Mag-log inBeberapa jam kemudian, setelah menelan sisa resahnya di dalam perjalanan panjang, Ravika kembali mengenakan wajah gurunya di sekolah.
Jam pulang sekolah selalu jadi momen paling ramai di SD Harapan Bunda. Suara anak-anak bersahutan, peluit satpam bersiaga, dan deru mobil orang tua membentuk orkestra khas siang di kota yang lelah. Ravika berdiri di depan kelas 1, mengantar ke pintu lalu menyalami satu per satu muridnya keluar sambil tersenyum, walau pikirannya masih setengah tersangkut pada masa lalu yang belum sepenuhnya ia kubur. Ely berlari kecil menghampirinya, rambutnya dikuncir dua, seragam putihnya mulai kusut karena main kejar-kejaran sebelum pulang. “Mama! Hari ini Ely nggak mau naik ojek, ya. Mau jalan kaki aja!” katanya dengan napas terengah. “Jalan kaki ke mana? Panas gini?” Ravika menunduk, merapikan dasi kecil Ely. “Cuma sampai depan, Ma. Mau liat sekolah sebelah yang gedungnya kayak istana itu!” Ravika tersenyum tipis. Di seberang pagar besar berwarna hijau tua itu berdiri SD Greenfield International, tempat anak-anak dari keluarga pengusaha dan pejabat bersekolah. Tiap jam pulang, kontras antara dua dunia itu selalu terasa, deretan mobil mewah dan seragam rapi di satu sisi, sepeda anak kampung dan sepatu lusuh murid Harapan Bunda di sisi lain. “Sekolahnya bagus, ya, Ma?” Ely menatap kagum. “Bagus,” jawab Ravika pelan. “Tapi yang penting bukan gedungnya, tapi siapa yang belajar di dalamnya.” Ia menggandeng tangan Ely, menuntunnya melewati trotoar sempit di antara dua pagar sekolah. Dari jauh, Ravika mendengar suara klakson, diikuti panggilan satpam. Satu mobil hitam berhenti mendadak di depan SD Greenfield. Seorang pria keluar terburu-buru, mengenakan kemeja abu-abu, langkahnya tegap tapi wajahnya tampak letih. Ravika tak melihat dengan jelas, hanya sekilas siluet yang terasa… akrab. Ada getaran kecil di dadanya, seperti detak yang mengenali sesuatu sebelum logika sempat menyebut sebuah nama. Ely menarik tangannya. “Ma, liat tuh mobilnya keren banget!” Ravika melengkungkan bibirnya, tapi pandangannya belum lepas dari sosok itu. Pria itu memeluk anak kecil berambut panjang yang keluar dari gerbang sekolah, Karin, begitu terdengar suara lembut satpam memanggilnya. Nama itu membuat Ravika refleks menoleh lagi, namun mobil sedan mewah itu sudah mulai berjalan pergi. Ia tak tahu, pagar yang baru saja ia lewati itu bukan hanya batas dua sekolah. Itu batas antara masa lalu yang ia kira sudah selesai… dan masa depan yang diam-diam tengah menunggunya di seberang. -oOo- Besoknya... Siang menjelang sore, hujan turun lagi tipis-tipis, mirip jutaan benang-benang lembut yang menggantung di udara. Di taman kecil antara dua sekolah itu, tempat anak-anak biasa menunggu jemputan, air menggenang di atas paving blok abu-abu. Daun-daun jambu bergetar, mengeluarkan aroma tanah basah yang tajam. Nayottama memarkirkan mobil hitamnya