Share

Bab 03

Author: Olivia Yoyet
last update publish date: 2025-12-11 12:48:54

03

Wajah Aditya seketika merah padam, sesaat setelah mendengar penjelasan Bentley Green dan Channing Davies, kedua pengacara tim PBK di Kanada. 

Aditya mengeraskan rahang, sembari menahan diri untuk tidak mengumpat. Namun, akhirnya dia tidak kuat dan memaki Ramzi yang melaporkannya dengan tuduhan penganiayaan. 

Hasil visum Ranzi dan teman-temannya dijadikan alat bukti kuat oleh lawyer mereka, guna melaporkan balik tim PBK. Selain itu, pengelola vila juga turut melaporkan Aditya dan anak buahnya, dengan tuduhan pengrusakan pintu, meja, dan kursi-kursi di sekitar halaman belakang, serta di lantai dua vila.

Kendatipun tim pengacara PBK juga memberikan banyak bukti, tetapi polisi tetap bersikukuh untuk menahan ketujuh ajudan Indonesia, guna pemeriksaan lebih lanjut. 

"Kami harus gimana, Pak?" tanya Aditya. 

"Kita ikuti semua prosedur. Supaya polisi yakin jika kita berniat untuk berkoordinasi dengan baik," jelas Bentley dengan bahasa Indonesia berlogat unik. 

Bentley dan Channing merupakan teman kuliah Ethan Janitra, salah satu pengusaha muda Indonesia yang keluarga ayahnya adalah campuran Kanada, dan Indonesia. Ethan dan semua cucu keluarga Janitra, menuntut ilmu di Vancouver. Sebelum kemudian kembali ke Indonesia. 

Bentley dan Channing yang sering berkunjung ke rumah keluarga Janitra di tepi Kota Vancouver, mempelajari bahasa Indonesia dengan serius. Hal itu sangat berguna, karena mereka akhirnya menjadi lawyer untuk mewakili PG, PC, PCD, PCT, dan PBK, di Kanada. 

"Jadi kami tetap harus mendekam di sel?" desak Aditya. 

"Ya, tapi tidak lama, Dit. Maksimal 3 hari." 

"Itu sudah lumayan lama. Kerjaanku banyak." 

"Kamu tetap bisa kerja. Kami sudah mendapat izin, agar kamu dan yang lainnya menempati sel khusus, serta bisa membawa laptop." 

"Ponsel, bisa?" 

"Mungkin hanya bisa diselundupksn 1." 

Aditya mengulum senyuman. "Sepertinya Bapak cukup piawai dalam bidang penyelundupan." 

"Yeah. Aku mantan gembong narkoba." 

Aditya dan yang lainnya terkekeh. Mereka menyukai gaya Bentley yang santai dan cukup humoris. Sementara Channing, meskipun lebih pendiam, tetapi dia juga senang bercanda. 

Alodita yang turut mendengarkan percakapan itu, makin cemas. Dia mengamati Aditya yang telah kembali memasang tampang serius, kemudian Alodita beralih menatap kedua pengacara tersebut. 

"Maaf menyela," tukas Alodita yang menyebabkan dirinya dipandangi semua orang di ruangan itu. "Apa nggak ada cara lain, supaya tim PBK nggak perlu ditahan?" tanyanya. 

"Sepertinya tidak ada, Nona," jawab Bentley. 

"Kalau aku yang balik menuntut Ramzi and the gank, gimana?" 

"Tuduhannya apa?" 

"Dia memaksaku untuk minum itu. Lalu, dia juga berusaha buat ... ehm ... memperkosaku." 

"Itu bisa dilakukan, tapi Nona harus melakukan visum." 

"Oke, kita lakukan sekarang." 

"Tidak bisa, Nona," celetuk Channing. 

"Kenapa?" desak Alodita. 

"Nona sudah mandi. Itu menghilangkan jejak apa pun di tubuh Nona," jelas Channing yang mengejutkan Alodita. 

