Share

2. Bau Busuk

Penulis: Lis Susanawati
last update Tanggal publikasi: 2026-08-28 20:23:05

AKAN KUTUNGGU

- 2 Bau Busuk

"Siapa perempuan yang bersamanya itu?" tanya Edi.

"Sepupunya," jawab Khai pendek. Rahang tegasnya masih mengeras dengan tatapan tajam seakan menembus kaca hingga ke dalam sana.

"Sepupu? Kenapa sikap mereka keliatan beda gitu." Insting Edi bekerja dan cukup peka.

Khai tersenyum sinis.

Di balik jendela besar kafe, tampak Indra suami Nindiya sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita. Mereka ngobrol begitu akrab dan tak seperti sepupu yang sewajarnya.

"Apa mereka selingkuh?" Edi memastikan, tatapannya masih ke dalam.

Khai mengisap kembali rokoknya. Sorot mata tajamnya berkilat sangat berbahaya karena amarah. "Menurutmu bagaimana?" tanya Khai balik.

"Terasa ganjil kalau akrabnya beda gitu. Apa kira-kira Nindi tahu hal itu?" tanya Edi lagi.

"Aku tak tahu." Ia memang tidak tahu apakah Nindiya sudah mengendus kebusukan suaminya atau belum. Namun tangan besarnya di atas meja kini mengepal kuat. Amarah yang bergemuruh di dadanya terasa begitu panas. Pria yang dipilih Nindiya ternyata tak lebih dari seorang bajingan rendahan. Kaya, tapi tidak punya martabat.

Pikiran Khaisar melayang pada masa lalu. Padahal selama bersama Nindiya dulu, jangankan sampai berselingkuh, melirik wanita lain pun Khai tidak pernah. Dunianya hanya berporos pada wanita itu. Bahkan setelah ditinggalkan hampir dua tahun lamanya, keturunan Jawa-Italia itu masih memilih bertahan sendirian dalam kesunyian. Dan sekarang wanita yang dicintainya itu justru diselingkuhi. Mustahil kalau lelaki dan perempuan di dalam sana itu tidak memiliki hubungan rahasia.

Bukannya menertawakan nasib malang Nidiya, Khai justru murka setengah mati pada Indra. Bisa-bisanya laki-laki itu mengkhianati Nindiya yang begitu berharga.

Khai tiba-tiba merapatkan jaket kulitnya, lalu berdiri tegak. Wajah tampannya mengeras, menahan murka yang siap meledak.

"Kamu mau ke mana?" Edi yang sudah sangat hafal bagaimana tabiat bosnya jika sudah dikuasai emosi, segera ikut berdiri. Ia buru-buru menahan pundak tegap Khaisar. "Bro, tenang dulu. Jangan lakukan tindakan gegabah di sini. Itu hanya akan mempermalukan dirimu sendiri."

"Aku tak peduli. Minggir, Ed. Aku harus memberi pelajaran pada bajingan itu," desis Khai. Suara baritonnya terdengar rendah dan penuh ancaman. Ia memaksa ingin melangkah, hendak menemui lelaki di dalam sana untuk melayangkan bogem mentah.

Namun Edi mati-matian menahannya, pasang badan di depan Khai. "Jangan, Bro. Tahan dirimu. Kalau kamu menghajarnya di depan publik, posisimu yang akan sulit. Nama baik keluargamu akan terseret." Edi tahu benar, kalau Khai sudah bertindak dengan ototnya, semuanya bisa hancur berantakan. Dan pria di dalam sana, juga bukan lelaki dari kalangan biasa.

Setelah dicegah mati-matian dan diingatkan soal logika, napas Khai yang memburu perlahan mulai mengendur. Emosinya yang meluap perlahan mereda, meski tatapannya masih sedingin es. Ia akhirnya mengalah dan kembali duduk di kursinya dengan kasar.

"Ambil gambarnya, Ed," perintah Khai.

Melihat Khai sudah bisa mengontrol diri, Edi bangkit berdiri lalu mengambil gambar dengan ponselnya. Ia mengambil beberapa foto pria di dalam sana yang masih asyik dengan sepupunya. Namun ia tidak langsung mengirimkannya pada Khai malam ini. Bukan sekarang saat yang tepat karena emosi Bos-nya masih tidak stabil.

Tak lama kemudian, Khai bangkit dari duduknya. "Ayo pergi, Ed. Udara di sini mendadak bau busuk," ajak Khai dingin, lalu melangkah lebar meninggalkan tempat itu dengan dada yang masih bergemuruh oleh amarah yang baru saja tersulut.

