LOGINBab 9: Wanita masa lalu Wanda.
“Laras, ternyata kamu masih ingat dengan Mak Onah, yaaa!”
Mak Onah bersorak histeris saat menyambut kedatangan tamu perempuan di rumahnya. Bukan hanya terkejut, ia juga terlihat sangat senang dengan kedatangan perempuan itu.
Laras. Wanita yang selama ini dipuja-puja dan ia harap akan menjadi menantunya. Pacar Wanda saat masih duduk di bangku SMA. Anak orang yang cukup terpandang di kampung itu.
Mendapat sambutan sedemikian rupa dari Mak Onah Laras terlihat tidak begitu respek. Wajahnya terlihat kikuk hanya seulas senyum kecil yang ia berikan pada wanita tua itu. Sekedar untuk menghargainya
“Ini, Mak Onah, saya hanya menyampaikan pesan dari mama,” ucap Laras sambil menyerahkan plastik berwarna putih. Melihat Laras membawakan sesuatu untuknya hati Mak Onah bukan main senang. Matanya berbinar-binar menatap plastik yang sudah di tangannya.
“Ayo, masuk. Sudah lama kita tidak ngobrol-ngobrol. Terakhir kalau tidak salah sewaktu kamu sedang hamil anak pertama,” ucap Mak Onah merasa sangat akrab dengan Laras. Dengan tidak merasa sungkan sedikitpun Mak Onah menarik tangan Laras agar masuk kedalam rumahnya. Membuat Laras merasa risih.
“Maaf, Mak Onah, saya tidak bisa Lama-lama disini. Kebetulan saya siang ini juga saya dan anak-anak harus kembali. Karena besok ada acara di kampus.” Laras menolaknya dengan halus. Sambil berusaha melepaskan tangan Mak Onah yang mencengkram pergelangan tangannya.
“Sayang sekali, padahal kamu belum bertemu dengan Wanda” sesalnya. “Apa kamu tidak kangen dan tidak ingin bertemu dengannya?” tanya Mak Onah tanpa memperhatikan sedikitpun wajah Laras yang langsung berubah.
Lalu perempuan itu bertanya lagi. “Apa kamu pulang bersama suamimu?” selidiknya dengan menatap lekat wajah cantik Laras.
“Tidak, Mak. Sudah tiga bulan ini saya tidak bersama suami,” jawab wanita yang memang tampak begitu anggun, meski hanya dengan polesan Make up seadanya.
“Haaaa…! Baguslah kalau begitu,” ucap Mak Onah dengan suara begitu keras. Wajahnya terlihat berseri-seri seperti orang menang undian. Membuat Laras menatapnya dengan, heran. Sementara Laras keningnya jadi berkerut begitu mendengar perkataan Mak Onah. Ia tidak paham apa maksud perempuan tua itu.
Namun rasa heran itu teralihkan dengan teriakan dari mobilnya yang terparkir di pinggir jalan.
“Mamiii…! Cepat, sudah siang, nih!”
Mendengar teriakan seorang anak perempuan sebaya Akmal dari dalam mobil, Mak Onah menjulurkan lehernya, ia ingin tau siapa pemilik suara yang didengarnya. Ia menatap tak berkedip pada anak itu. Bukan hanya itu ia juga mengagumi mobil Laras yang dinilainya begitu bagus.
“Maaf, Mak Onah, anak-anak sudah menunggu, saya permisi. Assalamualaikum,” pamit Laras dan bergegas keluar dari dalam rumah Mak Onah.
“Eh… oh…iya.” Mak Onah yang merasa jika Laras akan bersalaman dengannya segera mengulurkan tangan keriputnya. Namun Laras yang tidak ingin berlama-lama di rumah itu, entah sengaja atau tidak, ia sama sekali tidak menggubris uluran tangan Mak Onah.
Tidak seperti saat tiba tadi. Ketika hendak meninggalkan rumah Mak Onah wajah Laras begitu dingin. Tak ada lagi senyum manis tersungging di bibirnya. Hati wanita itu benar-benar merasa terganggu karena Mak Onah kembali mengungkit cerita lama antara dirinya dan Wanda. Namun Mak Onah sama sekali tak menghiraukan hal itu. Ia tetap saja merasa menjadi orang yang sangat dekat dengan wanita yang sudah lama tidak berjumpa dengannya.
