MasukKenan meletakkan liontin itu di atas telapak tangan dengan hati-hati. Menggunakan ujung pinset kecil yang ia ambil dari saku kemejanya, Kenan menekan bagian sela engsel liontin yang tersembunyi dengan penuh kehati-hatian.Klik.Liontin itu terbuka. Disisi sebelah kanan berisi foto dua orang anak kecil yang sedang duduk di atas ayunan kayu. Anak kecil itu adalah Kenan dan Rossa saat ia masih berusia lima tahun. Kenan terpaku sejenak, menatap wajah ceria Rossa kecil yang membuat mata tajamnya berkaca-kaca.Ia memejamkan mata sejenak, mengusap titik air di sudut matanya. Lalu, ia kembali menekan pinset pada sisi sebelah kiri yang luput dari pantauan Devan dan Vanya ketika pertama kali membuka liontin itu. Keberadaan foto masa kecil Rossa dan Kenan, telah mengalihkan perhatian mereka saat itu.Tanpa diduga, sisi kiri liontin itu kembali terbuka dengan bunyi 'Klik' pelan. Di dalam rongga kecil berbentuk lingkaran itu terselip sebuah kartu MicroSD yang dibalut pelindung plastik tipis agar
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Kenan sambil melangkah mendekat ke ranjang Devan. "Sudah lebih baik." Kenan menarik kursi di samping tempat tidur. Ia melipat kedua tangan di dada, menatap Devan dengan wajah tenang. "Ternyata kamu sudah benar-benar bisa melupakan perasaanmu pada adikku." Devan menghirup udara perlahan untuk meredakan rasa nyeri pada lukanya. "Hidup harus tetap berjalan, bukan?" jawabnya ringan sambil merapikan bantal, mencari posisi bersandar yang nyaman. Kenan tertawa kecil. "Pengorbanan ini sungguh luar biasa. Gadis itu dicintai dengan sepenuh hati, bahkan nyawa pun rela kau berikan." Devan terdiam. Bayangan kejadian di gudang tua itu kembali mengusik alam sadarnya. Bagaimana Adam melucuti pakaian yang melekat pada tubuh Vanya dan hampir merenggut kesuciannya, juga rasa panas dari dua peluru yang bersarang di punggungnya. Baginya, hukuman seumur hidup di penjara saja rasanya belum cukup untuk menebus dosa pria itu. "Dari mana kau tahu aku terluka kare
"Yang ini bagus kan?" Vanya menyodorkan majalah pernikahan dari vendor yang ditunjuk untuk mempersiapkan pernikahan mereka. Gambar baju pengantin yang Vanya inginkan terpampang jelas di hadapan Devan. Laki-laki itu melirik sambil menikmati buah potong di tangannya. "Bagus, sayang. Tapi yang benar aja, masa aku pakai baju warna ungu terang gitu." Gerutu Devan karena setelah gambar kesepuluh, Vanya masih saja meminta agar baju resepsi mereka harus berwarna Ungu atau Pink. "Warna gold sudah banyak yang pakai, sayang. Aku maunya kita beda." Protes gadis itu sambil membalik majalah di tangannya. Devan menghela nafas panjang sambil bersandar santai di atas tumpukan bantal. Di hari kesepuluh ia di rawat, luka pada punggungnya sudah sedikit membaik. "Beda sih beda, tapi kalau aku pakai hot pink, yang ada para perawat dan residen bukannya hormat malah menertawakanku di koridor rumah sakit, Vanya," sahut Devan pasrah, meletakkan tusuk buahnya ke piring kecil. Vanya mengerucutkan bib
Dua puluh empat jam pasca pelepasan pipa napas, efek sisa obat bius benar-benar telah hilang dari tubuh Devan. Hari ini, ia tidak lagi hanya merespons lewat kedipan mata atau remasan tangan. Kesadaran kognitifnya telah pulih sepenuhnya. Ketika Vanya sedang membasahi bibir kering Devan dengan kapas yang diberi sedikit air hangat, Devan menggerakkan tangan kanannya perlahan, mencoba menyentuh punggung tangan Vanya. "Va... nya..." Suara itu akhirnya keluar. Sangat serak, parau, dan nyaris seperti bisikan angin. Vanya langsung mendekatkan telinganya ke bibir Devan. "Iya, Mas? Ada yang sakit? Dada Mas sesak?" tanya Vanya cemas. Devan menggeleng perlahan, sangat tipis. Sepasang mata elangnya kini telah kembali, menatap Vanya dengan kesadaran penuh. "Min... um..." bisiknya susah payah. Vanya bergegas meraih gelas air minum di nakas samping tempat tidur, lalu membantu Devan meminum beberapa tetes air menggunakan sendok kecil secara perlahan sesuai instruksi dr. Dian. Setel
