INICIAR SESIÓN
“Saintess yang Seharusnya Mati”
.
.
.
Seraphina Vale membuka mata.
Gelap.
Sempit.
Ia kesulitan bernapas. Jemarinya menyentuh kayu dingin di atas kepalanya, tertegun sejenak. Lalu ia mendorongnya sekuat tenaga.
CREEAK....
Cahaya putih langsung menusuk matanya. Aroma bunga krisan menusuk hidung, ketika penglihatannya mulai jelas... ia menyadari satu hal.
Dirinya baru saja keluar dari di dalam peti mati.
Suara doa menggema di seluruh Katedral. Aroma dupa dan bunga krisan memenuhi udara, sementara lonceng gereja terus berdentang mengiringi pemakaman.
Dari dalam peti mati, sosok yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya perlahan bangkit. Ia terduduk diam di tepi peti mati, menatap sekitar dengan sepasang iris abu keperakan yang jernih.
Semua orang sedang berlutut.
Lalu di depan altar—ada peti mati, dan dirinya.
Seraphina menatap kosong ke arah nama yang tertulis di atasnya.
«SERAPHINA VALE»
«”Di sini terkubur sang saintess palsu yang menodai Langit.”»
“…Hah?” Suara seraknya nyaris tidak terdengar. Napasnya berubah pendek, darahnya berdesir bersama jantung bergemuruh dan tubuh menegang.
"...Itu namaku?" bisiknya pelan.
DUM!
Pintu katedral terbuka.
Puluhan pendeta langsung menundukkan kepala lebih rendah. Seseorang masuk dengan langkah berat dan teratur. Armor hitam berlapis silver. Tatapan emas dingin, dan pedang panjang di pinggangnya. Suara armor besinya menjadi satu-satunya hal yang terdengar di aula. Menggema di tengah keheningan usai pendeta menjeda doa bersama. Sorot mata dingin dan datar itu mengarah pada Seraphina.
"Komandan..." bisik seseorang dengan suara gemetar.
Para pendeta sebelumnya kini mengalihkan pandangan dari sang komandan, kembali ke altar.
Untuk sesaat—seluruh aula menjadi sunyi. Semua menahan napas ketika melihat sosok wanita di depan altar.
“…Saintess?”
Nada suara seorang pendeta bergetar, karena wanita yang seharusnya mati tiga hari lalu… sedang terduduk diam di pinggir peti matinya sendiri.
Panik seketika pecah ruah.
“Mustahil—!”
“Saintess hidup kembali?!”
“Itu mukjizat!”
Mereka mulai berlutut lebih rendah, berdoa lebih keras, menangis penuh harapan. Dan di tengah semua itu—Seraphina hanya menatap tangannya sendiri yang gemetar.
Belum sempat kebingungannya terjawab. Detik berikutnya ia merasakan rasa sakit luar biasa di kepalanya. Seperti dihantam berulang kali, seakan ingin memecahkan kepalanya. Lalu sebersit ingatan asing membanjiri pikirannya sekaligus.
Darah di lantai marmer.
Seorang perempuan menangis pilu—ingatan dari pemilik tubuh ini.
Namun sebelum dia sempat berpikir lebih jauh—sesuatu berbisik di telinganya. Lembut. Terlalu dekat. Seakan tepat di samping telinganya.
“Jangan percaya mereka.”
Seraphina membeku.
Suara itu terdengar aneh, bukan seperti satu orang. Lebih seperti… ratusan suara yang berbicara bersamaan. Berdengung namun sangat jelas di telinga.
CRACK.
Semua lilin di aula padam bersamaan. Ruangan langsung gelap. Jeritan panik terdengar dari segala arah. Beberapa pendeta terdengar memberi perintah. Menyuruh siapapun untuk menyibak tirai jendela atau mencari penerangan secepatnya. Komandan Holy Knight terlihat tenang dan Seraphina masih membeku di tempat.
Lalu—sesuatu mulai bergerak di balik bayangan altar. Suara daging merayap. Napas berat diikuti geraman hewan buas, dan mata-mata hitam mulai terbuka satu per satu dari kegelapan. Sosok yang tidak pernah disangka kemunculannya di tempat suci ini.
"Tidak... mungkin?!"
"I-Itu?!"
