Home / Romansa / ANESTESI RINDU / BAB 118 PUTUS

Share

BAB 118 PUTUS

Author: Yoongina
last update publish date: 2026-05-25 17:12:44

Devan mengulurkan tangannya yang agak bergetar, membiarkan jemarinya menggantung beberapa senti di atas pipi Vanya. Ia ingin sekali mengusap sisa air mata yang mengering di sana, namun ia urungkan karena takut sentuhannya mengejutkan dan membangunkan tidur nyenyak gadis itu.

​Keheningan kamar terasa mencekik bagi Devan. Di bawah pendar lampu tidur yang temaram, ia hanya bisa memandangi wajah wanita yang begitu ia cintai.

“Mas Devan selalu mengundur jadwal fitting baju pengantin dengan alasan s
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (6)
goodnovel comment avatar
Yoongina
Kalau Cinta Gita aku bikin ringan aja ceritanya kak, non konflik hehhee
goodnovel comment avatar
Nopphy_lolipop
semoga gak mbulet critanya, biar bisa nengok cinta Gita......
goodnovel comment avatar
Yoongina
hiks hiks happy end apa sad end ni mau nya hehhee
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • ANESTESI RINDU   BAB 123 GUDANG TUA

    Devan memasuki halaman parkir stasiun. Matanya menatap fokus kedepan mencari sosok Vanya, lalu meraih ponselnya dan membuka pesan dari gadis itu yang belum sempat dibukanya selama perjalanan. Pesan baru tentang titik lokasi terkini yang Vanya kirimkan beberapa menit lalu, menunjukkan posisinya yang bergerak menjauh dari stasiun. Devan mengerutkan keningnya tak mengerti. "Kemana dia?kenapa tidak menunggu di stasiun?" gumam Devan kesal karena Vanya pergi meninggalkan area stasiun tanpa menunggunya. "Apa mungkin Nathan menghubungi Vanya dan memintanya untuk segera meninggalkan stasiun?" Tanpa pikir panjang, Devan segera menekan tombol panggil pada nomor Vanya, namun panggilan itu berakhir tanpa mendapat respon dari Vanya. Devan mencoba sekali lagi, namun Vanya tetap tidak mau menerima panggilannya. "Brengsek!" geram Devan memukul kemudi dengan keras. Ia lalu mencoba menghubungi Nathan, berharap mendapatkan informasi apakah benar sahabatnya itu yang telah meminta Vanya untuk per

  • ANESTESI RINDU   BAB 122 TARGET ADAM

    Begitu pintu kaca otomatis IGD bergeser menutup di belakangnya, Devan langsung melesat membelah koridor luar menuju area parkir khusus dokter. Ia menyentak ritsleting jaketnya ke atas sambil berjalan cepat, menyembunyikan kaos ketatnya yang tadi sempat membuat gaduh fokus para perawat. ​Langkah kakinya yang panjang terasa begitu ringan. Setidaknya, Nathan sudah berhasil ia kurung di dalam ruang operasi selama beberapa jam ke depan. ​Sambil melompat masuk ke balik kemudi sedan hitamnya, Devan menyalakan mesin. Raungan knalpot mobil itu menggema di area parkir saat ia memundurkan kendaraan dengan satu sentakan cepat, lalu melesat keluar dari gerbang rumah sakit. ​Ia segera menyalakan layar GPS di dasbor, menatap lekat-lekat satu titik merah yang dikirimkan oleh Vanya beberapa menit lalu. ​Stasiun Kereta Api. ​"Bodoh," umpat Devan pelan pada dirinya sendiri. Tangannya mencengkeram erat setir, memutar kemudi dengan lincah menyalip beberapa kendaraan di jalur cepat. "Kenapa aku

  • ANESTESI RINDU   BAB 121 KALAH LANGKAH

    "Char–lie?" Bukan nama itu yang Devan harapkan untuk mengetahui identitas pria yang keluar bersama Nathan dari lobi hotel. 'Kau yakin?" tanya Devan untuk memastikan. Namun, belum sempat Nathan menjawab, notifikasi dari ponsel Devan berbunyi. Satu pesan dari Vanya yang telah membuka blokirnya pada nomor laki-laki itu, menunjukkan titik lokasi keberadaannya saat ini. "Urusan kita belum selesai!" Ujar Devan hendak berlalu dari IGD. Namun, tangan Nathan menahan bahunya. "Kamu mau kemana? jangan bilang kalau mau jemput Vanya!" Geram Nathan. Mata Devan melirik tangan Nathan yang menahan bahunya lalu beralih menatap tajam wajah Nathan. "Kalaupun aku menjemputnya, apa urusannya denganmu? dia pacarku!" Nathan tertawa mengejek, "Pacar?" ulangnya masih dengan tawa yang meremehkan. "Vanya sudah bilang padaku kalau kalian sudah putus. Jadi, kita bersaing sekarang." Devan menepis kasar tangan Nathan dari bahunya, "Bersaing? kamu tahu dari dulu aku tidak suka persaingan." "Kenapa Devan

