LOGINRuang tamu rumah Tama sore itu sunyi, hanya suara gesekan jarum jam yang terdengar di antara interior megah bergaya mediteran.
Karin dan Sony, sedang ditemani Sari, pembantu mereka untuk belajar santai dan bermain di kamar lantai atas. Sementara Alya, istri Tama duduk di sofa abu-abu ruang keluarga yang besar, menatap layar ponselnya tanpa ekspresi. Pesan dari Tama baru saja masuk, “Ada rapat tambahan di kantor cabang. Mungkin pulang agak malam.” Alya menatap pesan itu sedikit lama. Hanya dua buah kalimat singkat, tapi ada sesuatu yang ia rasakan janggal. Biasanya Tama selalu menutup pesan dengan, “Hati-hati di rumah,” atau “Nanti aku kabari lagi." Tapi itu sudah berbulan-bulan lalu. Sekarang semakin dingin. Sebatas fungsional, lebih ke formalitas malah. Ia menurunkan ponselnya pelan, lalu bersandar. Bayangan dirinya di kaca besar menatap balik dengan ekspresi lelah. Perempuan di pantulan itu tampak sempurna dengan gaun putih santai, rambutnya disanggul rapi, kuku terawat di salon, tapi matanya kosong. “Apa aku yang makin berubah… atau dia?” gumamnya lirih. Beberapa bulan terakhir, Tama memang berbeda. Lebih tenang, tapi juga lebih jauh. Pulang malam, tapi tanpa aroma alkohol atau tanda-tanda affair yang biasa terjadi. Justru itu yang mengganggunya, Tama seperti menyembunyikan sesuatu yang bukan dosa, melainkan rahasia. Pintu berderit pelan, suara langkah kaki masuk. Seorang perempuan muda berseragam hitam, asisten pribadi Alya, datang membawa map. “Bu, ini laporan event dari divisi sosial untuk Dewan Komisaris, Ibu masih mau review malam ini?” Alya menatap map itu sekilas, lalu menyingkirkan. “Nanti aja. Aku lagi nggak fokus.” Asisten itu ragu. “Kalau begitu saya pamit dulu, Bu?” “Ya. Tutup pintunya rapat-rapat.” Begitu pintu tertutup, Alya menatap ke arah meja kerja Tama di ujung ruangan. Laptopnya setengah terbuka. Ia berjalan mendekat, menatap layar yang masih menyala redup. Sebuah folder terbuka, "CSR Project, Greenfield dan Harapan Bunda - Confidential." Program memperbaiki citra perusahaan agar nilai saham yang anjlog kembali naik dengan bantuan sosial ke sekolah untuk "Show Case". Alya mengernyit. Ia tahu proyek CSR itu, tapi folder ini terasa aneh. Ia klik satu file di dalamnya. Muncul serangkaian rencana kegiatan sekolah, di SD Greenfield dan Harapan Bunda. "Aku tahu Greenfield, tempat Karin sekolah. Tapi Harapan Bunda...? Bukannya ini SD di samping Grenfield?" gumamnya. Alya menatap isi folder itu lama. Jantungnya sedikit berdebar aneh, bukan karena marah, tapi semacam firasat. Tapi tetap tak ada kesimpulan apa pun. Ia menutup laptop perlahan dan berdiri. Lalu membuka ponselnya, men-scroll deretan kontak. Nomor seseorang disimpan dengan inisial, D.R., singkatan dari “Dion Rahardian”, rekan bisnis sekaligus pria yang belakangan mengisi kesepian Alya dengan pertemuan samar di hotel-hotel senyap. “Kamu di Jakarta?” tulis Alya. Balasan muncul cepat. “Ada. Rapat jam 6 baru kelar. Kenapa?” Alya mengetik cepat, jemarinya mantap. “Aku butuh tempat tenang buat ngobrol. Bukan di rumah.” Dion membalas dengan emoji senyum. “Hotel yang biasa?” Ia menatap layar beberapa detik sebelum mengetik, “Ya. Dua jam lagi.” Ponsel ditaruhnya di meja. Ia memandang sekeliling ruangan luas itu, rumah yang seharusnya jadi lambang stabilitas, tapi kini terasa seperti museum dari kehidupan yang sudah lama mati. Alya berjalan ke arah cermin besar di ruang ganti, menatap dirinya lagi. “Jangan kalah, Alya,” bisiknya pada pantulan. “Kamu cuma butuh kontrol. Semua akan baik-baik saja.” Ia mengganti pakaian, memilih setelan elegan tapi tidak berlebihan, lalu mengambil tas kecil. Aroma parfum impor menguar di udara. "Sari...nanti anak-anak ajak makan malam, lalu tidurkan kayak biasa," suruhnya ketika Sari turun mengambil minum untuk Sony, adik Karin usia 4 tahun. "Baik, bu. Ibu mau pergi?" "Iya, rapat klien. Gak usah tunggu, aku bawa kunci