공유

Pria Bermata Kelam

작가: Red Ruby
last update 게시일: 2022-10-13 17:38:03

Amy menerima uluran tangan pria itu. Mereka saling tatap selama beberapa saat. Wajah tampan dengan kulit pucat, rambut coklat gelap dan tatapan yang kelam. Entah mengapa Amy bisa merasakan jika pria di hadapanannya ini sedang bersedih meski bibirnya tersenyum tipis.

"Kamu ...." Amy hendak mengatakan sesuatu namun pria itu justru berjalan menjauh.

"Amy!!" Suara lantang dari arah lain membuat Amy menoleh. Itu adalah Velia, bersama seorang pria dengan cardigan hijau lumut bernama Davon.

"Kok kalian di sini?" tanya Amy sambil melihat ke arah pria misterius sekali lagi. Jarak mereka cukup jauh sekarang.

"Tadi kamu share loc. Lupa? Lain kali jangan bikin khawatir, bisa gak?" Velia menjitak kening sahabat sekaligus teman satu kontrakannya tersebut.

"Sakit, Vel!" sungut Amy kesal.

"Ngapain kamu ke sini, My?" Kali ini Davon yang bertanya. Pria berpenampilan santai namun rapi itu memperhatikan bangunan vila yang sebagian besar catnya telah mengelupas.

"Bukan apa-apa. Balik yuk," ajak Amy. Ia tak ingin mengalami hal aneh untuk ke tiga kalinya.

"Eh, cowok yang tadi sama kamu siapa? Penjaga villa?" tanya Velia.

Amy hanya mengangkat bahu. Ia sendiri pun tak tahu. Namun pria yang telah membantunya berdiri beberapa saat lalu terlalu charming jika dikatakan sebagai penjaga villa.

Sebelum meninggalkan area villa, Amy menoleh ke arah makam yang bertuliskan namanya sekali lagi. Ia merinding, ditambah pepohonan rimbun yang menutup pemandangan di belakangnya.

"Ayo pulang ...," ajaknya pada Velia dan Davon.

**

Amy sampai di kontrakan beberapa jam kemudian. Ia kembali sendiri di rumah dua kamar itu setelah Velia mengatakan harus bertemu teman di suatu tempat.

Ia masuk ke kamar, hanya untuk membolak-balikan lembaran buku bersampul hitam yang baginya terasa aneh. Bukan cuma cara ia mendapatkannya namun juga isi di dalamnya. Buku itu penuh dengan tulisan tangan yang tak Amy mengerti.

Namun ketika ia sampai pada satu halaman, mendadak ia tertegun. Terdapat gambar totem yang sangat dikenalnya, bunga lotus dan ada tiga titik pada bagian bawahnya.

Amy bangkit, mencari cermin. Ya, gambar pada buku usang itu sama persis dengan tanda lahir yang ada di lehernya. Terlalu sama jika dikatakan kebetulan.

"Apa ini?"

Wanita cantik itu mulai bersemangat membaca buku namun percuma saja. Selain tulisan pada pesan, buku itu menggunakan bahasa yang tak ia mengerti.

Malamnya, Amy keluar dari kamar hanya untuk mengambil segelas air. Cuaca yang mendung membuat hawa di sekitarnya terasa gerah.

Melewati ruang makan, ia bertemu Velia yang sedang fokus merekam sesuatu di rumah sebelah melalui ponsel barunya.

"Vel, ngapain?" Amy menepuk bahu wanita itu.

"Ssstt. Ada cogan di sebelah."

"Cogan? Bukannya Pak Tino cuma punya anak perempuan?"

"Ya kali ini keponakannya. Mau ikutan?" Velia memainkan alis.

"Ck. Kebiasaan deh." Amy sudah ingin berlalu namun Velia menahan tangannya.

"Eh, liat deh. Cowok itu ngapain ...." Velia semakin antusias melihat pria muda yang tampak membuka hoodie hitamnya.

"Duh, aku gak mau ikutan ngintip, Vel," tegas Amy. Berbulan-bulan tinggal bersama, tak membuat kebiasaan Velia menular padanya.

"Liat dulu." Kali ini Velia memaksa.

Amy pun menuruti dengan setengah hati. Velia telah men-zoom kamera hingga delapan puluh kali dan apa yang Amy lihat membuatnya terpana.

"Amy? Halo?" Kini giliran Velia yang menepuk bahu sahabatnya.

"Eh, kenapa?" Amy menoleh.

"Kok bengong? Hmm, apa kubilang, ganteng banget 'kan?"

"Gak tau ah, aku mau ambil air terus tidur." Amy berlalu meninggalkan Velia yang masih diam di tempat sambil cekikikan.

