Share

Bab 9. Melepas Rindu

Author: DNOV
last update publish date: 2026-01-23 20:55:03
Belum sempat Ica menjawab, lelaki itu sudah menahan tubuhnya dan kembali melekatkan bibirnya lagi. Kali ini Rey melumat bibir Ica lembut. Sesekali ia menyapu dan menghisap bibir Ica yang hanya terdiam dan memejamkan mata. Aktifitas mereka berlanjut hingga keduanya saling merengkuh erat. Meski tanpa kata-kata, Ica paham jika lelaki yang sedang menciumnya pasti sudah menahan hasratnya sejak lama.

Ica juga tak mengelak saat lelaki itu mulai menyentuh area-area sensitif di tubuhnya satu per satu.

Se
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 37. Pasir Pantai Yang Menenangkan

    "Ca, Ica, tunggu!" Rey berusaha mengejar Ica yang memilih pergi setelah turun dari Banana Boat. "Aku mau ke hotel.""Tunggu bareng, Ca!" panggil Rey lagi, menjajari langkah Ica yang semakin cepat. "Udah sana, kamu temani saja ayah bunda! Aku udah capek!""Ca, jangan seperti ini, dong! Masa gara-gara Cindy, kamu marah gak ada habisnya.""Terserah apa kata kamu. Aku cuma mau ke kamar."Dari arah pantai, sosok Cindy tampak masih melambai-lambaikan tangannya ke arah mereka berdua. Ica makin merasa muak dan langsung berlari meninggalkan Rey yang terus mengekorinya. Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, Ica langsung menuju ranjang di mana Rey masih ada di kamar, memperhatikan gerak-geriknya dari sofa. "Kamu gak makan dulu?""Aku gak lapar. Aku capek!""Mau aku beliin makanan atau aku bawain aja makanannya ke kamar?""Gak usah. Udah sana, gak usah peduliin aku!""Jangan seperti ini, dong, Ca! Kita sedang bulan madu dan aku ingin kamu dan aku menikmati semuanya bersama." Ica hanya men

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 36. Negosiasi Saja Tak Cukup

    Rey menarik napas dan duduk di samping Ica.“Apa karena itu kamu ngambek sama aku lalu pergi gak bilang-bilang?"Ica hanya memberengut lalu membuang wajahnya lagi."Ca, waktu itu aku cuma sekadar menolong, kok! Pertemuan itu juga gak sengaja. Bukan aku yang mau.”“Aku juga dengar, kamu gendong dia ke klinik dan …” Ica sengaja menghentikan ucapannya, menanti tanggapan pria di sebelahnya.“Ca, jadi kamu tahu! Aku menggendong dia karena kakinya memang terkilir. Tapi jujur, aku gak ada apa-apa sama dia. Begitu sampai di klinik, aku langsung pulang,” terang Rey, sudah menduga arah pembicaraan Ica itu, dan ia tak mau menutupinya.“Ooh!” tanggapan Ica singkat sambil mengedikkan bahunya.“Aku juga baru tahu kalau dia ada di sini waktu aku ke swalayan. Aku pikir itu hanya kebetulan, Ca! Dan kamu tahu sendiri, sikapku sama dia bagaimana. Aku gak mungkin macam-macam,” terang Rey, mencoba meyakinkan Ica.“Malam itu, kamu juga mandi gegara kena kotoran. Kotoran apa?”“Ya ampun, beneran, itu karena

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 35. Kompromi Yang Alot

    Rey yang pagi itu hendak bersiap melapor ke kantor polisi terkejut saat mendapat telepon dari Ica.“Ica, kamu di mana?” Pekik Rey di ujung telepon.“Rey, aku kecopetan. Tolong!” Suara panik Ica membuat Rey ikut panik.“Apa? Tunggu aku! Kamu di mana sekarang?”Di Hotel Bintang, Rey tampak berlari keluar kamar menuju kamar orang tuanya.“Ayah, Bunda, Ica ketemu!”Ketiganya pun langsung menuju hotel tempat Ica berada yang ternyata letaknya kurang dari dua km dari hotel asal mereka.“Ica! Kamu gak kenapa-kenapa, kan?”Sherly langsung memeluk menantunya itu saat mereka bertemu di lobi hotel tempat Ica menginap. Yoga juga tampak memeriksa sekitar tubuh Ica yang lecet."Ya Allah, Ica, kamu kok bisa begini!" Yoga langsung mengajak Ica duduk di kursi rotan. Beberapa orang yang tadi sempat mengerubungi mulai bubar satu per satu. Rey menemui pihak hotel untuk mengumpulkan informasi dan memberikan laporan saat polisi datang.“Kamu gak apa-apa, kan, Ca!”tanya Rey yang baru menghampirinya setelah po

