Startseite / Romansa / ANESTESI RINDU / BAB 119 CERITA DI MAKAM ROSSA

Teilen

BAB 119 CERITA DI MAKAM ROSSA

last update Veröffentlichungsdatum: 26.05.2026 07:20:04

Devan membeku. Kata putus yang keluar dari mulut Vanya membuatnya tidak mampu mengeluarkan kalimat bantahan.

Setelah beberapa menit berlalu, dengan suara bergetar menahan amarahnya, Devan mencoba bicara. "Jangan main-main dengan kata putus, Vanya."

"Aku tidak main-main! lebih baik kamu pulang ke Jakarta dan selesaikan urusan masa lalumu." Ujar Vanya bangkit dari kursi. Dengan cepat Devan meraih pergelangan tangan Vanya menahannya agar tidak pergi.

"Kamu serius?"

Vanya tidak menjawab, ia
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • ANESTESI RINDU   124 AMUKAN DEVAN

    Sedan hitam milik Devan membelah jalanan tanah berbatu di area perkebunan dengan kecepatan sedang. Ban mobilnya tergelincir beberapa kali, melemparkan kerikil dan debu tebal ke udara. ​Sorot matanya lurus menatap perkebunan di depannya. Layar GPS di dasbor masih menyala redup, menampilkan titik koordinat terakhir yang menunjukkan posisi Vanya. Devan mengerutkan kening dalam-dalam. Semakin ia mendekat, hatinya dipenuhi oleh rasa heran dan cemas yang bercampur aduk. "​Kenapa Vanya ada di tempat seperti ini?" gumamnya. ​Ini adalah kawasan industri terbengkalai, jauh dari keramaian, jauh dari akses publik. Tidak ada alasan logis bagi Vanya untuk berada di tengah perkebunan ini sendirian. Firasat buruk yang tadi sempat mengusiknya kini berubah menjadi ketakutan. Devan yakin, Vanya tidak sedang menghindarinya, tapi gadis itu seperti dibawa paksa menuju tempat ini. ​Devan menginjak rem dengan sentakan dalam saat melihat siluet sebuah gudang beton tua yang ada di balik rimbunnya pepoh

  • ANESTESI RINDU   BAB 123 GUDANG TUA

    Devan memasuki halaman parkir stasiun. Matanya menatap fokus kedepan mencari sosok Vanya, lalu meraih ponselnya dan membuka pesan dari gadis itu yang belum sempat dibukanya selama perjalanan. Pesan baru tentang titik lokasi terkini yang Vanya kirimkan beberapa menit lalu, menunjukkan posisinya yang bergerak menjauh dari stasiun. Devan mengerutkan keningnya tak mengerti. "Kemana dia?kenapa tidak menunggu di stasiun?" gumam Devan kesal karena Vanya pergi meninggalkan area stasiun tanpa menunggunya. "Apa mungkin Nathan menghubungi Vanya dan memintanya untuk segera meninggalkan stasiun?" Tanpa pikir panjang, Devan segera menekan tombol panggil pada nomor Vanya, namun panggilan itu berakhir tanpa mendapat respon dari Vanya. Devan mencoba sekali lagi, namun Vanya tetap tidak mau menerima panggilannya. "Brengsek!" geram Devan memukul kemudi dengan keras. Ia lalu mencoba menghubungi Nathan, berharap mendapatkan informasi apakah benar sahabatnya itu yang telah meminta Vanya untuk per

  • ANESTESI RINDU   BAB 122 TARGET ADAM

    Begitu pintu kaca otomatis IGD bergeser menutup di belakangnya, Devan langsung melesat membelah koridor luar menuju area parkir khusus dokter. Ia menyentak ritsleting jaketnya ke atas sambil berjalan cepat, menyembunyikan kaos ketatnya yang tadi sempat membuat gaduh fokus para perawat. ​Langkah kakinya yang panjang terasa begitu ringan. Setidaknya, Nathan sudah berhasil ia kurung di dalam ruang operasi selama beberapa jam ke depan. ​Sambil melompat masuk ke balik kemudi sedan hitamnya, Devan menyalakan mesin. Raungan knalpot mobil itu menggema di area parkir saat ia memundurkan kendaraan dengan satu sentakan cepat, lalu melesat keluar dari gerbang rumah sakit. ​Ia segera menyalakan layar GPS di dasbor, menatap lekat-lekat satu titik merah yang dikirimkan oleh Vanya beberapa menit lalu. ​Stasiun Kereta Api. ​"Bodoh," umpat Devan pelan pada dirinya sendiri. Tangannya mencengkeram erat setir, memutar kemudi dengan lincah menyalip beberapa kendaraan di jalur cepat. "Kenapa aku

