INICIAR SESIÓNAKAN KUTUNGGU
- 2 Bau Busuk "Siapa perempuan yang bersamanya itu?" tanya Edi. "Sepupunya," jawab Khai pendek. Rahang tegasnya masih mengeras dengan tatapan tajam seakan menembus kaca hingga ke dalam sana. "Sepupu? Kenapa sikap mereka keliatan beda gitu." Insting Edi bekerja dan cukup peka. Khai tersenyum sinis. Di balik jendela besar kafe, tampak Indra suami Nindiya sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita. Mereka ngobrol begitu akrab dan tak seperti sepupu yang sewajarnya. "Apa mereka selingkuh?" Edi memastikan, tatapannya masih ke dalam. Khai mengisap kembali rokoknya. Sorot mata tajamnya berkilat sangat berbahaya karena amarah. "Menurutmu bagaimana?" tanya Khai balik. "Terasa ganjil kalau akrabnya beda gitu. Apa kira-kira Nindi tahu hal itu?" tanya Edi lagi. "Aku tak tahu." Ia memang tidak tahu apakah Nindiya sudah mengendus kebusukan suaminya atau belum. Namun tangan besarnya di atas meja kini mengepal kuat. Amarah yang bergemuruh di dadanya terasa begitu panas. Pria yang dipilih Nindiya ternyata tak lebih dari seorang bajingan rendahan. Kaya, tapi tidak punya martabat. Pikiran Khaisar melayang pada masa lalu. Padahal selama bersama Nindiya dulu, jangankan sampai berselingkuh, melirik wanita lain pun Khai tidak pernah. Dunianya hanya berporos pada wanita itu. Bahkan setelah ditinggalkan hampir dua tahun lamanya, keturunan Jawa-Italia itu masih memilih bertahan sendirian dalam kesunyian. Dan sekarang wanita yang dicintainya itu justru diselingkuhi. Mustahil kalau lelaki dan perempuan di dalam sana itu tidak memiliki hubungan rahasia. Bukannya menertawakan nasib malang Nidiya, Khai justru murka setengah mati pada Indra. Bisa-bisanya laki-laki itu mengkhianati Nindiya yang begitu berharga. Khai tiba-tiba merapatkan jaket kulitnya, lalu berdiri tegak. Wajah tampannya mengeras, menahan murka yang siap meledak. "Kamu mau ke mana?" Edi yang sudah sangat hafal bagaimana tabiat bosnya jika sudah dikuasai emosi, segera ikut berdiri. Ia buru-buru menahan pundak tegap Khaisar. "Bro, tenang dulu. Jangan lakukan tindakan gegabah di sini. Itu hanya akan mempermalukan dirimu sendiri." "Aku tak peduli. Minggir, Ed. Aku harus memberi pelajaran pada bajingan itu," desis Khai. Suara baritonnya terdengar rendah dan penuh ancaman. Ia memaksa ingin melangkah, hendak menemui lelaki di dalam sana untuk melayangkan bogem mentah. Namun Edi mati-matian menahannya, pasang badan di depan Khai. "Jangan, Bro. Tahan dirimu. Kalau kamu menghajarnya di depan publik, posisimu yang akan sulit. Nama baik keluargamu akan terseret." Edi tahu benar, kalau Khai sudah bertindak dengan ototnya, semuanya bisa hancur berantakan. Dan pria di dalam sana, juga bukan lelaki dari kalangan biasa. Setelah dicegah mati-matian dan diingatkan soal logika, napas Khai yang memburu perlahan mulai mengendur. Emosinya yang meluap perlahan mereda, meski tatapannya masih sedingin es. Ia akhirnya mengalah dan kembali duduk di kursinya dengan kasar. "Ambil gambarnya, Ed," perintah Khai. Melihat Khai sudah bisa mengontrol diri, Edi bangkit berdiri lalu mengambil gambar dengan ponselnya. Ia mengambil beberapa foto pria di dalam sana yang masih asyik dengan sepupunya. Namun ia tidak langsung mengirimkannya pada Khai malam ini. Bukan sekarang saat yang tepat karena emosi Bos-nya masih tidak stabil. Tak lama kemudian, Khai bangkit dari duduknya. "Ayo pergi, Ed. Udara di sini mendadak bau busuk," ajak Khai dingin, lalu melangkah lebar meninggalkan tempat itu dengan dada yang masih bergemuruh oleh amarah yang baru saja tersulut. 