MasukDari depan pintu minimarket, Cindy sengaja memanggil-manggil nama Rey dengan suara keras. Beberapa orang tampak memandangi perempuan itu dan juga Rey yang tak jauh dari depan minimarket. "Rey, tunggu! Tolong aku!" Suara lantang Cindy itu terang saja membuat beberapa orang memandangi Rey yang disangka tidak bertanggung jawab.Rey menduga itu hanya akal-akalan Cindy, tapi ia pun terpaksa membawa Cindy ke klinik terdekat. Tanpa ia sadari Cindy mengambil foto candid.Rey buru-buru pergi, takut gadis itu menggunakan trik lain lagi.Sesampainya di kamar ia langsung membuka semua pakaiannya yang tadi sempat bersentuhan dengan Cindy dan mengguyur tubuhnya di bawah shower. “Rey, kok kamu mandi malam-malam? Badan kamu sampe dingin begini?” tanya Mayang yang terbangun saat seseorang tiba-tiba berbaring di sampingnya. “Tadi kena kotoran di minimarket, jadi aku mandi lagi. Peluk dong sayang, aku kedinginan,” rengek Rey saat Ica memegangi tangan dan wajahnya.Tanpa banyak bicara, perempuan itu l
Sherly tersenyum meringis melihat reaksi spontan Rey itu. Ia mengira Rey pasti tidak akan setuju dan berpikir itu ide konyol.“Bunda cuma merasa, Ica itu sudah dekat sama kita. Lagipula, Ica baru ditinggal papanya. Kalau Bunda lihat, wajah Ica tuh kayak yang masih sedih gitu.” Ungkap Sherly dengan wajah memelas. Berharap anak lelakinya itu tak marah.“Bunda serius?” tanya Rey, masih tak percaya dengan niatan bundanya itu. “Serius lha, Rey! Bunda tuh udah sayang banget sama Ica,” terang Sherly, mencoba meyakinkan putranya lagi.“Yah, ayah sendiri gimana? Sudah setuju dengan rencana Bunda ini?” Rey berdiri tak tenang, menahan rasa kaget dan emosinya.“Ayah sih setuju jika itu memang positif. Win-win solution juga. Kita bisa membantu keluarga mereka dengan merawat Ica, dan bunda akan ada teman di rumah.”“Ayah pikirannya ke bisnis aja, pakai win-win solution segala.” Celetuk Sherly sambil menepuk bahu suaminya itu pelan.“Ya, memang kenyataannya begitu, kan! Jadi, gimana menurut kamu, Re
“Ca, sayang! Ayo, bangun! Kita sudah sampai, sudah landing!”“Hah, apa?”“Kita sudah di daratan,”terang Rey lagi, lalu tersenyum geli ketika gadis itu celingukan memperhatikan sekelilingnya dan juga melihat keluar melalui kaca jendela pesawat.“Waah, kita sudah turun. Pesawatnya selamat, alhamdulillah ya Allah!” gumamnya sambil menengadahkan tangan, lalu mengusap wajahnya.“Ica, sudah tenang, kan, gak terjadi apa-apa, kan naik pesawat?” Ayah Yoga ikut mengomentari saat melihat tingkah lugu menantunya.“Hehe, iya, yah! Alhamdulillah.”Ica memperhatikan saat Rey melepas sabuk pengaman dan mengikutinya. Hampir semua penumpang nampak bersiap-siap turun dan mengambil tas dari kabin setelah pramugari memberi informasi bahwa pesawat sudah parkir dan pintu pesawat sudah dibuka.Rey mengelus kepala Ica saat ia hendak berdiri, seolah memberinya tanda bahwa semua baik-baik saja.“Huaahh!” Ica menutup mulutnya karena menguap lagi dan lagi saat mereka berada di mobil yang membawa keluarga itu ke ho
Ica memegangi tangan Rey erat saat ia sudah duduk di kabin pesawat. Dia memang belum pernah naik pesawat. Perjalanan travelliing bersama keluarga Rey kali ini menjadi perjalanan pertamanya naik kapal terbang. "Rey, apa aku minum obat anti mabuk aja, ya! Biar aku tidur!"Rey tertawa ringan,"kalau kamu tidur, kamu jadi gak bisa menikmati perjalanan di udara, dong!", ia menarik kepala Ica ke bahunya, lalu seperti membacakan sesuatu di atas kepala Ica, lalu meniup kepala Ica. Ica hanya diam dan makin mengeratkan pegangannya ke lengan Rey. "Sudah aku bacakan doa, supaya kamu gak takut. Anggap aja kamu naik bis besar, yang melayang!" bisik Rey setengah bercanda lalu mengelus tangan Ica berharap bisa menenangkannya. [ Para penumpang yang terhormat, selamat datang di Penerbangan 123A dengan tujuan Bandung menuju Lombok.Saat ini, kami berada di antrean ketiga untuk lepas landas dan diperkirakan akan mengudara dalam waktu sekitar tujuh menit.Mohon pastikan sabuk pengaman Anda telah terpasa
