Teilen

Bab 107

last update Zuletzt aktualisiert: 14.03.2026 10:10:11

107

Udara segar Pangalengan, menyambut indra penciuman Alodita di pagi itu. Perempuan tersebut berdiri di taman depan bungalo resor milik BPAGK, yang berada di kawasan nan sejuk itu.

Alodita mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dia menyunggingkan senyuman, karena menyukai pemandangan alam yang indah, dan suasana resor yang tenang.

Tatapan Alodita beralih ke lapangan golf di bawah bukit. Dia mengamati kelompok pria yang tengah jalan ke dekat danau. Sementara semua bocah diajak para asisten untu
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 107

    107Udara segar Pangalengan, menyambut indra penciuman Alodita di pagi itu. Perempuan tersebut berdiri di taman depan bungalo resor milik BPAGK, yang berada di kawasan nan sejuk itu.Alodita mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dia menyunggingkan senyuman, karena menyukai pemandangan alam yang indah, dan suasana resor yang tenang. Tatapan Alodita beralih ke lapangan golf di bawah bukit. Dia mengamati kelompok pria yang tengah jalan ke dekat danau. Sementara semua bocah diajak para asisten untuk bermain games secara kelompok.Alodita menoleh ke kiri ketika dipanggil Karenina. Perempuan bersetelan kaus sage itu mendekati sang ipar, kemudian keduanya jalan menuruni bukit sambil bergandengan tangan. Vanetta, Irshava, Yuanna, Asmiratih, Fenita, Levanya, Melissa, Tanti, Leni, Lilakanti, Arista, Rinjani, Sitha, Cyra, Zivara, Renata, Zaara, Hana, dan Jane, menyusul sembari membawa berbagai perlengkapan. Sedangkan sisanya tetap bertahan di bungalo masing-masing untuk meneruskan Istirahat. K

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 106

    106*Tim Lapis 1-20*Jaka : Apa sudah pada ngumpul di rumah W? Darma : Aku, Adit, Bang Nasir, Asmi, Juno, Mahesa, dan Bang Jaiz, masih otw dari Bandung. Qadry : Aku sudah tiba dari pagi. Sekarang lagi ngebakar ikan koi. Syuja : Aku bagian bikin bakso daging onta. Zikria : Aku tim dumpling daging ikan piranha. Satya : Aku kepala koki, menyajikan menu khusus sop iga brontosaurus, dan iga bakar T-rex. Deswin : Aku lagi goreng tahu dan tempe, plus sate kulit anaconda.Jariz : Aku sedia sambal belut listrik, daging kuda nil rica-rica, dan suwir daging gajah. Bambang : Menunya, di luar prediksi BMKG. Panji : Ngebayangin makan belut listrik, langsung gemetaran aku. Sanjaya : Aku penasaran sama iga bakarnya Satya. Raffan : Kayaknya enak. Uday : Urusan masak, Satya memang jagoan. Santos : Asal jangan suruh dia nyanyi. Jivaj : Meledak speakernya. Ryan : Nari juga nggak pandai. Girish : Main gitar pun ala kadarnya. Yusuf : Piano, jarinya kepelecok mulu. Hans : Aku pikir, Satya

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 105

    105 Sore itu, empat unit mobil MPV berbagai warna, melaju di jalan bebas hambatan menuju luar kota. Aditya yang mengemudikan sendiri mobil barunya, berbincang santai dengan Syahban yang mendampinginya di kursi depan. Alodita, Natarina dan Asmiratih yang menempati kursi tengah, sibuk membahas detail resepsi ngunduh mantu, yang akan dilangsungkan pada minggu kedua bulan Juli. Ratifa Unaysah, calon istri Narapati, merupakan yatim dan memiliki dua orang Adik laki-laki. Ratifa bekerja sebagai staf keuangan MRV, perusahaan buatan tiga robot yang dipimpin Biantara Balasena. Ratifa menyerahkan semua urusan tentang antaran itu pada keluarga Narapati. Sebab Ratifa yakin jika pilihan Natarina, Alodita dan Asmiratih, pastinya bagus serta berkualitas tinggi. "Bang, Mommy Renata ngasih kado gaun pengantin buat resepsi di Depok," tutur Alodita sembari membaca pesan di layar ponselnya. "Mbak Dahayu, nyumbang gaun buat resepsi ngunduh mantu," lanjutnya. "Alhamdulillah. Ingatkan aku buat ngubungi

