Home / Romansa / AKAN KUTUNGGU / 114. Cincin 1

Share

114. Cincin 1

last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-14 14:35:23

AKAN KUTUNGGU

- 44 Cincin

Setelah perbincangan serius itu selesai, suasana di vila diliputi keheningan yang serba canggung. Meski mereka tetap berkumpul untuk ngobrol dengan ditemani teh hangat, tapi tawa yang terdengar terasa hambar.

Percakapan itu sekedar untuk menutupi kekecewaan mendalam yang mengendap di dada masing-masing. Besan Pak Hangga bahkan ikut menghidupkan suasana dengan obrolan santai. Agar besannya tidak makin malu setelah mengalami penolakan yang sama sekali di luar dugaan itu
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (11)
goodnovel comment avatar
Nelly
Hadeh kenapa mereka pd tersakitin ya seolah jd korban gitu ya.yg punya rencana kan mereka ya .ortu amara sm aja kan gak tanya dulu apa khai mau di jodohkan atau gak main paksa aja.sadar orng kaya egois
goodnovel comment avatar
Nurmila Karyadi
dasar licik ortu Khaisar parah
goodnovel comment avatar
Ferinda Yanti
geleng2 kepala dah ma duo orang tua ini...
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • AKAN KUTUNGGU   119. Trawas 3

    Kening Bu Mira berkerut. "Lalu? Kamu pergi ke mana tadi?"Beberapa saat Nindiya diam. Baru kemudian memandang ibunya. "Aku bertemu Khaisar."Bagaikan disengat listrik, raut wajah Bu Mira seketika berubah kaku. Binar hangat di matanya surut, berganti bayang kekecewaan. Bayangan peristiwa bertahun-tahun lalu, ketika Bu Juliana menemui Nindiya seketika menari-nari di ingatan wanita itu."Kenapa kamu harus menemui Khaisar lagi?" suara Bu Mira bergetar, memendam perih yang mendalam. "Apa kamu sudah lupa bagaimana mamanya membuang dan memandang rendah dirimu dulu? Apa kamu mau menyerahkan dirimu untuk dihina lagi?""Bukan begitu, Bu. Tolong dengarkan aku dulu. Ada satu hal besar yang ingin kuceritakan pada Ibu.""Hal besar apa?"Nindiya menarik napas panjang, mencoba menahan getaran di dadanya. "Selama ini seluruh biaya pengobatan yang puluhan juta itu, biaya rumah sakit serta biaya pengobatanku pada dokter Joyce, semuanya ditanggung oleh Mas Khaisar, Bu. Bukan dari dana bantuan seperti yan

  • AKAN KUTUNGGU   118. Trawas 2

    Tak terasa sang surya kian meninggi di atas sana. Mereka terlalu larut dalam kehangatan kebersamaan hingga lupa melihat waktu. Saat menyadari jarum jam sudah bergeser menunjuk angka satu siang, Nindiya seketika panik. "Mas, sudah jam satu siang!" seru Nindiya. "Ayo pulang sekarang!"Khaisar tersenyum melihat ekspresi panik wanita di sampingnya. "Iya, kita pulang. Tapi kita makan siang dulu."Pria itu tidak merayu untuk bertahan di sana lebih lama lagi. Dia mengerti kecemasan Nindiya. Lagipula dirinya juga harus ke Malang untuk menjemput orang tuanya. Entah berapa panggilan masuk dari sang mama yang ia abaikan. Ia merasakan getaran ponsel di saku celananya.🖤LS🖤Sudah pasti, sang mama langsung mengomel panjang lebar begitu Khaisar sampai di villa. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul empat siang. Jauh melebihi jadwal kepulangan yang direncanakan. Padahal saat ditelepon tadi, Khaisar sudah mengabarkan kalau ia ada urusan mendadak dan akan sedikit terlambat. Sebenarnya Bu Juliana bi

