Inicio / Romansa / AKAN KUTUNGGU / 1. Patah Hati

Compartir

AKAN KUTUNGGU
AKAN KUTUNGGU
Autor: Lis Susanawati

1. Patah Hati

last update Fecha de publicación: 2026-08-28 20:22:40

AKAN KUTUNGGU

- 1 Patah Hati

"Kenapa kamu bilang nggak ada pikiran untuk menikah? Rugi Bro, ketampanan dan kegagahanmu nggak berfungsi, sia-sia. Kekayaanmu juga untuk siapa. Ayolah, banyak yang mengantri untukmu," ujar Edi pada sahabat baik yang duduk merokok di depannya.

Mereka baru saja membahas tentang sahabat mereka yang baru menikah hari ini. Dan mereka baru pulang dari menghadiri resepsinya. Di antara lingkaran pertemanan mereka, hanya Khai yang masih betah sendirian. Teman-teman se-geng mereka sudah menikah semua.

"Wanita yang kucintai sudah menikah," jawab Khai datar dengan tatapan dingin sambil mengembuskan asap rokok ke udara. Pria berahang tegas yang ditumbuhi cambang tipis itu menatap langit malam yang kelam. Sekelam sorot matanya.

Edi menghela napas panjang, bersandar pada kursi kayu kafe outdoor yang cukup ramai malam itu. "Perempuan di dunia ini bukan cuma dia saja, Khai. Bumi nggak selebar daun kelor. Kenapa kamu nggak sedikit saja mempertimbangkan gadis yang hendak dijodohkan denganmu oleh orang tuamu. Kudengar dia anak rekan bisnis papamu, lulusan luar negeri, cantik, dan jelas bibit, bebet, bobotnya setara dengan keluargamu."

Khai menyeringai tipis. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman sinis yang penuh misteri. Ia menarik napas dalam-dalam dari rokok di sela jarinya. Membiarkan nikotin membakar dadanya sejenak sebelum kembali mengembuskannya.

Khaisar Luca Nathalaga. Nama itu bukan sekadar nama biasa di kalangan jetset ibu kota. Sosoknya adalah perpaduan sempurna yang seolah dipahat begitu indah. Berdiri setinggi 190cm, tubuhnya tegap atletis dengan bahu lebar yang kokoh. Khai mewarisi darah bangsawan Jawa yang kental dari sang ayah, berpadu dengan garis wajah Italia yang tegas dari kakek pihak ibunya. Garis rahangnya persegi dan kokoh, dihiasi cambang, membingkai wajah blasteran yang memikat. Mata elangnya yang tajam berwarna cokelat gelap, hidungnya mancung tinggi khas Mediterania, dan kulitnya sawo matang bersih. Kehadirannya selalu mendominasi ruangan, memancarkan aura maskulin yang dingin, berwibawa, sekaligus tak tersentuh. Khas wajah-wajah mafia yang kejam tak terbantahkan.

"Lupakan Nindiya, Khai," ucap Edi lagi, nadanya berubah lebih serius dan pelan. "Jelas-jelas dia yang meninggalkanmu dan memilih menikah dengan pria lain. Kenapa kamu masih sebodoh ini? Menunggu dan mencintai wanita yang bahkan mungkin nggak memikirkanmu lagi saat ini?"

Mendengar hal itu, Khai tidak menjawabnya sama sekali. Ia tetap bungkam, seolah kata-kata Edi hanya angin lalu. Mata elangnya menatap tajam ke angkasa malam yang pekat tanpa bintang. Namun di balik tatapan yang biasanya sanggup mengintimidasi siapa saja itu, ada kilatan luka yang amat dalam dan kerinduan yang tak berkesudahan. Sunyi yang diciptakannya terasa begitu menyiksa.

