首頁 / Romansa / AKAN KUTUNGGU / 107. Janji 3

分享

107. Janji 3

last update publish date: 2026-10-11 13:10:00

"Kalau pada akhirnya kamu menolak, aku sudah tidak bisa memaksa lagi, Nin," ucap Khaisar lirih, menyembunyikan rasa perih di balik suaranya. "Harapanku mungkin memang harus pupus. Berjuang lagi bersamamu mungkin memang terlalu berat bagimu. Beban yang harus kau terima memang dua kali lipat dari hubungan kita yang dulu."

Mendengar nada putus asa dari pria yang selama ini menjadi pelindung rahasianya, hati Nindiya tersentak.

Nindiya menoleh, menatap manik mata Khaisar dengan sungguh-sungguh. "Ma
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節
評論 (64)
goodnovel comment avatar
Isma Rini
meski lirih, tapi telinga Khai itu ada dimana² yaa ......
goodnovel comment avatar
Nelly
Orang tua gak punya perasaan ya . Maksa aja perjodohan yg anaknya gak cinta mng bisa bahagia apa.
goodnovel comment avatar
Wiwik Agustin
hati hati ya Khai... kudu waspada sama ortumu
查看全部評論

最新章節

  • AKAN KUTUNGGU   123. Flight 4

    Usai merampungkan proses administrasi penerbangan, Nindiya dan Khaisar mengantar orang tuanya hingga ke batas area boarding. Nindiya melambaikan tangan dengan mata berkaca-kaca saat ayah dan ibunya berputar melangkah masuk melewati pintu pemeriksaan.Begitu bayangan orang tuanya hilang di balik kerumunan, Khaisar menatap Nindiya lekat-lekat. "Hari Jumat sore nanti kita ketemu di sini. Kita terbang habis Maghrib," kata Khaisar.Nindiya mengangguk pelan, dadanya bergemuruh hebat. Tidak menyangka semuanya berjalan secepat ini.Demi menghindari mata-mata atau sorot kecurigaan orang di sekitar bandara yang mengenal orang tuanya, mereka sepakat keluar secara terpisah. Khaisar melangkah santai dengan jarak beberapa meter di belakang Nindiya, memastikan wanita pujaannya itu berjalan aman hingga masuk ke dalam mobil yang disetir oleh Manto di area drop-off.Setelah Nindiya menutup pintu mobil dan kendaraannya melaju meninggalkan lobi, barulah Khaisar berbalik arah dengan langkah cepat menuju m

  • AKAN KUTUNGGU   122. Flight 3

    "Ya." Pak Tirto menjawab lirih sambil mengangguk. Ia berusaha tetap tegar dan sehat. Meski terkadang tubuhnya masih lemas. Namun ia berusaha terlihat kuat. Ia ingin menyaksikan Nindiya bangkit dan menemukan kebahagiaannya.Malam itu juga melalui video call, mereka berbincang dengan Nila dan suaminya. Mematangkan rencana mereka untuk acara pernikahan nanti. Dada Nindiya berdebar kencang. Secepat ini ternyata? Ia serasa masih tak percaya. Cincin itu sudah menjadi simbol kalau ia sudah berada dalam ikatan pertunangan dengan mantan kekasihnya. Sesekali ia membalas tatapan Khaisar yang begitu dalam terhadapnya. Namun melihat Khaisar tak membahas tentang buket bunga, Nindiya yakin kalau buket itu bukan darinya. Entah dari siapa?"Sudah malam, Nak Khai. Sebaiknya kita pulang sekarang." Bu Mira mengingatkan sambil memandang jam dinding di ruangan."Ya, Bu." Dan Khaisar segera menghubungi Manto. Langsung dijawab oleh laki-laki itu, kalau dirinya sudah siap menunggu di parkiran. Pak Tirto, B

  • AKAN KUTUNGGU   121. Flight 2

    "Mbak Nindiya, saya tunggu di luar, ya. Nanti setelah selesai saya yang akan mengantarkan pulang," ucap Manto dengan sopan sesaat sebelum mereka melangkah masuk."Iya, Mas. Makasih banyak, ya."Manto mengangguk, lalu beranjak pergi.Usai mengantar mereka duduk di kursi berbusa empuk, staf restoran memohon izin pamit dan menutup pintu rapat-rapat, berjaga tepat di luar ruangan.Bu Mira mengedarkan pandangan. Ruang yang elegan. "Khaisar membawa kita ke tempat yang istimewa begini, Nin."Nindiya mengangguk lembut. "Iya, Bu. Mas Khai sepertinya sengaja memilih tempat paling aman supaya kita bisa leluasa bicara. Biasanya tempat seperti ini di booking oleh para pengusaha atau bisnisman untuk membahas urusan pekerjaan.""Ya." Bu Mira mengangguk. Dia juga paham karena memang berpendidikan tinggi. Hanya saja setelah menikah, ia tak melanjutkan karirnya. Malah lebih mengelola toko baju.Tak berselang lama, pintu ruangan terbuka pelan. Sosok Khaisar melangkah masuk. Pria itu tampil begitu gagah

