Masuk“Ca, sayang! Ayo, bangun! Kita sudah sampai, sudah landing!”“Hah, apa?”“Kita sudah di daratan,”terang Rey lagi lalu tersenyum geli ketika gadis itu celingukan memperhatikan sekelilinya dan juga melihat keluar melalui kaca jendela pesawat.“Waah, kita sudah turun. Pesawatnya selamat, alhamdulillah ya Allah!” gumamnya sambil menengadahkan tangan lalu mengusap wajahnya.“Ica, sudah tenang, kan, gak terjadi apa-apa, kan naik pesawat?” Ayah Yoga ikut mengomentari saat melihat tingkah lugu menantunya.“Hehe, iya, yah! Alhamdulillah.”Ica memperhatikan saat Rey melepas sabuk pengaman dan mengikutinya. Hampir semua penumpang nampak bersiap-siap turun dari dan mengambil tas dari kabin setelah pramugari memberi informasi jika pesawat sudah parkir dan pintu pesawat sudah dibuka.Rey mengelus kepala Ica saat ia hendak berdiri, seolah memberinya tanda bahwa semua baik-baik saja.“Huaahh!” Ica menutup mulutnya karena menguap lagi dan lagi.“Masih ngantuk? Nanti sampai di hotel, kita istirahat dul
Ica memegangi tangan Rey erat saat ia sudah duduk di kabin pesawat. Dia memang belum pernah naik pesawat. Perjalanan travelliing bersama keluarga Rey kali ini menjadi perjalanan pertamanya naik kapal terbang. "Rey, apa aku minum obat anti mabuk aja, ya! Biar aku tidur!"Rey tertawa ringan,"kalau kamu tidur, kamu jadi gak bisa menikmati perjalanan di udara, dong!", ia menarik kepala Ica ke bahunya, lalu seperti membacakan sesuatu di atas kepala Ica, lalu meniup kepala Ica. Ica hanya diam dan makin mengeratkan pegangannya ke lengan Rey. "Sudah aku bacakan doa, supaya kamu gak takut. Anggap aja kamu naik bis besar, yang melayang!" bisik Rey setengah bercanda lalu mengelus tangan Ica berharap bisa menenangkannya. [ Para penumpang yang terhormat, selamat datang di Penerbangan 123A dengan tujuan Bandung menuju Lombok.Saat ini, kami berada di antrean ketiga untuk lepas landas dan diperkirakan akan mengudara dalam waktu sekitar tujuh menit.Mohon pastikan sabuk pengaman Anda telah terpasa
"Rey, ngapain kita ke sini?""Ya, coba jalan-jalan, aja! Lagian memang ada di area komplek kita. Kamu juga harus tahu, fasilitas apa yang ada di sini. Aku kepikiran, nanti kita masuk member di Gym sana itu, supaya kita bisa rutin olahraga." Rey menunjuk sebuah gedung kaca dengan pemandangan alat-alat gym yang terlihat dari luar. "Di rumah juga sudah ada alat gym.""Di rumah kan hanya untuk latihan rutin, kalau untuk pembentukan otot, harus ada coach yang mendampingi kita, supaya tidak cedera. Udah, kamu mau pesan apa?""Aku mau cheese burger sama kentang."Rey tampak memesan beberapa makanan cepat saji yang berada di kawasan komplek. Ia sengaja mengajak Ica keluar untuk menunjukkan area supermarket dan pasar bersih yang tak jauh dari lokasi residence. "Hari ini kamu gak kemana-mana?""Aku berasa cape.""Yee, itu kan karena ulah kamu sendiri." Ica menepuk bahu Rey yang disambut tawa yang meledek. "Sayang, tapi bener lho, pagi-pagi sudah olahraga seperti itu baik untuk kebugaran pria
"Jadi, selama ini, kamu pikir aku punya kelainan s*x?"Ica menggeleng pelan. Ia tak tahu kenapa ia berprasangka buruk pada Rey. "Terus kenapa, dong! Kamu beberapa hari ini, kayak ngelamun, terus seperti sengaja menghindari aku? Apa itu bukannya kamu pikir aku pernah melakukan 'itu' sama orang lain?"Ica menatap Rey lalu menyandarkan kepalanya di dada Rey. "Maaf, aku berprasangka buruk sama kamu. Habisnya kamu tuh, kayak yang udah ahli, udah punya pengalaman tentang 'itu'. Aku yang masih awam ini kan jadi curiga.""Ca, kamu tahu, kan! Kamu juga sering lihat di drama-drama, bagaimana para aktor dan aktris mencontohkan beraneka ragam posisi.""Jadi, kamu juga suka nonton drama?" Ica mendongakkan wajahnya. Rey tersenyum lalu mencium ujung hidung Ica sesaat. "Yang di drama itu gak ada apa-apanya, Ca! Yang aku tonton lebih detail dari pada itu," ungkap Rey sambil mesem. "Rey, kamu...kamu nonton blue film, ya? Idih..." Ica mencubit bahu dan telinga Rey yang langsung meringis sembari terta