Fokus Amy terpecah, pria yang ia lihat beberapa detik yang lalu adalah orang yang ia temui secara tak sengaja di Villa Putih pagi tadi. Apa ini? Kebetulan? Tapi kenapa mendadak ia merasa merinding?

**

Esoknya, Amy bersiap untuk berangkat kerja seperti biasa. Ia telah memakai hoodie ungunya, hanya tinggal menyambar tas dan memakai sepatu. Tetapi ponselnya yang telah berada di dalam tas mendadak berdering.

"Halo, Vel?"

"My, udah berangkat belum?" tanya Velia di seberang. Nada suaranya sedikit panik.

"Mau berangkat, sih. Kenapa? Ada yang ketinggalan, nanti biar aku mampir ke tempat kerjamu," tawar Amy pada teman dekat yang bekerja di sebuah butik terkenal.

"Dua hari lalu aku reparasi jamnya mama ke Pak Tino mungkin sekarang udah selesai, tolong ambilin ya. Udah bayar kok, tanda buktinya ada di laci kamar. Thank you, Sist!" seru wanita itu.

Klik. Velia menutup panggilan begitu saja tanpa menunggu jawaban darinya. Mendengar nama Pak Tino disebut, Amy tiba-tiba teringat pria itu.

"Kebetulan. Cuma kebetulan." Amy menggeleng dan bergegas. Ia tak ingin gajinya dipotong karena terlambat.

Pak Tino mempunyai tempat reparasi jam tangan di samping rumahnya. Pria paruh baya yang memiliki senyum ramah itu juga mempunyai beberapa koleksi barang antik.

Amy memasuki halaman rumah tanpa pagar. Terlihat satu mobil yang sedang terparkir di depannya berwarna hitam. Rolling dor setengah terbuka, Amy mempercepat langkah karena mengira tempat itu akan segera tutup.

"Permisi ..." ucap wanita itu.

Hening.

Di belakang meja tampak berdiri seorang pria. Cahaya di ruangan itu cukup redup. Namun semakin dekat, Amy bisa melihatnya dengan wajahnya dengan jelas. Pria itu dengan tanda lotus dan tiga titik pada lehernya. Letak dan bentuk yang sama dengan miliknya, tak mungkin jika sebuah kebetulan.

"Ada apa?" Suara bariton pria itu terdengar bersamaan dengan netra yang bertemu tatap.

"Eh? Ehm, ini ...." Amy menyerahkan tanda bukti pembayaran milik Velia.

Pria misterius itu membaca lembaran sekilas dan mengambil jam tangan klasik dan cantik yang telah terbungkus rapi. Amy masih tak beranjak, rasa penasarannya terlalu besar untuk dibendung. Maka ia memutuskan untuk bertanya.

"Maaf, kemarin kita sempat ketemu 'kan? Di Villa Putih? Kota M?"

Pria tampan yang semula sibuk dengan guci antik di tangannya, mendadak menatap Amy. Wanita itu menunggu jawaban namun justru pria lain muncul dari arah dalam.

"Rain, apa kau butuh bantuan? Oh, kita ada pelanggan? Ada yang bisa kubantu?" Pria berkacamata itu tersenyum ramah pada Amy.

"Udah kok, terima kasih."

Amy membalikkan badan dan keluar dari toko antik itu tanpa menoleh. Dua pria masih menatap punggungnya hingga menghilang saat berbelok di jalanan.

"Seperti sebelumnya, kalian bertemu saat tanda pada lehermu muncul. Tapi aku merasa ada yang berbeda kali ini. Apa kau juga merasakannya, Rain?" Pria bernama Gideon menepuk pundaknya.

Rain tak menjawab, ia meneruskan pekerjaannya tanpa suara sedikit pun. Gideon hanya melirik, lalu lanjut bertanya.

"Kali ini kau ingin mengacuhkan wanita itu lagi? Jangan lupa apa yang terjadi padanya dua puluh tahun yang lalu di Villa Putih."

Gerakan tangan Rain terhenti. Tentu ia ingat akan peristiwa tragis yang terjadi bertahun silam. Tubuh rapuh Amethyst terjun dari balkon lantai tiga vila itu.

"Itu bukan cara yang tepat untuk menghentikan siklus," tambah Gideon.

"Aku tahu." Rain meletakkan guci antik di tempatnya dan keluar dari toko.

"Hei, mau ke mana? Si tua Tino akan mencarimu sesaat lagi," seru Gideon lantang.

Alih-alih menjawab, Rain terus berjalan. Bibirnya terkatup namun pikirannya terasa penuh. Siklus dua puluh tahun telah terulang dan ia harus segera melakukan sesuatu sebelum nyawa Amethyst-nya kembali melayang.