🖤LS🖤

"Khai, kamu dari mana? Amara tadi ke sini. Lama nungguin kamu pulang." Ucapan sang mama menyambut Khai yang baru saja melangkah masuk menembus pintu utama rumah megah bernuansa klasik perpaduan antara Eropa dan Jawa.

"Dari menghadiri resepsi nikahan teman, Ma," jawab Khai datar, menanggapi sekadarnya sambil melepaskan jam tangan mewahnya.

"Kapan giliran kamu? Teman-teman dekatmu sudah pada menikah semua," cecar Bu Juliana, menatap putra keduanya yang berdarah blasteran Jawa-Italia itu dengan pandangan menuntut.

Khai tidak langsung menjawab. Dengan helaan napas berat, pria bertubuh jangkung itu menjatuhkan duduknya di sofa beludru seberang meja, tepat berhadapan dengan sang mama. Wajah tampannya tampak lelah, tapi gumpalan emosi dari kejadian di luar sana masih tersisa di matanya.

Melihat respons dingin sang anak, Bu Juliana mendengus kesal. "Mama nggak suka kamu masih mikirin perempuan pengkhianat itu. Jelas-jelas dia pergi dengan lelaki lain, kamu masih saja terpuruk menyesalinya!" omel Bu Juliana sewot.

Wanita paruh baya yang masih tampil modis dan elegan itu mulai mengomel panjang lebar. Ia membanding-bandingkan Nindiya yang dianggapnya tidak tahu diri dengan Amara yang berasal dari kalangan terpandang. Namun Khai hanya diam membeku. Garis rahangnya yang kokoh mengetat, menahan diri agar tidak mendebat mamanya sendiri.

"Pokoknya Mama nggak mau tahu. Rencana perjodohan kamu dan Amara akan tetap dilangsungkan bulan depan. Nggak ada penolakan lagi," tegas Bu Juliana mengakhiri omelan panjangnya.

Baru saat itulah Khai membuka suara. Dengan tatapan mata elangnya yang tajam dan menusuk, ia menyahut dengan suara bariton yang rendah. "Aku tetap menolak, Ma. Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menikahi Amara."

Bu Juliana terbelalak, tak percaya dengan ketegasan putranya. "Kenapa kamu sekeras kepala ini, Khai? Amara itu kurang apa? Dia cantik, berpendidikan, dan yang paling penting, Amara itu sudah lama menyukai kamu. Dia tulus!"

Mendengar hal itu Khai tetap tidak peduli. Sudut bibirnya menyunggingkan senyum sinis yang dingin. Cinta Amara sama sekali tidak memiliki arti apa pun di hatinya yang telah mati rasa. Bagi Khaisar, hanya ada satu nama yang mampu menggerakkan jiwanya, dan itu bukan Amara.

Tanpa berniat memperpanjang perdebatan yang sia-sia, Khai bangkit berdiri. Postur tegapnya yang menjulang seketika mendominasi ruangan. "Maaf, aku mau istirahat dulu, Ma. Permisi," ucapnya dingin.

Khai bangkit dan melangkah lebar, menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua, meninggalkan sang mama yang masih meradang menahan geram di ruang keluarga sendirian.

🖤LS🖤

Pagi itu kota Surabaya begitu cerah. Jalanan utama sudah macet dengan kendaraan yang kesemua pengemudinya ingin cepat sampai ke tujuan. Namun kemacetan kali ini terasa berbeda. Beberapa meter di depan mobil yang dikendarai Khai, ada keributan.

Saat memandang ke depan, ia melihat kelebat perempuan yang sangat dikenalinya sedang dikerumini beberapa orang yang sedang marah. Buru-buru Khai menepikan mobil dan turun. Ia berlari kecil menghampiri.

"Nin, ada apa?" tanyanya pada wanita yang terlihat panik itu.

"Mbak ini yang nabrak bapak itu, Mas. Bawa mobil nggak ikut aturan," jawab seorang laki-laki dengan tatapan melotot pada Nindiya.

Khai memperhatikan bapak tua yang duduk di pinggir jalan sambil memegangi kakinya sambil dikerumini beberapa orang.

"Bapak tadi yang nyeberang nggak lihat-lihat, Pak. Tapi saya akan tanggung jawab." Nindiya membela diri dengan wajah cemas. Namun orang-orang tetap memakinya.

"Maaf, tenang Bapak-bapak semuanya. Saya yang akan mengurusnya. Naikkan ke mobil saya, biar saya yang membawanya ke rumah sakit," kata Khai pada orang-orang.