sendiri." "Baik, Bu." Saat hendak melangkah keluar, matanya kembali tertuju ke ponsel, pesan terakhir dari Tama masih di sana, kaku dan dingin. Di perjalanan, mobilnya meluncur tenang melewati lampu-lampu kota. Dari kaca jendela, Alya menatap dunia luar yang terus bergerak, tapi pikirannya berputar pada dua hal, suaminya yang kini terasa asing, dan dirinya sendiri yang tak lagi yakin pada apa yang sedang ia kejar. Ia dulu memang pernah cinta Tama, tapi sekarang, semua berubah sekedar rutinitas. Sesampainya di hotel, Dion sudah menunggu di lounge. Pria itu menatapnya dengan senyum lelah tapi akrab. “Lama nggak lihat kamu,” katanya ringan. Alya duduk, menaruh tasnya, lalu menatap pria itu tanpa banyak basa-basi. “Aku cuma pengin tenang. Nggak perlu basa-basi malam ini.” Dion mengangguk, sangat memahami. Ia memesan dua gelas wine, lalu duduk berseberangan. “Masih urusan rumah?” “Selalu urusan rumah, Yon,” jawab Alya singkat. “Kamu tahu, Dion… aku kadang iri sama perempuan yang bisa dicintai suami dengan tulus. Aku punya semuanya, tapi kayak nggak punya siapa pun.” Dion menatapnya lama. “Dan Tama?” Alya meneguk sedikit wine-nya, lalu tersenyum getir. “Tama bukan jahat. Dia terlalu baik malah. Cuma… dia nggak lagi di sini. Tubuhnya iya, tapi jiwanya...entah di mana.” “Jadi kamu cari tempat baru buat nyari yang hilang?” Alya menatap Dion lurus-lurus, lalu berkata pelan, “Aku cuma nggak mau jadi penonton di hidupku sendiri.” Hening beberapa detik, lalu Dion menggenggam tangannya. Mereka saling diam, saling memahami tanpa banyak kata, kemudian tanpa kode, mereka beranjak ke suite room yang biasa mereka sewa. Di dalam, mereka tak sampai masuk ke kamar, Alya sudah merangkulkan kedua tangannya di leher Dion di samping sofa ruang tamu, dengan tatapan lelah tapi menggoda, seolah kehausan di tengah gurun sahara. "Buat aku lupa semuanya, Dion."Di tempat lain, Tama duduk sendirian di rumah lamanya. Rumah yang terlalu besar untuk satu orang, tapi cukup sunyi untuk berpikir jernih.Di meja makan, ada map hasil pemeriksaan kesehatannya sendiri. Semua berlabel hijau, yang berarti layak dan siap ke tahap berikutnya.Ia teringat hari-hari saat obseevasi, dokter menyebut kemungkinan transplantasi. Bukan dengan nada darurat. Tapi dengan kepastian ilmiah yang dingin.“Ini soal kapan, bukannya apa.”Saat itu, Tama tidak ragu. Ia tidak bertanya apa dampaknya pada karier, reputasi, atau masa depannya. Ia hanya bertanya satu hal.“Apakah anak saya bisa hidup normal?”Dokter mengangguk. “Peluangnya besar, Pak.”Dan sejak saat itu, semuanya menjadi seperti gangguan suara.Ponselnya bergetar. Notifikasi datang bawa berita baru. Beberapa judul mulai berubah arah. Tidak membela Ravika. Tapi mulai mempertanyakan Alya.“Kontradiksi Pernyataan dalam Kasus Istri CEO, Publik Mulai Bertanya.”Diamnya Ravika tidak menciptakan simpati massal. Tapi ia
Keraguan yang pertama itu justru tidak datang dari Ravika. Ia datang dari orang-orang yang selama ini merasa aman berada di sisi cerita yang ramai.Pagi itu, sebuah akun analis media mengunggah sebuah utas pendek. Bukan berisi pembelaan. Bahkan tidak menyebut nama Ravika secara eksplisit. Hanya berupa tampilan grafik durasi tayang.Nama Alya muncul secara konsisten. Komentar emosionalnya dipotong rapi. Narasi ia sebagai "korban" dibingkai dengan jelas.Di sisi lain, nama Ravika hanya muncul sebagai subjek pasif. Tidak ada kutipan langsung. Tidak ada satu suara pun yang keluar darinya. Di bawah grafik itu, ada satu kalimat pendek yang ditulis dengan jelas, "Diam yang terlalu lama biasanya menandakan dua hal, ketakutan atau keyakinan." Tayangan itu tidak meledak. Apalagi sampai viral besar. Tapi cukup untuk terlihat oleh orang-orang yang terbiasa membaca di antara baris kebohongan.Beberapa jam kemudian, satu pembawa acara televisi yang biasanya agresif malah terdengar ragu saat meny
