Chapter: Bab 72. Awal Mula RumorMayang sedang berada di dalam mobil sepulang dari kuliah bahasanya. Seperti biasa sang sopir akan menjemputnya dengan setia, dan hari itu ia memilih pulang ke hotel. Ia ingin menemui Kenshi dan memberinya kejutan. Ya kejutan sederhana hanya karena baru-baru ini ia baru tuntas dari ‘hari-hari datang bulan’ -nya yang menurutnya membuat pria itu kalang kabut bukan kepalang. Apalagi kalau bukan ‘harus menahan hasrat’ biologisnya. Karena hal itu juga, Kenshi lebih sering menghabiskan waktunya di kantor hotel hingga larut malam, dan bertemu sebentar dengan istrinya itu untuk sekedar memberinya ucapan ‘selamat malam’, membawakannya camilan dan menemaninya sarapan. Mayang sangat mengerti hal itu. Karenanya sore ini ia telah mempersiapkan diri, jikalau pria itu akan segera ‘menyerang’-nya lagi di kantor. Mayang menutup mulut menahan tawa gelinya membayangkan tingkah Kenshi nanti.Saat perjalanan hampir dekat, matanya menemukan toko bakeri yang dulu pernah ia masuki bersama Kenshi. Ia pun memint
Last Updated: 2026-10-08
Chapter: Bab 71. Romansa Datang Bulan“Aku hanya mau memijat kaki kamu, supaya tidak keram. Atau jangan-jangan kamu punya pemikiran lain?”Mayang terpana saat lelaki itu menaruh kedua kakinya di pangkuannya lalu memijitnya perlahan. Wajah Mayang memerah.“Apa kamu pikir di kamar mandi tadi belum cukup?”“Kenshi!” pekik Mayang mendorong bahu Kenshi yang diiringi tawa renyah lelaki itu.“Kapan kamu pulang? Aku tidak tahu.”“Semalam, aku minta asisten Hirata memesan tiket lebih awal. Aku ingin cepat bertemu kamu.”Ujar Kenshi ditanggapi oleh wajah Mayang dengan mulut majunya.“Kamu bercanda. Tadi malam aku gak dengar apa pun.”“Kamu tidur seperti batu yang menempel di bantal.”“Kamu berlebihan.” Mayang memukul bahu lelaki itu setengah kesal namun juga senang dengan perhatian Kenshi.Mayang pun menyandarkan kepalanya di sisi sofa, menikmati saat-saat Kenshi memberi pijatan lembut di kedua betisnya yang sejak kemarin memang terasa senat-senut. "Kenshi, apa kamu tidak lelah?" tanya Mayang, menatap wajah Kenshi yang sesekali men
Last Updated: 2026-10-01
Chapter: Bab 70. Shower TimeKeesokan harinya Mayang merasa tubuhnya telah pulih dan bangun shubuh seperti biasa.Dilihatnya Kenshi masih tertidur, mungkin dia lelah. Semalam dia juga tak menyadari kapan lelaki itu datang. Selepas shalat, Mayang memutuskan untuk bergegas mandi pagi dengan air dingin agar tubuhnya lebih segar.Dua hari kemarin ia absen ke kampus bahasanya, karena sejak malam pertamanya itu, tubuhnya tiba-tiba merasa demam, entah karena lama berendam atau karena sebab lain.Pagi ini dia bertekad untuk kembali memompa semangatnya lagi. Ia menikmati shower air panas lalu mencoba memutar air hangat menjadi agak dingin. Meski sempat menggigil, tapi akhirnya ia merasakan kesegaran.Saat menikmati percikan shower, air tiba-tiba menjadi hangat kembali. Mayang pun membuka matanya dan hampir terlonjak ketika sosok Kenshi telah berada di belakang tubuhnya. Reflek ia segera menyilangkan tangannya. Mereka berada di bawah shower yang sama tanpa sehelai kain.“Kenshi, kamu mau apa? Aku sedang mandi,” tukasnya
Last Updated: 2026-09-28