"Pak, sebetulnya aku sempat meminta dokter buat memvisum Alodita. Waktu dia selesai ditangani itu," ungkap Aditya. 

"Benarkah?" tanya Channing. 

"Ya, Pak." 

"Sudah kubilang berulang kali. Jangan panggil aku Bapak. Aku masih muda." 

Aditya meringis. "Okay, Mas." 

"Aneh dengar Channing dipanggil Mas," seloroh Bentley. 

"Aku juga tidak nyaman dipanggil itu," cetus Channing. 

"Terus, mau dipanggil apa?" tanya Aditya. 

"Selain Mas, apa lagi panggilan buat Kakak laki-laki?" 

"Abang. Akang. Aa'. 

Uda. Koko. Kakanda." 

"Yang terakhir. Aku suka." 

"Bentar, aku coba dulu." Aditya berdeham, lalu dia berkata, "Kakanda Channing. Adinda sudah meminta dokter buat memvisum Nona Alodita. Apakah data itu bisa digunakan sebagai bahan untuk melaporkan si nasi rames ke polisi?" 

Gelakak Bentley menguar. Begitu pula dengan keenam ajudan muda. Alodita dan Larasati sama-sama terkekeh. Sedangkan Channing mengusap dagunya seraya tersenyum, mendengar candaan Aditya. 

*** 

Rembulan mengeluarkan sepenuh bentuknya, hingga langit malam itu tampak indah. Embusan angin musim semi menyentuh dedaunan di pohon, dan menerbangkan apa pun yang berada di permukaan bumi. 

Alodita memandangi langit malam dengan tatapan kosong. Terbayang kembali pertengkarannya dengan Aditya, sebelum dia nekat berangkat ke pesta, yang menjadikan situasi makin kacau. 

Alodita malu, karena telah membantah ucapan Aditya. Gadis berkulit putih itu juga merasa bersalah, karena demi menyelamatkannya, Aditya dan keenam ajudan junior terpaksa harus berurusan dengan hukum. 

Panggilan dari Maghda, pengurus rumah keluarga Janitra, membuat Alodita menoleh ke kanan. Dia terkejut ketika perempuan tua itu mengulurkan ponsel, sembari menyebut nama Benigno. 

Alodita meraih ponsel itu dan menempelkannya ke telinga kanan. Dia hendak menyapa Benigno, tetapi dibatalkan, karena mendengar suara kakaknya di kejauhan.

"Assalamualaikum. Ta, kamu dengar aku?" tanya Benigno Griffin Janitra, Kakak Ethan. 

"Waalaikumsalam. Ya, Mas," cicit Alodita. 

"Kamu ingat nggak? Apa nama minuman yang dikasih cowok itu ke kamu?" 

"Itu sejenis soda, tapi dia nambahin bubuk apa, gitu. Aku sempat tanya, dan dia bilang itu hanya vitamin." 

"Masa vitamin dicampur ke soda? Ngawur." 

"Ehm, ya, aku baru ngeh, setelah di rumah sakit." 

"Kamu cari gambar kalengnya, send ke aku." 

"Oke." 

"Satria mau bicara." 

Alodita menggigit bibir bawah. Dadanya berdegup kencang saat mendengar suara sang kakak yang menyapanya dengan salam, dan dilanjutkan dengan ocehan dalam bahasa Sunda. 

Alodita meringis sambil memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut. Alodita tetap diam dan membiarkan Satria selesai mengomel. 

"Ya, Kang. Hampura," rengek Alodita. 

"Mama sampai demam, Ta. Papa juga mengurung diri di ruang kerja," ungkap Satria. 

"Ehm, maaf." 

"Ayeuna, kumaha?" 

"Pengacara lagi ngajuin uang tebusan, buat membebaskan semua pengawal." 

"Kamu ikut nyumbang, nggak?" 

"Ada." 