Edi menggelengkan kepala karena heran. "Aku benar-benar nggak habis pikir. Apa sih yang kurang dari seorang Khaisar Luca Nathalaga? Kamu kaya raya, lahir di keluarga terpandang, keturunan darah biru. Kamu punya segalanya untuk mendapatkan wanita mana pun di dunia ini. Mau model kelas atas, artis, sampai putri pengusaha sukses, semuanya mengantri, Khai. Mereka bakal sukarela menyerahkan diri untuk bersanding denganmu. Sudah hampir dua tahun, dia meninggalkanmu."

Hening. Edi menghela napas panjang. Ia sebenarnya sudah lelah ikut campur urusan pribadi sahabatnya, tapi entahlah. Mungkin karena ia memang peduli pada Khaisar karena mereka sudah bersahabat sejak masih kecil. Ayahnya Edi, orang kepercayaan Pak Hangga. Papanya Khai.

Edi heran, secinta itu Khai pada perempuan itu. Nindiya Adhiswari. Dia cuma wanita biasa, anak pegawai rendahan, yang tega meninggalkan Khai demi pria lain. Tak ada masalah apapun, tiba-tiba memutuskan hubungan lalu pergi. Sebulan kemudian tunangan dan langsung menikah.

Udara malam yang dingin terasa kian membeku. Khai masih saja bungkam, tak berniat menanggapi ucapan sahabatnya. Dan begitulah sosok Khai yang dikenal dunia luar. Dingin, misterius, dan tak tersentuh. Ia bagaikan batu es yang kokoh.

"Kemarin aku sempat ngobrol sama mamamu. Pas aku ke rumahmu. Tante Juliana nanya apa kamu punya gebetan baru. Makanya nggak respon soal perjodohan. Kujawab nggak ada. Mamamu resah, Khai."

Kali ini Khai menoleh pada sang sahabat. Tatapannya tajam. "Kalau mamaku tanya tentangku, jangan cerita apapun. Bilang saja kamu tidak tahu. Jangan ceritakan kalau aku masih sering membahas tentang Nindiya."

Edi menatap teman sekaligus bosnya itu. Sebab dia asisten pribadi Khai. "Oke."

"Ingat. Apapun yang kamu tahu tentang Nindi, jangan ceritakan pada mamaku atau pun papa."

"Ya." Edi mengangguk. Jika Khai sudah memberikan larangan, pasti ada alasannya. Edi tahu kalau Pak Hangga dan Bu Juliana sangat marah karena Nindiya meninggalkan putranya.

Khai seperti orang gila diputuskan begitu saja. Dia masih berusaha mempertahankan dengan menemui Nindiya. Namun perempuan itu tak pernah mau menemuinya lagi.

Putusnya hubungan mereka membuat heboh kantor. Sebab Nindiya juga bekerja di perusahaan milik keluarga Khai. Saat memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan Khai, Nindiya juga resign dari pekerjaannya.

Suasana di antara mereka kembali hening. Hanya terdengar suara gesekan dedaunan yang ditiup angin malam dan sayup-sayup musik jaz instrumental yang diputar dari pengeras suara kafe.

"Di usiaku yang sekarang, aku sudah melihat bagaimana teman-teman seusiaku atau seusia di bawahku pada menikah, punya anak, dan bercerai," kata Khai.

"Nggak semua hubungan pernikahan berakhir tragis."

"Aku tahu. Tapi sudah kubilang tadi, wanita yang kucintai sudah menikah."

"Masih ada gadis lain."

Khai tersenyum sinis sambil mengisap rokoknya kembali. Dan suasana kembali diam di antara mereka.

Hingga tiba-tiba, pria yang membeku itu menegakkan duduknya. Kaki kanannya yang semula menumpang pada kaki kiri langsung diturunkan ke lantai. Matanya yang tajam terpaku pada pintu masuk kafe.

Edi mengernyitkan dahi melihat perubahan sikap Khai yang begitu drastis. Ia menoleh, mengikuti arah pandang sahabatnya. Di sana seorang laki-laki tampan bertubuh jangkung sedang melangkah masuk dengan santai, bersama seorang wanita yang mengenakan terusan berwarna pastel.

Rahang Khaisar mengeras seketika melihat mereka. Edi pun memandang dua orang yang baru masuk ke kafe dan ikut terkejut.

