Chapter: Bab 58. Pengakuan Demi PengakuanSeorang lelaki yang merupakan supir pribadi Kenshi memasuki kantor lalu merunduk hormat.“Apa Mayang sudah memulai kelasnya?”, sambut Kenshi pagi itu lalu berdiri dan memilih bersandar di sisi depan meja.Lelaki itu menyerahkan sebuah map pada Kenshi. Kenshi membuka map tersebut.“Nyonya sudah memulai kelasnya, Tuan! Ini berkas registrasi dan administrasinya. Semua sudah lengkap dan sudah dibayar lunas.”“Haik, jadi tidak ada masalah kan?” Kenshi meletakkan map di meja.“Tidak ada masalah. Sepertinya nyonya sudah mengenal seseorang di sana. Hanya saja beliau tidak nyaman dengan hal itu.”“Teman? Mereka sudah kenal?.” Kening Kenshi berkerut. Dia sepertinya tidak punya informasi mengenai hal itu sebelumnya.“Apa perlu saya cari informasi mengenai hal ini, Tuan?”Kenshi hanya mengangguk sambil memandang lurus ke depan seperti ada sesuatu yang ia pikirkan.“Sore ini biar aku yang menjemput?”“Baik, Tuan!”Lelaki itu pun merundukkan badannya lalu berlalu meninggalkan Kenshi yang langsung
Last Updated: 2026-03-11
Chapter: Bab 57. Menuju Kampus LagiMayang kaget dengan pelajaran mendasar bahasa jepang. Ia harus mempelajari huruf-huruf dasar yang nanti membentuk huruf Kanji yang berasal dari symbol-simbol yan berasal dari alam. Mayang masih tampak kebingungan dan pusing dengan pelajaran kanjinya.Kenshi membantunya membuat semacam table huruf dan kamus kecil yang bisa ia bawa. Ia juga membuatkan table Kanji huruf-huruf yang biasanya akan ditemui disepanjang jalan atau pertokoan, shingga ia mudah menghapal dan mengenalinya. Belajar bersama itu membuat Mayang semakin dekat dengan Kenshi. Ia menganggap Kenshi adalah guru terbaiknya. Tentu saja Kenshi meminta imbalan dari semua itu.Tak disangka aRomantika PerpustakaanMayang terlihat asyik mondar-mandir di dalam perpustakaan. Sejak Kenshi menyarankan dirinya untuk masuk kelas bahasa jepang, Mayang seperti memperoleh semangatnya lagi.mulai belajar mengumpulkan kata-kata Kanji dari buku-buku yang ada di perpustakaan Kenshi. Ya, Kenshi juga memiliki banyak koleksi buku sejak ia sekol
Last Updated: 2026-03-10
Chapter: Bab 56. Nge-date Dadakan“Sejak kapan? Bukankah rencana pernikahan ini baru beberapa bulan yang lalu? Bahasa Indonesia kamu bagus dan fasih.”“Jadi kamu belum tahu? Kedua orang tua kita sudah merencanakan hal ini lama, sudah satu setengah tahun yang lalu.”“Benarkah?” Wajah Mayang tak percaya.“Apa kamu pikir, aku bisa secepat itu belajar bahasa. Bahasa ini gampang susah!” Ungkap Kenshi. Mayang tiba-tiba tertawa seperti menertawakan Kenshi.“Akhirnya, kamu tidak marah lagi.”Mayang memalingkan mukanya menyadari moodnya kini telah berubah.“Aku hanya senang mendengar kamu mengakuinya.”“Eemm…apa setelah ini, kamu mau mengajakku jalan-jalan keluar? Aku bosan.” Rengek Mayang dengan nada merajuk dan memajukan bibirnya. Kenshi tertawa kecil lalu seperti ingat sesuatu. Ia mengambil kartu lain dan menaruhnya di tangan Mayang. Mayang celingukan lalu memperhatikan kartu ditangannya mirip kartu ATM dengan lambang VISA. Dipandanginya Kenshi guna mendapatkn penjelasan lainnya.“Kamu bisa pergi ke swalayan dekat sini atau
Last Updated: 2026-03-09
