Home / Fantasi / AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU / Chapter 1 -The Saintess Who Returned From Death-

Share

AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU
AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU
Author: Sei_30

Chapter 1 -The Saintess Who Returned From Death-

Author: Sei_30
last update publish date: 2026-06-01 09:54:22

“Saintess yang Seharusnya Mati”

.

.

.

Seraphina Vale membuka mata.

Gelap.

Sempit.

Ia kesulitan bernapas. Jemarinya menyentuh kayu dingin di atas kepalanya, tertegun sejenak. Lalu ia mendorongnya sekuat tenaga. 

CREEAK....

Cahaya putih langsung menusuk matanya. Aroma bunga krisan menusuk hidung, ketika penglihatannya mulai jelas... ia menyadari satu hal.

Dirinya baru saja keluar dari di dalam peti mati.

Suara doa menggema di seluruh Katedral. Aroma dupa dan bunga krisan memenuhi udara, sementara lonceng gereja terus berdentang mengiringi pemakaman. 

Dari dalam peti mati, sosok yang baru saja terbangun dari tidur panjangnya perlahan bangkit. Ia terduduk diam di tepi peti mati, menatap sekitar dengan sepasang iris abu keperakan yang jernih. 

Semua orang sedang berlutut.

Lalu di depan altar—ada peti mati, dan dirinya.

Seraphina menatap kosong ke arah nama yang tertulis di atasnya.

«SERAPHINA VALE»

«”Di sini terkubur sang saintess palsu yang menodai Langit.”»

“…Hah?” Suara seraknya nyaris tidak terdengar. Napasnya berubah pendek, darahnya berdesir bersama jantung bergemuruh dan tubuh menegang.

"...Itu namaku?" bisiknya pelan.

DUM!

Pintu katedral terbuka.

Puluhan pendeta langsung menundukkan kepala lebih rendah. Seseorang masuk dengan langkah berat dan teratur. Armor hitam berlapis silver. Tatapan emas dingin, dan pedang panjang di pinggangnya. Suara armor besinya menjadi satu-satunya hal yang terdengar di aula. Menggema di tengah keheningan usai pendeta menjeda doa bersama. Sorot mata dingin dan datar itu mengarah pada Seraphina.

"Komandan..." bisik seseorang dengan suara gemetar.

Para pendeta sebelumnya kini mengalihkan pandangan dari sang komandan, kembali ke altar.

Untuk sesaat—seluruh aula menjadi sunyi. Semua menahan napas ketika melihat sosok wanita di depan altar. 

“…Saintess?”

Nada suara seorang pendeta bergetar, karena wanita yang seharusnya mati tiga hari lalu… sedang terduduk diam di pinggir peti matinya sendiri.

Panik seketika pecah ruah.

“Mustahil—!”

“Saintess hidup kembali?!”

“Itu mukjizat!”

Mereka mulai berlutut lebih rendah, berdoa lebih keras, menangis penuh harapan. Dan di tengah semua itu—Seraphina hanya menatap tangannya sendiri yang gemetar.

Belum sempat kebingungannya terjawab. Detik berikutnya ia merasakan rasa sakit luar biasa di kepalanya. Seperti dihantam berulang kali, seakan ingin memecahkan kepalanya. Lalu sebersit ingatan asing membanjiri pikirannya sekaligus. 

Darah di lantai marmer.

Seorang perempuan menangis pilu—ingatan dari pemilik tubuh ini.

Namun sebelum dia sempat berpikir lebih jauh—sesuatu berbisik di telinganya. Lembut. Terlalu dekat. Seakan tepat di samping telinganya.

Jangan percaya mereka.”

Seraphina membeku.

Suara itu terdengar aneh, bukan seperti satu orang. Lebih seperti… ratusan suara yang berbicara bersamaan. Berdengung namun sangat jelas di telinga.

CRACK.

Semua lilin di aula padam bersamaan. Ruangan langsung gelap. Jeritan panik terdengar dari segala arah. Beberapa pendeta terdengar memberi perintah. Menyuruh siapapun untuk menyibak tirai jendela atau mencari penerangan secepatnya. Komandan Holy Knight terlihat tenang dan Seraphina masih membeku di tempat. 

Lalu—sesuatu mulai bergerak di balik bayangan altar. Suara daging merayap. Napas berat diikuti geraman hewan buas, dan mata-mata hitam mulai terbuka satu per satu dari kegelapan. Sosok yang tidak pernah disangka kemunculannya di tempat suci ini.

"Tidak... mungkin?!"

"I-Itu?!"

