Share

AMETHYST Pengantin Terkutuk
AMETHYST Pengantin Terkutuk
Author: Red Ruby

Paket Misterius

Author: Red Ruby
last update publish date: 2022-10-13 13:00:30

Awan biru yang cerah, wanita cantik dengan gaun panjang yang menutup mata kaki berdiri di bawah pohon berdaun jingga. Tak jauh dari tempatnya berdiri, tampak jurang menganga dengan dasar berwarna biru tua yang pekat.

Wanita itu menoleh, berharap sosok yang ia tunggu segera datang. Salah satu tangannya meremas gaun putih sementara tangan yang lain menggenggam dua tangkai bunga berkelopak biru.

Tak lama kemudian, muncul pria seusianya dari arah dataran yang lebih rendah. Rambut coklat tua berpadu dengan kulitnya yang putih pucat. Si wanita hendak mendekat, ekspresinya yang semula cemas kini terganti dengan senyum merekah. Namun pemandangan itu tidak bertahan lama, karena si pria justru mendorongnya menuju jurang. Tubuh itu melayang, sebelum menghilang di perairan laut yang dalam.

"Jangan!!"

Amy terbangun di ranjang kamarnya, tepat jam tiga dini hari. Peluh membanjiri dahi dan punggungnya hingga sebagian kaos merah muda yang sedang dikenakan menjadi basah.

Mimpi buruk yang telah menghantuinya selama seminggu terakhir kembali datang dan terasa lebih nyata. Wanita dengan rambut hitam sepunggung itu memutuskan untuk meminum segelas air dan melanjutkan tidur meski rasa kantuknya telah menghilang.

**

Sore yang sedikit mendung. Awan putih menggantung di antara kemilau langit yang keemasan. Dari sebuah rumah bergaya minimalis, terdengar kegaduhan yang menjadi rutinitas di jam yang sama hampir setiap harinya.

"Vel, bisa gak sih kalo mau pinjem sepatu bilang dulu? Mau aku pake hari ini ...." Amy, wanita cantik sembilan belas tahun mengomel pada seseorang melalui ponsel tipis yang sedang menempel di telinganya.

"Sorry, My. Cuma sepatumu yang pas sama outfitku sekarang. Please jangan marah, aku traktir deh besok," sahut wanita sebaya dari seberang.

"Traktir apa?" tanya Amy gemas. Ia yakin jawabannya akan mengecewakan.

"Duit lagi nipis, mie instan ajalah. Udah ya, bye."

Amy menatap layar ponsel tak percaya. Panggilan benar-benar terputus. Wanita itu mengusap wajah kasar, kesal karena harus memutar otak di saat seharusnya ia telah berada di kafe tempatnya bekerja.

Mau tak mau ia harus memakai sepatunya yang lain, meski sedikit basah karena semalam ia kehujanan ketika pulang dari kafe. Wanita itu mencomot buah apel di meja makan dan memasukkan ke tas selempangnya sebelum menuju pintu keluar rumah.

Saat membuka pintu, netranya menangkap sesuatu yang teronggok di teras. Sebuah paket berukuran sedang terbungkus kertas cokelat dan bertuliskan namanya.

"Amy Ivory? Ini buat aku?" Amy membolak-balik kotak itu, mencari nama pengirim. Namun tak ia temukan di mana pun.

Bunyi ponsel pada tasnya membuat Amy tergesa. Ia hampir terlambat masuk kerja. Ia meletakkan paket di ruang tamu lalu mengunci pintu. Untuk sementara rumah itu kosong, setidaknya hingga teman satu kontrakannya pulang pukul 7 malam nanti.

Rutinitas Amy jalani seperti biasa, ia menjadi kasir di salah satu kafe yang hanya berjarak lima belas menit dari rumahnya jika berjalan kaki. Petang itu pengunjung tidak terlalu ramai, sehingga ia bisa sedikit bersantai.

"Amy!" Meta, salah seorang teman kerja yang merupakan pegawai lain menepuk pundaknya.

"Iya?" Amy hanya menatap sekilas lalu kembali fokus pada mesin kasir di depannya.

"Besok kamu mau off?" Wanita dengan apron merah itu duduk di kursi yang seharusnya Amy gunakan.

"Besok? Bukannya giliranmu yang off?"

"Iya harusnya, tapi aku ada janji hari Jumat. Tukeran ya? Please ...." Meta menarik seragam Amy yang berupa kaos berkerah berwarna hitam.