"Jangan. Biar aku yang mengurusi sendiri," cegah Nindiya. "Kamu pergi saja, Mas. Ini tanggung jawabku," lanjut wanita itu tanpa memandang Khai.

"Kenapa sih, kalian berdebat. Bukannya langsung menolong korban," hardik salah satu laki-laki dengan tatapan penuh amarah.

"Bawa ke mobil saya, Pak," kata Khai. Dan dua lelaki di sana langsung membopong tubuh si bapak. Pada saat yang bersamaan ada motor polisi menghampiri. Nindiya terlihat panik.

"Jangan panik, nanti aku akan menyusulmu," bisik Khai sebelum beranjak pergi.

"Nggak usah," jawab Nindiya cepat.

Khai menatapnya tajam, begitu lekat, lantas melangkah ke arah mobilnya.

Next ....

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (11)
goodnovel comment avatar
Efrya
Ngga masuk akal ada cowok ganteng kek gini ...
goodnovel comment avatar
thoriq fikri
sepertinya ini jalan yang mempertemukan khai dengan nindiya lagi
goodnovel comment avatar
Mimin Rosmini
nah ketemu kan??ada apa dengan nindiya?
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • AKAN KUTUNGGU   132. Tak Sengaja 3

    "Khai."Mendengar suara tajam yang memanggil namanya, langkah Khaisar yang semula santai langsung terhenti seketika. Padahal ia sudah berusaha berjalan tanpa menimbulkan suara sedikit pun agar bisa langsung melarikan diri ke kamar. Sial, insting mamanya benar-benar luar biasa. Di hadapan Bu Juliana yang memandangnya, ia diperlakukan bagaikan anak kecil yang ketahuan pulang larut malam. Sebuah ironi besar di benaknya, mengingat sekitar empat puluh jam lalu ia sukses meresmikan hubungan sah dan meniduri anak perempuan orang sebagai seorang suami.Bu Juliana melangkah mendekat dengan dagu terangkat, matanya menyipit penuh selidik. Hidungnya mencium aroma asing. Ini wangi parfum perempuan yang begitu lembut dan khas, jelas bukan aroma parfum yang biasa dipakai putranya."Are you going traveling with a girl, Khai?" tanya Bu Juliana dengan tatapan menyelidik. "Who is she?""No. Aku pergi sama teman laki-laki, Ma.""Kamu punya pacar? Makanya nolak Amara," cecar mamanya."No," sahut Khaisar

  • AKAN KUTUNGGU   131. Tak Sengaja 2

    Dan dirinya sendiri juga bertanya-tanya, siapa yang menjemput Nindiya tadi? Sopir taksi? Tidak mungkin, cara bicara pria tadi terlalu siap dan sigap. Apa saudara dekatnya? Atau pria lain? Pertanyaan demi pertanyaan itu mengendap tajam, menyisakan sesak yang kian menghimpit dadanya. Walaupun dalam dada menyangkal, tidak mungkin laki-laki tadi kekasihnya Nindiya. Terlihat dia sangat sopan dan menghormati wanita itu.🖤Pintu samping Ford Ranger gagah itu terkuak pelan. Nindiya segera menyelinap masuk ke jok penumpang, tepat di samping kursi kemudi. Di balik kemudi, Khaisar duduk bersandar dengan raut wajah kaku dan rahang mengeras."Mas, yang mau mengantarku pulang?" tanya Nindiya heran, menatap suaminya yang tampak begitu gusar di zona parkir resmi itu. "Tadi Mas Manto mendadak mengajakku naik ke sini."Hening sejenak. Pria itu berusaha memendam gejolak panas yang mendadak membakar dadanya usai menyaksikan Indra dan kedua orang tuanya menemui Nindiya di bawah tadi."Nin," Khaisar akhir