"Baraha?" 

"$2000." 

"Kurang, atuh. Kudunya, 5000." 

"Besok kutambahin."

"Enggak usah. Aku mau setor ke Ari." 

"Ehm, Akang jadi berangkat ke sini?" 

"Jadi. Ini sudah di bandara. Bentar lagi mau naik ke pesawat." 

"Pesananku, ada?" 

"Hu um." 

"Oke. Sampai ketemu besok." 

"Enggak usah jemput ke bandara. Kita ketemu di kantor polisi aja. Karena aku mesti mastiin kondisi Bang Adit dan teman-temannya. Buat laporan ke Papa." 

Sementara itu, di dalam sel khusus, Aditya tengah berbaring sambil memejamkan mata. Dia membayangkan reaksi orang tuanya, bila mengetahui Aditya tengah terkurung di penjara kantor polisi. 

Kenangan 5 tahun lalu kembali terbayang, saat Aditya menemani Jauhari di dalam sel kantor polisi Kota Sydney. Aditya menyadari, sebab pernah terkurung di tempat serupa, dia sudah tidak kaget lagi berada di dalam penjara. 

Aditya ingin menelepon Jauhari, sebelum akhirnya dia sadar jika semua ponsel telah disita polisi. Aditya membuka mata, lalu bangkit duduk. Dia meminta laptop yang tengah dipakai teman-temannya menonton film yang sudah diunduh, kemudian Aditya menggulirkan kursor untuk membuka email. 

Selama belasan menit berikutnya, Aditya berbalas email dengan Jauhari, yang tidak ikut terbang ke Vancouver dan menjadi penjaga kantor PBK. 

"Pesawat sudah berangkat," tukas Aditya, seusai mengakhiri percakapannya dengan Jauhari. 

"Abang dapat kabar dari siapa?" tanya Syawal. 

"Ari. Dia baru naik ke mobil. Habis nganter rombongan PBK ke bandara," jelas Aditya. 

"Siapa aja yang berangkat, Bang?" desak Bagas. 

"Bang Varo, Bang Yoga, Pak Benigno, Mas Ethan, Pak Tio, Mas Levin, Hisyam, Yusuf, Jeffrey, Qadry, Chairil, Narapati, dan Mahesa," terang Aditya. "Plus belasan ajudan. Enggak tahu siapa orangnya," lanjutnya. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 125

    125*Grup Petinggi 1st, 2nd, & 3rd Generation* Yanuar : @Abang bule. Kenapa mobil baru gue belum dikirim? Alvaro : Gue sudah bilang ke Ardianto. Mobil itu jangan dikirim dulu, sebelum 2 mobil lama elu laku, @Sipitih. Yanuar : Tega amat! Alvaro ; Kalau nggak gitu, yang 2 itu cuma jadi barang rongsokan. Andri : Sayang banget itu mobil, jadi pajangan, doang. Zulfi : Sarang tikus.Fajar : Penghuni abadi garasi PB. Nugraha : Menuh-menuhin. Mardi : Nyemak-nyemakin. Aswin : Aku mau parkir mobil operasional pun nggak bisa. Qadry : Sekarang aman, @Bang Aswin. Chairil : Dua garasi sudah kosong. Nanang : Aku nggak lihat motor gedenya Bang Yan. Fawwaz : Disita Bang W, karena Bang Yan mundur dari tender di Swedia. Ibrahim : Motornya ada di garasi kantor baru. Hisyam : Kantor mana?Dimas : Banyak kantor baru. Bingung aku. Jauhari : Di gedung punya 3 robot. Hasbi : Tuls. Deretan itu semua motor para Power Rangers. Zulfi : Mau dilelang semuanya. Ada yang minat? Dedi : Aku mau motorn