Next ....

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Comentarios (13)
goodnovel comment avatar
Anies
hola thor.. ketemu lagi kitaaaa
goodnovel comment avatar
Wili yana
gak ada notifnya tau-tau udah banyak aja babnya
goodnovel comment avatar
thoriq fikri
siapa yang datang...nindyakah?
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • AKAN KUTUNGGU   129. Malam 3

    Itu adalah penyesalan terdalam dalam hidup Indra. Dulu ia terlalu buta oleh ego dan godaan luar hingga mengabaikan kerapuhan istrinya. "Andai saja anak itu hadir dan selamat, pasti hubungan kami masih bisa diselamatkan. Nindiya pasti bersedia memaafkanku demi anak kami," batinnya meraung hampa.Namun benaknya mendadak menangkap satu hal yang mengusik. Nindiya pasti sudah sadar kalau dirinya sedang hamil saat proses perceraian mereka bergulir di Pengadilan Agama. Namun wanita itu memilih bungkam, tidak memberitahunya, dan sama sekali tak berniat mencabut gugatan. Nindiya justru membiarkan persidangan yang melelahkan itu berlanjut hingga tujuh kali sidang sampai ketukan palu hakim resmi memutus hubungan pernikahan mereka.Indra menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya. Sebuah ironi yang menyiksa. Kenapa rasa cintanya pada Nindiya justru kian menggila dan membakar jiwanya saat wanita itu benar-benar telah pergi."Lalu bagaimana sekarang dengan Cinda?" tanya Hari memecah keheningan

  • AKAN KUTUNGGU   128. Malam 2

    Padahal sejak awal mereka telah sepakat untuk menunda momongan selama satu tahun ke depan. Hal itu demi memulihkan kondisi fisik Nindiya pasca keguguran, memberi ruang baginya untuk kembali merintis karier, serta menjaga kerahasiaan pernikahan mereka untuk sementara.Begitu keheningan kembali menyergap ruangan, Nindiya yang baru tersadar langsung berbisik parau. "Mas, aku ke kamar mandi sebentar, ya."Padahal Khaisar masih ingin merengkuh dan mendekap tubuh istrinya. Namun Nindiya dengan tergesa meraih pakaian di lantai, mengenakannya seadanya, lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.Beberapa menit berlalu, Nindiya belum juga keluar. Khaisar mulai merasa khawatir. Dengan cemas, ia turun dari pembaringan tanpa mengenakan atasan dan mengetuk pintu itu. "Honey, kamu tidak apa-apa?" teriak Khaisar dari luar."Aku tidak apa-apa, Mas! Ini aku mau keluar," sahut Nindiya dari dalam.Pintu terkuak pelan. Dua pasang mata itu saling bertumpu tepat di ambang pintu. Nindiya sempat terpana menden

  • AKAN KUTUNGGU   127. Malam 1

    AKAN KUTUNGGU- 48 Malam Deluxe room itu menjadi satu-satunya kamar yang bisa dipesan dadakan sore tadi oleh Khaisar. Sebuah jendela kaca berukuran besar membentang langsung menghadap ke arah pantai. Di dalam ruangan, hembusan pendingin udara bekerja maksimal membalut kehangatan pasangan yang baru saja mengikat janji suci.Usai merampungkan salat Isya berdua, Nindiya melangkah mendekati jendela kaca. Di bawah sana, pendar lampu-lampu taman dan dermaga kelap-kelip begitu indah menembus pekatnya malam.Khaisar baru saja hendak melangkah mendekatinya ketika dering ponsel di atas meja menghentikan. Nama mamanya tertera di layar. Sebelum menggeser tombol hijau, Khaisar sempat bertukar pandang dengan Nindiya sejenak."Halo, Ma," sapa Khaisar tenang."Where are you, Khai? Di telepon dari tadi malam tidak diangkat. Pagi tadi malah mematikan ponsel. Mama khawatir," cecar Bu Juliana dari seberang sana dengan nada gusar campur cemas."Aku baik-baik saja, Ma. Tidak perlu khawatir," balas Khaisar