Amy tak memiliki agenda apa pun di hari liburnya minggu ini. Mungkin ia akan mengajak Velia sekedar sekadar berbelanja kebutuhan dapur yang sebagian besar habis. Bukan masalah jika ia harus libur besok.

"Oke." Amy memberi anggukan yang langsung membuat Meta kegirangan.

Malamnya, Amy sampai di rumah hampir pukul sebelas malam. Penat, ia ingin mandi dan segera tidur. Tangannya menyambar paket yang masih tergeletak di meja.

"My, udah pulang? Makan yuk," ajak Velia yang baru muncul dari ruang makan. Pada tangannya terlihat dua kebab berukuran jumbo.

"Vel, kamu selalu bisa bikin dietku gagal ...."

Dua wanita itu tertawa sebelum duduk bersama di sofa ruang tengah. Velia melirik paket yang Amy bawa, merasa sedikit aneh karena ini pertama kalinya Amy mendapat kiriman paket meski mereka telah tinggal bersama selama hampir setahun.

Usai menyelesaikan makan malam keduanya, Amy membersihkan diri dan masuk ke kamar kamar. Keinginannya untuk tidur terusik rasa penasaran pada paket tanpa nama pengirim yang ia terima sore tadi. Dengan sebilah cutter, ia membuka paket. Berisi buku dan sebuah kunci yang sudah tampak usang.

Ketika Amy mengangkat buku bersampul hitam itu, secarik kertas terjatuh dan ia langsung memungut. Terdapat beberapa baris tulisan tangan di sana, tampak rapi tapi juga terlihat dibuat terburu-buru.

[Amy, jika surat dan buku ini sampai padamu maka saatnya telah tiba. Aku tak bisa menjelaskan sepenuhnya sekarang. Satu hal yang pasti, waktumu tidaklah banyak. Temui aku di Villa Putih secepatnya. Dan, jangan biarkan 'dia' menemukanmu. Amethyst]

Pada bagian bawah surat juga terdapat alamat vila yang terletak di kota yang berjarak enam puluh kilometer dari tempat tinggalnya sekarang.

Alis Amy terangkat sebelah. Villa Putih di Kota M? Dan siapa 'dia' yang si pengirim maksud?

Tak ingin ambil pusing, Amy meletakkan buku, surat beserta kunci begitu saja di atas meja. Tubuhnya lelah, matanya ingin terpejam. Satu-satunya hal yang ingin ia lakukan sekarang adalah tidur.

**

Amy menghela napas kasar. Di sinilah ia sekarang, berdiri tepat di depan pintu gerbang sebuah villa tua tak berpenghuni. Kedatangannya bukan tanpa sebab. Semalam ia kembali bermimpi aneh dan Amy yakin mimpi itu ada hubungannya dengan buku dan villa ini.

Matahari masih belum naik sepenuhnya, namun ia telah merasa gerah. Dengan langkah sedang wanita dengan outer peach itu mendekati pagar besi yang sebagian besar berkarat.

Digembok. Tentu saja. Tapi Amy yang sudah jauh-jauh datang tak ingin perjalanan dua jamnya terbuang sia-sia. Ia berjalan berkeliling sembari mengamati sekitar. Villa ini terletak si area yang cukup jauh dari permukiman penduduk.

Setelah melangkah beberapa saat, ia menemukan satu jalan masuk berupa pagar samping yang rusak. Mengendap bagai pencuri, ia berharap tidak ada orang yang menangkapnya karena telah memasuki properti orang lain tanpa ijin.

"Mudah-mudahan gak ada yang lihat," ujarnya pada diri sendiri.

Baru saja ia kakinya menginjak halaman villa, tubuhnya merasakan sensasi aneh. Ia merasa tempat ini tidaklah asing. Pohon besar di sudut halaman, juga bekas kolam air mancur yang nyaris menjadi puing.

Amy menggeleng, berusaha menekan perasaan tak biasa yang mendadak muncul. Ia memberanikan diri membuka pintu utama villa dengan kunci usang dari paket misterius, berhasil.

Tampak jelas jika tempat ini telah lama ditinggalkan, mungkin lebih dari lima belas tahun. Penerangan berasal dari jendela-jendela besar yang telah rusak. Aroma pengap dan debu segera menyapa indra penciuman saat Amy melangkah masuk.

Ting. Denting piano tiba-tiba terdengar, seakan menyambut kedatangannya.

"Tenang, Amy. Tenang," ucapnya sembari menetralkan detak jantung yang mulai tidak beraturan.

"Harusnya aku ngajak Velia," rutuknya kemudian.

