Home / Romansa / AKAN KUTUNGGU / 143. Testpack 2

Share

143. Testpack 2

last update publish date: 2026-10-24 14:17:56

Cinda bergegas mengambil tas tangannya dan mengekor dari samping. Dadanya berdebar liar, bergemuruh oleh cemas yang tak menentu. Ada apa ini? Kenapa budenya tiba-tiba datang dan mengajaknya makan? Batinnya gelisah.

Sejak perselingkuhannya dengan Indra terbongkar dan memicu keretakan rumah tangga putranya itu, Bu Cahya menarik garis batas yang teramat tegas. Wanita itu sengaja menjauh, enggan berdekatan apalagi berbincang hangat seperti dulu dengan sang ponakan. Padahal sebelum hubungan mereka t
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (25)
goodnovel comment avatar
Nelly
Jngn perca bu Cahya.. ponakanmu mang ular .. gini ya kalo di baikin makin melunjak si Cinda
goodnovel comment avatar
Meilia
punyaku yg bab 144 kq Ndak bisa dibukak ya mbak...yg lain apa sama ..apa cuman aku aja ini...hiks....lagi seru seru nya padhal
goodnovel comment avatar
Lis Susanawati
biar hancur lebur dia
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • AKAN KUTUNGGU   150. Vaelthera 3

    Tidak hanya Biilly, Indra pun kaget mendengar Nindiya sudah berhenti bekerja. "Maaf, Pak. Pengiriman buket saya stop, ya. Dua hari ini kiriman buket untuk Mbak Nindiya dikembalikan. Sebab beliau sudah berhenti kerja dari kantornya." Tadi pagi Indra mendapatkan telepon dari florist tempat ia langganan untuk mengirimkan buket pada Nindiya. "Kenapa Nindiya berhenti kerja?" Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala Indra. Dia tidak tahu harus bertanya pada siapa? Jika menelepon kantornya Nindiya menggunakan telepon kantornya, pasti nanti akan terdeteksi. Indra akhirnya menyuruh Duma untuk menelepon menggunakan ponsel asistennya itu. "Maaf, Pak. Tidak ada keterangan kenapa Mbak Nindiya berhenti kerja. Staf di sana tidak memberitahu." Duma memberinya laporan. "Oke, makasih." Duma mengangguk lantas melangkah keluar. Indra pun segera bangkit dari duduknya untuk mencoba mencari ke rumah orang tua Nindiya. Namun sampai di sana, ia mendapatkan jawaban yang sama dengan Billy. Akhir

  • AKAN KUTUNGGU   149. Vaelthera 2

    Jawaban yang kompak dan tanpa keraguan itu langsung melunturkan kecurigaan di benak Bu Juliana. Sebenarnya, jika ia mau sedikit lebih teliti, bisa saja memeriksa rekaman CCTV yang terpasang di area halaman depan dan garasi rumah. Namun pikiran itu sama sekali tidak melintas di kepalanya. Kali ini Bu Juliana sepenuhnya percaya pada keterangan para pekerjanya. Yang tentu saja tadi sudah diwanti-wanti oleh Khaisar.🖤LS🖤"Kenapa tiba-tiba resign, Nin?" Erni kaget saat mendengar kabar mendadak dari sahabat karibnya itu di tengah jam istirahat kantor."Aku hamil, Er. Makanya aku memutuskan untuk resign," jawab Nindiya dengan suara lirih."Masya Allah, Alhamdulillah!" seru Erni tertahan, nada suaranya kegirangan. "Kamu serius?""Iya, Er.""Wah, kebetulan banget. Aku sebenarnya juga mau ngabari kamu. Aku juga lagi hamil, Nin.""Beneran, Er?" Nindiya kaget. "Iya. Udah lima minggu. Kamu hamil berapa minggu?""Sembilan.""Duluan kamu. Sepertinya malam pertama kalian, langsung jadi embrio kaya

  • AKAN KUTUNGGU   148. Vaelthera 1

    AKAN KUTUNGGU - 55 VAELTHERA"Malam ini Mas akan menemanimu di sini," ucap Khaisar mantap begitu pintu unit apartemen tertutup rapat. Jarum jam menunjukkan pukul sembilan malam.Nindiya yang baru melepaskan sepatu flatnya spontan mendongak, memandang sang suami dengan kening berkerut. "Alasan apa yang akan Mas berikan pada Mama nanti kalau beliau mencarimu?" Khaisar termangu cukup lama. Lantas Nindiya mengelus lehernya pelan. "Leherku lama-lama pegel, Mas. Kalau kamu ngajak bicara tapi sambil berdiri gini."Mendengar itu Khaisar tertawa, lalu menggendong istrinya dan menurunkannya di sofa. Mereka sama-sama duduk di sana."Gampang tentang alasan itu nanti, Honey. Pokoknya malam ini Mas ingin bersamamu di sini."Menyadari keras kepalanya sang suami yang tak akan bisa digoyahkan, terlebih malam ini Khaisar tampak begitu berbinar karena sangat bahagia. Kemudian Khaisar meraih ponselnya dan mematikan daya agar tak ada satu pun panggilan atau pesan masuk yang bisa mengusik malam mereka.S