Malam itu, Ravika dan Tama berbicara lewat telepon. Obrolan yang tidak lama dan tanpa ada keluhan panjang.“Sekolah baru Elyra minta Elyra belajar dari rumah, Mas,” kata Ravika.Hening di seberang beberapa detik. “Alasannya?” tanya Tama kemudian. “Perlindungan semua pihak,” jawab Ravika singkat.Tama menghela napasnya. “Aku juga dibekukan total. Akses, dokumen, semuanya.”“Kita yang tidak pernah bersatu masih sedang dipisahkan pelan-pelan, Mas,” kata Ravika.“Iya, Vik,” sahut Tama. “Bukan dipukul. Tapi dipersempit.”Di kamar sebelah, Elyra sedang menggambar lagi. Kali ini bukan gambar rumah. Ia menggambar jalan yang panjang. Di ujungnya, ada tiga orang yang sedang berdiri berjajar.Ravika menutup panggilan itu dan masuk ke kamar.“Besok Ely sekolah kan, Ma?” tanya Elyra tanpa menoleh.Ravika berlutut. “Besok kita belajar di rumah dulu ya, Sayang.”“Karena Papa?”“Karena orang dewasa lagi semakin ribet.”Elyra mengangguk. “Nanti Papa marah, nggak?”“Enggak, Sayang,” kata Ravika. “Pap
Di sisi lain kota, tekanan bekerja dengan cara yang jauh lebih sunyi.Elyra duduk di bangku sekolahnya, kakinya menggantung sedikit karena kursinya masih ketinggian. Di papan tulis, gurunya menulis soal matematika seperti biasa.Yang tidak biasa di dalam ruang kelas itu adalah bisik-bisik yang berhenti setiap kali Elyra menoleh.Bukan ejekan. Atau mungkin saja belum terjadi.Hanya perubahan jarak duduk. Teman sebangkunya dipindahkan “sementara”. Ada undangan ulang tahun yang tidak jadi disampaikan kepada Elyra. Tatapan orang tua murid yang terlalu lama ketika menjemput anak-anaknya. Seorang anak laki-laki akhirnya bertanya dengan nada ingin tahu, yang belum belajar sopan santun. “Papa kamu yang di TV itu ya?”Elyra dengan polos mengangguk. “Iya.”“Katanya papa kamu jahat.”Elyra mengernyit. Ia tidak marah. Ia hanya bingung kenapa orang dewasa selalu memakai kata yang terlalu besar.“Papa aku baik,” katanya akhirnya. “Dia cuma lagi disalahpahami.”Anak itu diam. Tidak membantahnya. T
Sore itu hujan turun tanpa niat menghibur siapa pun. Hujan yang tidak deras, hanya gerimis panjang yang membuat dunia terlihat kusam dan sedikit malas bergerak.Ravika menutup jendela kamarnya setengah. Bukan karena dingin, tapi karena suara luar terasa terlalu ramai meski tak ada siapa-siapa yang berteriak.Marno sedang mengupas apel di dapur. Tangannya bergerak pelan, teratur, seperti orang yang sengaja memperlambat hidup agar tidak ikut terseret. Pisau kecil itu menari hati-hati, seolah satu gerakan ceroboh saja bisa memicu sesuatu yang lebih besar dari sekedar buah yang terpotong.Elyra duduk di lantai ruang tamu, ia sedang menggambar kesukaannya. Ia membuat rumah. Atapnya segitiga. Jendelanya dua. Pintu besar ada di tengah. Lalu menambahkan satu sosok tinggi di samping satu sosok yang lebih kecil.Ravika memperhatikannya dari sofa butut.“Papa lagi kerja ya?” tanya Elyra tanpa menoleh.Pertanyaan itu tidak mengandung kecemasan. Tidak ada nada mencari pembenaran. Hanya fakta yang
Pagi itu Ravika tidak langsung menyadari bahwa dunianya sudah berubah.Ia masih bangun di jam yang sama. Masih menyeduh teh dengan takaran yang sama. Ia juga masih mengecek tas mengajarnya, memastikan spidol cadangannya ada, buku absensi tidak tertinggal. Hidupnya, setidaknya di dapur sempit rumah sewaan baru itu, semuanya masih berjalan lurus.Yang berubah justru cara sunyi yang menyelinap.Teleponnya bergetar sejak subuh. Ia membiarkannya. Bukan karena tidak peduli, tapi karena sudah belajar lebuh tegar, kabar buruk selalu merasa sok penting.Ketika akhirnya ia membuka layar, tidak ada pesan panjang. Tidak ada kata-kata yang kasar. Hanya satu tautan yang dikirimkan berulang oleh nomor berbeda.Judulnya pendek. Terlalu rapi.“Direktur DharmaLux Terseret Isu Hubungan Gelap dengan Guru SD”Ravika menatap layar itu lama. Tidak ada reaksi spontan. Tidak kaget dan tiada rasa marah. Tubuhnya hanya terasa sedikit lebih dingin, seperti seseorang yang baru sadar hujan sudah turun sejak tadi.







