Kalia duduk di tepi ranjang sempit, menatap amplop putih di meja kecil di sampingnya. Lampu hemat energi yang redup berkedip pelan, membuat bayangan dinding yang berjamur, tampak semakin suram. Jam menunjukkan pukul dua dini hari, tapi matanya belum juga terpejam.Ibunya tertidur di kasur sebelah, napasnya pelan, wajahnya masih sembab karena terlalu banyak menangis. Kalia menoleh sebentar, lalu kembali menatap amplop itu.Kontrak pernikahan.Dua tahun.Tinggal serumah dengan Reza.Tangannya menggenggam ujung selimut. “Ini gila…” gumamnya pelan.Ia membuka amplop itu lagi. Membaca klausul yang sama untuk kesekian kalinya. Setiap baris, terasa seperti jerat yang semakin menggencang. Namun di sisi lain, angka biaya rumah sakit ayahnya terus terbayang di kepalanya.Lima juta per hari.Kalia memejamkan mata. Ingatan lama perlahan muncul.Lima tahun lalu, kantor Graha Cipta masih ramai. Suara printer, tawa karyawan, dan diskusi desain memenuhi ruangan. Kalia yang baru lulus, duduk di sampin
Last Updated : 2026-03-10 Read more