***

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • AMETHYST Pengantin Terkutuk   Saatnya Pulang

    Rain menatap lurus ke dalam netra Emilia, memberikan tatapan perpisahan yang dingin sebelum akhirnya melemparkan pil keabadian itu ke udara. "Ambil itu!" serunya singkat.Seketika, keserakahan meledak di dalam gua. Emilia, Mark, dan seluruh anggota tim ekspedisi melompat secara bersamaan, tangan-tangan mereka terjulur ke atas berusaha menggapai pendaran biru tersebut. Namun, pil itu tidak jatuh. Seolah menolak hukum gravitasi, pil sebesar kelereng itu berhenti di udara, berputar dengan kecepatan tinggi hingga menciptakan pusaran cahaya biru yang menyilaukan.WUUUUUUUUUUUUUUUU—Suara dengung frekuensi tinggi yang memekakkan telinga mendadak muncul, menghantam dinding-dinding kristal dan memantulkannya kembali ke arah mereka. Suaranya begitu menyakitkan, seolah-olah ribuan kaca pecah secara bersamaan di dalam kepala."Argh!" Emilia jatuh berlutut sambil menutup telinganya rapat-rapat.Gideon pun tak luput dari serangan suara itu. Sambil tetap memapah tubuh Amy yang lunglai, ia berusaha

  • AMETHYST Pengantin Terkutuk   Gua Kristal

    Gideon menyadari atmosfer yang menjadi canggung sejak Rain masuk ke dalam gua. Untuk mencairkan suasana, ia mengeluarkan sebuah dadu segi delapan berwarna perak dari saku celananya. Dengan lihai, ia memainkan lempar-tangkap, membuat dadu itu berputar di udara sebelum mendarat sempurna di ujung jarinya."Ayolah, Amy. Jangan memasang wajah seperti sedang menunggu hukuman mati begitu," goda Gideon sambil mengerlingkan mata. "Rain itu lebih keras dari batu gua ini. Dia akan baik-baik saja, bahkan jika ular itu mengajak teman-temannya untuk makan malam."Amy tidak menyahut. Ia memilih duduk di sebuah batu besar yang permukaannya rata, menatap nanar ke arah kegelapan mulut gua. Pikirannya masih dipenuhi rasa bersalah karena telah mengabaikan bantuan Rain di jembatan tadi, namun rasa cemasnya jauh lebih mendominasi."Heei, kau dengar tidak? Bagaimana kalau kita bertaruh? Jika dadu ini berhenti di angka delapan, kau harus berhenti cemberut," Gideon mencoba lagi, namun suaranya perlahan memuda

  • AMETHYST Pengantin Terkutuk   Kembalinya si Penguasa Hutan

    Beberapa jam perjalanan melewati medan yang semakin curam membawa rombongan pada sebuah jembatan gantung tua. Jembatan itu tampak rapuh dengan tali tambang yang sudah berlumut, membentang di atas jurang dalam yang memisahkan dua tebing tinggi. Angin gunung yang kencang membuat struktur kayu itu berderit dan berayun pelan.Rain, sebagai yang paling ahli dalam navigasi, melangkah lebih dulu. Ia memeriksa setiap pijakan dengan teliti sebelum memberi isyarat agar rombongan mengikuti. Emilia berjalan tepat di belakangnya. Namun, saat mendekati ujung tebing seberang, sebuah kayu pijakan yang lapuk mendadak patah."Aaah!" Emilia memekik kecil saat tubuhnya limbung ke arah jurang.Dengan refleks secepat kilat, Rain berbalik dan menangkap tubuh Emilia. Ia merengkuh bahu dan pinggang gadis itu agar tidak terjatuh. Posisi mereka menjadi sangat dekat; wajah Emilia tersembunyi di ceruk leher Rain dan napas mereka menderu di udara yang dingin. Dari sudut pandang barisan di belakang—terutama dari po

  • AMETHYST Pengantin Terkutuk   Ajakan Emilia

    Suasana makan siang di kamp terasa kontras. Di satu sisi, tim ekspedisi Emilia tampak tegang mempersiapkan perlengkapan, sementara di sudut lain, Amy duduk melingkar bersama teman-temannya di bawah naungan pohon besar.Velia menggigit apelnya dengan suara renyah, wajahnya tampak lesu. "Yah, petualangan ini seru, tapi kenyataan memanggil. Waktu cutiku berakhir besok. Kalau aku tidak kembali bekerja, bosku akan menggantungku di lobi kantor," keluhnya malas."Aku juga," timpal Davon sambil membersihkan sepatunya dari sisa tanah gua. "Ada agenda keluarga yang tidak bisa kutunda lagi. Sepertinya kita harus segera turun gunung."Amy hanya terdiam, jemarinya memutar-mutar gelas minumannya. Pikirannya melayang jauh. Ia sudah mengirimkan surat pengunduran diri dari kafe milik paman Tora tepat sebelum perjalanan ini dimulai. Ia merasa butuh awal yang baru, meski ia sendiri belum tahu akan ke mana kaki melangkah setelah angka di perutnya mencapai nol.Tora yang duduk di sampingnya terus mengunya