Chapter: Bab 69. Malu Setengah Mati'Apa dia sudah mendengar berita? Apakah dia akan pergi?' Batin Kenshi menduga-duga."Sayang, apa yang kamu lakukan?" tanyanya, langsung mendekat. "Aku sedang membantumu menata pakaian untuk dinas ke Kyoto." Jawab Mayang dengan ringan.Kenshi yang awalnya khawatir pun heran. Ternyata kemeja yang tadi dilipat dan dimasukkan ke dalam koper adalah kemeja dan jas miliknya. Ia lalu menahan gerakan tangan Mayang, dan membalikkan tubuh perempuan itu dan memeluknya, lega. "Ada apa, Kenshi?" Mayang kini yang merasa heran. Apalagi, Kenshi tampak mengelus punggungnya. Kenshi menarik napasnya lalu melepas pelukannya, sehingga Mayang bisa melihat wajah Kenshi. "Kenapa? Apa ada sesuatu yang salah?" tanya Mayang, penasaran lagi. "Kamu tidak perlu mempersiapkan apa-apa untuk perjalanan bisnisku. Asistenku di hotel sudah mempersiapkan semuanya." Terang Kenshi, lalu mengajak Mayang keluar ruang ganti. Kenshi mengajak Mayang menuju ranjang. Mayang langsung melepas genggaman tangan Kenshi. Langka
Last Updated: 2026-09-25
Chapter: Bab 68. Takut Gara-gara Sebotol MinumanKenshi tertawa setelah mendengar keinginan Mayang. "Kenapa tertawa? Aku serius. Semalam, kamu mabuk. Apa kamu ingat?" tutur Mayang seolah ingin mengingatkan peristiwa semalam. Ekspresi Kenshi langsung berubah dan menatap Mayang. Apa dia pikir semalam dia melakukan itu karena mabuk? Pikir Kenshi menerka. Keduanya saling berpandangan di sisi sofa dengan pikiran masing-masing. Kenshi meraih salah satu tangan Mayang yang menatapnya lekat. "Semalam, tentu saja aku ingat semuanya, sayang!" Kenshi mencium punggung tangan Mayang, seolah ingin memberinya ketenangan batin yang mungkin membuatnya khawatir."Kamu... semalam habis minum, kan! Aku tahu bagaimana bau alkohol itu dan… huft," kata-kata Mayang kembali terhenti saat Kenshi mengecup bibirnya pelan."Aku tahu. Aku minta maaf. Kemarin sore, aku minum kaleng minuman yang ada di kantor karena rasanya cuaca panas sekali," sanggah Kenshi, mencoba mencari alasan yang masuk akal. "Tapi itu haram, Kenshi! Otak kamu bisa rusak karena minuman s
Last Updated: 2026-09-23
Chapter: Bab 67. Siang Terik Yang MenyalaKenshi menempelkan es yang telah dilapisi tissu ke kening Mayang yang sedikit memar. "Maaf, aku mengagetkanmu! Aku pikir, kamu mungkin butuh sesuatu," tutur Kenshi, menahan geli saat melihat Mayang meringis sambil sesekali melirik ke arahnya.Wajah Mayang kembali menekuk dan sengaja menghindari tatapan Kenshi. Ia masih tak berani atau lebih tepatnya, ia masih merasa malu menatap wajah yang semalam berada di atas tubuhnya itu. Wajahnya pun terasa memanas. "Aku… aku hanya cari minuman segar," ungkapnya sambil memalingkan wajahnya ke arah taman sambil memainkan jemarinya di atas meja. Kenshi menyodorkan sesuatu ke hadapan Mayang. Ternyata Kenshi membawa sebuah tote bag berisi beberapa gelas minuman dingin."Coffee, cappuccino or milk tea?" tanya Kenshi sambil memiringkan wajah dengan tetap menempelkan kompresan ke kening Mayang. Mata Mayang langsung berbinar saat melihat minuman-minuman dingin di depannya. Ia melihat-lihat label yang tertera dan mengambil gelas cappuccino lalu menunju
Last Updated: 2026-09-20
