Accueil / Rumah Tangga / AMBISI IBU MERTUA / Bab 8: Tamu yang tak diduga.

Share

Bab 8: Tamu yang tak diduga.

Auteur: Putrisyamsu
last update Dernière mise à jour: 2025-09-24 21:00:16

 Bab 8: Tamu yang tak diduga. 

        Wanda menelan ludahnya sendiri saat Akmal menyerahkan bungkusan di tangannya. Ada sedikit keraguan menyelinap di hatinya untuk menerima bungkusan itu. 

         Sejenak ia memandang Nadya yang bersikap acuh padanya. Perlakuan yang membuat dadanya berdesir. Membuat hatinya bertanya. Apakah Nadya marah padanya?

         “Ini, Pa. Cepat ambil. Akmal mau kekamar mandi. Sudah tidak tahan, nih,” ucap Akmal membuat Wanda terkesiap. 

         Sambil menghela nafas, dengan berat hati Wanda menerima bungkusan itu. Kembali ia memandang Nadya. Masih sama seperti tadi. Nadya terlihat acuh. 

         “Kalian sudah makan?” tanya Wanda. Ia tahu kalimat itu hanya sekedar basa-basi kepada istrinya. Tapi ia seolah tidak menemukan kata-kata lain yang dapat dirangkai nya untuk diutarakan pada Nadya. 

          “Sudah, Pa. Kami tadi makan di warung. Kata mama. Papa dibungkuskan nasi goreng saja,” ucap Tania. “Kata mama, karena papa suka nasi goreng,” lanjut gadis itu. Mendengar penuturan anaknya, jantung Wanda berdesir. Ada rasa hangat mengaliri darahnya. 

           Nadya. Istri yang selama ini telah merasa sangat kecewa dengannya ternyata begitu perhatian. Tak ingin membuat Nadya merasa kesal dengan sikapnya, Wanda bergegas ke dapur. Duduk di meja makan menyantap nasi goreng yang dibawa istrinya. Ia ingin memperlihatkan jika dirinya sangat menghargai apapun yang dilakukan wanita itu. Meski, untuk mengucapkan secara langsung ia merasa tidak sanggup. 

          “Enak, kan, Pa. Nasi goreng nya?” tanya Akmal begitu dia keluar dari kamar mandi.

         Wanda hanya mengangguk karena mulutnya masih sibuk mengunyah. Karena sejak dari siang menahan rasa lapar. Nasi goreng itu sebentar saja sudah dihabiskannya. 

         “Enak. Tapi lebih enak nasi goreng buatan mama. Kalau mama yang buat papa makannya bisa nambah.” Tanpa bermaksud mencari muka, Wanda mengungkapkan apa yang dirasakannya. 

         Ternyata tanpa sepengetahuan nya Nadya sudah berdiri di belakang Wanda sambil memperhatikan lelaki itu makan. 

          Melihat Wanda makan begitu lahap, Nadya tahu jika suaminya benar-benar sangat kelaparan. Tak ayal hati perempuan itu terenyuh.

          “Memangnya tadi kamu tidak jadi makan di rumah mamak?” tanya Nadya. Padahal dia sebenarnya tahu. Wanda tidak akan mungkin meminta makan di sana. 

         “Tidak. Aku sengaja menunggu kamu pulang. Rencananya aku mau beli mie instan saja untuk kita makan bersama,” ucap Wanda berbohong. Padahal uang sepeserpun sudah tidak ada di sakunya. 

          “Hm.” Nadya tidak berkomentar apa-apa. Kembali ia merasa menyesal telah membiarkan suaminya menahan rasa lapar begitu lama. Tapi kembali pula rasa itu ia tepis. Ia tidak ingin lagi tenggelam di dalam perasaannya selama ini ternyata telah membuat nya terjebak dalam situasi yang semakin rumit. 

         Ia sudah tidak ingin membuat suaminya merasa aman, nyaman dan merasa tidak punya masalah dalam hidup. Hingga membuatnya selama ini tidak berani mengambil keputusan dan tindakan untuk keluarganya sendiri. 