  • AMETHYST Pengantin Terkutuk   Rute Baru

    Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah batu yang ditumbuhi lumut, menciptakan garis-garis emas di lantai ruangan utama. Sebelum Amy membuka mata, Rain sudah berada di ruang tengah, berdiri tegang di hadapan Gideon dan si peri hutan yang sedang menyeduh teh herbal."Jangan pernah bahas tentang solusi itu lagi di depan Amy," ujar Rain dengan suara rendah namun penuh penekanan. "Biarkan dia percaya bahwa kita hanya sedang mencari jalan keluar dari hutan ini."Gideon, yang sedang menyandarkan punggungnya di rak buku, menaikkan satu alisnya. Ia menatap Rain dengan saksama, menyadari ada sesuatu yang berbeda dari aura sahabatnya itu. "Kau melakukannya, bukan?" bisik Gideon. "Kau menghapus ingatannya tentang semalam?"Rain hanya mengangguk pelan. Tidak ada rahasia di antara mereka, namun ada rasa bersalah yang tersembunyi di balik tatapan dingin Rain. Ia tahu menghapus memori adalah tindakan egois, tapi melihat angka di perut Amy merosot tajam semalam, ia tidak punya pilih

  • AMETHYST Pengantin Terkutuk   Menghapus Ingatan

    Penjelasan si peri hutan sukses membuat tiga orang di depannya mematung seakan lupa cara bernapas. Udara di dalam ruangan yang tadinya terasa hangat kini mendadak membeku, lebih dingin daripada kabut di Hutan Rhae. Kata-kata itu menggantung di udara seperti vonis mati yang baru saja dijatuhkan.Gideon adalah yang pertama kali bersuara, suaranya parau dan penuh ketidakpercayaan. "Ini gila... benar-benar gila," gumamnya sambil mengusap wajah dengan kasar. "Setelah semua yang mereka lalui, takdir meminta mereka menciptakan nyawa hanya untuk dihancurkan? Itu bukan solusi, itu kekejaman yang baru!"Amy menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Bahunya berguncang hebat. Tiba-tiba saja, ia ingin menangis sejadi-jadinya. Bayangan tentang seorang anak—buah cintanya dengan Rain yang selama ini hanya berani ia impikan dalam khayalan paling rahasia—kini berubah menjadi mimpi buruk yang mengerikan. Ia takkan mampu melakukan hal itu. Tidak akan pernah.Rain mengepalkan tangannya hingga kuku-kuk

  • AMETHYST Pengantin Terkutuk   Sisa Waktu

    Amy mematung. Jantungnya yang baru saja mulai tenang kembali berdegup kencang, kali ini karena kehadiran Emilia yang tiba-tiba. Gadis itu duduk dengan punggung tegak di samping Rain, namun tatapannya tampak kosong meski suaranya terdengar tajam saat menuntut pil tersebut.Rain bereaksi seketika. Tu

  • AMETHYST Pengantin Terkutuk   Serpihan Jawaban

    Amy masih berdiri di tengah-tengah ruangan, area yang semula terang mendadak menjadi redup. Sekitar mereka hanya diterangi oleh cahaya lilin yang berkelap-kelip di dinding. Di hadapannya, terhampar sembilan boneka cantik dengan penampilan dan gaya yang berbeda. Setiap boneka entah bagaimana tampak b

  • AMETHYST Pengantin Terkutuk   Penghuni Pintu Merah

    Di tepi danau yang tenang, sinar bulan menerobos melalui dedaunan, menciptakan bayangan yang indah di permukaan air. Di tengah hutan yang sunyi, Amy dan Rain bertemu setelah berpisah selama beberapa waktu.Amy dengan rambut panjangnya yang tergerai indah, duduk di sebuah batu besar yang menghadap ke

  • AMETHYST Pengantin Terkutuk   Tiba di Penginapan

    Permukaan danau yang tenang menarik perhatian Rain selama sesaat. Pria itu menatap datar sembari bersandar pada pilar bangunan penginapan yang berbahan kayu solid. Di belakangnya, beberapa pria muda berbicara dengan nada sedikit bercanda. Meski tak berniat menguping, Rain mampu mendengar mereka sese

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status