Chapter: Bab 40. Angin Laut Yang Menggoda"Bunda!" Ica menyapa ibu mertuanya dengan wajah ceria di rooftop."Eh, sayang, kamu udah bangun. Sini-sini!" Sherly menyambut menantunya dengan senang hati. "Wah, indah banget suasananya! Di atas sini laut berasa luas banget, ya, Bun!" Seru Ica duduk dan langsung menikmati suasanana di sekeliling kapal yang merupakan lautan biru luas yang beriak tenang. "Untung saja, pas kita berangkat, laut tenang dan anginnya gak kencang. Jadi kapal juga gak terlalu goyang. Kamu gak mabuk laut, kan, Ca?" tanya Yoga mengingatkan. "Enggak, yah!" Ica menggeleng mantap sambil tersenyum. Rey yang ikut senang membelai rambut Ica yang diterpa angin. "Papa pikir kamu mabuk laut, soalnya langsung tidur pules banget." Timpal Sherly yang diiringi tawa Yoga dan juga Rey. "Tidurnya kayak batu, lho, Ma! Berat banget di bahu aku." Keluh Rey sengaja menyindir. "Dih, kamu!" Ica mencubit perut cowok itu gemas, namun ikut tertawa geli.Mau bagaimana lagi, aktivitas outdoor seharian kemarin dan waktu istirahatn
Last Updated: 2026-10-15
Chapter: Bab 39. Tak Mau Lepas"3, 2, 1!" Rey menghitung mundur di luar toilet setelah menyodorkan baju ganti. "Reyhan, apa ini?" Teriakan Ica dari dalam toilet menggema seisi kamar. Rey hanya tertawa geli."Rey, ini gak bisa dipakai. Ayo, dong! Ambilin baju yang benar!" pinta Ica dari balik pintu. Ia merasa gaun yang muncul tiba-tiba itu memang ulah Rey, dan ia tak berani keluar dari toilet. "Udah, ayo coba keluar!""Ambilin bathrobe-nya dulu! Aku malu," rengek Ica."Ayo, keluar! Aku kan suami kamu. Masa gitu aja malu." Ujar Rey sambil sesekali tertawa geli. Beberapa menit berlalu, pintu toilet terbuka perlahan. Hanya saja, Ica masih berusaha menyembunyikan tubuhnya di balik pintu. Ia mengintip takut dari sisi pintu sebelum keluar. "Rey, tutup mata dulu!" Pekik Ica. "Iya, iya. Aku tutup mata, nih! Ayo, cepet keluar. Aku juga kan mau mandi." Rey pura-pura menutup matanya, meski ia masih bisa melihat sosok Ica yang ragu-ragu keluar dari toilet. "Rey, iiiih, kamu bohong!" Ica terkejut saat tiba-tiba Rey menarik
Last Updated: 2026-10-13
Chapter: Bab 38. Strategi Jitu Yang Tak Terlupakan“Jadi kamu yang kasih tahu kakak, kalau Cindy ada di sini?" bisik Ica saat mengambil makanan prasmanan. Rey hanya terlihat menganggukkan kepalanya sambil memilih makanan di depannya."Kakak baru balik ke Batam. Itu pasti merepotkan."Rey hanya tertawa lalu mendorong tubuh Ica menuju konter minuman. “Ya, habis aku bingung. Kamu sepertinya terganggu banget sama cewek itu sampai nggak percaya sama aku. Padahal dia calon kakak ipar kamu, lho!" canda Rey, meski ia juga tak yakin dengan kata-katanya. Ica mengedikkan bahunya sambil memajukan bibirnya, seolah memberi arti bahwa dia tidak setuju dengan pendapat Rey. Rey kembali tertawa geli."Waktu aku bilang ke Faisal, dia juga kaget, lho! Kok, Cindy bisa bareng sama acara kita?”"Masa? Jadi, maksud kamu, dia sengaja ke mari?" tebak Ica sambil celingukan. Rey mengedikkan bahunya, enggan menjelaskan. "Mungkin. Tapi sudahlah! Mereka bukan urusan kita. Besok juga kita berangkat ke Bali." Terang Rey lalu memanggil seorang waiter."Mas, saya mi
Last Updated: 2026-10-08