Ia menyusuri lantai kayu yang sebagian menimbulkan bunyi derit ketika terinjak. Lagi, denting piano terdengar dan kali ini lebih berirama.

Meski was-was, Amy memaksa diri untuk mengikuti sumber suara itu. Makin lama, ia dituntun menuju sebuah ruangan tertutup di lantai dua. Begitu pintu didorong, hal yang pertama kali Amy lihat adalah piano tua yang sepenuhnya rusak.

Sebuah foto tua di dinding merebut perhatiannya. Netra cantiknya seketika terbelalak, saat mendapati foto itu adalah sosok wanita yang sama persis dengannya. Tak hanya itu, nama mereka pun nyaris sama. Amethyst Ivory.

"I-ini, ini gak mungkin ...." Amy hendak menyentuh permukaan foto tapi kemudian denting piano terdengar sangat jelas.

Instingnya meminta Amy berlari. Wanita itu terus berlari menuruni anak tangga dan tanpa sadar justru menuju halaman belakang Villa. Hal mengerikan kembali terjadi. Ia menemukan sebuah makam yang bertuliskan nama wanita dalam foto.

"Apa-apaan ini?!" Amy membalikkan badan dan berlari ketakutan hingga tersandung akar pohon.

Wanita itu meringis, merasakan perih pada lututnya yang lecet. Beberapa detik kemudian, Amy merasakan kehadiran seseorang yang menawarkan tangan untuknya. Ia mendongak.

"Kamu ...."

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • AMETHYST Pengantin Terkutuk   Saatnya Pulang

    Rain menatap lurus ke dalam netra Emilia, memberikan tatapan perpisahan yang dingin sebelum akhirnya melemparkan pil keabadian itu ke udara. "Ambil itu!" serunya singkat.Seketika, keserakahan meledak di dalam gua. Emilia, Mark, dan seluruh anggota tim ekspedisi melompat secara bersamaan, tangan-tangan mereka terjulur ke atas berusaha menggapai pendaran biru tersebut. Namun, pil itu tidak jatuh. Seolah menolak hukum gravitasi, pil sebesar kelereng itu berhenti di udara, berputar dengan kecepatan tinggi hingga menciptakan pusaran cahaya biru yang menyilaukan.WUUUUUUUUUUUUUUUU—Suara dengung frekuensi tinggi yang memekakkan telinga mendadak muncul, menghantam dinding-dinding kristal dan memantulkannya kembali ke arah mereka. Suaranya begitu menyakitkan, seolah-olah ribuan kaca pecah secara bersamaan di dalam kepala."Argh!" Emilia jatuh berlutut sambil menutup telinganya rapat-rapat.Gideon pun tak luput dari serangan suara itu. Sambil tetap memapah tubuh Amy yang lunglai, ia berusaha

  • AMETHYST Pengantin Terkutuk   Gua Kristal

    Gideon menyadari atmosfer yang menjadi canggung sejak Rain masuk ke dalam gua. Untuk mencairkan suasana, ia mengeluarkan sebuah dadu segi delapan berwarna perak dari saku celananya. Dengan lihai, ia memainkan lempar-tangkap, membuat dadu itu berputar di udara sebelum mendarat sempurna di ujung jarinya."Ayolah, Amy. Jangan memasang wajah seperti sedang menunggu hukuman mati begitu," goda Gideon sambil mengerlingkan mata. "Rain itu lebih keras dari batu gua ini. Dia akan baik-baik saja, bahkan jika ular itu mengajak teman-temannya untuk makan malam."Amy tidak menyahut. Ia memilih duduk di sebuah batu besar yang permukaannya rata, menatap nanar ke arah kegelapan mulut gua. Pikirannya masih dipenuhi rasa bersalah karena telah mengabaikan bantuan Rain di jembatan tadi, namun rasa cemasnya jauh lebih mendominasi."Heei, kau dengar tidak? Bagaimana kalau kita bertaruh? Jika dadu ini berhenti di angka delapan, kau harus berhenti cemberut," Gideon mencoba lagi, namun suaranya perlahan memuda