        Ketika sepasang suami-istri istri itu sibuk dengan pikiran masing-masing. Tiba-tiba…

       Bammm…! 

       Di luar tepatnya dari arah rumah Mak Onah terdengar suara pintu yang dibanting dengan keras. Membuat mereka berempat terkejut dan saling berpandangan. 

         “Sudah. Tidak usah dipikirkan ayo tidur,” ajak Wanda pada istri dan kedua anaknya. 

         Tanpa banyak bicara mereka masuk ke kamar masing-masing. Dan Wanda segera mematikan lampu. 

        “Dasar kurang ajar mereka. Apa Wanda itu tidak bisa mengajar istrinya untuk berbagi denganku. Apa salahnya, sih jika dia juga membelikan aku makanan. Huh. Menantu tidak punya akhlak!” omel Mak Onah. 

          Ternyata saat Nadia dan kedua cucu nya pulang Mak Onah melihat dan mendengar jika mereka membawakan nasi goreng untuk Wanda. 

          “Aduh, perutku lapar. Menyesal juga tadi aku hanya membeli telur sebutir. Tidak tahunya jam segini aku lapar lagi,” sesalnya. 

          Wanita itu sebenarnya berharap Wanda berinisiatif mengantarkan nasi goreng itu padanya. Tapi sudah lama menunggu ternyata dia tidak melihat ada tanda-tanda Wanda datang ke rumahnya membawa nasi goreng yang dibeli Nadya. 

          “Awas kalian. Lihat saja nanti kalau aku buat rendang. Aku tidak akan memberi kalian secuil pun!” geram Mak Onah. Akhirnya malam itu Mak Onah tidur dengan menahan lapar. 

          Akibat beberapa kali terjaga saat tidur, membuat Mak Mak Onah kesiangan. Hingga ia kehilangan waktu untuk mengerjakan sholat subuh. Ditambah lagi badannya begitu lemah karena tidak makan. 

          “Ah, kalau sepagi ini aku pergi ke penjual sarapan pagi pasti belum buka. Sialan!” umpat nya setelah ia membasuh muka dan menyikat gigi. “Lebih baik aku minum teh hangat saja. Mudah-mudahan badanku bisa kuat!” ucapnya lagi sambil membuka tutup toples gula. 

           “ya, ampun. Gula cuma tinggal satu sendok.” Kembali ia ngomel begitu melihat gula pasir di toples tinggal satu sendok. “Ah. Apa boleh buat aku buat setengah gelas saja. Yang penting pagi ini aku minum teh hangat,” ucapnya pada diri sendiri. 

         Mak Onah meminum air tehnya di dapur seorang diri sambil berkali-kali melirik ke arah jam dinding. Ia merasa jarum jam begitu lama berpindah tempat. Membuat hatinya semakin gusar. Hingga akhirnya ia memutuskan pergi ke tempat penjual sarapan pagi karena sudah tidak bisa menahan rasa lapar. 

        “Buatkan aku lontong sayur satu piring,” pinta Mak Onah pas pemilik warung begitu dia tiba. 

         Pemilik warung memandangnya sesat. “Iya, sebentar. Aku sedang menggoreng bakwan,” ucap Bu Erna pemilik warung. Tidak seperti penjual pada umumnya. Wajahnya Bu Erna terlihat tidak senang begitu melihat kedatangan Mak Onah. Terlihat dari sikapnya yang dingin. 

          Tidak hanya Bu Erna. Pengunjung lain yang sedang menikmati sarapan di warung itupun terlihat tidak memperdulikan Mak Onah. Padahal mereka semua mengenal Mak Onah. 

          “Jangan ngutang lagi, Mak Onah. Bikin kedaiku sial saja!” Bu Erna menghidangkan sepiring lontong sayur di hadapan Mak Onah dengan wajah masam. Mendengar ucapan Bu Erna semua orang yang sedang makan langsung memandang Mak Onah. 