🖤LS🖤 "Khai, kamu dari mana? Amara tadi ke sini. Lama nungguin kamu pulang." Ucapan sang mama menyambut Khai yang baru saja melangkah masuk menembus pintu utama rumah megah bernuansa klasik perpaduan antara Eropa dan Jawa. "Dari menghadiri resepsi nikahan teman, Ma," jawab Khai datar, menanggapi sekadarnya sambil melepaskan jam tangan mewahnya. "Kapan giliran kamu? Teman-teman dekatmu sudah pada menikah semua," cecar Bu Juliana, menatap putra keduanya yang berdarah blasteran Jawa-Italia itu dengan pandangan menuntut. Khai tidak langsung menjawab. Dengan helaan napas berat, pria bertubuh jangkung itu menjatuhkan duduknya di sofa beludru seberang meja, tepat berhadapan dengan sang mama. Wajah tampannya tampak lelah, tapi gumpalan emosi dari kejadian di luar sana masih tersisa di matanya. Melihat respons dingin sang anak, Bu Juliana mendengus kesal. "Mama nggak suka kamu masih mikirin perempuan pengkhianat itu. Jelas-jelas dia pergi dengan lelaki lain, kamu masih saja terpuruk menyesalinya!" omel Bu Juliana sewot. Wanita paruh baya yang masih tampil modis dan elegan itu mulai mengomel panjang lebar. Ia membanding-bandingkan Nindiya yang dianggapnya tidak tahu diri dengan Amara yang berasal dari kalangan terpandang. Namun Khai hanya diam membeku. Garis rahangnya yang kokoh mengetat, menahan diri agar tidak mendebat mamanya sendiri. "Pokoknya Mama nggak mau tahu. Rencana perjodohan kamu dan Amara akan tetap dilangsungkan bulan depan. Nggak ada penolakan lagi," tegas Bu Juliana mengakhiri omelan panjangnya. Baru saat itulah Khai membuka suara. Dengan tatapan mata elangnya yang tajam dan menusuk, ia menyahut dengan suara bariton yang rendah. "Aku tetap menolak, Ma. Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menikahi Amara." Bu Juliana terbelalak, tak percaya dengan ketegasan putranya. "Kenapa kamu sekeras kepala ini, Khai? Amara itu kurang apa? Dia cantik, berpendidikan, dan yang paling penting, Amara itu sudah lama menyukai kamu. Dia tulus!" Mendengar hal itu Khai tetap tidak peduli. Sudut bibirnya menyunggingkan senyum sinis yang dingin. Cinta Amara sama sekali tidak memiliki arti apa pun di hatinya yang telah mati rasa. Bagi Khaisar, hanya ada satu nama yang mampu menggerakkan jiwanya, dan itu bukan Amara. Tanpa berniat memperpanjang perdebatan yang sia-sia, Khai bangkit berdiri. Postur tegapnya yang menjulang seketika mendominasi ruangan. "Maaf, aku mau istirahat dulu, Ma. Permisi," ucapnya dingin. Khai bangkit dan melangkah lebar, menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua, meninggalkan sang mama yang masih meradang menahan geram di ruang keluarga sendirian. 