Beranda / Romansa / AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG / Bab 6 Kontras Dua Dunia

Share

Bab 6 Kontras Dua Dunia

Penulis: Lyren Kael
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-05 20:34:19

Beberapa jam kemudian, setelah menelan sisa resahnya di dalam perjalanan panjang, Ravika kembali mengenakan wajah gurunya di sekolah.

Jam pulang sekolah selalu jadi momen paling ramai di SD Harapan Bunda. Suara anak-anak bersahutan, peluit satpam bersiaga, dan deru mobil orang tua membentuk orkestra khas siang di kota yang lelah.

Ravika berdiri di depan kelas 1, mengantar ke pintu lalu menyalami satu per satu muridnya keluar sambil tersenyum, walau pikirannya masih setengah tersangkut pada masa lalu yang belum sepenuhnya ia kubur.

Ely berlari kecil menghampirinya, rambutnya dikuncir dua, seragam putihnya mulai kusut karena main kejar-kejaran sebelum pulang.

“Mama! Hari ini Ely nggak mau naik ojek, ya. Mau jalan kaki aja!” katanya dengan napas terengah.

“Jalan kaki ke mana? Panas gini?” Ravika menunduk, merapikan dasi kecil Ely.

“Cuma sampai depan, Ma. Mau liat sekolah sebelah yang gedungnya kayak istana itu!”

Ravika tersenyum tipis. Di seberang pagar besar berwarna hijau tua itu berdiri SD Greenfield International, tempat anak-anak dari keluarga pengusaha dan pejabat bersekolah.

Tiap jam pulang, kontras antara dua dunia itu selalu terasa, deretan mobil mewah dan seragam rapi di satu sisi, sepeda anak kampung dan sepatu lusuh murid Harapan Bunda di sisi lain.

“Sekolahnya bagus, ya, Ma?” Ely menatap kagum.

“Bagus,” jawab Ravika pelan. “Tapi yang penting bukan gedungnya, tapi siapa yang belajar di dalamnya.”

Ia menggandeng tangan Ely, menuntunnya melewati trotoar sempit di antara dua pagar sekolah.

Dari jauh, Ravika mendengar suara klakson, diikuti panggilan satpam. Satu mobil hitam berhenti mendadak di depan SD Greenfield. Seorang pria keluar terburu-buru, mengenakan kemeja abu-abu, langkahnya tegap tapi wajahnya tampak letih.

Ravika tak melihat dengan jelas, hanya sekilas siluet yang terasa… akrab. Ada getaran kecil di dadanya, seperti detak yang mengenali sesuatu sebelum logika sempat menyebut sebuah nama.

Ely menarik tangannya.

“Ma, liat tuh mobilnya keren banget!”

Ravika melengkungkan bibirnya, tapi pandangannya belum lepas dari sosok itu. Pria itu memeluk anak kecil berambut panjang yang keluar dari gerbang sekolah, Karin, begitu terdengar suara lembut satpam memanggilnya.

Nama itu membuat Ravika refleks menoleh lagi, namun mobil sedan mewah itu sudah mulai berjalan pergi.

Ia tak tahu, pagar yang baru saja ia lewati itu bukan hanya batas dua sekolah. Itu batas antara masa lalu yang ia kira sudah selesai… dan masa depan yang diam-diam tengah menunggunya di seberang.

-oOo-

Besoknya...

Siang menjelang sore, hujan turun lagi tipis-tipis, mirip jutaan benang-benang lembut yang menggantung di udara.

Di taman kecil antara dua sekolah itu, tempat anak-anak biasa menunggu jemputan, air menggenang di atas paving blok abu-abu. Daun-daun jambu bergetar, mengeluarkan aroma tanah basah yang tajam.

Nayottama memarkirkan mobil hitamnya agak jauh dari gerbang SD Greenfield. Ia turun tergesa, payung di tangannya, dasinya sedikit miring. Wajahnya lelah setelah rapat di kantor dengan investor yang terlalu banyak bicara tentang angka, tapi pikirannya masih tertinggal pada notifikasi di ponselnya, Alya, istrinya, belum pulang. Lagi-lagi tanpa kabar.