Saat hendak berjalan ke arah mobil yang diparkir di tepi jalan. Wanda tiba-tiba datang dengan sepeda motornya. Seperti melihat sesuatu yang aneh lelaki itu tertegun menatap wanita yang dulu pernah ada di hatinya. Sadar dengan situasi dan kondisi yang sudah tidak sama seperti dulu Wanda berusaha menjaga sikap dengan hanya sekedar menegurnya.
“Lho, Laras.” Hanya dua kata itu yang terucap dari mulutnya. Meski sudah begitu lama tapi hati Wanda tak dapat memungkiri ada sedikit debaran di hatinya saat matanya bertemu dengan mata indah Laras.
“Mami…Cepat!” Kembali teriakan anak perempuan yang berada di dalam mobil memanggil Laras, hingga mengalihkan tatapan matanya yang tidak sengaja bersirobok dengan bola mata Wanda.
“Eh, iya, Bang. Maaf saya harus buru- buru,” pamitnya, dan ia merasa punya kesempatan untuk menghindar agar tidak terlibat obrolan lebih lama dengan Wanda.
Wanda menatap mobil yang membawa Laras hingga tak lagi terlihat di pelupuk matanya. Tak ingin terhanyut dengan cerita masa remaja nya Wanda kembali menghidupkan sepeda motornya yang tadi ia matikan saat hendak menyapa Laras dan membawanya hingga di depan rumah.
“Wanda, bagai mana menurutmu Laras. Dia masih cantikkan?” tanya Mak Onah sangat antusias. Ia bergegas menghampiri Wanda untuk sekedar menyampaikan isi hatinya.
“Wajar sajalah, Mak. Dia orang kaya,” ucap Wanda. Mendengar kalimat yang diucapkan Mak Onah, lelaki itu sudah dapat memastikan arah pembicaraan ibunya. Sudah sangat jelas ia ingin membandingkan mantan pacarnya itu dengan Nadya istrinya. Tak ingin mendengar kelanjutan ucapan Mak Onah Wanda segera membuka pintu rumah.
“Wanda, Laras sekarang sudah tidak bersama suaminya,” ucap Mak Onah lagi.
Wanda yang tadinya ingin menghindar hatinya berdesir mendengar apa yang disampaikan Mak Onah.
“Sudahlah, Mak. Jangan berbicara yang tidak-tidak, nanti malah membuat masalah,” pinta Wanda dengan suara sedikit bergetar.
“Dia sendiri yang mengatakan begitu. Apa mungkin dia kesini hanya ingin bertemu denganmu? Tadi aku lihat sepertinya dia salah tingkah saat melihatmu.” sangka Mak Onah sambil tersenyum penuh arti.
Tak ingin mendengar kelanjutan ucapan Mak Onah, Wanda masuk kedalam rumah meninggalkan ibunya yang terlihat begitu senang.
“Astaghfirullah haladzim. Untung saja Nadya tidak ada di rumah dan mendengar celotehan mamak,” gumamnya.
“Kenapa kata mamak dia sedang tidak bersama susminyam. Apakah maksudnya dia sekarang sudah berpisah atau sudah bercerai dengan suaminya?” Wanda yang awalnya tidak ingin memikirkan Laras entah kenapa teringat dengan apa yang disampaikan ibunya.
“Bukankah selama ini ia sudah hidup bahagia dengan suaminya? Ah, semoga saja tidak seperti yang aku kira. Tidak mungkin dia bercerai,” harap Wanda. Ia kembali menepis pikirannya tentang perempuan yang dulu pernah mengisi hari-harinya.
Dua tahun waktu yang cukup lama bagi keduanya saling mengisi. Merangkai harapan-harapan indah untuk masa depan. Namun takdir berkehendak lain. Setelah lulus sekolah mereka harus berpisah. Laras diminta oleh orang tuanya untuk melanjutkan pendidikan di Malaysia. Sedang Wanda sadar dengan segala kekurangannya dengan berat hati ia lebih memilih untuk melepaskan Laras pergi dari hatinya. Ia hanya tidak ingin perempuan yang dicintainya itu terganggu hati dan pikirannya saat menempuh pendidikannya di negri orang.