🖤LS🖤 Pagi itu kota Surabaya begitu cerah. Jalanan utama sudah macet dengan kendaraan yang kesemua pengemudinya ingin cepat sampai ke tujuan. Namun kemacetan kali ini terasa berbeda. Beberapa meter di depan mobil yang dikendarai Khai, ada keributan. Saat memandang ke depan, ia melihat kelebat perempuan yang sangat dikenalinya sedang dikerumini beberapa orang yang sedang marah. Buru-buru Khai menepikan mobil dan turun. Ia berlari kecil menghampiri. "Nin, ada apa?" tanyanya pada wanita yang terlihat panik itu. "Mbak ini yang nabrak bapak itu, Mas. Bawa mobil nggak ikut aturan," jawab seorang laki-laki dengan tatapan melotot pada Nindiya. Khai memperhatikan bapak tua yang duduk di pinggir jalan sambil memegangi kakinya sambil dikerumini beberapa orang. "Bapak tadi yang nyeberang nggak lihat-lihat, Pak. Tapi saya akan tanggung jawab." Nindiya membela diri dengan wajah cemas. Namun orang-orang tetap memakinya. "Maaf, tenang Bapak-bapak semuanya. Saya yang akan mengurusnya. Naikkan ke mobil saya, biar saya yang membawanya ke rumah sakit," kata Khai pada orang-orang. "Jangan. Biar aku yang mengurusi sendiri," cegah Nindiya. "Kamu pergi saja, Mas. Ini tanggung jawabku," lanjut wanita itu tanpa memandang Khai. "Kenapa sih, kalian berdebat. Bukannya langsung menolong korban," hardik salah satu laki-laki dengan tatapan penuh amarah. "Bawa ke mobil saya, Pak," kata Khai. Dan dua lelaki di sana langsung membopong tubuh si bapak. Pada saat yang bersamaan ada motor polisi menghampiri. Nindiya terlihat panik. "Jangan panik, nanti aku akan menyusulmu," bisik Nindiya sebelum beranjak pergi. "Nggak usah," jawab Nindiya cepat. Khai menatapnya tajam, begitu lekat, lantas melangkah ke arah mobilnya. Next ....AKAN KUTUNGGU- 5 Demi Perempuan Itu "Nin, aku pergi dulu." Indra berhenti di pintu dan menoleh karena sang istri belum menjawab ucapannya. "Terserah kamu, Mas," jawab Nindiya sambil memejam. Ia enggan sekadar mengalihkan pandangan untuk menatap punggung pria itu meski hanya sejenak.Indra menutup pintu lantas melangkah cepat menuruni tangga. Bersamaan dengan itu air mata Nindiya luruh tak terbendung. Rasa sakit kembali menghujam dadanya begitu dalam. Suaminya lupa menanyakan keadaannya paska terjadi srempetan tadi pagi, tapi dia begitu tergesa saat mendengar Cinda dalam masalah. Begitu ya? Nindiya menarik napas dalam-dalam sambil mengubah posisi. Memandang langit-langit kamar yang temaram."Mereka nggak ada hubungan apa-apa, Nin. Percaya sama Mama. Indra hanya kasihan pada Cinda saja," begitulah mama mertuanya selalu menenangkannya tiap kali ia mempertanyakan kedekatan sang suami dengan sepupunya itu. Wanita paruh baya itu selalu meyakinkan bahwa ikatan di antara Indra dan Cind
AKAN KUTUNGGU - 4 Kembali Terluka"Mama begitu akrabnya dengan Lara," seloroh Khai saat sang mama melangkah mendekatinya di lobi kantor. Pria itu baru saja mengamati dari kejauhan bagaimana Bu Juliana tertawa hangat bersama Lara, istri dari sepupunya Khai.Bu Juliana menghentikan langkah, menatap putranya yang berdiri tegap dalam balutan setelan kemeja hitam. Kedua tangan Khai terbenam di saku celananya, menonjolkan posturnya yang menjulang berwibawa."Mama mau akrab dengan mantu perempuan juga belum punya. Sebab anakku yang paling gagah dan tampan ini masih sibuk dengan dunianya sendiri," sungut sang mama mendengkus halus, lalu melangkah pergi meninggalkan aroma parfum bunganya yang lembut. Wanita itu berbelok menuju lift VIP untuk menemui suaminya di lantai atas.Khai mematung. Kata-kata sang mama menggema di kepalanya. Di balik meja resepsionis, dua staf wanita mendadak kaku dan pura-pura sibuk menatap layar monitor. Telinga mereka mendengar dan saling melempar lirikan sarat arti.