Chapter: Bab 55. Tanda Pengenal“Apa yang sebenarnya kamu lakukan? Keluar rumah sendirian seperti itu sangat berbahaya,” tanya Kenshi dengan wajah cemas. IaMayang tak bisa mengelak saat pria itu seolah mencecarnya dengan pertanyaan mirip sebuah interogasi setelah berhari-hari mereka baru bertemu. Ia hanya menatap wajah Kenshi dengan perasaan tak menentu. “Iya, maafkan aku!” ungkapnya dengan wajah menekuk dan mata berkaca-kaca. Ia sebenarnya sudah merasa bersalah karena kejadian hari itu, sudah bertindak ceroboh dan malah merepotkan Kenshi yang terburu-buru dari kantornya untuk sekedar menjemputnya.Namun entah kenapa, tiba-tiba ia merasa kesal. Pertemuan mereka setelah seminggu berpisah kenapa harus dari kejadian seperti ini."Apa kabarmu, Kenshi?" tanya Mayang pelan. Wajah Kenshi langsung berubah."Aku baik-baik saja, nona! Nanti kita bicara lagi setelah berada di rumah."Setelah sampai di rumah, Kenshi segera mengumpulkan para petugas keamanan di rumah seperti hendak memperketat pengamanan. Mayang segera masu
Last Updated: 2026-03-08
Chapter: Bab 54. Bosan Berujung TersesatDan hari itu, jiwa liarnya berteriak dan dengan tekadnya, ia berniat mengikuti bibi Mariko siang hari ketika wanita itu keluar dan satpam lengah.Dan benar saja, ia berhasil keluar rumah dan mengikuti bibi Mariko dengan menggunakan sweater hoody kesayangannya. Hampir 15 menit ia berhasil mengikuti bibi Mariko dari jarak 15 sampai 20 meter, namun begitu ia sampai di jalanan bercabang yang mulai menyempit, tiba-tiba ia kehilangan sosok itu yang entah berbelok ke arah mana. Tentu saja ia menjadi bingung, bahkan saat ia kembali ke arah jalan semula sebelum masuk ke jalan sempit itu, ia tak hapal kemana arah jalan pulang menuju rumah Kenshi.Jalanan siang itu juga tak terlalu ramai karena cuaca siang yang panas. Ia bingung harus bertanya pada siapa dan bagaimana caranya. Karena setahunya, orang-orang jepang pribumi jarang yang mau berbicara Bahasa selain Bahasa mereka.Setelah ia gagal menemukan arah atau pun tanda-tanda menuju rumah Kenshi yang memang baru beberapa kali ia lewati, mau ta
Last Updated: 2026-03-07
Chapter: Bab 53. Kesendirian Tak BerkawanSetelah hari dimana Kenshi dijemput Hirata, selama beberapa hari Kenshi tak pulang ke rumah. Seperti dugaan Mayang, setelah pernikahannya, Kenshi akan langsung menghadapi permasalahan pelik di hotel dan perusahaannya.Mayang mencoba memahami hal itu, meski secara sadar ia merasa tak berdaya, karena tak bisa membantu lelaki itu ataupun perusahaan papanya."Nona, saya akan pulang. Makan malam anda sudah tersedia,"sahut Bibi Mariko yang sudah terlihat rapi dengan mantel dan tasnya, saat Mayang baru masuk dari garasi setelah berjalan-jalan.Ya. Bibi Mariko dan anaknya hanya bekerja saat pagi hingga siang setelah selesai makan siang dan menyiapkan makan malam. Siang menjelang sore, perempuan Jepang itu akan pulang ke rumahnya tepat waktu."Apa rumah bibi dekat? Saya lihat bibi hanya berjalan kaki,"tanya Mayang sambil mengiringi perempuan itu menuju pekarangan depan rumah."Betul, nona. Rumah saya memang tidak terlalu jauh dari distrik sini. Saya sudah biasa berjalan kaki untuk pergi kemana
Last Updated: 2026-03-06
