LOGIN"Char–lie?" Bukan nama itu yang Devan harapkan untuk mengetahui identitas pria yang keluar bersama Nathan dari lobi hotel. 'Kau yakin?" tanya Devan untuk memastikan. Namun, belum sempat Nathan menjawab, notifikasi dari ponsel Devan berbunyi. Satu pesan dari Vanya yang telah membuka blokirnya pada nomor laki-laki itu, menunjukkan titik lokasi keberadaannya saat ini. "Urusan kita belum selesai!" Ujar Devan hendak berlalu dari IGD. Namun, tangan Nathan menahan bahunya. "Kamu mau kemana? jangan bilang kalau mau jemput Vanya!" Geram Nathan. Mata Devan melirik tangan Nathan yang menahan bahunya lalu beralih menatap tajam wajah Nathan. "Kalaupun aku menjemputnya, apa urusannya denganmu? dia pacarku!" Nathan tertawa mengejek, "Pacar?" ulangnya masih dengan tawa yang meremehkan. "Vanya sudah bilang padaku kalau kalian sudah putus. Jadi, kita bersaing sekarang." Devan menepis kasar tangan Nathan dari bahunya, "Bersaing? kamu tahu dari dulu aku tidak suka persaingan." "Kenapa Devan
Kenan menarik napas panjang, membiarkan keheningan makam kembali menyelimuti mereka. Tatapannya tertuju pada barisan tulisan di atas nisan marmer, mengantar ingatan yang selama setahun ini terkunci rapat di kepalanya kembali berputar ke permukaan."Mereka mencari kalung itu, Devan." Suara Kenan terdengar datar, namun sanggup membekukan seluruh isi dalam otak Devan. Pria berjas hitam itu kembali menatap lurus ke wajah Devan yang pucat pasi. "Kalung yang ada di tangan Vanya saat ini bukan sekedar perhiasan dan foto biasa. Di dalamnya, aku menyimpan mikro-SD berisi salinan dokumen asli serta bukti kelicikan Hani yang memaksa Papaku menandatangani pengalihan aset perusahaan keluarga kami secara ilegal."Devan merasa dunianya runtuh seketika. Kepalan tangannya yang semula siap menghantam Kenan perlahan mengendur, tubuhnya bergetar hebat di sepanjang jemarinya. Otak cerdasnya yang biasa tenang saat menghadapi situasi darurat di meja operasi, kini mendadak buntu.Ia sudah kalah langkah. T
Devan membeku. Kata putus yang keluar dari mulut Vanya membuatnya tidak mampu mengeluarkan kalimat bantahan. Setelah beberapa menit berlalu, dengan suara bergetar menahan amarahnya, Devan mencoba bicara. "Jangan main-main dengan kata putus, Vanya." "Aku tidak main-main! lebih baik kamu pulang ke Jakarta dan selesaikan urusan masa lalumu." Ujar Vanya bangkit dari kursi. Dengan cepat Devan meraih pergelangan tangan Vanya menahannya agar tidak pergi. "Kamu serius?" Vanya tidak menjawab, ia hanya menarik tangannya dari genggaman Devan dan berlalu menaiki tangga menuju kamarnya di lantai dua. Devan menatap pilu punggung Vanya yang menghilang di balik anak tangga dengan isakan tangis yang menusuk hati Devan. *** Devan mencengkeram kemudi dengan erat, menembus jalur tol Cipularang yang siang itu terasa begitu panjang. Di sebelahnya, kursi penumpang tetap kosong. Vanya benar-benar membuktikan ucapannya, gadis itu menolak pulang bersamanya. Rasa lelah yang menumpuk di tubuhnya
Devan mengulurkan tangannya yang agak bergetar, membiarkan jemarinya menggantung beberapa senti di atas pipi Vanya. Ia ingin sekali mengusap sisa air mata yang mengering di sana, namun ia urungkan karena takut sentuhannya mengejutkan dan membangunkan tidur nyenyak gadis itu.Keheningan kamar terasa mencekik bagi Devan. Di bawah pendar lampu tidur yang temaram, ia hanya bisa memandangi wajah wanita yang begitu ia cintai. “Mas Devan selalu mengundur jadwal fitting baju pengantin dengan alasan sibuk ini-itu... Pada akhirnya, semua ini selalu tentang Rossa!”Untaian kalimat getir Vanya tadi pagi kembali terngiang, menorehkan rasa bersalah yang teramat dalam di dada Devan. Ia menghela napas panjang, menumpu sikunya di atas lutut dan menundukkan kepala dalam-dalam."Kamu salah Vanya, ini bukan tentang Rossa," bisik Devan teramat pelan pada kesunyian malam. "Ini tentang kamu. Tentang bagaimana caranya agar aku nggak kehilangan kamu."Mendengar bisikan lirih itu, tubuh Vanya bergerak sed