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 34. Saat Ingin Kembali

    “Siapa?”“Maaf, bu! Room service!”Ica tak serta-merta membuka pintu, tapi mengaitkan kunci rantai.Setelah memastikan, ia baru membuka pintu dan mengambil pesanan makan malamnya.“Terima kasih. Ini tipnya.”Ica segera menutup dan mengunci pintu kamar.Malam ini ia ingin menjauh sejenak dari rutinitas barunya sebagai istri Rey dan menikmati malam dengan kesendiriannya yang terasa lain dari biasanya.“Haaah!” Napas panjangnya tanpa sadar keluar dari mulutnya.Biasanya saat di rumah, ia menanti waktu sendiri seperti itu dengan menonton drama sambil makan camilan dengan bebas. Namun, saat ini hati dan pikirannya seolah tak tenang.“Ayah bunda pasti khawatir,”gumamnya lalu mengubah posisi rebahan menjadi duduk.“Diiih, tapi aku masih gak terima kalau Rey beneran bohong. Lagian, ngapain si Cindy itu bisa ada di sini juga? Cis, bikin rusak suasana aja!” gerutunya lalu kembali merebahkan tubuhnya di sofa dan mengganti channel dramanya.“Duuh, sebel, sebel, sebel. Nyebelin!” teriaknya lalu me

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 33. Hadirnya Orang Ketiga

    Dari depan pintu minimarket, Cindy sengaja memanggil-manggil nama Rey dengan suara keras. Beberapa orang tampak memandangi perempuan itu dan juga Rey yang tak jauh dari depan minimarket. "Rey, tunggu! Tolong aku!" Suara lantang Cindy itu terang saja membuat beberapa orang memandangi Rey yang disangka tidak bertanggung jawab.Rey menduga itu hanya akal-akalan Cindy, tapi ia pun terpaksa membawa Cindy ke klinik terdekat. Tanpa ia sadari Cindy mengambil foto candid.Rey buru-buru pergi, takut gadis itu menggunakan trik lain lagi.Sesampainya di kamar ia langsung membuka semua pakaiannya yang tadi sempat bersentuhan dengan Cindy dan mengguyur tubuhnya di bawah shower. “Rey, kok kamu mandi malam-malam? Badan kamu sampe dingin begini?” tanya Mayang yang terbangun saat seseorang tiba-tiba berbaring di sampingnya. “Tadi kena kotoran di minimarket, jadi aku mandi lagi. Peluk dong sayang, aku kedinginan,” rengek Rey saat Ica memegangi tangan dan wajahnya.Tanpa banyak bicara, perempuan itu l

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 32. Rencana Masa Depan

    Sherly tersenyum meringis melihat reaksi spontan Rey itu. Ia mengira Rey pasti tidak akan setuju dan berpikir itu ide konyol.“Bunda cuma merasa, Ica itu sudah dekat sama kita. Lagipula, Ica baru ditinggal papanya. Kalau Bunda lihat, wajah Ica tuh kayak yang masih sedih gitu.” Ungkap Sherly dengan wajah memelas. Berharap anak lelakinya itu tak marah.“Bunda serius?” tanya Rey, masih tak percaya dengan niatan bundanya itu. “Serius lha, Rey! Bunda tuh udah sayang banget sama Ica,” terang Sherly, mencoba meyakinkan putranya lagi.“Yah, ayah sendiri gimana? Sudah setuju dengan rencana Bunda ini?” Rey berdiri tak tenang, menahan rasa kaget dan emosinya.“Ayah sih setuju jika itu memang positif. Win-win solution juga. Kita bisa membantu keluarga mereka dengan merawat Ica, dan bunda akan ada teman di rumah.”“Ayah pikirannya ke bisnis aja, pakai win-win solution segala.” Celetuk Sherly sambil menepuk bahu suaminya itu pelan.“Ya, memang kenyataannya begitu, kan! Jadi, gimana menurut kamu, Re

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 2. Kenapa Harus Menikah?

    Beberapa hari setelah kelulusan SMA-nya, Reni-sang mama menerima telepon dari tante Sherly, kawan dekat keluarga mereka saat di komplek, mengundang keluarga Ica ke acara syukuran putra tunggal mereka Reyhan yang baru lulus kuliah di ITB. Reyhan yang biasa dipanggil Rey itu memang mengenal Ica dan Fa

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 1. Bersatu Untuk Berpisah

    Seorang pemuda melepas lumatan bibirnya dari gadis lugu di rengkuhannya yang menatap sendu.“Besok aku harus pergi! Kamu baik-baik, ya!”“Tapi aku gak mau sendirian. Aku maunya sama kamu.”“Ssst, aku tahu.” Ditariknya gadis itu ke dalam pelukannya. Sekali lagi ia menciumi rambut hitam wangi gadis ya

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 7. Kabur Ke Villa

    “Ca, bener nih, gak mau ikut ke kota?” Seru Anggi kencang dari pintu villa.Ica yang sejak tadi memperhatikan laut yang berarak sempat terhenyak. Tapi kemudian ia melambaikan tangannya.“Iya, aku agak papa. Aku lagi enjoy nieh! Titip minuman kesukaanku aja ya!” Teriaknya hampir tak terdengar, diliha

  • AKU ADALAH MILIK KAWAN KAKAK   Bab 6. Hati Yang Galau

    Flasback InPrang!! “Huuu…….huwaaaa……!” Suara gelas pecah diikuti erangan seorang gadis mungil membahana di ruang makan. “Udah, Ca! Jangan nangis lagi, sini biar Rey yang beresin kacanya!” Seorang anak remaja berjongkok memunguti pecahan gelas di lantai. Gadis mungil itu memandanginya sambil ses

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status