LOGINAdit mesum.
76*Fans Alvaro Handsome*Jauhari : Grup naon, iyeu, teh? Yoga : @Varo. Hobi banget bikin grup baru.Nanang : Hapeku langsung ngadat. Kebanyakan grup. Haryono : @Bule, aku keki baca nama grupnya! Ganti ke Fans HAPD. Jeffrey : Lebih rumit itu, @Mas Yono. Erni : Pelik. Qadry : Sulit. Zulfi : Aya deui grup anyar! Dimas : Anggotanya banyak dan dari semua lapisan. Gilang : Aku kaget. Kirain grup Power Rangers. Logonya sama.Yusuf : @Padre, usilnya kumat. Nugraha : Kacau ini si bule. Hisyam : Aku malah mikirnya, ini bukan Bang Varo yang bikin.Mardi : Sudah jelas dia yang jadi adminnya, @Hisyam.Hisyam : Ya, @Bang Mardi, tapi coba cek semua anggotanya. Sebagian besar adalah mantan asisten atau ajudan Padre.Chairil : Aku baru cek, dan itu benar, @Hisyam Jaka : Apakah hape Varo dibajak? Fawwaz : Dijambret? Salman : Dicuri? Gumelar : Dibegal? Satrio : Dirampok? Harun : Dipinjam? Said : Diperiksa Madre? Beni : Aku langsung deg-degan. Fajar : Aku sampai celingukan. Ngeri istr
75Awal pekan itu, Aditya dan tim telah berada di area proyek Toronto. Sebagai ketua pengawas sekaligus yang paling senior, Aditya mengarahkan semua junior. Terutama beberapa bos PCT dan PCE yang baru kali itu menjadi pengawas proyek luar negeri. Alodita yang ikut ke lokasi proyek, membaca semua detail keuangan buatan staf dari tim support, yang isinya adalah warga lokal. Alodita mengernyitkan kening, saat merasa ada yang tidak beres dengan laporan itu. Sebagai direktur keuangan Daryantha Company, Alodita sudah terbiasa membaca banyak laporan yang rumit. Hingga dia cukup hafal dengan berbagai trik para pencuri uang proyek, yang melampaui batas kewenangan mereka dalam memegang uang kas. Selama hampir 1 jam, Alodita memeriksa detail pengeluaran dari awal mula proyek itu dicanangkan tim pusat. Alodita mendengkus kesal, ketika menyadari celah kecil yang digunakan pencuri, guna mengambil dana proyek yang nyaris tidak terpantau. Alodita memanggil Yuniar dan membisikkan sesuatu. Sang bod
74 Waktu terus berjalan. Seusai beristirahat tiga hari di kediaman keluarga Janitra di tepi Kota Vancouver, Rabu pagi itu Aditya mengunjungi kantor cabang PB dan PBK di pusat kota tersebut. Aditya mengumpulkan semua staf dan ketua regu, guna mendengarkan berbagai hal tentang pekerjaan di seputar Kanada. Aditya mengangguk paham ketika Diaz dan rekan-rekannya membeberkan beberapa kendala, yang mereka hadapi di beberapa unit kerja PB, di mana mereka menjadi pengawasnya. Semua ajudan baru yang akan bertugas di sana, mencatat informasi penting yang disampaikan para senior. Pandu sempat berdiskusi dengan Diaz, untuk mencuri ilmu ketua pengawal lama tersebut. "Wakilmu, siapa, Du?" tanya Diaz, sesaat setelah rapat usai. "Harusnya Abang nanya ke Bang Adit. Aku nggak tahu siapa yang akan ditunjuk," terang Pandu. "Loh, belum ditentukan?" "Belum. Tim cenayang lagi sibuk di banyak proyek." "Tumben? Biasanya Bang W gercep." "Itu gara-gara Bang W nyerahin tugas memantau itu, ke Hisyam dan Q
73Kamis sore, kedua orang tua Alodita datang bersama Bahuraska. Disusul Syahban dan Natarina, hingga suasana kediaman Aditya sontak bertambah ramai. Menjelang magrib, ketiga Adik Aditya muncul sambil membawa banyak makanan yang dipesan sang abang. Natarina, Nerissa, Larasati, dan Yuniar, bergegas memindahkan aneka panganan ke banyak wadah makanan. Sedangkan Asmiratih, Nareswara dan Narapatih, bergantian mandi serta bertukar pakaian. Tepat seusai azan magrib, belasan orang itu menunaikan salat tiga rakaat di ruang tengah. Setelahnya, keenam perempuan itu berdiri dan beranjak menuju dapur, untuk menyiapkan minuman serta peralatan makan. Para lelaki bekerjasama mengemasi sajadah, lalu Narapati menumpuk semua sajadah itu di meja dalam kamarnya, yang berada di dekat ruang tengah. Keluarga tersebut mengambil ransum di meja makan, kemudian Aditya dan keempat adiknya berpindah ke sofa ruang tengah, sedangkan yang lainnya tetap di meja makan. "Bang, jadwal meeting TOPAZ, sudah ada?" tany
72 Kelompok pimpinan Chairil tiba di rumah duka di Purwakarta, sore menjelang magrib. Seusai bersalaman dan berbincang selama belasan menit, tim Utari dan anak-anak diantarkan sopir bus ke hotel di pusat kota. Aditya dan rekan-rekannya tetap bertahan di rumah almarhumah. Mereka bergantian mandi dan bertukar pakaian, lalu bergegas menuju masjid terdekat untuk menunaikan salat Magrib berjemaah. Seusai beribadah, puluhan pria itu kembali ke rumah keluarga Yoga. Para ajudan membantu menyiapkan acara takziah pertama, yang akan dilangsungkan ba'da Isya. Yoga memanggil para juniornya untuk bersantap malam. Mereka harus bergegas makan, karena sejumlah tamu yang akan mengikuti takziah telah datang, dan duduk di karpet bawah tenda besar yang dipasang menutupi area halaman, hingga jalan depan rumah. Selama puluhan menit berikutnya, Aditya terlihat khusyuk melantunkan ayat suci. Dia sempat menengadah kala mikrofon berpindah tangan dari Ustaz setempat, ke seseorang yang suaranya sangat dikena
71Angin laut malam itu yang cukup kencang, diabaikan Aditya dan Alodita yang tengah bersantai di teras belakang bungalo, yang mereka tempati sejak tiga hari silam. Pekikan Avreen dari cottage sebelah kiri, menjadikan Aditya dan Alodita serentak menoleh. Mereka kaget melihat bocah laki-laki terjun ke laut. Disusul Jauhari yang hendak menangkap putra sulungnya. Jeritan Qizar yang protes diangkat papinya menuju tangga, menyebabkan Aditya dan Alodita tersenyum. Keduanya tergelak, karena Qizar berhasil meloloskan diri dan kembali terjun ke laut. Beberapa bocah lainnya menyusul dari balkon bungalo masing-masing. Meskipun diteriaki para Bapak, tetapi Tazara, Ryker, Renze, Qizar, Yazdan, Pasaga, Fahrizal, dan Zifary, tetap berenang dengan gembira. Hanya Yatha yang tidak ikut rekan-rekannya berenang. Gadis kecil itu justru tengah sibuk makan bersama Widha, sambil menonton para bocah lainnya di lautan. "Gusti! Pening pala aing!" seru Hisyam yang menempati bungalo samping kanan. "Dek, nant