Ia menekan napasnya panjang. Setidaknya, hari ini ia masih bisa menjemput Karin.

Langkahnya terhenti saat melihat sesuatu di taman sisi kiri sekolah, di antara semak rendah dan patung lumba-lumba berwarna pudar.

Seorang anak perempuan kecil berjongkok di sana, rok merah seragamnya basah, tangannya memeluk seekor anak kucing yang menggigil.

“Eh, kamu… ngapain di situ?” Tama mendekat, suaranya setengah ditekan oleh suara hujan.

Anak itu mendongak. Rambutnya basah, bagian samping depan menempel di pipi. Tapi senyumnya cerah sekali.

“Om, kucingnya takut,” ungkapnya polos. “Tapi katanya, kalau dipeluk pelan, dia bakal tenang.”

Tama berhenti sejenak. Ia menunduk, menatap kucing kecil berwarna abu itu yang tubuhnya gemetaran di pelukan si gadis cilik. Ia memayungi mereka berdua tanpa sadar.

“Pintar kamu, Nak. Kata siapa?” ucapnya, suaranya lembut yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri.

Anak itu tertawa kecil, masih memeluk kucingnya erat.

“Kata Mama, kalau takut jangan dibiarin lari. Tenangin aja. Soalnya semua yang takut cuma butuh rasa aman.”

Tama menatap wajah kecil itu, mata bulat yang jujur, suara yang terdengar seperti gema masa lalu yang tak ingin ia ingat. Ada sesuatu di dadanya yang tiba-tiba mengencang, seperti benang ditarik dari arah jauh sekali.

“Kamu murid sini?” tanyanya pelan.

“Enggak. Sekolah sebelah.” Tangannya yang tak memeluk anak kucing menunjuk pagar hijau SD Harapan Bunda di seberang jalan.

“Tapi aku suka main ke sini. Taman di sini bagus, ada banyak bunganya.”

Tama hanya mengangguk. Hujan mulai deras, tapi entah kenapa ia tak tergesa. Ada kedamaian aneh di bawah payung itu, antara suara air dan tawa kecil anak itu yang sesekali menggoda kucing di pangkuannya.

“Om punya anak juga?” tanya gadis cilik itu tiba-tiba.

“Iya,” jawab Tama, refleks tersenyum. “Namanya Karin.”

“Oo Yang rambutnya panjang?”

Tama menatapnya heran. “Kamu tahu?”

“Aku sering liat dari pagar. Dia suka bawa bekal lucu, kayak bento Jepang.” Anak itu tertawa pelan, lalu menatap kucing di tangannya. “Kayaknya kucing ini juga suka makan bareng, ya, Om?”

Tama ikut tersenyum, tapi senyum itu cuma separuh. Ada sesuatu dalam cara anak itu bicara, lembut tapi mantap, polos tapi dalam, yang membuat dadanya terasa hangat sekaligus aneh.

Air hujan menetes di ujung payung, jatuh di pundaknya yang tak tertutupi, tapi ia tak peduli.

Dari arah seberang, terdengar suara perempuan memanggil.

“Ely! Sayang, di mana kamu?” suaranya setengah berpekik.

Anak itu menoleh cepat.

“Itu Mama!” serunya senang. Ia mengembalikan anak kucing itu ke bawah kursi taman, menepuknya pelan. “Udah, jangan takut lagi, ya.”

Lalu ia berlari kecil menuju suara itu. Seorang perempuan berdiri di bawah payung biru di pinggir trotoar seberang jalan, sosoknya samar di balik derai hujan.

Tama hanya sempat melihat punggung kecil itu menghilang di bawah payung, digandeng oleh tangan yang tak sempat ia lihat wajahnya.

Ia berdiri diam. Di telinganya, suara hujan berubah seperti detak yang menekan pelan di dada.

Entah kenapa, ada rasa kehilangan yang muncul begitu saja, padahal mereka bahkan belum saling kenal.

Kucing kecil itu terdengar mengeong pelan di bawah bangku.

Tama menatapnya, lalu berbisik tanpa sadar, “Kamu beruntung. Ada yang mau tenangin kamu.”