Kemunculan mendadak itu membuat para pendeta berteriak ketakutan. Bayangan gelap merayap melalui bawah peti mati, lalu merambat hingga ke dinding dan mendekati para pendeta. Belasan dari mereka mundur terseok-seok, raut wajahnya pucat pasi. Terlebih ketika monster-monster itu mulai mengepung wanita di depan altar. 

“Li-lindungi Saintess!”

“Knight Commander!”

Tanpa disuruh dua kali, komandan mencabut pedang panjangnya. Aura divine memenuhi aula. Namun sebelum siapapun bergerak, monster-monster itu berhenti.

Mereka tidak menyerang.

Tidak mendekat.

Sebaliknya, satu per satu monster itu justru berlutut ke arah Seraphina. Seolah menyambut seseorang. Dan dalam keheningan mengerikan itu, suara di telinga Seraphina kembali terdengar.

Kali ini lebih jelas.

Lebih pelan.

Lebih sedih.

Aku akhirnya menemukanmu.”

Tatapan keemasan komandan berubah tajam. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia melihat monster abyss menunjukkan rasa takut. Bukan kepada pedangnya. Tapi kepada wanita di dalam peti mati itu. Komandan mengangkat pedangnya perlahan. Lalu menatap Seraphina seolah sedang melihat sesuatu yang seharusnya tidak ada di dunia ini.

“Apa sebenarnya kau?”

Dan entah kenapa—untuk pertama kalinya sejak membuka mata di dunia asing ini. Seraphina merasa dirinya benar-benar dalam bahaya. Karena monster-monster itu tidak terlihat ingin memakannya.

Mereka terlihat… ingin menyembahnya.

.

.

.

Continue…

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU   Chapter 38 -The Hidden Witness-

    "Ya-Yang Mulia Saintess...?" Suster Agnes melangkah mundur dengan lutut gemetar.Genggamannya pada wadah lilin mengencang, membuat lelehan lilin panas menetes ke jemarinya. "Tidak... Tidak mungkin. Anda sudah... Anda tidak seharusnya berada di sini! Pergi! Tolong pergi!"Agnes mencoba membanting kembali pintu ek tersebut, namun satu tangan kekar Kael menahannya dengan mudah. Pintu itu tetap terbuka lebar, memaksa sang biarawati mundur semakin jauh ke dalam aula biara yang temaram."Suster Agnes, tolong. Aku datang untuk mencari kebenaran," pinta Seraphina, melangkah maju dengan nada memohon. "Aku perlu tahu apa yang sudah gereja sembunyikan. Apakah kau tahu sesuatu?""Saya tidak tahu apa-apa!" Agnes menggeleng histeris, menyudutkan punggungnya pada pilar batu yang dingin. Kedua tangannya terangkat menutupi telinga. "Saya sudah bersumpah untuk bungkam! Tolong, jangan bunuh saya... Gereja akan melenyapkan saya jika saya membocorkannya! Pergi!"Melihat penolakan itu, rasa frustrasi mulai

  • AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU   Chapter 37 - The Hidden Monastery-

    Seraphina menahan napas saat bayangan dua penjaga berbaju zirah melintas hanya beberapa meter di depan mereka. Di balik pilar batu yang gelap, Kael merapatkan tubuh, menyembunyikan gadis itu sepenuhnya di balik punggung tegap dan jubah hitamnya.Suara dentang zirah para penjaga terdengar lambat, menyiksa akal sehat Seraphina yang kian tegang. Kompleks gereja ini layaknya labirin yang dipenuhi mata dan telinga. Satu langkah salah, mereka bisa ketahuan dan misi penyelinapan malam ini akan hancur berantakan.Kael melirik ke samping, menghitung detik dengan presisi seorang komandan. Begitu para penjaga berbelok di sudut koridor, Kael langsung menarik pergelangan tangan Seraphina."Sekarang," bisik Kael, sangat rendah hingga nyaris menyatu dengan angin malam.Mereka bergerak cepat menyusuri bayang-bayang dinding pembatas, lalu melompati jendela rendah di area belakang yang jarang dilewati. Langkah kaki mereka terus berpacu hingga akhirnya berhasil menembus sebuah gerbang besi kecil berkara

  • AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU   Chapter 36 -The Lingering Shadows-