Chapter: Bab 31. Kejutan Tak Terduga“Ca, sayang! Ayo, bangun! Kita sudah sampai, sudah landing!”“Hah, apa?”“Kita sudah di daratan,”terang Rey lagi lalu tersenyum geli ketika gadis itu celingukan memperhatikan sekelilinya dan juga melihat keluar melalui kaca jendela pesawat.“Waah, kita sudah turun. Pesawatnya selamat, alhamdulillah ya Allah!” gumamnya sambil menengadahkan tangan lalu mengusap wajahnya.“Ica, sudah tenang, kan, gak terjadi apa-apa, kan naik pesawat?” Ayah Yoga ikut mengomentari saat melihat tingkah lugu menantunya.“Hehe, iya, yah! Alhamdulillah.”Ica memperhatikan saat Rey melepas sabuk pengaman dan mengikutinya. Hampir semua penumpang nampak bersiap-siap turun dari dan mengambil tas dari kabin setelah pramugari memberi informasi jika pesawat sudah parkir dan pintu pesawat sudah dibuka.Rey mengelus kepala Ica saat ia hendak berdiri, seolah memberinya tanda bahwa semua baik-baik saja.“Huaahh!” Ica menutup mulutnya karena menguap lagi dan lagi.“Masih ngantuk? Nanti sampai di hotel, kita istirahat dul
Last Updated: 2026-03-11
Chapter: Bab 30. Perjalanan MendebarkanIca memegangi tangan Rey erat saat ia sudah duduk di kabin pesawat. Dia memang belum pernah naik pesawat. Perjalanan travelliing bersama keluarga Rey kali ini menjadi perjalanan pertamanya naik kapal terbang. "Rey, apa aku minum obat anti mabuk aja, ya! Biar aku tidur!"Rey tertawa ringan,"kalau kamu tidur, kamu jadi gak bisa menikmati perjalanan di udara, dong!", ia menarik kepala Ica ke bahunya, lalu seperti membacakan sesuatu di atas kepala Ica, lalu meniup kepala Ica. Ica hanya diam dan makin mengeratkan pegangannya ke lengan Rey. "Sudah aku bacakan doa, supaya kamu gak takut. Anggap aja kamu naik bis besar, yang melayang!" bisik Rey setengah bercanda lalu mengelus tangan Ica berharap bisa menenangkannya. [ Para penumpang yang terhormat, selamat datang di Penerbangan 123A dengan tujuan Bandung menuju Lombok.Saat ini, kami berada di antrean ketiga untuk lepas landas dan diperkirakan akan mengudara dalam waktu sekitar tujuh menit.Mohon pastikan sabuk pengaman Anda telah terpasa
Last Updated: 2026-03-09
Chapter: Bab 29. Sebuah Rencana"Rey, ngapain kita ke sini?""Ya, coba jalan-jalan, aja! Lagian memang ada di area komplek kita. Kamu juga harus tahu, fasilitas apa yang ada di sini. Aku kepikiran, nanti kita masuk member di Gym sana itu, supaya kita bisa rutin olahraga." Rey menunjuk sebuah gedung kaca dengan pemandangan alat-alat gym yang terlihat dari luar. "Di rumah juga sudah ada alat gym.""Di rumah kan hanya untuk latihan rutin, kalau untuk pembentukan otot, harus ada coach yang mendampingi kita, supaya tidak cedera. Udah, kamu mau pesan apa?""Aku mau cheese burger sama kentang."Rey tampak memesan beberapa makanan cepat saji yang berada di kawasan komplek. Ia sengaja mengajak Ica keluar untuk menunjukkan area supermarket dan pasar bersih yang tak jauh dari lokasi residence. "Hari ini kamu gak kemana-mana?""Aku berasa cape.""Yee, itu kan karena ulah kamu sendiri." Ica menepuk bahu Rey yang disambut tawa yang meledek. "Sayang, tapi bener lho, pagi-pagi sudah olahraga seperti itu baik untuk kebugaran pria
Last Updated: 2026-03-08