Devan membeku di dalam mobilnya. Ia menyipitkan matanya sekali lagi untuk memastikan, namun laki-laki itu sudah terlanjur masuk kedalam mobil milik Nathan.Rahang Devan mengeras. Rasa tidak percaya berkecamuk hebat di dalam dadanya, melihat kenyataan pahit yang baru saja ada di depan mata.Kalau benar pria itu adalah Adam, berarti Adam masih hidup. Dan dia ada di sana, masuk ke dalam mobil Nathan.Pertanyaan-pertanyaan yang selama ini bersarang dalam benak Devan seolah menemukan jawaban. Perubahan sikap Nathan yang mendadak dingin, pukulan mentah yang ia terima hari itu, hingga fitnah di rumah sakit karena ulah Evelyn, semuanya didalangi oleh bajingan yang sama. Pria yang sekarang menumbuhkan kumisnya itu telah berhasil mencuci otak sahabatnya sendiri.Melihat mobil Nathan mulai bergerak membelah pelataran lobi hotel mewah itu, Devan didera dilema yang luar biasa hebat. Tangannya mencengkeram kemudi dengan sangat kuat, bersiap menginjak gas untuk membuntuti kendaraan Nathan. Ia ing
"Siska, dimana Vanya?" tanya Devan. Malam itu ia telah menghubungi Vanya berkali-kali, namun gadis itu tidak merespon panggilannya sejak pergi begitu saja dari ruang kerjanya tadi pagi. Seharian ini, Devan terus disibukkan oleh operasi dan juga rapat dengan para direksi. Membuatnya lagi-lagi harus membatalkan jadwal fitting baju pengantin, bahkan sampai melewatkan jam makan siangnya.Siska yang sedang merapikan lembar rekam medis di meja perawat seketika menegang begitu mendengar suara bariton yang sangat ia kenal. Ia menoleh perlahan, mendapati Devan berdiri di hadapannya dengan wajah lelah, kemeja biru yang lengannya sudah digulung hingga siku, dan masker medis yang kembali menutupi luka di wajahnya."Eh, Dokter Devan..." Siska menelan ludah gugup, melirik ke kanan dan ke kiri seolah mencari bantuan. "Dokter Vanya... sudah pulang dari sore tadi, Dok.""Pulang ke rumahnya?" cecar Devan, melangkah satu kaki lebih dekat. Nada suaranya yang rendah justru terdengar menakutkan di teling
Acara pertunangan itu digelar di ballroom hotel bintang lima milik keluarga Harrington, sebuah tempat yang tampak seperti istana kristal. Karangan bunga mawar putih setinggi dua meter berjejer di sepanjang koridor, namun bagi Devan, tempat itu terasa seperti ruang tunggu eksekusi mati. Devan berd
"Pa! Devan itu sedang sakit. Kenapa malah dikurung di kamarnya!" teriak Aurelia yang tidak bisa menahan amarah saat menerima pesan dari Devan, memintanya untuk datang dan memberitahukan kondisinya saat ini. "Kamu tidak usah ikut campur, Aurel. Papa terpaksa melakukan itu karena adikmu selalu memb
"Devan!" suara pelan namun tegas itu keluar dari mulut Dr. Gunawan yang sudah menyeruak masuk ke dalam ruang ICU pagi ini. Devan yang terjaga di samping ranjang Vanya sepanjang malam, terkesiap dan mengerjapkan kedua matanya, mencoba menarik kesadaran dirinya yang belum sepenuhnya kembali. Kelel
Dengan cepat Frans melangkah mendekati putranya yang diam mematung di depan pintu ruang operasi satu. PLAK! Tanpa basa basi, sebuah tamparan keras di pipi Devan membuat semua perawat yang berada di nurse station ruang operasi menutup mulut mereka, terkejut melihat amarah seorang Frans Alaric.