  • AMETHYST Pengantin Terkutuk   Kembalinya si Penguasa Hutan

    Beberapa jam perjalanan melewati medan yang semakin curam membawa rombongan pada sebuah jembatan gantung tua. Jembatan itu tampak rapuh dengan tali tambang yang sudah berlumut, membentang di atas jurang dalam yang memisahkan dua tebing tinggi. Angin gunung yang kencang membuat struktur kayu itu berderit dan berayun pelan.Rain, sebagai yang paling ahli dalam navigasi, melangkah lebih dulu. Ia memeriksa setiap pijakan dengan teliti sebelum memberi isyarat agar rombongan mengikuti. Emilia berjalan tepat di belakangnya. Namun, saat mendekati ujung tebing seberang, sebuah kayu pijakan yang lapuk mendadak patah."Aaah!" Emilia memekik kecil saat tubuhnya limbung ke arah jurang.Dengan refleks secepat kilat, Rain berbalik dan menangkap tubuh Emilia. Ia merengkuh bahu dan pinggang gadis itu agar tidak terjatuh. Posisi mereka menjadi sangat dekat; wajah Emilia tersembunyi di ceruk leher Rain dan napas mereka menderu di udara yang dingin. Dari sudut pandang barisan di belakang—terutama dari po

  • AMETHYST Pengantin Terkutuk   Ajakan Emilia

    Suasana makan siang di kamp terasa kontras. Di satu sisi, tim ekspedisi Emilia tampak tegang mempersiapkan perlengkapan, sementara di sudut lain, Amy duduk melingkar bersama teman-temannya di bawah naungan pohon besar.Velia menggigit apelnya dengan suara renyah, wajahnya tampak lesu. "Yah, petualangan ini seru, tapi kenyataan memanggil. Waktu cutiku berakhir besok. Kalau aku tidak kembali bekerja, bosku akan menggantungku di lobi kantor," keluhnya malas."Aku juga," timpal Davon sambil membersihkan sepatunya dari sisa tanah gua. "Ada agenda keluarga yang tidak bisa kutunda lagi. Sepertinya kita harus segera turun gunung."Amy hanya terdiam, jemarinya memutar-mutar gelas minumannya. Pikirannya melayang jauh. Ia sudah mengirimkan surat pengunduran diri dari kafe milik paman Tora tepat sebelum perjalanan ini dimulai. Ia merasa butuh awal yang baru, meski ia sendiri belum tahu akan ke mana kaki melangkah setelah angka di perutnya mencapai nol.Tora yang duduk di sampingnya terus mengunya

  • AMETHYST Pengantin Terkutuk   Rute Baru

    Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah batu yang ditumbuhi lumut, menciptakan garis-garis emas di lantai ruangan utama. Sebelum Amy membuka mata, Rain sudah berada di ruang tengah, berdiri tegang di hadapan Gideon dan si peri hutan yang sedang menyeduh teh herbal."Jangan pernah bahas tentang solusi itu lagi di depan Amy," ujar Rain dengan suara rendah namun penuh penekanan. "Biarkan dia percaya bahwa kita hanya sedang mencari jalan keluar dari hutan ini."Gideon, yang sedang menyandarkan punggungnya di rak buku, menaikkan satu alisnya. Ia menatap Rain dengan saksama, menyadari ada sesuatu yang berbeda dari aura sahabatnya itu. "Kau melakukannya, bukan?" bisik Gideon. "Kau menghapus ingatannya tentang semalam?"Rain hanya mengangguk pelan. Tidak ada rahasia di antara mereka, namun ada rasa bersalah yang tersembunyi di balik tatapan dingin Rain. Ia tahu menghapus memori adalah tindakan egois, tapi melihat angka di perut Amy merosot tajam semalam, ia tidak punya pilih

  • AMETHYST Pengantin Terkutuk   Menghapus Ingatan

    Penjelasan si peri hutan sukses membuat tiga orang di depannya mematung seakan lupa cara bernapas. Udara di dalam ruangan yang tadinya terasa hangat kini mendadak membeku, lebih dingin daripada kabut di Hutan Rhae. Kata-kata itu menggantung di udara seperti vonis mati yang baru saja dijatuhkan.Gideon adalah yang pertama kali bersuara, suaranya parau dan penuh ketidakpercayaan. "Ini gila... benar-benar gila," gumamnya sambil mengusap wajah dengan kasar. "Setelah semua yang mereka lalui, takdir meminta mereka menciptakan nyawa hanya untuk dihancurkan? Itu bukan solusi, itu kekejaman yang baru!"Amy menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya berguncang hebat. Tiba-tiba saja, ia ingin menangis sejadi-jadinya. Bayangan tentang seorang anak—buah cintanya dengan Rain yang selama ini hanya berani ia impikan dalam khayalan paling rahasia—kini berubah menjadi mimpi buruk yang mengerikan. Ia takkan mampu melakukan hal itu. Tidak akan pernah.Rain mengepalkan tangannya hingga kuku-kuk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status