          Mak Onah yang merasa dipermalukan di depan orang banyak merasa tidak terima. Saat ia hendak membalas perkataan Bu Erna seorang perempuan yang baru turun dari motor matic berseru pada Bu Erna. Membuatnya tidak memiliki kesempatan, karena pemilik warung segera berlalu dari hadapannya. 

           “Bu Erna, sudah selesai pesanan saya tadi?” serunya sambil melangkah ke dalam kedai. 

         “Sudah. Ini,” bals Bu Erna dengan sangat ramah dan senyum mengembang. Sangat berbeda dengan perlakuan yang pada Mak Onah. 

          “Mela. Kamu beli lontong juga?” Mak Onah yang tadinya merasa dongkol menyapa Mela dengan sangat ramah. Ia merasa itu adalah momen yang tepat baginya untuk menetralisir hatinya yang menjadi tidak enak karena dipermalukan Bu Erna. 

         “Eh, ternyata ada Mak Onah,” balas Mela. Seolah baru melihat Mak Onah. Padahal sejak motornya masih di jalan ia sudah melihat Mak Onah duduk di dalam warung. “Iya. Mamanya Bang Ridwan ingin sarapan lontong pecal,” ucap Mela menjawab pertanyaan Mak Onah tadi. 

         “Berapa, Bu Erna? Oh, iya, sekalian lontong Mak Onah dihitung, ya. Biar saya bayar, ucap Mela sambil membuka dompet.

        “Wah, terimakasih Mela. Beruntung sekali mama si Ridwan punya menantu sepertimu. Tidak seperti menantuku si Nadya itu. Tega membiarkan aku tadi malam kelaparan. Sedangkan dia enak-enakan makan nasi goreng dengan anak dan suaminya.” Kembali penyakit Mak Onah kumat. Begitu ada kesempatan ia langsung menjelek-jelekkan Nadya. Tidak peduli di depan orang ramai. 

         “Seandainya saja yang menjadi menantuku itu kamu. Bukan Si Nadya,” ucap Mak Onah. Sementara orang-orang di sekitarnya merasa muak dengan sikap perempuan tua itu. 

           “Untung saja bukan kamu yang jadi menantunya Mak Onah, Mela. Kalau tidak, pasti hidupmu sengsara seperti Nadya,” ucap salah seorang perempuan yang duduk tak jauh dari mak Onah. 

          “Iya, kasihan Nadya. Kalau aku yang jadi dia, sudah minta cerai aku,” celetuk yang lainya dengan nada ketus. Membuat wajah mak Onah memanas. Tapi karena rasa lapar yang tidak tertahankan ia terpaksa mengabaikan omongan itu dan lebih memilih menghabiskan lontong sayur di hadapannya. Sementara Mela bergegas pergi meninggalkan warung 

         Setelah perutnya kenyang menyantap sepiring lontong sayur ditambah empat buah bakwan mak Onah pulang dengan hati dongkol. 

          “Kenapa semua orang selalu berpihak pada Nadya? Tahu apa mereka tentang Nadya itu. Pasti otak mereka sudah diracuni oleh Si Nadya.” Sepanjang perjalanan pulang Mak Onah terus menggerutu. Hatinya tidak Terima karena semua orang lebih berpihak pada Nadya. 

           “Ah, sudah lah. Yang penting sekarang aku sudah kenyang. Untung tadi ada Mela yang membayar lontong aku. Si Erna tahu saja kalau aku sebenarnya mau ngutang.”

         Tiba di rumah, karena merasa letih Mak Onah duduk di ruang tamu di kursi yang menghadap ke pintu. Pikirannya yang masih sibuk menghitung-hitung kesalahan Nadia tiba-tiba terhenti. Sebuah mobil berwarna putih berhenti di tepi jalan tepat di depan rumahnya. 

“Mobil siapa itu?” Mata tua Mak Onah terus mengawasi mobil itu hinga seorang perempuan membuka pintu dan berjan kearah rumahnya. 