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 124

    124Dua pekan seusai dilahirkan, acara akekahan Nuh dan Hud dilangsungkan di kediaman Bahir. Halaman luas dan jalan depan rumah yang ditutupi tenda biru campur putih, ternyata tidak mampu menampung seluruh tamu, yang jumlahnya membludak dan di luar perkiraan. Edelweiss memerintahkan tim dekorasi guna memasang tenda tambahan di jalan sisi kiri. Puluhan ajudan muda membantu semua pekerja EO M&E. Hingga tidak sampai setengah jam kemudian, tenda biru itu telah berdiri tegak. Banyak karpet yang dipinjam dari tetangga sekitar, dihamparkan di bawah tenda baru. Supaya semua tamu bisa duduk dengan santai. Tenda ketiga dibangun di sisi kanan, dan segera ditempati para ajudan muda. Acara pengajian dimulai. Fikri yang menjadi MC, mempersilakan Zikria untuk bertugas sebagai qori. Sedangkan Hana menjadi saritilawah. Setelahnya, seorang Ustaz kenamaan memberikan tausiah yang diselipi candaan, hingga hadirin berulang kali terbahak. Tawa khalayak mengencang ketika sang ustaz menggoda Aditya serta A

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 123

    123Jalinan waktu terus bergulir. Bulan demi bulan berlalu dengan cepat, tanpa sanggup dicegah siapa pun dan apa pun. Musim kemarau telah berganti ke musim hujan. Udara panas turut bertukar menjadi lebih sejuk. Aditya mengusap rambut istrinya yang tengah mengatur napas. Aditya menoleh ke kiri saat Alodita kembali mengejan, guna melahirkan anak-anaknya. Aditya terus menembakkan tenaga dalam ke perut Alodita, guna melancarkan proses itu. Begitu pula yang dilakukan rekan-rekannya sesama anggota paguyuban olah napas Margaluyu, yang berada di depan ruang bersalin. Jeritan tertahan Alodita mengiringi meluncurnya seorang bayi mungil, yang dipegangi dokter dengan hati-hati. Setelah memindahkan sang bayi ke perawat, dokter itu bersiap-siap guna memegangi bayi kedua."Ayo, Bun. Dikit lagi," ujar Aditya guna menyemangati istrinya yang tengah ngos-ngosan. Alodita tidak menyahut, karena tengah berkonsentrasi. Kala kontraksi kian mengencang, Alodita menarik napas dan mengejan kuat. Seorang bay

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 122

    122 Raut wajah tegang yang semula ditampilkan Zikria, seketika berubah semringah, sesaat setelah mendengar ucapan Syahban. Zikria menghela napas lega, karena keluarga Bryatta menyambut baik keinginannya untuk menjalin hubungan serius dengan Asmiratih. Aditya dan kedua saudaranya yang juga berada di ruang kerja, turut senang dengan keputusan Ayah mereka. Begitu pula dengan Natarina dan Alodita. Kedua perempuan berbeda generasi itu saling melirik, sebelum sama-sama tersenyum. Wirya yang diminta Zikria untuk menjadi wakil keluarganya, mengulaskan senyuman, sembari mengucap syukur dalam hati. Pria paruh baya itu sangat berharap hubungan Zikria dan Asmiratih bisa berhasil. Supaya mantan asistennya itu bisa segera melepas masa lajangnya. Sekian menit berlalu, semua orang telah keluar dan berpindah ke ruang tengah. Aditya berbaring di kasur lipat sambil memandangi Shahzain, yang sedang menyusu dari botol. Aditya tersenyum menyaksikan mata Shahzain yang telah nyaris menutup, sedangkan mu