  • AKAN KUTUNGGU   126. Ikatan 3

    "Pasti, Pak. Saya janji akan menjaga Nin dengan seluruh hidup saya," jawab Khaisar mantap, menyalami dan mencium tangan bapak mertuanya penuh hormat. Setelah prosesi akad usai dan para undangan dipersilakan menikmati hidangan sederhana yang disajikan, keluarga inti Nindiya bersama keluarga Rio berkumpul di depan pelaminan kecil untuk mengabadikan momen kebersamaan mereka melalui kamera pribadi. Senyum bahagia akhirnya terbit sempurna di wajah Khaisar dan Nindiya. Dua hati yang kini telah resmi menyatu dalam ikatan suci. 🖤LS🖤 Setelah setengah hari dihabiskan bersama keluarga, menjelang sorenya Khaisar dan Nindiya bersiap untuk keluar. Mereka akan ke pantai Matras. Jaraknya sekitar tujuh kilometer dari rumah Nila. "Kalian mau menginap di sana malam ini?" tanya Nila lirih pada adiknya. "Mas Khai nggak bilang ngajak nginap, Mbak." "Oke, bawa ini. Hadiah dari Mbak." Nindiya memegang pemberian kakaknya yang masih terbungkus rapi di dalam goodie bag lalu membawanya ke kamar.

  • AKAN KUTUNGGU   125. Ikatan 2

    MUA langganan Nila juga telah datang sejak habis subuh. Sepasang busana pengantin adat Jawa berwarna putih bersih yang dipesan Nila ternyata sangat pas di tubuh kedua calon mempelai. Hanya saja, kebaya yang dikenakan Nindiya terasa sedikit longgar di bagian pinggang."Kamu agak kurusan ya, Nin?" tanya Nila seraya merapikan lipatan kain kebaya di punggung adiknya.Nindiya menatap pantulan dirinya di cermin meja rias. "Iya, Mbak. Bobotku turun dua kilo belakangan ini.""Nanti setelah nikah harus digemukkan lagi sedikit. Biar kelihatan lebih segar dan berisi," saran Nila.Bu Mira yang menghampiri ikut menimpali sambil mengelus bahu putrinya. "Adikmu ini memang sering sekali begadang kalau malam, La. Lagi ngebut menyelesaikan desain-desain bajunya sampai lupa waktu.""Mbak tahu kamu sedang memulai semuanya, Nin. Tapi tetap tahu waktu. Semoga kamu sukses dengan apa yang telah kamu rencanakan.""Aamiin. Makasih, Mbak." Nindiya membalas tatapan kakaknya dengan lembut.Sementara itu di kamar

  • AKAN KUTUNGGU   124. Ikatan 1

    AKAN KUTUNGGU- 47 Ikatan Pesawat terbang dari Bandara Juanda tepat pukul 18.00 WIB. Dari dalam kabin pesawat, Nindiya memandangi pendar lampu Kota Surabaya yang perlahan mengecil di balik jendela."Kita mungkin baru sampai di sana tengah malam, Mas. Belum tahu berapa lama kita transit di Jakarta nanti. Waktu Ibu terbang kemarin, sampai di Bandara Depati Amir sudah jam satu siang karena lamanya transit," kata Nindiya memandang pria di sampingnya.Khaisar tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Nin. Ini akan menjadi perjalanan panjang kita."Dada Nindiya berdebar. Memikirkan betapa ajaibnya takdir membawanya kembali pada Khaisar. Pria yang harus ia lupakan semenjak ia memutuskannya. Mengingat begitu banyak yang mereka lalui, membuat sekujur tubuh Nindiya terasa panas dingin oleh debar membuncah. Demi bisa bersama, mereka harus menikah di tempat yang jauh dari Surabaya. Melakukan perjalanan panjang.Dari Surabaya memang tidak ada jalur penerbangan langsung menuju Pulau Bangka. Mereka harus tr

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status