  • AKAN KUTUNGGU   117. Trawas 1

    AKAN KUTUNGGU - 45 Trawas Menikah? Secepat ini?Wajah Nindiya spontan merona merah. Ia buru-buru menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan gejolak yang bergemuruh di dalam dada."Mas, tapi aku baru saja mengalami keguguran saat kecelakaan," ucap Nindiya lirih sambil menatap sorot mata tajam pria itu. "Hal itu tidak masalah sama sekali, Nin," potong Khaisar cepat. "Yang terpenting bagiku kita berada dalam ikatan yang sah dulu. Setelah menikah nanti, physical touch itu tidak melulu soal hubungan seksual. Aku akan menunggumu sampai kamu benar-benar pulih dan siap."Nindiya terkesiap mendengar keterbukaan itu. Wajahnya terasa kaku oleh rasa malu yang membuncah di tengah suasana hawa dingin Trawas. Betapa lelaki yang belum pernah menikah ini sanggup bicara secara terbuka dan bijaksana tanpa sedikit pun keraguan. Untung saja di area teras lantai dua kafe ini belum ada pengunjung lain yang duduk di dekat mereka. Sumpah, Nindiya yang berstatus pernah menikah saja dibuat mati kutu d

  • AKAN KUTUNGGU   116. Cincin 3

    Satu setengah jam perjalanan berlalu tanpa terasa. Begitu memasuki wilayah Trawas, lanskap hijau membentang luas menyapa pandangan. Udara dingin pegunungan seketika menyergap saat mereka melangkah turun dari mobil. Kabut tebal turun pelan membalut lereng-lereng bukit, menciptakan suasana yang menentramkan jiwa. Jajaran pohon pinus berdiri megah terselimut kabut.Khaisar dan Nindiya merapatkan jaket tebal yang dipakai, melangkah menyusuri pelataran sebuah kafe berkonsep vintage di atas bukit. Mereka memilih meja di teras lantai dua. Di situ spot terbaik untuk menikmati pemandangan menghijau dari perbukitan yang diselimuti kabut."Tempat ini masih sama seperti dulu. Saat kita ke sini. Kamu masih ingat?" gumam Khaisar memandang Nindiya."Iya, aku masih ingat, Mas," jawab Nindiya yang menatap kabut yang perlahan memudar. Mereka memang pernah kencan di tempat itu.Setelah minuman hangat dan makanan di antarkan, Khaisar mengajak Nindiya sarapan. Dia jujur belum sempat sarapan di rumah. Samb

  • AKAN KUTUNGGU   115. Cincin 2

    "Sebenarnya apa yang ada di dalam kepalamu itu, Khai. What are you thinking about? Kurang apa Amara? Dia cantik, menarik, terpelajar, dari keluarga terpandang. Pernikahan itu tidak melulu soal cinta. Cinta itu urusan nomor sekian. "Pebisnis seperti kita butuh aliansi yang kuat. Lama-kelamaan cinta itu bakal tumbuh sendiri seiring kebersamaan kalian."Khaisar menyandarkan punggung, menatap mamanya dengan sorot yang dingin dan dewasa. "Cara pandang Mama soal pernikahan dan cara pandangku sangat berbeda, Ma."Napas Bu Juliana memburu mendengar jawaban yang begitu meremehkan amarahnya. "Kamu jangan membangkang. Kamu pikir kamu bisa bahagia cuma menuruti kata cinta?""Aku tidak sedang membangkang, Ma," tegas Khaisar menatap lurus pada mata mamanya. "Aku hanya ingin menentukan arah hidup dan kebahagiaanku sendiri.""You have a lot of excuses, Khai.""Tidak, Ma. Kalau aku memaksakan diri untuk menerima, kasihan juga Amara."Hening."Masih ada kesempatan untuk mengubah keputusan," lanjut Bu

  • AKAN KUTUNGGU   114. Cincin 1

    AKAN KUTUNGGU- 44 Cincin Setelah perbincangan serius itu selesai, suasana di vila diliputi keheningan yang serba canggung. Meski mereka tetap berkumpul untuk ngobrol dengan ditemani teh hangat, tapi tawa yang terdengar terasa hambar.Percakapan itu sekedar untuk menutupi kekecewaan mendalam yang mengendap di dada masing-masing. Besan Pak Hangga bahkan ikut menghidupkan suasana dengan obrolan santai. Agar besannya tidak makin malu setelah mengalami penolakan yang sama sekali di luar dugaan itu dari putranya sendiri.Di teras luar yang berhawa dingin, Amara duduk sendirian sambil merapatkan jaket tebalnya. Khaisar melangkah mendekat sambil membawakannya segelas teh panas. "Diminum, Ra.""Makasih, Mas.""Aku minta maaf soal yang tadi," ujar Khaisar tulus sambil menatap lekat wanita di sampingnya. "Aku sangat berharap apa yang terjadi malam ini tidak akan mengubah profesionalitas dan hubungan kerja kita di kantor."Amara mendongak, menyunggingkan senyum tipis yang tampak begitu dewasa.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status