Perpisahan itulah yang sangat disesali Mak Onah. Padahal wanita itu sudah berangan-angan terlalu tinggi jika suatu saat jika anaknya bersanding dengan Laras ia pun akan ikut terangkat derajatnya sejajar dengan dengan orang tua Laras yang kaya dan terpandang. Dan tentunya ia juga akan merasakan menjadi orang terpandang di kampung itu.
Sementara Mak Onah terlihat tergesa- gesa meninggalkan rumahnya. Dari balik jendela kaca ruang tamu Wanda melihat ibunya pergi dengan wajah ceria dan berseri-seri.
“Pasti mamak mau bertemu dengan teman-temannya. Heh… . Apalagi yang akan diperbuatnya.
Melihat gelagat Mak Onah, Wanda sudah dapat memastikan kemana tujuan mamaknya.
*******
Bersambung
Bab 105: Rencana tetap berjalan. Pukul empat pagi. Kabut tipis masih menyelimuti kompleks, namun dapur umum di rumah Nadya sudah mengepulkan uap. Bu Nur, dengan mata yang masih sedikit sembab karena kurang tidur, mendadak mematung di depan kuali besar."Lho, Bu Nur? Kenapa diam saja? Itu santannya keburu pecah kalau tidak diaduk," tegur Bu Fatma sambil membawa nampan berisi gelas kopi untuk para bapak yang membantu.Bu Nur tidak menjawab. Tangannya gemetar menunjuk ke arah deretan ember besar tempat daging kambing yang sudah dibumbui semalam disimpan. "Bu... Bu Fatma... lihat itu."Bu Fatma mendekat. Bau menyengat menusuk hidung—bukan aroma prengus kambing yang khas, melainkan bau solar yang sangat tajam. Cairan hitam berminyak menggenang di permukaan bumbu kuning yang seharusnya menggugah selera. Lima ekor kambing yang sedianya akan disedekahkan telah dicemari."Astagfirullah! Siapa yang tega melakukan ini?!" pekik Bu Fatma hampir menjatuhkan nampan nya. Disisi lain perumahan.
Bab : 104: Sabotase. Matahari baru saja menyembul di ufuk timur, tapi aroma bumbu dapur sudah menyeruak di gang-gang perumahan. Pak Hardi berdiri di teras rumahnya, memikirkan proyek pembangunan rumah yang sempat dirusak kemarin. Meski hatinya tahu persis siapa tangan kotor di balik kerusakan itu, ia memilih untuk menyimpan amarahnya rapat-rapat. Baginya, ada hal yang jauh lebih sakral daripada sekadar semen yang hancur: hari Jumat hanya tinggal hitungan jari.Urusan administrasi sudah beres di tangan asistennya yang cekatan. Kini, konsentrasinya hanya satu—menuju akad nikah di rumah Nadya. Sehari menjelang hari ‘H’. Di halaman rumah Nadya, suasana seperti pasar malam. Bude Ijum dan Bu Fatma memimpin pasukan ibu-ibu. Komandannya? Bu Nur, pedagang sarapan pagi keliling yang legendaris. Demi pernikahan ini, Bu Nur rela meliburkan dagangannya sejak hari Senin."Aduh, Bu Nur, ini cabe nya apa tidak kebanyakan? Nanti tamu-tamunya bukan mengucap 'Samawa', malah 'Aduh mulas'!" celetuk B
Bab 103: Setelah mengharukan menggemparkan. Matahari pagi itu menggantung rendah, menyebarkan warna jingga keemasan yang seolah berusaha menghangatkan suasana dingin di hati Nadya. Hari ini adalah hari keberangkatan Akmal ke pondok pesantren. Di halaman rumah, Pak Hardi sudah datang dengan Alphard mewahnya. Mementara Nadya memeriksa sekali lagi tas besar milik putra semata wayangnya. Ada rasa sesak yang tertahan, namun sejak lamaran Pak Hardi tadi malam semuanya sudah berubah. Dirinya tidak lagi merasa sendiri. Ada kekuatan yang memberi ketegasan baru dalam sorot matanya.Perjalanan menuju pesantren terasa singkat. Sesampainya disana, suasana sudah ramai. Namun, langkah Nadya terhenti saat melihat sebuah mobil yang sangat dikenalnya terparkir di bawah pohon rindang. Di sana berdiri Mantan suaminya dan Danur adiknya.Akmal, yang sejak tadi tampak tegang, seketika cerah wajahnya melihat ayah dan pamannya. Meski ia sempat melirik Nadya dengan perasaan sungkan—takut ibunya terluka meli
