantha, sembari memelototi pria bertubuh tinggi di hadapannya. "Ya, aku memang bukan keluarga atau kerabatmu. Tapi, kakakmu sudah menitipkanmu padaku!" tegas Aditya Bryatta, sembari berusaha untuk tetap tenang. Alodita menggertakkan gigi. "Aku nggak peduli! Pokoknya jangan larang aku buat melakukan apa pun!" "Okay, fine! Silakan pergi, dan puasin pesta. Aku mau tidur!" desis Aditya, sebelum dia berbalik dan jalan menuju kamarnya di bagian depan rumah dinas itu. Alodita mencebik. Dia benar-benar kesal dengan sikap Aditya yang pengatur dan pemaksa. Alodita melirik asistennya, Larasati, dan memberi kode. Kemudian kedua perempuan itu bergegas keluar bangunan. Bunyi kendaraan yang bergerak menjauh, membuat Aditya menggerutu dalam hati. Dia mengintip melalui celah gorden, lalu Aditya berbalik dan jalan ke pintu. Lelaki beralis tebal itu menyambar jaket dan tas dari gantungan. Aditya membuka