Kemunculan mendadak itu membuat para pendeta berteriak ketakutan. Bayangan gelap merayap melalui bawah peti mati, lalu merambat hingga ke dinding dan mendekati para pendeta. Belasan dari mereka mundur terseok-seok, raut wajahnya pucat pasi. Terlebih ketika monster-monster itu mulai mengepung wanita di depan altar.
“Li-lindungi Saintess!”
“Knight Commander!”
Tanpa disuruh dua kali, komandan mencabut pedang panjangnya. Aura divine memenuhi aula. Namun sebelum siapapun bergerak, monster-monster itu berhenti.
Mereka tidak menyerang.
Tidak mendekat.
Sebaliknya, satu per satu monster itu justru berlutut ke arah Seraphina. Seolah menyambut seseorang. Dan dalam keheningan mengerikan itu, suara di telinga Seraphina kembali terdengar.
Kali ini lebih jelas.
Lebih pelan.
Lebih sedih.
“Aku akhirnya menemukanmu.”
Tatapan keemasan komandan berubah tajam. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia melihat monster abyss menunjukkan rasa takut. Bukan kepada pedangnya. Tapi kepada wanita di dalam peti mati itu. Komandan mengangkat pedangnya perlahan. Lalu menatap Seraphina seolah sedang melihat sesuatu yang seharusnya tidak ada di dunia ini.
“Apa sebenarnya kau?”
Dan entah kenapa—untuk pertama kalinya sejak membuka mata di dunia asing ini. Seraphina merasa dirinya benar-benar dalam bahaya. Karena monster-monster itu tidak terlihat ingin memakannya.
Mereka terlihat… ingin menyembahnya.
.
.
.
Continue…
Sudah cukup lama berlalu semenjak kepulangan Saintess Seraphina dari Ibu Kota Kekaisaran Suci. Namun, gema dari berita mengejutkan itu belum juga surut. Desas-desus tentang kebangkitan sang perempuan suci dari kematian—yang oleh sebagian pihak dianggap sebagai kutukan atau kebangkitan haram—telah menyulut api kegelisahan. Satu demi satu masalah baru terus bermunculan, membuat para petinggi Kuil kewalahan dan dirundung keluh kesah. Riuh keputusasaan kini berujung pada kepungan para tetua yang terus mendesak dan menuntut kejelasan di depan gerbang kediaman resmi Paus, di jantung Istana Suci. Kemegahan arsitektur Ibu Kota yang dilapisi emas dan marmer putih, serta suasana religius yang pekat dan suci, rupanya hanya menjadi topeng di bagian luarnya saja. Pada kenyataannya, ketegangan yang merayap sejak hari kebangkitan sang Saintess kini terasa seperti kabut tak kasat mata yang mencekik napas tiap penghuni Katedral Agung.Keputusan ekstrem yang diambil oleh Paus untuk memulai kembali ri
Derap langkah pelan yang disertai gesekan samar zirah besi memecah keheningan koridor tengah malam. Pintu kayu ek itu terbuka dengan derit halus. Lucien baru saja kembali dari medan pertempuran di desa bagian barat.Tubuhnya didera lelah yang teramat sangat. Zirah bajunya masih menyisakan noda jelaga dan darah kehitaman—sisa peperangan brutal melawan kawanan monster Abyss. Tugas sebagai seorang Pahlawan yang dianugerahi Throne of Light memaksanya memikul beban yang teramat berat. Menjadi pelindung bagi umat manusia.Namun malam ini, ada perang lain yang berkecamuk di dalam kepalanya.Setelah menanggalkan zirah beratnya dan berganti pakaian, alih-alih mengistirahatkan tubuhnya yang letih, Lucien langsung melangkah menuju meja kerja. Ia membuka buku catatan kecil yang dibiarkan tergeletak di sana. Lembar demi lembar ia balik, hingga matanya tertuju pada secarik kertas laporan kusut yang terselip di sana.“Yang Mulia mengalami sesak napas tepat setelah menerima makan malamnya.”Tulisan t