Malam itu kembali menjadi malam panjang bagi Ica dan Rey di ranjang baru mereka. "Rey!""Ica, sayang..."Keduanya saling bersahutan memanggil nama mereka, menambah rasa memuncah di antara keduanya hingga momen puncak untuk kesekian kali, membuat Ica tergeletak tak berdaya.Rey pun tak kalah lelah saat ia baru tuntas mengeluarkan hajatnya. Dipandanginya tubuh Ica yang terengah namun dengan mata terpejam karena rasa kantuknya. Rey tersenyum puas, lalu membelai pelipis Ica sebelum akhirnya ia pun ikut terlelap. Jelang dini hari, panggilan biologis membuat Ica menggeliat dan memaksa membuka matanya. Sebuah tangan kekar masih membungkus tubuhnya. Perlahan ia menoleh dan mendapati wajah tenang Rey yang tertidur dengan dada kekar tak berkain yang naik turun. Ica seperti menyadari sesuatu dan langsung menyingkap selimutnya. Ia pun meringis mendapati tak ada sehelai kain pun melekat di tubuhnya saat itu. Semalam sepertinya ia benar-benar dibuat terlena oleh ulah Rey lagi. "Rey, Rey, bang
Hampir jam delapan saat Rey tiba di lokasi sate kambing terkenal di bilangan Kota Bandung, tempat ia dan kawan-kawannya biasa berkumpul dulu. "Reyhan, apa kabar?" seru beberapa pria saat Rey baru melangkah masuk ke dalam restoran sederhana yang memang selalu penuh. Salah satu pria dengan rambut cepak datang menghampiri Rey, langsung menyalami dan memeluknya singkat. "Apa kabar, bro? Weis, tambah macho aja, lu!" ungkap Angga menepuk bahu Rey lalu menggiringnya ke meja besar di pojok ruangan yang memang sudah dipesan sebelumnya. "Assalamu'alaikum. Sehat-sehat semua, ya!" sapa Rey sumringah. Ia memandangi satu per satu kawan-kawan satu tongkrongannya itu, yang berasal dari satu sekolah menengah dan ada juga yang ia kenal dari sekolah dasar, seperti halnya Faisal. "Wah, masih pakai salam seperti biasa. Gak berubah, lu bro, meski udah lama di luar negeri," seru Brian."Masih dong, harus. Itu kan salah satu ciri kita orang-orang Asia," jawab Rey lalu memilih duduk di sisi kaca. "Sudah
Keesokan harinya, dari arah ruang kerja Rey tak juga melihat Ica keluar dari kamar sedari subuh. Apalagi kemarin Ica sempat mengeluh pusing. Semalam Ica juga minum madu dan beberapa vitamin yang diresepkan Aji.Namun, tetap saja, keduanya masih sempat bergumul semalaman. Merasa khawatir, Rey segera
“Halo, tetangga baru!” Rey yang baru saja akan menyusul Ica masuk terhenti saat seseorang bersepeda menegurnya.“Oh, halo juga, pak! Apa kabar? Perkenalkan, nama saya Reyhan. Kami baru pindahan rumah beberapa hari ini.”“Saya Toni Manurung. Rumah saya tepat di ujung kiri jalan buntu ini. Salam kena
Dan benar saja, Ica kembali merasakan sesuatu yang sangat kuat meledak dari dalam tubuhnya pagi itu. Teriakannya pun seakan tertahan karena ia hanya bisa menenggelamkan wajahnya di atas bed cover yang telah berantakan.Ica berjalan sempoyongan ke arah toilet dan meninggalkan Rey yang langsung terti
“Saya dengar kamu punya perusahaan di bidang IT. Saya lulusan Managemen Bisnis Binus, S2 lho. Apa saya bisa gabung di perusahaan kamu?” tanpa basa basi Cindy langsung melontarkan keinginannya dengan gelas minuman sodanya.Rey menyunggingkan senyum. Ia tak tahu jika wanita bernama Cindy yang barusan