"Rey, ngapain kita ke sini?""Ya, coba jalan-jalan, aja! Lagian memang ada di area komplek kita. Kamu juga harus tahu, fasilitas apa yang ada di sini. Aku kepikiran, nanti kita masuk member di Gym sana itu, supaya kita bisa rutin olahraga." Rey menunjuk sebuah gedung kaca dengan pemandangan alat-alat gym yang terlihat dari luar. "Di rumah juga sudah ada alat gym.""Di rumah kan hanya untuk latihan rutin, kalau untuk pembentukan otot, harus ada coach yang mendampingi kita, supaya tidak cedera. Udah, kamu mau pesan apa?""Aku mau cheese burger sama kentang."Rey tampak memesan beberapa makanan cepat saji yang berada di kawasan komplek. Ia sengaja mengajak Ica keluar untuk menunjukkan area supermarket dan pasar bersih yang tak jauh dari lokasi residence. "Hari ini kamu gak kemana-mana?""Aku berasa cape.""Yee, itu kan karena ulah kamu sendiri." Ica menepuk bahu Rey yang disambut tawa yang meledek. "Sayang, tapi bener lho, pagi-pagi sudah olahraga seperti itu baik untuk kebugaran pria
"Jadi, selama ini, kamu pikir aku punya kelainan s*x?"Ica menggeleng pelan. Ia tak tahu kenapa ia berprasangka buruk pada Rey. "Terus kenapa, dong! Kamu beberapa hari ini, kayak ngelamun, terus seperti sengaja menghindari aku? Apa itu bukannya kamu pikir aku pernah melakukan 'itu' sama orang lain?"Ica menatap Rey lalu menyandarkan kepalanya di dada Rey. "Maaf, aku berprasangka buruk sama kamu. Habisnya kamu tuh, kayak yang udah ahli, udah punya pengalaman tentang 'itu'. Aku yang masih awam ini kan jadi curiga.""Ca, kamu tahu, kan! Kamu juga sering lihat di drama-drama, bagaimana para aktor dan aktris mencontohkan beraneka ragam posisi.""Jadi, kamu juga suka nonton drama?" Ica mendongakkan wajahnya. Rey tersenyum lalu mencium ujung hidung Ica sesaat. "Yang di drama itu gak ada apa-apanya, Ca! Yang aku tonton lebih detail dari pada itu," ungkap Rey sambil mesem. "Rey, kamu...kamu nonton blue film, ya? Idih..." Ica mencubit bahu dan telinga Rey yang langsung meringis sembari terta
“Ca, bener nih, gak mau ikut ke kota?” Seru Anggi kencang dari pintu villa.Ica yang sejak tadi memperhatikan laut yang berarak sempat terhenyak. Tapi kemudian ia melambaikan tangannya.“Iya, aku agak papa. Aku lagi enjoy nieh! Titip minuman kesukaanku aja ya!” Teriaknya hampir tak terdengar, diliha
Flasback InPrang!! “Huuu…….huwaaaa……!” Suara gelas pecah diikuti erangan seorang gadis mungil membahana di ruang makan. “Udah, Ca! Jangan nangis lagi, sini biar Rey yang beresin kacanya!” Seorang anak remaja berjongkok memunguti pecahan gelas di lantai. Gadis mungil itu memandanginya sambil ses
Ica bersujud sambil memejamkan matanya yang masih sangat mengantuk lepas shalat shubuh. “Ca!”Rey menyentuh pundaknya pelan. Ica bangkit lalu mencium tangan Rey. “Sekalian dong, pipiku dan ini..!”Rey menunjuk bibirnya. Ica melotot tak percaya lalu mendorong cowok itu. “Dasar genit, nggak sopan,
Sejak pernikahan itu terjadi, Ica mencoba meyakinkan diri, bahwa semua itu demi kebaikan dirinya. Dan sebersit perasaan sukanya pada sosok Rey yang dulu pernah ia kesampingkan, menjadi sebuah kekuatan baginya untuk menerima kenyataan di depannya.Sepeninggal Rey, ia kembali harus menjalani hari-hari