  • ANESTESI RINDU   BAB 120 TERHASUT

    Kenan menarik napas panjang, membiarkan keheningan makam kembali menyelimuti mereka. Tatapannya tertuju pada barisan tulisan di atas nisan marmer, mengantar ingatan yang selama setahun ini terkunci rapat di kepalanya kembali berputar ke permukaan.​"Mereka mencari kalung itu, Devan." Suara Kenan terdengar datar, namun sanggup membekukan seluruh isi dalam otak Devan. Pria berjas hitam itu kembali menatap lurus ke wajah Devan yang pucat pasi. "Kalung yang ada di tangan Vanya saat ini bukan sekedar perhiasan dan foto biasa. Di dalamnya, aku menyimpan mikro-SD berisi salinan dokumen asli serta bukti kelicikan Hani yang memaksa Papaku menandatangani pengalihan aset perusahaan keluarga kami secara ilegal."​Devan merasa dunianya runtuh seketika. Kepalan tangannya yang semula siap menghantam Kenan perlahan mengendur, tubuhnya bergetar hebat di sepanjang jemarinya. Otak cerdasnya yang biasa tenang saat menghadapi situasi darurat di meja operasi, kini mendadak buntu.​Ia sudah kalah langkah. T

  • ANESTESI RINDU   BAB 119 CERITA DI MAKAM ROSSA

    Devan membeku. Kata putus yang keluar dari mulut Vanya membuatnya tidak mampu mengeluarkan kalimat bantahan. Setelah beberapa menit berlalu, dengan suara bergetar menahan amarahnya, Devan mencoba bicara. "Jangan main-main dengan kata putus, Vanya." "Aku tidak main-main! lebih baik kamu pulang ke Jakarta dan selesaikan urusan masa lalumu." Ujar Vanya bangkit dari kursi. Dengan cepat Devan meraih pergelangan tangan Vanya menahannya agar tidak pergi. "Kamu serius?" Vanya tidak menjawab, ia hanya menarik tangannya dari genggaman Devan dan berlalu menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Devan menatap pilu punggung Vanya yang menghilang di balik anak tangga dengan isakan tangis yang menusuk hati Devan. *** Devan mencengkeram kemudi dengan erat, menembus jalur tol Cipularang yang siang itu terasa begitu panjang. Di sebelahnya, kursi penumpang tetap kosong. Vanya benar-benar membuktikan ucapannya, gadis itu menolak pulang bersamanya. Rasa lelah yang menumpuk di tubuhnya

  • ANESTESI RINDU   BAB 118 PUTUS

    Devan mengulurkan tangannya yang agak bergetar, membiarkan jemarinya menggantung beberapa senti di atas pipi Vanya. Ia ingin sekali mengusap sisa air mata yang mengering di sana, namun ia urungkan karena takut sentuhannya mengejutkan dan membangunkan tidur nyenyak gadis itu.​Keheningan kamar terasa mencekik bagi Devan. Di bawah pendar lampu tidur yang temaram, ia hanya bisa memandangi wajah wanita yang begitu ia cintai. “Mas Devan selalu mengundur jadwal fitting baju pengantin dengan alasan sibuk ini-itu... Pada akhirnya, semua ini selalu tentang Rossa!”​Untaian kalimat getir Vanya tadi pagi kembali terngiang, menorehkan rasa bersalah yang teramat dalam di dada Devan. Ia menghela napas panjang, menumpu sikunya di atas lutut dan menundukkan kepala dalam-dalam.​"Kamu salah Vanya, ini bukan tentang Rossa," bisik Devan teramat pelan pada kesunyian malam. "Ini tentang kamu. Tentang bagaimana caranya agar aku nggak kehilangan kamu."​Mendengar bisikan lirih itu, tubuh Vanya bergerak sed

  • ANESTESI RINDU   BAB 31 SYARAT UNTUK DEVAN

    "Devan!" suara pelan namun tegas itu keluar dari mulut Dr. Gunawan yang sudah menyeruak masuk ke dalam ruang ICU pagi ini. Devan yang terjaga di samping ranjang Vanya sepanjang malam, terkesiap dan mengerjapkan kedua matanya, mencoba menarik kesadaran dirinya yang belum sepenuhnya kembali. Kelel

  • ANESTESI RINDU   BAB 30 PILIHAN DEVAN

    Dengan cepat Frans melangkah mendekati putranya yang diam mematung di depan pintu ruang operasi satu. PLAK! Tanpa basa basi, sebuah tamparan keras di pipi Devan membuat semua perawat yang berada di nurse station ruang operasi menutup mulut mereka, terkejut melihat amarah seorang Frans Alaric.

  • ANESTESI RINDU   BAB 29 HARGA SEBUAH NYAWA

    "Apa! Devan tidak datang ke butik?" Wajah murka Frans Alaric memenuhi ruang kerjanya saat asistennya memberi kabar, kalau Devan pergi dari rumah sakit dengan terburu-buru. "Hubungi anak itu! Sekarang!" Sang Asisten segera melaksanakan perintahnya dengan meraih ponsel dan menekan nomor Devan. "

  • ANESTESI RINDU   BAB 27 TRAUMA YANG MENGHANTUI

    Vanya menyentuh bibirnya tak percaya. "Kami berciuman?dokter Devan membalas ciumanku?" Gumamnya sambil terus berjalan meninggalkan ruang kerja Devan. Bibirnya membentuk senyum manis membayangkan kejadian yang bahkan tidak pernah ia bayangkan akan terjadi. Vanya terus berjalan dengan pikiran yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status