共有

Bab 94

作者: Olivia Yoyet
last update 最終更新日: 2026-03-03 12:03:40

94

Alodita meringis ketika Aditya memelototinya, yang hendak ikut salto. Alodita akhirnya hanya bisa memandangi rekan-rekannya sesama penari, yang tengah salto bolak balik dan saling silang.

Seusai latihan tim penari, Alodita dan teman-temannya duduk bersila di depan panggung. Mereka menonton latihannya tim akrobat, yang tengah mencoba menerapkan arahan Deswin, yang berdiri di tengah-tengah panggung.

"Honey, kaki kanan ditekuk, kaki kiri dibuka lebar!" titah Deswin yang segera dikerjakan Vane
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 105

    105 Sore itu, empat unit mobil MPV berbagai warna, melaju di jalan bebas hambatan menuju luar kota. Aditya yang mengemudikan sendiri mobil barunya, berbincang santai dengan Syahban yang mendampinginya di kursi depan. Alodita, Natarina dan Asmiratih yang menempati kursi tengah, sibuk membahas detail resepsi ngunduh mantu, yang akan dilangsungkan pada minggu kedua bulan Juli. Ratifa Unaysah, calon istri Narapati, merupakan yatim dan memiliki dua orang Adik laki-laki. Ratifa bekerja sebagai staf keuangan MRV, perusahaan buatan tiga robot yang dipimpin Biantara Balasena. Ratifa menyerahkan semua urusan tentang antaran itu pada keluarga Narapati. Sebab Ratifa yakin jika pilihan Natarina, Alodita dan Asmiratih, pastinya bagus serta berkualitas tinggi. "Bang, Mommy Renata ngasih kado gaun pengantin buat resepsi di Depok," tutur Alodita sembari membaca pesan di layar ponselnya. "Mbak Dahayu, nyumbang gaun buat resepsi ngunduh mantu," lanjutnya. "Alhamdulillah. Ingatkan aku buat ngubungi

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 104

    104 Pagi di hari Iedul Fitri pertama, disambut gembira seluruh umat muslim di dunia. Mereka berbondong-bondong menuju masjid besar ataupun tempat-tempat khusus, yang disediakan pemerintah kota, guna menunaikan salat Iedul Fitri. Begitu pula yang dilakukan oleh Alodita dan Aditya. Bersama keluarga besar Bryatta, mereka turut menunaikan ibadah dengan khusyuk, di masjid besar pusat Kota Ciledug. Seusai salat, mereka bergegas menuju mobil supaya bisa segera pulang. Namun, karena banyaknya orang dan kendaraan lainnya, perjalanan itu sempat terhambat. Setibanya di rumah Syahban, Alodita segera menaiki tangga ke lantai 2. Dia menyambar handuknya dari gantungan di balkon, lalu memasuki toilet untuk membersihkan diri.Belasan menit berlalu, Alodita telah bergabung dengan keluarga Bryatta di ruang tengah. Alodita menyambangi suaminya, lalu menyalami Aditya dengan takzim. Perempuan bergamis biru muda itu menegakkan badan, kemudian memeluk lelakinya yang balas mendekap Alodita dengan erat. B

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 103

    103 Ruang rapat di kantor GUNZ siang itu tampak ramai orang. Mereka bergantian membacakan laporan proyek pegangan masing-masing, sampai tuntas. Aditya memegangi lehernya yang terasa kering. Meskipun di dalam ruangan itu sejuk, karena adanya AC, tetapi tetap kalah dingin daripada Toronto. Aditya mengedarkan pandangan ke sekeliling, sebelum tersenyum, karena rekan-rekannya juga turut memegangi leher masing-masing. Pertanda jika mereka juga kehausan. "Sudah semua, kan?" tanya Wirya yang menempati kursi di dekat ujung kanan meja oval. "Sudah," jawab beberapa orang di sekitar."Kalian ini. Lemas amat," ledek Wirya. "Kami masih manusia, Bang. Bukan robot, kayak Abang," kilah Jauzan Rengku Madhani, direktur utama WAR. "Aku juga manusia. Makannya kupat sama sate. Atau roti cane gulai daging. Minumnya, es teler dan es campolai," goda Wirya "Gusti! Malah disebutin," keluh Arudra, yang menjabat sebagai direktur utama JVS. "W, tolong kasihanilah mualaf ini," bujuk Sebastian, sang direktur