agak jauh dari gerbang SD Greenfield. Ia turun tergesa, payung di tangannya, dasinya sedikit miring. Wajahnya lelah setelah rapat di kantor dengan investor yang terlalu banyak bicara tentang angka, tapi pikirannya masih tertinggal pada notifikasi di ponselnya, Alya, istrinya, belum pulang. Lagi-lagi tanpa kabar. Ia menekan napasnya panjang. Setidaknya, hari ini ia masih bisa menjemput Karin. Langkahnya terhenti saat melihat sesuatu di taman sisi kiri sekolah, di antara semak rendah dan patung lumba-lumba berwarna pudar. Seorang anak perempuan kecil berjongkok di sana, rok merah seragamnya basah, tangannya memeluk seekor anak kucing yang menggigil. “Eh, kamu… ngapain di situ?” Tama mendekat, suaranya setengah ditekan oleh suara hujan. Anak itu mendongak. Rambutnya basah, bagian samping depan menempel di pipi. Tapi senyumnya cerah sekali. “Om, kucingnya takut,” ungkapnya polos. “Tapi katanya, kalau dipeluk pelan, dia bakal tenang.” Tama berhenti sejenak. Ia menunduk, menatap kucing kecil berwarna abu itu yang tubuhnya gemetaran di pelukan si gadis cilik. Ia memayungi mereka berdua tanpa sadar. “Pintar kamu, Nak. Kata siapa?” ucapnya, suaranya lembut yang bahkan mengejutkan dirinya sendiri. Anak itu tertawa kecil, masih memeluk kucingnya erat. “Kata Mama, kalau takut jangan dibiarin lari. Tenangin aja. Soalnya semua yang takut cuma butuh rasa aman.” Tama menatap wajah kecil itu, mata bulat yang jujur, suara yang terdengar seperti gema masa lalu yang tak ingin ia ingat. Ada sesuatu di dadanya yang tiba-tiba mengencang, seperti benang ditarik dari arah jauh sekali. “Kamu murid sini?” tanyanya pelan. “Enggak. Sekolah sebelah.” Tangannya yang tak memeluk anak kucing menunjuk pagar hijau SD Harapan Bunda di seberang jalan. “Tapi aku suka main ke sini. Taman di sini bagus, ada banyak bunganya.” Tama hanya mengangguk. Hujan mulai deras, tapi entah kenapa ia tak tergesa. Ada kedamaian aneh di bawah payung itu, antara suara air dan tawa kecil anak itu yang sesekali menggoda kucing di pangkuannya. “Om punya anak juga?” tanya gadis cilik itu tiba-tiba. “Iya,” jawab Tama, refleks tersenyum. “Namanya Karin.” “Oo Yang rambutnya panjang?” Tama menatapnya heran. “Kamu tahu?” “Aku sering liat dari pagar. Dia suka bawa bekal lucu, kayak bento Jepang.” Anak itu tertawa pelan, lalu menatap kucing di tangannya. “Kayaknya kucing ini juga suka makan bareng, ya, Om?” Tama ikut tersenyum, tapi senyum itu cuma separuh. Ada sesuatu dalam cara anak itu bicara, lembut tapi mantap, polos tapi dalam, yang membuat dadanya terasa hangat sekaligus aneh. Air hujan menetes di ujung payung, jatuh di pundaknya yang tak tertutupi, tapi ia tak peduli. Dari arah seberang, terdengar suara perempuan memanggil. “Ely! Sayang, di mana kamu?” suaranya setengah berpekik. Anak itu menoleh cepat. “Itu Mama!” serunya senang. Ia mengembalikan anak kucing itu ke bawah kursi taman, menepuknya