  • AKAN KUTUNGGU   130. Tak Sengaja 1

    AKAN KUTUNGGU- 49 Tak SengajaLangkah kaki Nindiya terhenti saat dua sosok yang sangat dikenalnya melangkah menghampiri. Pak Ikram dan Bu Cahya berdiri di hadapannya dengan pakaian rapi, khas orang baru selesai bepergian jauh.Dari jarak beberapa meter di belakang, Khaisar memperhatikan itu. Dadanya menegang, menyaksikan istrinya bertemu dengan orang tua Indra. Namun karena keadaan, ia menahan diri untuk tidak menghampiri. Ia tidak ingin keadaan menjadi kacau. Orang tua Indra jelas saja mengenalnya.Sedangkan Nindiya dengan tenang dan sopan, mengulurkan tangan untuk menyalami Pak Ikram dan Bu Cahya."Kamu dari mana, Nin?" tanya Bu Cahya ramah, mengamati lelaki asing yang membawakan koper dan sedang berdiri di samping Nindiya."Saya baru pulang dari Bangka, Bu. Dari rumah Mbak Nila. Bapak sama Ibu sendiri dari mana?" Panggilan papa dan mama dulu, sekarang sudah berubah menjadi bapak dan ibu. Nindiya tetap bersikap tenang. Selama Indra tidak membeberkan fakta sebenarnya kepada kedua

  • AKAN KUTUNGGU   129. Malam 3

    Itu adalah penyesalan terdalam dalam hidup Indra. Dulu ia terlalu buta oleh ego dan godaan luar hingga mengabaikan kerapuhan istrinya. "Andai saja anak itu hadir dan selamat, pasti hubungan kami masih bisa diselamatkan. Nindiya pasti bersedia memaafkanku demi anak kami," batinnya meraung hampa.Namun benaknya mendadak menangkap satu hal yang mengusik. Nindiya pasti sudah sadar kalau dirinya sedang hamil saat proses perceraian mereka bergulir di Pengadilan Agama. Namun wanita itu memilih bungkam, tidak memberitahunya, dan sama sekali tak berniat mencabut gugatan. Nindiya justru membiarkan persidangan yang melelahkan itu berlanjut hingga tujuh kali sidang sampai ketukan palu hakim resmi memutus hubungan pernikahan mereka.Indra menghela napas panjang sambil mengusap wajahnya. Sebuah ironi yang menyiksa. Kenapa rasa cintanya pada Nindiya justru kian menggila dan membakar jiwanya saat wanita itu benar-benar telah pergi."Lalu bagaimana sekarang dengan Cinda?" tanya Hari memecah keheningan

  • AKAN KUTUNGGU   128. Malam 2

    Padahal sejak awal mereka telah sepakat untuk menunda momongan selama satu tahun ke depan. Hal itu demi memulihkan kondisi fisik Nindiya pasca keguguran, memberi ruang baginya untuk kembali merintis karier, serta menjaga kerahasiaan pernikahan mereka untuk sementara.Begitu keheningan kembali menyergap ruangan, Nindiya yang baru tersadar langsung berbisik parau. "Mas, aku ke kamar mandi sebentar, ya."Padahal Khaisar masih ingin merengkuh dan mendekap tubuh istrinya. Namun Nindiya dengan tergesa meraih pakaian di lantai, mengenakannya seadanya, lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi.Beberapa menit berlalu, Nindiya belum juga keluar. Khaisar mulai merasa khawatir. Dengan cemas, ia turun dari pembaringan tanpa mengenakan atasan dan mengetuk pintu itu. "Honey, kamu tidak apa-apa?" teriak Khaisar dari luar."Aku tidak apa-apa, Mas! Ini aku mau keluar," sahut Nindiya dari dalam.Pintu terkuak pelan. Dua pasang mata itu saling bertumpu tepat di ambang pintu. Nindiya sempat terpana menden

  • AKAN KUTUNGGU   127. Malam 1

    AKAN KUTUNGGU- 48 Malam Deluxe room itu menjadi satu-satunya kamar yang bisa dipesan dadakan sore tadi oleh Khaisar. Sebuah jendela kaca berukuran besar membentang langsung menghadap ke arah pantai. Di dalam ruangan, hembusan pendingin udara bekerja maksimal membalut kehangatan pasangan yang baru saja mengikat janji suci.Usai merampungkan salat Isya berdua, Nindiya melangkah mendekati jendela kaca. Di bawah sana, pendar lampu-lampu taman dan dermaga kelap-kelip begitu indah menembus pekatnya malam.Khaisar baru saja hendak melangkah mendekatinya ketika dering ponsel di atas meja menghentikan. Nama mamanya tertera di layar. Sebelum menggeser tombol hijau, Khaisar sempat bertukar pandang dengan Nindiya sejenak."Halo, Ma," sapa Khaisar tenang."Where are you, Khai? Di telepon dari tadi malam tidak diangkat. Pagi tadi malah mematikan ponsel. Mama khawatir," cecar Bu Juliana dari seberang sana dengan nada gusar campur cemas."Aku baik-baik saja, Ma. Tidak perlu khawatir," balas Khaisar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status