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 104

    104 Pagi di hari Iedul Fitri pertama, disambut gembira seluruh umat muslim di dunia. Mereka berbondong-bondong menuju masjid besar ataupun tempat-tempat khusus, yang disediakan pemerintah kota, guna menunaikan salat Iedul Fitri. Begitu pula yang dilakukan oleh Alodita dan Aditya. Bersama keluarga besar Bryatta, mereka turut menunaikan ibadah dengan khusyuk, di masjid besar pusat Kota Ciledug. Seusai salat, mereka bergegas menuju mobil supaya bisa segera pulang. Namun, karena banyaknya orang dan kendaraan lainnya, perjalanan itu sempat terhambat. Setibanya di rumah Syahban, Alodita segera menaiki tangga ke lantai 2. Dia menyambar handuknya dari gantungan di balkon, lalu memasuki toilet untuk membersihkan diri.Belasan menit berlalu, Alodita telah bergabung dengan keluarga Bryatta di ruang tengah. Alodita menyambangi suaminya, lalu menyalami Aditya dengan takzim. Perempuan bergamis biru muda itu menegakkan badan, kemudian memeluk lelakinya yang balas mendekap Alodita dengan erat. B

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 103

    103 Ruang rapat di kantor GUNZ siang itu tampak ramai orang. Mereka bergantian membacakan laporan proyek pegangan masing-masing, sampai tuntas. Aditya memegangi lehernya yang terasa kering. Meskipun di dalam ruangan itu sejuk, karena adanya AC, tetapi tetap kalah dingin daripada Toronto. Aditya mengedarkan pandangan ke sekeliling, sebelum tersenyum, karena rekan-rekannya juga turut memegangi leher masing-masing. Pertanda jika mereka juga kehausan. "Sudah semua, kan?" tanya Wirya yang menempati kursi di dekat ujung kanan meja oval. "Sudah," jawab beberapa orang di sekitar."Kalian ini. Lemas amat," ledek Wirya. "Kami masih manusia, Bang. Bukan robot, kayak Abang," kilah Jauzan Rengku Madhani, direktur utama WAR. "Aku juga manusia. Makannya kupat sama sate. Atau roti cane gulai daging. Minumnya, es teler dan es campolai," goda Wirya "Gusti! Malah disebutin," keluh Arudra, yang menjabat sebagai direktur utama JVS. "W, tolong kasihanilah mualaf ini," bujuk Sebastian, sang direktur

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 102

    102Alodita menciumi dahi dan kedua pipi Adyata dalam gendongannya. Alodita berusaha keras menahan tangis, karena sedih berpisah dengan bayi yang sudah diasuhnya selama dua bulan terakhir.Aditya turut menciumi anak angkatnya, lalu dia memandangi Adyata yang balas menatapnya penuh minat. Aditya mengusap rambut Adyata, sambil menahan sesak dalam dada. "Sehat terus ya, Nak," ucap Aditya. "Kalau Bunda sudah kuat, kami akan ke Semarang buat jenguk kamu," lanjutnya. "Kami tunggu, Dit," sahut Raka yang datang untuk menjemput keluarganya. "Mas, kalau dinas ke sini, kabarin. Kusamperin," terang Aditya. "InsyaAllah. Aku memang berencana buat mutasi. Semoga ada celah di sini," ungkap Raka. "Syukurlah. Kalau Mas stay di sini, bisa jadi partner PB dan PBK." "Itu memang tujuanku, sesuai arahan Bang Varo." "Titip salam buat Bapak dan Ibu," sela Alodita, sembari menyerahkan Adyata."Ya, Ta. InsyaAllah, kami sampaikan," jawab Devianti. "Salam juga buat keluarga kalian. Kalau bisa ke sini, aku

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status