"Hei, sudah waktunya gantian."Seorang ksatria menghampiri rekan kerjanya yang sudah sejak siang berjaga. "Oh, akhirnya aku bisa pergi tidur." Ia merenggangkan kedua lengan sebelum sorot matanya menangkap cahaya di salah satu kamar gereja. "Kalau tidak salah, itu ruang kerja Pahlawan Lucien, bukan?"Rekan lain yang baru datang mengangguk. "Beliau masih belum tidur meski sudah selarut ini.""Tuan Pahlawan memang dikenal berdedikasi tinggi. Sama seperti Komandan Ksatria kita, Tuan Adraven. Selama ada mereka berdua, kekaisaran suci tidak akan kalah dari monster Abyss.""Ya, kau benar!"Sementara itu, di kamar Lucien Vaelis. Sang Pahlawan memang masih terjaga seperti yang dikira pada ksatria penjaga. Ia tengah sibuk di meja kerjanya, menatap kitab suci, dokumen terbaru Gereja, dan arsip tua yang ia temukan di perpustakaan tempo lalu. Pena bulu di tangannya tertahan di udara, tidak bergerak. Sepasang matanya menyipit tajam."Ada sesuatu yang keliru di sini," gumam Lucien pelan.Sebagai ks
Seraphina mengulurkan tangan di udara, di tengah-tengah kesunyian kapel malam itu. Sebuah keputusan akhir dibuat oleh sang wanita suci dengan alasan yang sederhana namun kuat.Ia tidak ingin mati, terlebih sebagai korban.Kegelapan kembali datang menyelimuti seluruh tubuhnya. Saat kesadarannya tersedot kembali ke dunia Abyss, Seraphina merasakan lagi sensasi jatuh dari ketinggian tanpa dasar yang dingin. Namun, kali ini tidak ada perasaan takut pada kematian. Perempuan itu menutup matanya dengan tenang, merasakan tiap gesekan angin pada ujung jari.Perlahan, seluruh tubuhnya mengeluarkan cahaya samar berwarna keunguan yang lembut. Di tengah kegelapan pekat itu, Seraphina yang bersinar terlihat bagaikan bintang jatuh. Lalu, kejatuhan itu mendadak berhenti tepat di atas hamparan sungai perak dengan langit penuh bintang."Selamat datang kembali, Seraphina," sebuah suara yang tidak asing menyambut tepat di telinga sang Saintess.Seraphina membuka kelopak mata dan menatap sekitar. Menyadar
Langkah kaki Seraphina terasa berat saat ia melangkah keluar dari ruang rahasia arsip. Tubuhnya bergeming beberapa detik sebelum berbalik perlahan, menatap lamat-lamat bilik pengakuan dosa yang sunyi. Lembaran-lembaran kertas kuno yang baru dibacanya seolah masih membakar ingatan, meninggalkan jejak kepedihan yang mendalam. Di dalam kapel yang remang-remang, Seraphina ambruk tepat di depan altar. Tubuhnya gemetar hebat. Ia terduduk diam di lantai yang dingin, membiarkan keheningan malam menelan sisa-sisa kekosongan jiwanya. Tatapan matanya lurus ke depan, tetapi tidak fokus pada apa pun. Seraphina bahkan tidak mampu merasakan ujung jarinya sendiri. Semua terasa kebas dan mati rasa.Di bawah bayang-bayang melankolis patung para Seven Thrones, Seraphina mulai menyusun kembali kepingan informasi yang baru saja ia temukan. Pikirannya berputar hebat, dihantam kenyataan pahit.Ritual Sinkronisasi.Satu frasa itu kini menjelma menjadi monster yang nyata. Lembar arsip kuno tadi dengan jelas
"Tuan Vaelis...?"Lucien berjalan mendekat dengan langkah berat. Dia mengambil tempat di kursi kayu samping ranjang, lalu perlahan meraih tangan pucat Seraphina yang terasa sedingin es."Masih sakit?"Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir sang Kandidat Pahlawan. Nada suaranya bergetar rendah, dipenuhi amarah yang tertahan di balik dadanya. Seraphina hanya bisa diam. Jangankan menjawab, untuk sekadar membalas tatapan pria itu saja rasanya seluruh energi di dalam tubuhnya telah habis tak bersisa."Mengapa..." Lucien mendesis. Jemarinya mencengkeram erat tangan ringkih yang terasa begitu kecil dalam genggamannya. "Mengapa mereka terus memaksamu, Lady?""Tuan Vaelis... kecilkan suaramu," bisik Seraphina parau. Tenggorokannya terasa sekering padang pasir yang gersang. "Dinding tempat ini memiliki telinga."Napas pemuda berambut pirang itu memburu, berusaha keras menahan diri agar tidak melepaskan amarahnya yang bisa meledak kapan saja. Lucien menghela napas panjang yang sarat akan be