AKAN KUTUNGGU - 3 Kecewa "Berapa harus kubayar? Aku nggak ingin berhutang sama kamu." Nindiya menghampiri Khaisar yang menyusulnya ke kantor polisi.Mendengar ucapan itu, Khai tersenyum samar dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celananya. Ia berdiri tegak di depan Nindiya. "Bagaimana urusan kantor polisi?""Akan kuselesaikan sendiri. Bagaimana keadaan Bapak tadi?" tanya Nindiya dengan sikap angkuh. Meski dari lubuk hati terdalam, jiwanya berontak. Sedih. Kenapa Khai tetap bersikap baik padanya. Kenapa tiap ada kesulitan, pria itu yang membantunya. Bukan Indra. Kenapa Khai tak menjauh saja dan membencinya. Bukankah dirinya sudah dicap sebagai perempuan pengkhianat?"Bapak itu sudah pulang dijemput keluarganya. Beliau tidak mengalami cedera yang serius kata dokter. Aku sudah memberinya uang, termasuk untuk memperbaiki motornya. Bapak itu bilang kalau memang dirinya yang salah.""Akan kuganti semuanya. Berapa?" Nindiya gugup sambil mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Ia membuk
AKAN KUTUNGGU- 2 Bau Busuk"Siapa perempuan yang bersamanya itu?" tanya Edi."Sepupunya," jawab Khai pendek. Rahang tegasnya masih mengeras dengan tatapan tajam seakan menembus kaca hingga ke dalam sana. "Sepupu? Kenapa sikap mereka keliatan beda gitu." Insting Edi bekerja dan cukup peka.Khai tersenyum sinis.Di balik jendela besar kafe, tampak Indra suami Nindiya sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita. Mereka ngobrol begitu akrab dan tak seperti sepupu yang sewajarnya."Apa mereka selingkuh?" Edi memastikan, tatapannya masih ke dalam.Khai mengisap kembali rokoknya. Sorot mata tajamnya berkilat sangat berbahaya karena amarah. "Menurutmu bagaimana?" tanya Khai balik."Terasa ganjil kalau akrabnya beda gitu. Apa kira-kira Nindi tahu hal itu?" tanya Edi lagi."Aku tak tahu." Ia memang tidak tahu apakah Nindiya sudah mengendus kebusukan suaminya atau belum. Namun tangan besarnya di atas meja kini mengepal kuat. Amarah yang bergemuruh di dadanya terasa begitu panas. Pria yang di
AKAN KUTUNGGU - 1 Patah Hati "Kenapa kamu bilang nggak ada pikiran untuk menikah? Rugi Bro, ketampanan dan kegagahanmu nggak berfungsi, sia-sia. Kekayaanmu juga untuk siapa. Ayolah, banyak yang mengantri untukmu," ujar Edi pada sahabat baik yang duduk merokok di depannya. Mereka baru saja membahas tentang sahabat mereka yang baru menikah hari ini. Dan mereka baru pulang dari menghadiri resepsinya. Di antara lingkaran pertemanan mereka, hanya Khai yang masih betah sendirian. Teman-teman se-geng mereka sudah menikah semua."Wanita yang kucintai sudah menikah," jawab Khai datar dengan tatapan dingin sambil mengembuskan asap rokok ke udara. Pria berahang tegas yang ditumbuhi cambang tipis itu menatap langit malam yang kelam. Sekelam sorot matanya.Edi menghela napas panjang, bersandar pada kursi kayu kafe outdoor yang cukup ramai malam itu. "Perempuan di dunia ini bukan cuma dia saja, Khai. Bumi nggak selebar daun kelor. Kenapa kamu nggak sedikit saja mempertimbangkan gadis yang hendak