           “A…apa aku mimpi? Apa aku tidak salah lihat? Dia datang. Ternyata Allah mengijabah doa ku.”

              _______________________

                           Bersambung

         

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 130: Sebuah rahasia usang.

    Bab 130: Sebuah rahasia usang. ​Aroma antiseptik yang tajam memenuhi ruang rawat kelas dua tempat Wanda terbaring. Monitor jantung di samping ranjangnya masih mengeluarkan bunyi beep yang teratur, sebuah melodi kehidupan yang sangat disyukuri oleh Tania. Di luar pintu kamar, suara keributan kecil sempat terdengar antara Om Feri dan beberapa pria berseragam safari, namun Pak Hardi segera menengahi.​Nadya masuk ke dalam ruangan, melihat Tania yang sedang duduk terpaku di samping ranjang ayahnya. Wajah putrinya itu terlihat sangat lelah, ada gurat penyesalan yang mendalam di matanya yang sembab.​"Tania, makanlah dulu. Mama bawakan nasi kotak," ujar Nadya lembut sambil mengusap bahu putrinya.​Tania menggeleng pelan. Matanya tidak lepas dari sosok Wanda yang tampak sangat rapuh. "Ma... Tania merasa jahat sekali. Selama bertahun-tahun Tania hanya mengingat betapa pengecutnya Papa. Tania benci karena Papa selalu membela Nenek, bahkan saat Nenek menghina Mama habis-habisan."​Nadya terdia

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 129: Tamu tak diundang di paviliun.

    Bab 129: Tamu Tak Diundang di Paviliun​Suara melengking dari monitor jantung itu seolah menghentikan aliran waktu di koridor rumah sakit. Tania menjerit, suaranya pecah menghantam dinding-dinding beton yang dingin. Nadya membeku, sementara Pak Hardi dengan sigap menangkap tubuh Tania yang nyaris luruh ke lantai.​"Dokter! Cepat!" seru Hardi dengan suara menggelegar.​Di dalam ruangan, tim medis melakukan tindakan darurat. Detik-detik yang mencekam itu berlalu seperti berjam-jam, hingga akhirnya suara beep yang datar kembali berubah menjadi detak jantung yang lambat namun teratur. Dokter keluar dengan napas lega, menyatakan Wanda telah melewati masa kritisnya.​Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Saat Tania masuk untuk menemani ayahnya, tiga pria berpakaian rapi namun berwajah keras yang tadi sempat berdebat dengan Feri masih berdiri di depan pintu ICU.​"Maaf, Pak Hardi," salah satu dari mereka yang bernama Viktor melangkah maju. "Kami tidak bermaksud membuat keributan di sini

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 128: Bayang-bayang masa lalu diambang maut.

    ​Bab 128: Bayang-Bayang Masa Lalu di Diambang maut. ​Suasana paviliun yang pengap itu mendadak terasa semakin menyempit bagi Tania. Pertanyaan yang ia lontarkan kepada Om Feri menggantung di udara, menciptakan keheningan yang mencekam di antara suara sirine ambulans yang mulai terdengar lamat-lamat dari kejauhan.​Feri tidak segera menjawab. Ia sibuk melonggarkan kancing kemeja lusuh Wanda dan menepuk-nepuk pipi adiknya dengan gerakan yang tampak terlalu terbiasa. "Tania, bantu Om ambilkan minyak kayu putih di atas rak piring itu!" serunya tanpa menoleh.​"Om, jawab Tania! Papa sudah sering begini?" desak Tania sambil menyambar botol kecil yang diminta. Tangannya gemetar hebat hingga minyak itu nyaris tumpah saat ia menyerahkannya pada Feri.​Feri menghela napas berat sembari menggosokkan minyak ke dada dan pelipis Wanda. "Sudah tiga kali dalam bulan ini, Tania. Ayahmu itu keras kepala. Dia melarang Om memberitahu ibumu atau kamu. Katanya, dia tidak mau merusak kebah

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 127: Kejadian tak terduga di tempat tinggal Wanda.