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 121

    121Alodita mengulum senyuman ketika mendengar percakapan satu arah Aditya, dengan janin dalam perutnya. Alodita terkekeh kala Aditya menjanjikan berbagai barang yang akan dibelikan olehnya, jika bayi mereka lahir kelak. Alodita memandangi saat Aditya mengecup perutnya, lalu menempelkan telinga kanan. Alodita kembali tersenyum, ketika Aditya heboh saat merasakan pergerakan dari dalam perutnya. "Enggak sabar pengen ketemu mereka," cakap Aditya sembari menegakkan badan. "Aku malah nggak sabar buat belanja," sahut Alodita. "Belum boleh, ya?" "Hu um. Tunggu nyampe 7 bulan." Aditya memindai sekitar. "Kayaknya dinding harus dijebol." "Buat apa?" "Bikin pintu, buat nyambungin kamar sebelah ke sini." "Enggak usah. Di sini muat, kok. Cuma tambah kasur dan laci kabinet. Bisa taruh di situ." Alodita menunjuk sisi kiri. "Sofanya dipindah ke dekat pintu," lanjutnya. "Sempit, Bun. Kasurnya, kan, dua." "Satu aja, yang gede." "Nanti cuma kepake sebentar. Mending langsung 2." "Pertumbuhan

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 120

    120Suara berisik dari luar rumah menyebabkan Aditya terbangun. Dia mengerjapkan mata beberapa kali, lalu menggeliat hingga tulangnya berderak. Aditya memandangi langit-langit kamar sembari mengumpulkan nyawanya yang sempat berserakan. Pria berkaus hijau itu bangkit duduk dengan bertumpu pada kedua siku. Dia berdiam diri sesaat, kemudian beringsut ke tepi kasur dan menapakkan kaki ke lantai. Puluhan menit terlewati, Aditya telah berada di ruang makan. Dia menikmati lontong sayur sambil mendengarkan ocehan Alodita. Aditya manggut-manggut tanpa menyela. Dia baru urun suara, setelah Alodita berhenti berceloteh. "Habis berapa beli antaran buat lamaran?" tanya Aditya. "Sekitar 30 juta," jawab Alodita. "Banyaknya?" "Isinya komplet, Yah. Sama sepaket perhiasan lengkap." Alodita memandangi lelakinya yang tengah menyeruput kopi. "Ratifa, kan, yatim. Jadi aku pikir, kita mesti ngasih banyak untuk membuat dia dan keluarganya senang," lanjutnya. "Hmm, berarti buat akadnya aku mesti nambah l

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 60

    60Sepasang manusia tengah berdansa di dalam ruangan tertutup. Alunan lagu You Are The Sun In My Life, mengiringi langkah keduanya mengitari area kamar luas itu. Alodita merapatkan badannya ke Aditya. Perempuan bergaun putih itu memeluk pinggang suaminya, sembari menyandarkan kepala ke dada pria t

    last updateLast Updated : 2026-03-27
  • AJUDAN SELEMBE    Bab 59

    59Pekikan Alodita, mengejutkan semua orang di kediaman Aditya. Seekor kucing putih melesat keluar dari kamar mandi di dekat dapur. Kucing itu bersembunyi di balik sofa, lalu sibuk menjilati badannya yang basah. Alodita muncul dari toilet dan celingukan mencari piaraan barunya. Perempuan bersetela

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • AJUDAN SELEMBE    Bab 57

    57"Kamu sudah memfitnahku dan Bang Adit. Kamu bikin papaku masuk rumah sakit. Kamu menyebarkan video dan foto mesum orang yang mirip aku sama suami, ke grup kantor, dan teman-teman Papa!" sentak Alodita sambil memelototi Ramzi. "Jangan ngebantah! Semua penyelidikan interpol mengarah ke kamu dan 2

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • AJUDAN SELEMBE    Bab 62

    62 Jalinan waktu terus berjalan. Dimas dan timnya telah kembali ke Jakarta. Begitu pula dengan Farras dan Adam. Ramzi tetap tinggal di Ontario dengan ditemani Baryal Dardiatna, guna menyelesaikan semua urusannya.Siang itu, Dimas dan Lazuardi mendatangi Aditya di ruang kerjanya. Ketiga pria berbeda

    last updateLast Updated : 2026-03-27
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status