  • AKAN KUTUNGGU   120. Flight 1

    AKAN KUTUNGGU- 46 Flight "Mbak, ada kiriman buket bunga untuk Mbak Nindi," ujar seorang staf kantor seraya meletakkan sebuah buket bunga berukuran mungil di meja kerja Nindiya.Nindiya mengalihkan pandangan dari layar komputer. "Dari siapa, ya?""Kurang tahu, Mbak. Tadi cuma dititipkan kurir di depan. Ada kartunya di dalam," jawab staf itu tersenyum ramah, lalu berpamitan kembali ke kubikelnya.Nindiya meraih buket itu, mengamatinya lekat-lekat. Meski berukuran kecil, tampilannya memancarkan kesan eksklusif dan amat berkelas. Tiga tangkai Juliet Rose berwarna peach yang langka tersemat anggun. Dibungkus kertas matte krem lembut dengan simpul pita satin champagne. Di sela-sela tangkainya, terselip kartu kecil tanpa nama pengirim, hanya menyisakan dua kata singkat yang ditulis tangan.Just for you, Nindiya. May this be a wonderful day for you.Nindiya bergeming. Dari siapa ini? Ketiga lelaki yang ia kenali juga terbiasa bicara dengan selingan bahasa inggris. Khai, Indra, atau Billy?

  • AKAN KUTUNGGU   119. Trawas 3

    Kening Bu Mira berkerut. "Lalu? Kamu pergi ke mana tadi?"Beberapa saat Nindiya diam. Baru kemudian memandang ibunya. "Aku bertemu Khaisar."Bagaikan disengat listrik, raut wajah Bu Mira seketika berubah kaku. Binar hangat di matanya surut, berganti bayang kekecewaan. Bayangan peristiwa bertahun-tahun lalu, ketika Bu Juliana menemui Nindiya seketika menari-nari di ingatan wanita itu."Kenapa kamu harus menemui Khaisar lagi?" suara Bu Mira bergetar, memendam perih yang mendalam. "Apa kamu sudah lupa bagaimana mamanya membuang dan memandang rendah dirimu dulu? Apa kamu mau menyerahkan dirimu untuk dihina lagi?""Bukan begitu, Bu. Tolong dengarkan aku dulu. Ada satu hal besar yang ingin kuceritakan pada Ibu.""Hal besar apa?"Nindiya menarik napas panjang, mencoba menahan getaran di dadanya. "Selama ini seluruh biaya pengobatan yang puluhan juta itu, biaya rumah sakit serta biaya pengobatanku pada dokter Joyce, semuanya ditanggung oleh Mas Khaisar, Bu. Bukan dari dana bantuan seperti yan

  • AKAN KUTUNGGU   118. Trawas 2

    Tak terasa sang surya kian meninggi di atas sana. Mereka terlalu larut dalam kehangatan kebersamaan hingga lupa melihat waktu. Saat menyadari jarum jam sudah bergeser menunjuk angka satu siang, Nindiya seketika panik. "Mas, sudah jam satu siang!" seru Nindiya. "Ayo pulang sekarang!"Khaisar tersenyum melihat ekspresi panik wanita di sampingnya. "Iya, kita pulang. Tapi kita makan siang dulu."Pria itu tidak merayu untuk bertahan di sana lebih lama lagi. Dia mengerti kecemasan Nindiya. Lagipula dirinya juga harus ke Malang untuk menjemput orang tuanya. Entah berapa panggilan masuk dari sang mama yang ia abaikan. Ia merasakan getaran ponsel di saku celananya.🖤LS🖤Sudah pasti, sang mama langsung mengomel panjang lebar begitu Khaisar sampai di villa. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul empat siang. Jauh melebihi jadwal kepulangan yang direncanakan. Padahal saat ditelepon tadi, Khaisar sudah mengabarkan kalau ia ada urusan mendadak dan akan sedikit terlambat. Sebenarnya Bu Juliana bi

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status