Ia lalu tersenyum bimbang, membenahi posisi payungnya, berjalan ke gerbang di mana Karin tampak sudah menunggu, lalu menuntun menuju mobilnya.

Hujan belum berhenti, dan tanpa ia tahu, jarak antara dua payung tadi lebih tipis dari yang tampak.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 66 Publik Mulai Bertanya

    Di tempat lain, Tama duduk sendirian di rumah lamanya. Rumah yang terlalu besar untuk satu orang, tapi cukup sunyi untuk berpikir jernih.Di meja makan, ada map hasil pemeriksaan kesehatannya sendiri. Semua berlabel hijau, yang berarti layak dan siap ke tahap berikutnya.Ia teringat hari-hari saat obseevasi, dokter menyebut kemungkinan transplantasi. Bukan dengan nada darurat. Tapi dengan kepastian ilmiah yang dingin.“Ini soal kapan, bukannya apa.”Saat itu, Tama tidak ragu. Ia tidak bertanya apa dampaknya pada karier, reputasi, atau masa depannya. Ia hanya bertanya satu hal.“Apakah anak saya bisa hidup normal?”Dokter mengangguk. “Peluangnya besar, Pak.”Dan sejak saat itu, semuanya menjadi seperti gangguan suara.Ponselnya bergetar. Notifikasi datang bawa berita baru. Beberapa judul mulai berubah arah. Tidak membela Ravika. Tapi mulai mempertanyakan Alya.“Kontradiksi Pernyataan dalam Kasus Istri CEO, Publik Mulai Bertanya.”Diamnya Ravika tidak menciptakan simpati massal. Tapi ia

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 65 Keraguan yang Tak Terduga

    Keraguan yang pertama itu justru tidak datang dari Ravika. Ia datang dari orang-orang yang selama ini merasa aman berada di sisi cerita yang ramai.Pagi itu, sebuah akun analis media mengunggah sebuah utas pendek. Bukan berisi pembelaan. Bahkan tidak menyebut nama Ravika secara eksplisit. Hanya berupa tampilan grafik durasi tayang.Nama Alya muncul secara konsisten. Komentar emosionalnya dipotong rapi. Narasi ia sebagai "korban" dibingkai dengan jelas.Di sisi lain, nama Ravika hanya muncul sebagai subjek pasif. Tidak ada kutipan langsung. Tidak ada satu suara pun yang keluar darinya. Di bawah grafik itu, ada satu kalimat pendek yang ditulis dengan jelas, "Diam yang terlalu lama biasanya menandakan dua hal, ketakutan atau keyakinan." Tayangan itu tidak meledak. Apalagi sampai viral besar. Tapi cukup untuk terlihat oleh orang-orang yang terbiasa membaca di antara baris kebohongan.Beberapa jam kemudian, satu pembawa acara televisi yang biasanya agresif malah terdengar ragu saat meny

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 64 Diam yang Membara

    Malam itu, Ravika dan Tama berbicara lewat telepon. Obrolan yang tidak lama dan tanpa ada keluhan panjang.“Sekolah baru Elyra minta Elyra belajar dari rumah, Mas,” kata Ravika.Hening di seberang beberapa detik. “Alasannya?” tanya Tama kemudian. “Perlindungan semua pihak,” jawab Ravika singkat.Tama menghela napasnya. “Aku juga dibekukan total. Akses, dokumen, semuanya.”“Kita yang tidak pernah bersatu masih sedang dipisahkan pelan-pelan, Mas,” kata Ravika.“Iya, Vik,” sahut Tama. “Bukan dipukul. Tapi dipersempit.”Di kamar sebelah, Elyra sedang menggambar lagi. Kali ini bukan gambar rumah. Ia menggambar jalan yang panjang. Di ujungnya, ada tiga orang yang sedang berdiri berjajar.Ravika menutup panggilan itu dan masuk ke kamar.“Besok Ely sekolah kan, Ma?” tanya Elyra tanpa menoleh.Ravika berlutut. “Besok kita belajar di rumah dulu ya, Sayang.”“Karena Papa?”“Karena orang dewasa lagi semakin ribet.”Elyra mengangguk. “Nanti Papa marah, nggak?”“Enggak, Sayang,” kata Ravika. “Pap