  • ANESTESI RINDU   BAB 121 KALAH LANGKAH

    "Char–lie?" Bukan nama itu yang Devan harapkan untuk mengetahui identitas pria yang keluar bersama Nathan dari lobi hotel. 'Kau yakin?" tanya Devan untuk memastikan. Namun, belum sempat Nathan menjawab, notifikasi dari ponsel Devan berbunyi. Satu pesan dari Vanya yang telah membuka blokirnya pada nomor laki-laki itu, menunjukkan titik lokasi keberadaannya saat ini. "Urusan kita belum selesai!" Ujar Devan hendak berlalu dari IGD. Namun, tangan Nathan menahan bahunya. "Kamu mau kemana? jangan bilang kalau mau jemput Vanya!" Geram Nathan. Mata Devan melirik tangan Nathan yang menahan bahunya lalu beralih menatap tajam wajah Nathan. "Kalaupun aku menjemputnya, apa urusannya denganmu? dia pacarku!" Nathan tertawa mengejek, "Pacar?" ulangnya masih dengan tawa yang meremehkan. "Vanya sudah bilang padaku kalau kalian sudah putus. Jadi, kita bersaing sekarang." Devan menepis kasar tangan Nathan dari bahunya, "Bersaing? kamu tahu dari dulu aku tidak suka persaingan." "Kenapa Devan

  • ANESTESI RINDU   BAB 120 TERHASUT

    Kenan menarik napas panjang, membiarkan keheningan makam kembali menyelimuti mereka. Tatapannya tertuju pada barisan tulisan di atas nisan marmer, mengantar ingatan yang selama setahun ini terkunci rapat di kepalanya kembali berputar ke permukaan.​"Mereka mencari kalung itu, Devan." Suara Kenan terdengar datar, namun sanggup membekukan seluruh isi dalam otak Devan. Pria berjas hitam itu kembali menatap lurus ke wajah Devan yang pucat pasi. "Kalung yang ada di tangan Vanya saat ini bukan sekedar perhiasan dan foto biasa. Di dalamnya, aku menyimpan mikro-SD berisi salinan dokumen asli serta bukti kelicikan Hani yang memaksa Papaku menandatangani pengalihan aset perusahaan keluarga kami secara ilegal."​Devan merasa dunianya runtuh seketika. Kepalan tangannya yang semula siap menghantam Kenan perlahan mengendur, tubuhnya bergetar hebat di sepanjang jemarinya. Otak cerdasnya yang biasa tenang saat menghadapi situasi darurat di meja operasi, kini mendadak buntu.​Ia sudah kalah langkah. T

  • ANESTESI RINDU   BAB 119 CERITA DI MAKAM ROSSA

    Devan membeku. Kata putus yang keluar dari mulut Vanya membuatnya tidak mampu mengeluarkan kalimat bantahan. Setelah beberapa menit berlalu, dengan suara bergetar menahan amarahnya, Devan mencoba bicara. "Jangan main-main dengan kata putus, Vanya." "Aku tidak main-main! lebih baik kamu pulang ke Jakarta dan selesaikan urusan masa lalumu." Ujar Vanya bangkit dari kursi. Dengan cepat Devan meraih pergelangan tangan Vanya menahannya agar tidak pergi. "Kamu serius?" Vanya tidak menjawab, ia hanya menarik tangannya dari genggaman Devan dan berlalu menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Devan menatap pilu punggung Vanya yang menghilang di balik anak tangga dengan isakan tangis yang menusuk hati Devan. *** Devan mencengkeram kemudi dengan erat, menembus jalur tol Cipularang yang siang itu terasa begitu panjang. Di sebelahnya, kursi penumpang tetap kosong. Vanya benar-benar membuktikan ucapannya, gadis itu menolak pulang bersamanya. Rasa lelah yang menumpuk di tubuhnya

  • ANESTESI RINDU   BAB 16 PERSETUJUAN KELUARGA ALARIC

    "​Ayah memintamu datang ke rumah sebelum kita berangkat ke Singapura." ​Evelyn muncul di ambang pintu ruang kerja Devan pagi itu. Langkahnya ringan, namun suaranya membawa perintah yang tidak bisa diabaikan. Devan yang tengah bersiap untuk pulang hanya terdiam. Ia tampak sibuk melipat lengan kemej

  • ANESTESI RINDU   BAB 14 RASA DIHATI DEVAN

    Malam ini, rumah sakit mulai meredup. Suasana sunyi hanya dipecah oleh suara langkah sepatu yang sesekali lewat di koridor. Di perpustakaan medis yang terletak di lantai paling atas, Vanya masih berkutat dengan tumpukan jurnal dan data statistik di laptopnya. ​"Data mortalitas kasus emboli di Asia

  • ANESTESI RINDU   BAB 13 PERTUNANGAN SETELAH SINGAPURA

    Wajah Evelyn yang tadinya cerah mendadak berubah menjadi pias saat Vanya keluar dari ruangan Devan membawa map penugasan yang sama. Sejak mendengar Devan memanggil Vanya ke ruangannya, Evelyn langsung membuntuti dan mencoba mendengarkan percakapan keduanya. Walaupun pintu ek besar itu telah meredam

  • ANESTESI RINDU   BAB 11 PERINTAH KELUARGA ALARIC

    Devan melajukan sedan hitamnya di tengah gerimis hujan. Ia menghembuskan nafas panjang mengingat kejadian di rumah Evelyn. Devan memahami situasinya, undangan makan malam ini, juga perintah penugasan ke Singapura adalah cara Dr. Gunawan untuk menjodohkan keponakannya, Evelyn, dengan dirinya.Begitu

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status