  • AKAN KUTUNGGU   147. Double Kill 3

    "Mama tahu kan, aku mabuk dikit saja kayak orang mati. Mana mungkin aku bisa melakukan hal itu."Mendengar kronologi yang sebenarnya meluncur dari mulut Indra, Bu Cahya mematung. Air matanya tertahan."Apa kamu nggak ngecek dirimu sendiri, ada bekas apa gitu setelah kamu terbangun?" Tanpa malu Bu Cahya menanyakannya. Jelas saja yang ia maksud adalah belas sperm."Aku tidak kepikiran hal itu, Ma. Aku panik."Bu Cahya mendesis jengkel campur murka. "Tapi Cinda bilang, kamu merasa bersalah karena telah merusak keperawanannya," bisik Bu Cahya parau, mencoba mencerna benang kusut di hadapannya.Indra terkekeh sinis, tawa pahit yang sarat akan penyesalan mendalam. "Itu omong kosong Cinda, Ma. Dia sengaja membuat cerita itu untuk mengikatku. Membuatku takut dengan ancamannya dan khawatir Nindiya tahu. Makanya aku baikin dia agar tak membuka rahasia itu pada Nindiya. Aku baru sadar sekarang kalau dia manfaatin aku, Ma."Napas Indra terengah. Kebenaran pahit yang selama ini ia kubur rapat-rapa

  • AKAN KUTUNGGU   146. Double Kill 2

    Ternyata Bu Juliana sudah menyelidiki keberadaan Nindiya. Ia menyuruh orang untuk mencari tahu tentang keluarga wanita itu. Namun para tetangga hanya bilang, mereka ke Bangka. Sebab yang kebetulan mereka ketahui Nindiya pun berangkat menyusui ke Bangka setelah beberapa hari Pak Tirto dan Bu Mira pergi. Orang yang ditanya itu tidak tahu Nindiya kerja di mana, terus pas Nindiya pulang beberapa hari ke rumah, tetangganya juga tidak sempat melihatnya. Sebab setelah pulang kerja, Nindiya juga langsung diam masuk rumah. Lantas diajak Khaisar pindah ke apartemen.Bu Juliana menghela nafas panjang. Kemudian memejam. Ia tak akan rela, Khaisar kembali bersama Nindiya. Khaisar bisa mendapatkan perawan mana pun, bukan janda. Apalagi itu Nindiya.🖤LS🖤Tiga hari berlalu. Pengakuan panas Cinda terus berputar di kepala Bu Cahya. Tak sabar untuk mendengarkan penjelasan dari putranya. Begitu mendengar kabar dari sekretaris bahwa Indra baru saja mendarat di Surabaya sore tadi dan langsung pulang ke r

  • AKAN KUTUNGGU   145. Double Kill 1

    AKAN KUTUNGGU- 54 Double Kill "Honey, kamu resign saja. Fokus sama kehamilanmu dan tinggal di apartemen ini. Kamu bisa sambil mendesain agar tak bosan, kalau lelah tinggal istirahat," kata Khaisar lembut setelah mereka kembali duduk di atas pembaringan.Nindiya terdiam sejenak. Jemarinya masih menggenggam erat stik kecil yang menjadi saksi kebahagiaan mereka. Sebuah senyum tipis terukir di bibirnya sebelum ia mengangguk pelan. "Iya, aku akan selesaikan urusan pekerjaanku di kantor dulu. Setelah semua transisinya kelar, baru aku mengajukan berhenti kerja, Mas."Khaisar menghela napas lega, lalu merengkuh bahu istrinya. "Oke. Besok, kita harus periksa ke dokter kandungan."Mendengar kata dokter, raut wajah Nindiya mendadak berubah ragu. Ia menoleh cepat menatap suaminya. "Tapi kita mau periksa di mana yang aman dan nggak bakal kepergok siapa pun, Mas? Aku belum siap kalau kehamilan ini ketahuan sekarang."Biarlah kehamilanku melewati trimester pertama dulu, masa-masa yang paling rawan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status