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 102

    102Alodita menciumi dahi dan kedua pipi Adyata dalam gendongannya. Alodita berusaha keras menahan tangis, karena sedih berpisah dengan bayi yang sudah diasuhnya selama dua bulan terakhir.Aditya turut menciumi anak angkatnya, lalu dia memandangi Adyata yang balas menatapnya penuh minat. Aditya mengusap rambut Adyata, sambil menahan sesak dalam dada. "Sehat terus ya, Nak," ucap Aditya. "Kalau Bunda sudah kuat, kami akan ke Semarang buat jenguk kamu," lanjutnya. "Kami tunggu, Dit," sahut Raka yang datang untuk menjemput keluarganya. "Mas, kalau dinas ke sini, kabarin. Kusamperin," terang Aditya. "InsyaAllah. Aku memang berencana buat mutasi. Semoga ada celah di sini," ungkap Raka. "Syukurlah. Kalau Mas stay di sini, bisa jadi partner PB dan PBK." "Itu memang tujuanku, sesuai arahan Bang Varo." "Titip salam buat Bapak dan Ibu," sela Alodita, sembari menyerahkan Adyata."Ya, Ta. InsyaAllah, kami sampaikan," jawab Devianti. "Salam juga buat keluarga kalian. Kalau bisa ke sini, aku

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 101

    101Dahi Hisyam berkerut, karena sedang berpikir keras tentang daftar nama ajudan lapis 21 dan 22, yang akan disebar ke Eropa, serta Kanada, guna menggantikan tugas para senior mereka di kedua benua itu. Selain Hisyam, Jauhari dan Fikri juga terlihat sibuk dalam mengkalkulasi semua biaya operasional. Sedangkan Kimora dan Deswin tengah menyusun berbagai bahan proposal marketing baru, yang sesuai dengan perkembangan di luar negeri.Hanya Zikria yang tampak tenang. Dia membuat daftar orang-orang yang telah lulus diklat 4 angkatan ajudan terbaru, yang akan diserahkan pada Wirya, guna menentukan siapa saja yang masuk tim lapisan 26 hingga 28. "Zik, sudah beres?" tanya Hisyam, seusai memandangi pria berkumis tipis di kursi seberang. "Sudah," sahut Zikria. "Bantuin aku. Lieur." Zikria mengulum senyuman. "Abang nggak sabaran. Jadi kesal sendiri." Hisyam mendengkus pelan. "Nyusun beginian, langsung berdenyut kepalaku. Adit lebih sabar ngerjain kayak gini." "Dia sudah sibuk pegang operasi

  • AJUDAN SELEMBE    Bab 100

    100Semua pasang mata mengarah pada layar televisi besar, di sisi kanan tenda. Mereka mendengarkan tausiah singkat dari Haikal, yang menerangkan makna puasa dan fungsinya bagi tubuh, menggunakan bahasa Inggris fasih. Setelah 15 menit berkhotbah, Haikal mengadakan sesi tanya jawab selama 10 menit. Lalu dia menutup acara dengan untaian doa dalam bahasa Arab, yang diamini semua orang di bawah tenda, termasuk yang non muslim. "Dit, bayaran ane, jangan lupa," seloroh Haikal. "Ya, Bang. Nanti kutransfer ke rekening Abang," jawab Aditya. "Jangan ke rekening ane, tapi ke rekening Bariq. Buat tambahan dia masuk kuliah tahun ini." Aditya tertegun sesaat. "MasyaAllah. Bariq sudah mau jadi mahasiswa. Kirain masih SD." "Ane aja masih kaget. Tau-tau dia membesar dan menjulang. Bawa pacar ke rumah, tapi habis itu putus nggak jelas." "Astaga!" "Ane bilang, dia kudu belajar kesetiaan dari ane, ente, dan banyak Om lainnya. Jangan ikut aliran Hans, Arudra, Biantara, Farzan, Farisyasa, Mas Baskar

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status