Bab 102: Ancaman. Suasana di ruang tamu rumah Pak RT mendadak mencekam. Harum aroma kopi yang baru saja diseduh tidak mampu menutupi bau ketegangan yang menyesakkan dada. Pak RT duduk tertegun di kursi kayu jatinya, sementara istrinya, Bu RT, berdiri di hadapannya dengan napas memburu dan mata yang berkilat penuh amarah."Masih mau mengelak lagi, Pak?" suara Bu RT meninggi, memecah kesunyian malam. "Aku ini istrimu belasan tahun! Aku tahu arti tatapan kosongmu itu. Kamu sedang memikirkan Nadya, kan? Janda baru itu!"Pak RT berdehem, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Bu, kamu jangan sembarangan menuduh. Saya cuma sedang memikirkan masalah lingkungan...""Masalah lingkungan atau masalah hati yang mencari kesempatan untuk selingkuh?" potong Bu RT tajam. Ia menggebrak meja hingga cangkir kopi berguncang. "Jangan pikir aku lupa, Pak! Dulu kamu hampir saja menikah diam-diam dengan si pembantu keluarga Pak Suryo itu kalau tidak ketahuan olehku. Tabiatmu memang tidak pernah berubah!"
Bab 101: Rencana licik Pak RTKegelisahan itu seperti kabut tebal yang enggan beranjak dari hati Nadya. Sejak Pak Hardi mengungkapkan niatnya secara terbuka beberapa hari lalu, ketenangan Nadya menguap. Pagi itu, ia duduk di tera. Sebuah ruang tamu terbuka yang dirancang khusus oleh Pak Hardi agar Nadya, sebagai seorang janda, bisa menerima klien dengan leluasa tanpa memicu fitnah tetangga.Di depannya, laptop menyala menampilkan timeline video iklan pesanan klien. Namun, fokus Nadya tercerai-berai. Matanya justru terpaku pada pagar kokoh yang baru saja diselesaikan oleh Pak Hardi dan timnya. Pagar itu bukan sekadar pembatas fisik, tapi bukti perhatian pria itu yang begitu detail.Kini, setelah proyek pagar selesai, rumah itu terasa senyap secara mendadak. Tak ada lagi suara palu yang beradu atau deru mesin potong besi. Tak ada lagi sosok tegap Pak Hardi yang mondar-mandir dengan peluh di dahi. Ditambah lagi, besok Akmal, putra bungsunya, akan berangkat ke pondok pesantren. Kesepian
Bab 100: Pak RT tidak tahu malu. Hati Wanda seketika menciut saat melihat sosok Pak Hardi berdiri tegak di dalam kamar rawat itu. Wibawa pria itu seolah membungkam keberanian Wanda yang sedari tadi ia kumpulkan."Aku... aku ingin menjenguk Nadya," ucap Wanda terbata, suaranya hampir menyerupai bisikan."Papa..." Akmal bergumam. Ada dorongan kuat dalam dirinya untuk segera menghampiri dan mencium tangan ayahnya. Namun, melihat tubuh ibunya yang masih lemah di atas ranjang, Akmal mengurungkan niat. Ia memilih tetap berada di sisi Nadya, menjaga benteng pertahanan terakhir ibunya.Wanda tak berani melangkah lebih dalam. Ia terpaku di ambang pintu, merasa seperti orang asing yang tak diinginkan. Hanya Feri dan Rina yang melangkah maju mendekati ranjang."Bagaimana keadaanmu, Nadya?" tanya Rina lembut, matanya menyiratkan simpati yang mendalam.Keheningan itu pecah saat petugas keamanan masuk dan meminta sebagian pembesuk untuk keluar demi ketenangan pasien. Di dalam ruangan, kini ha