pelan. “Udah, jangan takut lagi, ya.” Lalu ia berlari kecil menuju suara itu. Seorang perempuan berdiri di bawah payung biru di pinggir trotoar seberang jalan, sosoknya samar di balik derai hujan. Tama hanya sempat melihat punggung kecil itu menghilang di bawah payung, digandeng oleh tangan yang tak sempat ia lihat wajahnya. Ia berdiri diam. Di telinganya, suara hujan berubah seperti detak yang menekan pelan di dada. Entah kenapa, ada rasa kehilangan yang muncul begitu saja, padahal mereka bahkan belum saling kenal. Kucing kecil itu terdengar mengeong pelan di bawah bangku. Tama menatapnya, lalu berbisik tanpa sadar, “Kamu beruntung. Ada yang mau tenangin kamu.” Ia lalu tersenyum bimbang, membenahi posisi payungnya, berjalan ke gerbang di mana Karin tampak sudah menunggu, lalu menuntun menuju mobilnya. Hujan belum berhenti, dan tanpa ia tahu, jarak antara dua payung tadi lebih tipis dari yang tampak.Beberapa hari setelah itu, suasana mulai menemukan ritmenya sendiri. Bukan berarti semuanya langsung terasa normal. Normal itu kata yang terlalu sederhana untuk keluarga yang baru saja menata ulang definisi darah dan perannya. Tapi setidaknya, tidak ada lagi ketegangan yang bersembunyi di balik sebuah kalimat.Sore itu, Elyra kembali ke rumah Tama. Kali ini bukan hanya untuk bermain. Ia membawa hasil kontrol perkembangan transplantasi ginjal terbarunya.“Dokter bilang jahitannya udah bagus,” katanya pelan sambil duduk di sofa.Karin langsung mendekatinya. “Berarti bentar lagi boleh lari-lari?”“Katanya sih jangan dulu,” jawab Elyra sambil tersenyum tipis.Sony memiringkan kepalanya. “Ginjalnya Papa masih di dalam Kakak, ya?”Tama yang sedang menuang air hampir tersedak kecil.“Iya, Nak.”“Terus Papa sekarang nggak pakai ginjal?”Tama tersenyum lebar. “Papa masih punya satu, Sony.”Sony tampak berpikir keras."Tiap orang punya ginjal dua, Nak. Di kanam sama kiri," imbuh Tama sambil
Malamnya, Ravika menghubungi Tama.“Alya kirim surat ke aku, Mas,” katanya pelan.Tama terdiam di ujung telepon.“Apa isinya?”“Bukan marahan, sih.”“Hmm... terus apa?”“Dia bilang terima kasih.”"Terima kasih...?" ulang Tama heran.Hening beberapa detik menjeda.Tama mengembuskan napasnya perlahan.“Tentang apa?” lanjutnya. Ravika menatap meja di depannya yang terdapat buku-buku Elyra yang masih berserakan. Ia lalu memotret surat tulsan Alya dan mengirimkannya ke Tama. Tama membacanya dengan seksama. Dadanya menghangat. "Itu memang tulisan Alya, Vik."“Aku nggak tahu harus apa jawabnya, Mas.”“Tidak semua surat butuh balasan, Vik,” jawab Tama.Di rumahnya, Tama duduk sendirian setelah menutup telepon dari Ravika.Ia mengenal Alya.Ia tahu mantan istrinya bukan orang yang mudah mengakui sesuatu.Jika ia menulis surat seperti itu, berarti ia sudah melewati fase marahnya sendiri.-oOo- Keesokan paginya, Karin menemukan Alya duduk di teras rumahnya."Mamaaaa... Kok Mama ada di sini?"