Suara derap langkah kaki Vanya menggema di sepanjang koridor menuju ruang ICU. Informasi yang baru saja disampaikan Nathan membuatnya bergegas, melangkah lebar dengan jantung yang berpacu cepat demi segera menghampiri Devan. Begitu tiba di depan ruang ICU, Vanya perlahan membuka pintu kaca. Pandangannya langsung tertuju pada brankar Devan, tempat dr. Dian sedang melakukan pemeriksaan. "Sore, Dok," sapa Vanya sesopan mungkin, meski napasnya masih memburu akibat berlari. dr. Dian tersenyum menenangkan, lalu menepuk pelan bahu Vanya. "Syukurlah, dr. Devan sudah melewati masa kritisnya. Kondisi hemodinamik dan ritme jantungnya juga sudah kembali stabil," ujar dokter spesialis bedah jantung itu sambil mengusap lembut bahu Vanya sebelum melangkah keluar ruangan. Vanya mengalihkan pandangannya pada Devan. Di atas bantal, kelopak mata Devan tampak bergetar hebat. Jantung Vanya berdebar kencang menyaksikan perjuangan pria itu. Sudut bibir Devan yang terhalang pipa alat bantu napas be
Dua hari telah berlalu, namun suasana di dalam kamar ICU itu seolah membeku. Bagi Vanya, waktu tidak lagi berjalan berdasarkan detik jam, melainkan dihitung dari setiap naik-turunnya gelombang hijau di layar monitor hemodinamik Devan. Selama empat puluh delapan jam itu pula, Vanya mengabaikan rasa lelahnya sendiri. Ia menolak pulang ke rumah, hanya memanfaatkan sofa kecil di ruang tunggu untuk memejamkan mata selama satu atau dua jam sebelum kembali duduk di samping ranjang Devan. Pakaiannya telah berganti, namun kecemasan di wajahnya tidak juga menghilang. Memasuki hari ketiga, tim medis yang dipimpin oleh Nathan dan dr. Dian memutuskan bahwa kondisi hemodinamik Devan sudah cukup stabil untuk memulai proses weaning, yaitu pengurangan dosis obat penenang secara bertahap. "Kita mulai menurunkan obatnya siang ini, Van," ujar Nathan sambil menyetel parameter pada syringe pump di dekat ranjang Devan. "Ini fase yang krusial. Otaknya akan perlahan terbangun dari efek koma, dan kita
Waktu seolah merangkak lambat di dalam kamar yang pengap oleh ketegangan itu. Di satu sisi pintu, Vanya memeluk lututnya erat, membiarkan air matanya membasahi lutut saat rintihan tertahan Devan menusuk indra pendengarannya. Ia bisa merasakan getaran di balik daun pintu kayu itu, akibat hantaman kep
Devan mencengkeram pinggiran meja dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Pandangannya mulai mengabur, sementara detak jantungnya berpacu kencang. Rasa panas yang membakar dari dalam tubuhnya membuat setiap sentuhan Evelyn di lengannya te
Aula besar di Marina Bay Sands itu riuh dengan bisik-bisik dalam berbagai bahasa. Para pakar bedah dan peneliti medis dari berbagai negara telah berkumpul, menciptakan suasana yang sangat menegangkan. Devan berdiri di sisi panggung, merapikan dasinya dengan jemarinya yang panjang. Pandangannya luru
Devan melangkahkan kakinya keluar kamar hotel untuk sarapan pagi. Tapi baru saja ia menutup pintu kamar, sosok Evelyn sudah berdiri di luar kamarnya. "Kenapa berdiri di depan kamarku?" tanya Devan menatap tak suka ke arah Evelyn yang tersenyum manis. Gadis itu melingkarkan tangannya ke lengan Dev