Chapter: Bab 28. Penjelasan Gamblang Yang Mencengangkan"Jadi, selama ini, kamu pikir aku punya kelainan s*x?"Ica menggeleng pelan. Ia tak tahu kenapa ia berprasangka buruk pada Rey. "Terus kenapa, dong! Kamu beberapa hari ini, kayak ngelamun, terus seperti sengaja menghindari aku? Apa itu bukannya kamu pikir aku pernah melakukan 'itu' sama orang lain?"Ica menatap Rey lalu menyandarkan kepalanya di dada Rey. "Maaf, aku berprasangka buruk sama kamu. Habisnya kamu tuh, kayak yang udah ahli, udah punya pengalaman tentang 'itu'. Aku yang masih awam ini kan jadi curiga.""Ca, kamu tahu, kan! Kamu juga sering lihat di drama-drama, bagaimana para aktor dan aktris mencontohkan beraneka ragam posisi.""Jadi, kamu juga suka nonton drama?" Ica mendongakkan wajahnya. Rey tersenyum lalu mencium ujung hidung Ica sesaat. "Yang di drama itu gak ada apa-apanya, Ca! Yang aku tonton lebih detail dari pada itu," ungkap Rey sambil mesem. "Rey, kamu...kamu nonton blue film, ya? Idih..." Ica mencubit bahu dan telinga Rey yang langsung meringis sembari terta
Last Updated: 2026-03-07
Chapter: Bab 27. Malam Yang Tak Mau BerakhirMalam itu kembali menjadi malam panjang bagi Ica dan Rey di ranjang baru mereka. "Rey!""Ica, sayang..."Keduanya saling bersahutan memanggil nama mereka, menambah rasa memuncah di antara keduanya hingga momen puncak untuk kesekian kali, membuat Ica tergeletak tak berdaya.Rey pun tak kalah lelah saat ia baru tuntas mengeluarkan hajatnya. Dipandanginya tubuh Ica yang terengah namun dengan mata terpejam karena rasa kantuknya. Rey tersenyum puas, lalu membelai pelipis Ica sebelum akhirnya ia pun ikut terlelap. Jelang dini hari, panggilan biologis membuat Ica menggeliat dan memaksa membuka matanya. Sebuah tangan kekar masih membungkus tubuhnya. Perlahan ia menoleh dan mendapati wajah tenang Rey yang tertidur dengan dada kekar tak berkain yang naik turun. Ica seperti menyadari sesuatu dan langsung menyingkap selimutnya. Ia pun meringis mendapati tak ada sehelai kain pun melekat di tubuhnya saat itu. Semalam sepertinya ia benar-benar dibuat terlena oleh ulah Rey lagi. "Rey, Rey, bang
Last Updated: 2026-03-06
Chapter: Bab 26. Reuni Yang MenyesakkanHampir jam delapan saat Rey tiba di lokasi sate kambing terkenal di bilangan Kota Bandung, tempat ia dan kawan-kawannya biasa berkumpul dulu. "Reyhan, apa kabar?" seru beberapa pria saat Rey baru melangkah masuk ke dalam restoran sederhana yang memang selalu penuh. Salah satu pria dengan rambut cepak datang menghampiri Rey, langsung menyalami dan memeluknya singkat. "Apa kabar, bro? Weis, tambah macho aja, lu!" ungkap Angga menepuk bahu Rey lalu menggiringnya ke meja besar di pojok ruangan yang memang sudah dipesan sebelumnya. "Assalamu'alaikum. Sehat-sehat semua, ya!" sapa Rey sumringah. Ia memandangi satu per satu kawan-kawan satu tongkrongannya itu, yang berasal dari satu sekolah menengah dan ada juga yang ia kenal dari sekolah dasar, seperti halnya Faisal. "Wah, masih pakai salam seperti biasa. Gak berubah, lu bro, meski udah lama di luar negeri," seru Brian."Masih dong, harus. Itu kan salah satu ciri kita orang-orang Asia," jawab Rey lalu memilih duduk di sisi kaca. "Sudah
Last Updated: 2026-03-05