Halaman kosong di album foto itu bukan lagi simbol keterlambatan. Ia menjadi ruang harapan yang belum diisi.Dan mungkin memang harus kosong dulu selama delapan tahun lalu, sebelum akhirnya diisi dengan kesadaran yang nyata.“Pa,” kata Karin tiba-tiba, “Papa sedih nggak waktu baru tahu itu?”Tama berpikir sejenak.“Terkejut, iya. Sedih juga pastinya. Tapi lebih takut kehilangan kesempatan kedua.”“Kehilangan siapa?”“Elyra dan... Mamanya.”Elyra menunduk sedikit mendengar itu. “Papa nggak marah sama Mama?” tanya Karin hati-hati."Mama siapa?" "... T-Tante Ravika... maksudnya," jawab Karin terbata. Tama menggeleng.“Waktu itu bukan waktunya marahan, Nak. Tapi waktunya menyelamatkan.”Karin mengangguk pelan.Di kepala anak kecil itu, mungkin belum semua tersusun rapi semua potongan puzzle masa lalu. Tapi satu hal sudah jelas, tidak ada yang berbohong lagi di antara mereka.Dan halaman kosong di album itu tidak lagi terasa seperti sesuatu yang hilang. Ia terasa seperti awal dari kehid
Siang harinya, saat Elyra dan Ravika sedang makan bersama, ponsel Elyra kembali berbunyi.Video call dari Karin.Ravika menatapnya sekilas, lalu mengangguk kecil.Elyra mengangkatnya.Wajah Karin langsung memenuhi layar.“Kak!”Elyra tersenyum.“Iya.”“Kita beneran saudara ya?”“Iya.”“Kenapa kamu nggak pernah bilang?”Elyra terdiam sebentar.“Aku disuruh nunggu sampai Papa yang cerita sendiri.”Karin mengangguk cepat dan menerima alasan itu tanpa drama.“Berarti waktu Papa donor ginjal itu… kamu takut nggak?”“Takut dong, Rin.”“Tapi kamu tahu Papa pasti nolong, kan?”“Iya.”Karin tersenyum bangga.“Papa emang gitu orangnya.”Ravika mendengarkan kalimat itu tanpa menyelanya. Bibirnya tersenyum tanpa berlebihan. Ia hanya membiarkan dua anak itu membangun hubungan yang memang sudah ada sejak lahir, hanya saja belum pernah dinamai.“Kak,” lanjut Karin, “kamu lebih tua berapa bulan sih?”“Empat bulan.”“Ohya... nggak jauh-jauh amat.”Elyra tertawa kecil.“Aku tetap lebih tua.”“Berarti a
Malam itu, rumah Tama terasa lebih tenang dari hari-hari sejak ia dan anak-anaknya tinggal bersama di rumah lama.Karin duduk di belakang meja makan, ia sedang memainkan pita juara duanya. Sony sudah tertidur duluan di dalam kamarnya.Setelah acara siang tadi di sekolah Karin, Alya pulang ke rumah megahnya, tempat keluarga itu dulu tinggal bersama sebelum perceraiannya dengan Tama. Anak-anak meski sering merindukan mamanya, tapi mereka lebih memilih tinggal bersama papanya, yang selama ini memang selalu dekat. Di kehidupan dulu, Alya lebih sering keluar untuk urusan bisnis hingga terbongkarlah perselingkuhannya. Karin menatap papanya yang sedang menuang air minum ke dalam gelas.“Pa...”“Iya?”“Tante Ravika itu siapa sih sebenarnya?”Tama mengentikan gerakannya, lalu beralih duduk di hadapannya.“Kenapa tanya begitu, Nak?”“Papa kelihatan dekat banget sama dia.”“Oo... Kami memang sudah saling kenal lama.”“Lebih lama dari Mama?”Pertanyaan itu tidak menyerangnya. Hanya keingintahuan
Malam itu, Elyra duduk di lantai kamar sambil merapikan buku gambarnya.“Ma, tadi Papa telepon ya?”“Iya.”“Kenapa?”“Minggu depan ada Hari Keluarga di sekolah Karin dan Sony.”“Papa datang?”“Iya.”“Terus Mama mau ikut?”“Mama diminta Papa temenin Papa.”Elyra berhenti merapikan pensilnya.“Berari barengan Papa?”Ravika menatapnya tenang. Senyumnya sedikit mengembang. “Mama cuma temenin Papa, kasihan Karin ditinggal Mamanya. Jadi Mama bukan pasangannya Papa.”Elyra mengernyit. “Kenapa Mama sama Papa gak pernah jadi pasangan dan tinggal serumah?”Ravika tidak menghindar.“Kami saling menyayangi sampai sekarang, Nak. Tapi tidak pernah menikah. Jadi tdak pernah tinggal bersama.”“Kenapa?”“Karena tidak semua orang yang saling sayang harus membangun rumah yang sama.”Elyra tampak berpikir keras beberapa detik. Usianya yang masih dini selah dipaksa menghadapi kenyataan itu. “Jadi nanti kalau Mama berdiri dekat Papa, itu bukan balikan?”“Bukan.”“Terus apa namanya?”“Itu dua orang tua y