    Satu jam perjalanan dengan ojek daring membawa Tania sampai di sebuah rumah di tempat kelahirannya, tempat ia dibesarkan hingga ia menjelang lulus SMP. Itu adalah rumah Feri, kakak tertua ayahnya. Di sanalah Wanda tinggal setelah ibunya Mak Onah meninggal, ayah kandung Tania, menumpang di paviliun rumah itu. Pintu depan rumah utama terlihat sepi. Tidak terlihat Feri dan istrinya Rina juga anak-anak mereka yang dulu begitu akrab dengan gadis itu. ​Tania mengetuk pintu dengan ragu. Saat pintu terbuka, ia melihat sosok pria yang tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya. Rambutnya memutih dan badannya terlihat kurus kering.​"Tania?" suara Wanda bergetar. Ia langsung memeluk putrinya dengan erat. "Papa tidak menyangka kamu akan datang. Ayo, maduk, Nak"​Mereka duduk di ruang tamu yang sempit dan pengap, yang juga dijadikan tempat meletakkan meja kompor dan rak piring kecil. Wanda banyak bertanya tentang kabar Nadya dan bagaimana kehidupan mereka bersama Pak Hardi. Tania menceritakan se

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 126: Semangat yang kembali berkobar.

    Setelah Bu Yanti berpamitan dengan janji akan mengirimkan Rian besok untuk membawa dokumen kerjasama mereka, Nadya berdiri di depan pintu rumahnya. Perasaannya jauh lebih ringan. Namun, pemandangan di depan pagar rumahnya kembali membuatnya tertegun.​Rombongan ibu-ibu perumahan Harmoni Residen tampak berjalan menuju rumahnya. Di barisan depan, ada Bu RT yang selalu rapi. Tapi kini sudah tidak terlihat lagi perhiasan besarnya menghiasi tangan dan jarinya yang kemarin sebelum kejadian yang membuat malu dirinya dan suaminya selalu ia pakai. Disusul oleh Bu Nur yang biasanya jam segini masih sibuk dengan gerobak sarapan kelilingnya, serta beberapa ibu warga lainnya.​"Assalamualaikum, Bu Nadya!" seru Bu RT dengan semangat. Disusul oleh ibu-ibu lainnya yang juga tak kalah semangat. ​Nadya tersenyum lebar, menyeka sisa air mata harunya. "Waalaikumussalam, Bu RT, Bu Nur... mari, ibu-ibu semua silakan masuk. Ada apa ini ramai-ramai?" ucap Nadya menyambut mereka. ​Bu Nur, hari ini sengaja t

  • AMBISI IBU MERTUA   Bab 125: Tamu kejuta.

    Bab 125: Tamu kejutan. Nadya terpaku sejenak, matanya mengerjap tidak percaya melihat sosok wanita paruh baya yang berdiri di hadapannya. Kerudung instan dan senyum keibuannya sama sekali tidak berubah, meski guratan usia mulai sedikit mempertegas wajahnya.​"Bu Yanti? Dari mana Ibu bisa tahu alamat rumah saya?" Nadya menghambur keluar, mengabaikan segala kegundahannya, dan langsung memeluk erat wanita tua itu. Air matanya yang sejak pagi ditahan, akhirnya luruh juga dalam dekapan Bu Yanti.​Bu Yanti adalah penyelamat Nadya di masa paling kelam dalam hidupnya. Saat rumah tangganya dengan Wanda berada di ujung tanduk dan ia tak punya sepeser pun uang untuk menyuapi anak-anaknya, Bu Yanti-lah yang memberinya pekerjaan di toko gorden miliknya. Bu Yanti pula orang pertama yang mempercayai kemampuan Nadya, memberikan modal kepercayaan agar Nadya mempromosikan usaha gordennya lewat media sosial. Sebuah langkah awal yang kemudian membentuk karier Nadya sebagai digital marketer.​"Kemana saj

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status