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 63 Tekanan yang Tidak Pernah Berteriak

    Di sisi lain kota, tekanan bekerja dengan cara yang jauh lebih sunyi.Elyra duduk di bangku sekolahnya, kakinya menggantung sedikit karena kursinya masih ketinggian. Di papan tulis, gurunya menulis soal matematika seperti biasa.Yang tidak biasa di dalam ruang kelas itu adalah bisik-bisik yang berhenti setiap kali Elyra menoleh.Bukan ejekan. Atau mungkin saja belum terjadi.Hanya perubahan jarak duduk. Teman sebangkunya dipindahkan “sementara”. Ada undangan ulang tahun yang tidak jadi disampaikan kepada Elyra. Tatapan orang tua murid yang terlalu lama ketika menjemput anak-anaknya. Seorang anak laki-laki akhirnya bertanya dengan nada ingin tahu, yang belum belajar sopan santun. “Papa kamu yang di TV itu ya?”Elyra dengan polos mengangguk. “Iya.”“Katanya papa kamu jahat.”Elyra mengernyit. Ia tidak marah. Ia hanya bingung kenapa orang dewasa selalu memakai kata yang terlalu besar.“Papa aku baik,” katanya akhirnya. “Dia cuma lagi disalahpahami.”Anak itu diam. Tidak membantahnya. T

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 62 Rumah yang Riuh

    Sore itu hujan turun tanpa niat menghibur siapa pun. Hujan yang tidak deras, hanya gerimis panjang yang membuat dunia terlihat kusam dan sedikit malas bergerak.Ravika menutup jendela kamarnya setengah. Bukan karena dingin, tapi karena suara luar terasa terlalu ramai meski tak ada siapa-siapa yang berteriak.Marno sedang mengupas apel di dapur. Tangannya bergerak pelan, teratur, seperti orang yang sengaja memperlambat hidup agar tidak ikut terseret. Pisau kecil itu menari hati-hati, seolah satu gerakan ceroboh saja bisa memicu sesuatu yang lebih besar dari sekedar buah yang terpotong.Elyra duduk di lantai ruang tamu, ia sedang menggambar kesukaannya. Ia membuat rumah. Atapnya segitiga. Jendelanya dua. Pintu besar ada di tengah. Lalu menambahkan satu sosok tinggi di samping satu sosok yang lebih kecil.Ravika memperhatikannya dari sofa butut.“Papa lagi kerja ya?” tanya Elyra tanpa menoleh.Pertanyaan itu tidak mengandung kecemasan. Tidak ada nada mencari pembenaran. Hanya fakta yang

  • AKU TETAP MENCINTAIMU, SAYANG   Bab 61 Cinta di Bawah Sorotan

    Pagi itu Ravika tidak langsung menyadari bahwa dunianya sudah berubah.Ia masih bangun di jam yang sama. Masih menyeduh teh dengan takaran yang sama. Ia juga masih mengecek tas mengajarnya, memastikan spidol cadangannya ada, buku absensi tidak tertinggal. Hidupnya, setidaknya di dapur sempit rumah sewaan baru itu, semuanya masih berjalan lurus.Yang berubah justru cara sunyi yang menyelinap.Teleponnya bergetar sejak subuh. Ia membiarkannya. Bukan karena tidak peduli, tapi karena sudah belajar lebuh tegar, kabar buruk selalu merasa sok penting.Ketika akhirnya ia membuka layar, tidak ada pesan panjang. Tidak ada kata-kata yang kasar. Hanya satu tautan yang dikirimkan berulang oleh nomor berbeda.Judulnya pendek. Terlalu rapi.“Direktur DharmaLux Terseret Isu Hubungan Gelap dengan Guru SD”Ravika menatap layar itu lama. Tidak ada reaksi spontan. Tidak kaget dan tiada rasa marah. Tubuhnya hanya terasa sedikit lebih dingin, seperti seseorang yang baru sadar hujan sudah turun sejak tadi.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status