Chapter: Bab 37. Pasir Pantai Yang Menenangkan"Ca, Ica, tunggu!" Rey berusaha mengejar Ica yang memilih pergi setelah turun dari Banana Boat. "Aku mau ke hotel.""Tunggu bareng, Ca!" panggil Rey lagi, menjajari langkah Ica yang semakin cepat. "Udah sana, kamu temani saja ayah bunda! Aku udah capek!""Ca, jangan seperti ini, dong! Masa gara-gara Cindy, kamu marah gak ada habisnya.""Terserah apa kata kamu. Aku cuma mau ke kamar."Dari arah pantai, sosok Cindy tampak masih melambai-lambaikan tangannya ke arah mereka berdua. Ica makin merasa muak dan langsung berlari meninggalkan Rey yang terus mengekorinya. Setelah mandi dan mengganti pakaiannya, Ica langsung menuju ranjang di mana Rey masih ada di kamar, memperhatikan gerak-geriknya dari sofa. "Kamu gak makan dulu?""Aku gak lapar. Aku capek!""Mau aku beliin makanan atau aku bawain aja makanannya ke kamar?""Gak usah. Udah sana, gak usah peduliin aku!""Jangan seperti ini, dong, Ca! Kita sedang bulan madu dan aku ingin kamu dan aku menikmati semuanya bersama." Ica hanya men
Last Updated: 2026-09-22
Chapter: Bab 36. Negosiasi Saja Tak CukupRey menarik napas dan duduk di samping Ica.“Apa karena itu kamu ngambek sama aku lalu pergi gak bilang-bilang?"Ica hanya memberengut lalu membuang wajahnya lagi."Ca, waktu itu aku cuma sekadar menolong, kok! Pertemuan itu juga gak sengaja. Bukan aku yang mau.”“Aku juga dengar, kamu gendong dia ke klinik dan …” Ica sengaja menghentikan ucapannya, menanti tanggapan pria di sebelahnya.“Ca, jadi kamu tahu! Aku menggendong dia karena kakinya memang terkilir. Tapi jujur, aku gak ada apa-apa sama dia. Begitu sampai di klinik, aku langsung pulang,” terang Rey, sudah menduga arah pembicaraan Ica itu, dan ia tak mau menutupinya.“Ooh!” tanggapan Ica singkat sambil mengedikkan bahunya.“Aku juga baru tahu kalau dia ada di sini waktu aku ke swalayan. Aku pikir itu hanya kebetulan, Ca! Dan kamu tahu sendiri, sikapku sama dia bagaimana. Aku gak mungkin macam-macam,” terang Rey, mencoba meyakinkan Ica.“Malam itu, kamu juga mandi gegara kena kotoran. Kotoran apa?”“Ya ampun, beneran, itu karena
Last Updated: 2026-09-21
Chapter: Bab 35. Kompromi Yang AlotRey yang pagi itu hendak bersiap melapor ke kantor polisi terkejut saat mendapat telepon dari Ica.“Ica, kamu di mana?” Pekik Rey di ujung telepon.“Rey, aku kecopetan. Tolong!” Suara panik Ica membuat Rey ikut panik.“Apa? Tunggu aku! Kamu di mana sekarang?”Di Hotel Bintang, Rey tampak berlari keluar kamar menuju kamar orang tuanya.“Ayah, Bunda, Ica ketemu!”Ketiganya pun langsung menuju hotel tempat Ica berada yang ternyata letaknya kurang dari dua km dari hotel asal mereka.“Ica! Kamu gak kenapa-kenapa, kan?”Sherly langsung memeluk menantunya itu saat mereka bertemu di lobi hotel tempat Ica menginap. Yoga juga tampak memeriksa sekitar tubuh Ica yang lecet."Ya Allah, Ica, kamu kok bisa begini!" Yoga langsung mengajak Ica duduk di kursi rotan. Beberapa orang yang tadi sempat mengerubungi mulai bubar satu per satu. Rey menemui pihak hotel untuk mengumpulkan informasi dan memberikan laporan saat polisi datang.“Kamu gak apa-apa, kan, Ca!”tanya Rey yang baru menghampirinya setelah po
Last Updated: 2026-09-08