    Aroma daun teh yang diseduh memenuhi ruangan, namun ketenangan sore itu sama sekali tidak menenangkan bagi Seraphina. Ia menyesap tehnya perlahan, meletakkan cangkir porselen itu ke tatakannya dengan denting halus yang disengaja. Di hadapannya, seorang pelayan muda berdiri dengan kepala sedikit tertunduk."Apakah ada surat untukku hari ini?" tanya Seraphina, berusaha menjaga nadanya tetap datar dan kasual.Pelayan itu mengerjap, tampak berpikir sejenak sebelum tersenyum sopan. "Surat, Yang Mulia Saintess? Jika yang Anda maksud adalah undangan pesta minum teh dari para bangsawan, pelayan di depan belum menerima—""Bukan undangan pesta murahan seperti itu," potong Seraphina tajam.Seraphina diam-diam mengaktifkan kemampuannya. Fokusnya menembus topeng formalitas si pelayan, membaca riak pikiran yang tersembunyi di balik mata itu.’Surat apa? Mana berani aku menyentuh surat-surat pribadinya. Lagi pula, bukankah semua surat untuknya harus disaring lebih dulu?’Mendengar suara batin itu, a

  • AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU   Chapter 35 -The Fragments of truth-

    “Aku mulai mendengar suara dari altar…” Seraphina mengulang kalimat itu. Suaranya berbisik lirih, hampir tertelan oleh kesunyian kamar. Jemarinya yang gemetar menyentuh goresan tinta kaku di atas kertas yang mulai menguning. Noda samar di sudut halaman—mungkin bekas tetesan keringat atau air mata yang mengering—seakan memancarkan keputusasaan yang nyata.Di kamar luas yang kini terasa mencekam, hanya ada keheningan dan pendar temaram dari sebatang lilin yang mulai meleleh. Seraphina duduk dengan punggung tegak dan kaku. Detak jantungnya berpacu liar saat ia kembali memeriksa buku harian rahasia yang selama ini ia sembunyikan.Dengan napas tertahan, Seraphina membalik halaman berikutnya. Tulisan tangan di lembar-lembar baru ini tidak lagi rapi. Goresannya berantakan, mencerminkan kepanikan dan ketakutan hebat yang mencekik Seraphina asli semasa hidupnya.«“Suara itu bilang… jangan percaya gereja.”»Mata Seraphina membelalak. Ia menelan ludah, merasakan sensasi dingin merambat di tengk

  • AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU   Chapter 34 -The voice Returns-

    Ada satu kebohongan kecil yang disimpan rapat oleh Seraphina.Ia tidak pernah benar-benar membaik sejak mengalami sesak napas beberapa hari lalu.Ketika derap langkah kaki pelayan mulai menjauh dan akhirnya hilang sepenuhnya, kesunyian malam langsung menyergap. Malam itu, kegelapan di dalam kamar Seraphina terasa jauh lebih pekat dan menghimpit."Ugh—!"Seraphina sontak mencengkram dada kirinya. Penyakit itu kambuh lagi. Kali ini, rasanya jauh lebih menyiksa dari sebelumnya. Paru-parunya seolah diperas kering hingga kosong, dan dadanya dihantam rasa sakit yang luar biasa hebat."Haah!... haah!... haaakh!!"Tubuhnya ambruk, tersungkur di atas lantai yang sedingin es. Sialnya, ia sedang sendirian. Tidak ada obat di dekatnya, tidak ada pelayan di sisinya, dan tidak ada seorang pun yang bisa mendengar rintihan lirihnya.... Apa lagi ini? batin Seraphina frustasi. Ia mencengkram lantai marmer, menguatkan diri demi menahan rasa nyeri yang terus menghujam dadanya.Di tengah keputusasaan yang

  • AKU MASUK KE TUBUH SAINTESS PALSU   Chapter 33 -Still Hurting?-

    Satu hari berlalu setelah ritual doa khusus demi menyambut musim baru. Seraphina baru saja menyelesaikan tugasnya sebagai pendengar di ruang pengakuan dosa, sebuah agenda rutin yang diadakan setiap satu bulan sekali. Berjam-jam mendengarkan pengakuan para pendoa membuat energinya cukup terkuras.Dalam perjalanan kembali menuju kamarnya di Menara Barat, Seraphina menyusuri lorong batu yang sepi dan dingin. Langkah kakinya mendadak terhenti di tengah jalan."Ugh—!"Rasa sesak yang luar biasa menghantam dadanya tanpa peringatan. Jantungnya seperti diremas kuat oleh tangan tak terlihat, memutus pasokan udara ke paru-parunya seketika. Seraphina sontak bertumpu pada dinding lorong, mencari pegangan demi menjaga keseimbangan.Untuk sepersekian detik, pandangannya mengabur. Di dalam benaknya, bayangan mengerikan tentang enam takhta megah dengan sosok hitam yang mendudukinya mendadak bangkit kembali. Memberikan rasa takut penuh intimidasi yang menyerang psikisnya dengan kejam. Lututnya melemas

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status